Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 160


__ADS_3

...***...


“Sayang ...? Yuna?” Zeen mengetuk pintu kamarnya yang juga sudah menjadi kamar istrinya itu dengan sedikit keras. Namun sudah beberapa kali Zeen mengetuk pintu itu masih saja tak dibukakan, akhirnya Zeen memilih untuk membuka pintu itu sendiri yang untungnya pintu itu tak terkunci.


“Syukurlah ... gak dikunci.” gumamnya.


Lalu Zeen dengan perlahan membuka pintu itu dan tak mendapati istrinya didalam kamarnya.


“Kemana istriku?” gumamnya lagi, yang didalam pikirannya sudah terlintas hal-hal negatif jika istrinya akan melakukan hal aneh.


“Jangan sampai ....”


Zeen langsung berlari menuju walk in closet, namun dirinya tak menemukan istrinya disana. Kemudian ia berlari lagi menuju kamar mandi dengan suara yang diteriak-teriakan berharap jika istrinya akan menyahut panggilannya itu.


Zeen pun keluar dari kamar mandi dengan mengusar kepalanya, mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


“Dimana istriku ....” Zeen mulai merengek seperti anak kecil yang ditinggal oleh induknya. Begitulah Zeen akhir-akhir ini, sejak Yuna hamil dirinya pernah dibuat uring-uringan ketika tak mendapati istrinya dirumah saat ia baru pulang dari rumah sakit. Alhasil ia membuat kegaduhan dirumah yang membuat para pekerja rumahnya kualahan menghadapi tingkahnya. Dan saat ia melihat istrinya yang baru saja pulang berbelanja bersama Mamanya ia pun langsung menghentikan kegaduhan itu dengan perasaan tak bersalah sama sekali kepada para pekerja di kediamannya. Dan malah bergelayut manja diketiak istrinya.


“Yuna sayang ...! Yunaaaaaa!!!” lagi-lagu Zeen berteriak sangat kencang, bahkan sampai memenuhi seisi ruangan itu dan memantulkan suaranya kemana-mana.


“Kemana Yuna ku?” gumamnya bertanya pada diri sendiri. Zeen pun berniat untuk mencari Yuna keruangan lain karena ia mengira jika istrinya memang benar-benar tak ada dikamar.


Namun baru beberapa ia melangkah, tanpa sengaja ia melihat tirai balkon sedikit terbuka akibat angin yang menghebus. Matanya membola kala melihat sosok yang ia cari ternyata berada dibalkon itu.


Zeen seketika menepuk keningnya. “Oh astaga! Kenapa aku tak memikirkan itu? Aku bahkan sampai lupa jika dikamarku ada balkon?” Zeen yang menyadari kebodohannya itu mengeleng kepala sambil tertawa kecil.


Tanpa berbasa-basi lagi, Zeen pun melangkahkan kakinya menuju istrinya berada. Pandangannya terus tertuju pada punggung Yuna yang nampak sedikit lebar, mungkin karena efek hamil kembar jadi otomatis tubuh istrinya sedikit melebar. Namun Zeen tak pernah memusingkan itu karena baginya Yuna yang seperti itu nampak **** dimatanya. Mungkin sekarang tubuh gendut yang berisi seperti istrinya itu menjadi hal favoritnya dan yang akan terus menjadi favoritnya adalah tubuh milik istrinya saja mutlak tak ingin yang lain.


Zeen berjalan pelan mendekati istrinya, lantas ia langsung memeluk istrinya dari belakang saat ia sudah sampai didekat istrinya.


“Sayang ....” Zeen sedikit memeluk pinggang istrinya dan tak mau memeluknya dengan erat, karena ia tak mau jika anak-anaknya jadi gencet gara-gara ulahnya.

__ADS_1


Dengan mengelus lembut perut istrinya, Zeen meletakan dagunya dipundak Yuna, jadilah posisi mereka menjadi sangat romantis jika ada orang yang melihat mereka dari kejauhan.


“Kenapa diam saja disini, hem?” tanyanya, namun Yuna lagi-lagi tak menyahutnya. “Aku dari tadi memanggilmu loh ... bahkan sampai teriak-teriak.” ucapnya sok mengadu namun Yuna tetap tak menagapi ucapannya.


Zeen pun melirik wajah istrinya, ia sampai dibuat bingung melihat istrinya yang menjadi super pendiam. Namun saat ia melihat wajah Yuna, ia hanya melihat tatapan kosong Yuna seakan wanita itu tak menyadari keberadaannya.


“Sayang?” panggil Zeen lagi, mencoba membuyarkan lamunan Yuna. “Sayang?” lagi sambil mengoyangkan sedikit tubuh Yuna.


“Eh?”


Barulah Yuna tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya kearah Zeen, yang mana kala langsung terkejut ketika mengetahui suaminya itu berada sangat dekat dengannya.


“Mas kapan ada disini? Kenapa mas ada disini?” tanya Yuna kebingungan.


Zeen tampak memberengut memandang Yuna, “Aku sejak tadi ada disini loh sayang. Masa kamu gak sadar? Padahal aku peluk kamu loh ....” dumelnya.


“Masa sih?” tanya Yuna dengan polosnya.


Zeen seketika menghela nafas panjang. “Hais istriku **** ini ... lama-lama ku makan juga loh.” Gemas Zeen langsung menjilat pipi Yuna yang membuat sang empun langsung memekik.


Zeen yang melihat itu, lantas mengikutinya dan mendudukan bokongnya tepat disamping Yuna.


“Kenapa sih sayang? Hem? Galau merana? Karena sudah gak dibelai-belai?” tanya Zeen ngasal yang langsung mendapatkan tumpukan tangan dari Yuna.


“Jangan mulai lagi deh mas, mau aku cubit lagi?” gerutu Yuna mengerutkan bibirnya.


Zeen yang melihat itu tertawa geli. “Lalu kenapa? Kok galau gitu? Sampe-sampe mas panggilin gak disahut.” tanya Zeen dengan nada yang melembut. Sebenarnya ia tahu apa yang tengah dipikirkan oleh istrinya, namun ia lebih memilih pura-pura tak tahu karena ingin mendengar keluh kesa dan pertanyaan yang ada pada otak istrinya mengemaskannya itu.


Yuna terdiam sejenak, lalu ia tampak menghela nafasnya sambil memejamkan matanya. “Mas ....”


“Ya ...?”

__ADS_1


“Apa benar, jika om Sigit Papa kandungku?”


“Benar.” Zeen mengangguk.


“Apa benar jika tante Eva Mama adalah ....” tenggorokan Yuna sedikit tercekat. “Mama kandung aku?” lanjutnya.


“Ya, benar.”


Lantas jawaban itu membuat Yuna kembali menghela nafas panjang dan meluruskan tubuhnya begitu saja kebelakang, yang membuat Zeen seketika sigap menangkap tubuh istrinya.


“Kenapa sayang? Kenapa kamu pucat sekali seperti ini? Apa ada yang sakit? Bilang sama mas mana yang sakit.”


Zeen kalang kabut saat melihat wajah Yuna yang begitu pucat dengan keringat dingin dikeningnya. Ia takut jika hal itu berdampak pada bayi-bayinya.


Yuna mengeleng samar dalam pelukan Zeen. “Tidak mas, aku hanya lelah saja. Tak perlu bawa kerumah sakit, cukup bawa aku kekamar biar aku bisa istirahat sejenak.” Pinta Yuna.


“Tapi sayang ....” wajah Zeen sungguh diliputi raut gelisah dan kekhawatiran.


“Tolong mas ... aku hanya butuh istirahat sejenak,” pinta Yuna lagi sedikit memaksa.


Akhirnya Zeen pasrah saja, dan memilih mengedong istrinya untuk dibaringkan diatas kasur.


Setelah dirasa istrinya sudah nyaman didalam selimut tebal yang membungkus tubuhnya itu. Zeen pun kembali mengusar rambutnya dengan kasar.


“Aku tak menyangka jika akan membuatnya menjadi seperti ini?” gumamnya.


Zeen pun sedikit membungkukan tubuhnya dan mengelus surau rambut istrinya dengan sayang saat istrinya itu sudah langsung terlelap, mungkin karena efek syok sehingga membuat wanita hamil itu cepat sekali kelelahan.


“Istirahat yang nyaman sayang, jangan pikirkan dulu bebannya.” Tuturnya, kemudian ia beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ruang tengah kembali.


Saat itu pula Yuna membuka matanya, dan menatap nanar pintu kamar itu.

__ADS_1


“Maafkan aku mas, aku masih butuh waktu.”


TBC.


__ADS_2