Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 111


__ADS_3


...***...


“Kamu lapar ya?” ucap Zeen mengulangi perkataannya, sambil menahan tawa yang sejak tadi ingin keluar dari mulutnya.


Yuna yang masih membelakangi Zeen itu, sejenak menganggukan kepala, lalu kembali menundukkan kepalanya.


“Kenapa tak bilang sejak tadi? Kan mas bisa langsung pesan lewat hp?” Zeen berucap sambil mengacak-acak rambut Yuna sangking gemasnya.


'Bagaimana mau bilang? Kalau sejak tadi dia terus menempel, dan tak mau mendengar ucapanku!' gerutu Yuna yang hanya mampu didalam hati.


“Sebaiknya kamu cepat pakai baju gih! Sebelum aku memakanmu lagi.”


“Apa?!” pekik Yuna, refleks membalikkan tubuhnya dan kini menghadap pada Zeen.


“Lihat! Kamu sengaja menunjukan tubuh seksi mu, hanya untuk mengodaku kembali ya?” Zeen menatap Yuna dengan tatapan selidik.


Yuna yang tersadar akan ucapan itu, membelalakan matanya, lalu kemudian ia kembali berlari dan masuk kedalam kamar mandi. Tak lupa pipinya yang sudah merona akibat menahan malu yang disebabkan oleh Zeen.


“Hahahaha ....” Zeen kembali tertawa terbahak-bahak, “Aduh ... mood boster banget lihat wajahnya yang ngegemesin kayak gitu. Rasanya aku ingin menguncinya disini untuk selama-lamanya.” Zeen menggelengkan kepala sambil memegang perutnya yang terasa sakit akibat terus tertawa.


Setelah puas dengan acara tawanya, Zeen mulai mengambil benda pipihnya disaku, lalu memesan makanan lewat pesanan online.


“Beres ....” Zeen kembali menaruh hpnya kedalam saku, lalu kemudian ia berjalan mendekati kasur dan duduk disana sambil menunggu Yuna yang masih berada didalam kamar mandi.


Ceklek!

__ADS_1


Suara pintu yang dibuka membuat Zeen langsung mengalihkan pandangannya dan mendapati Yuna yang sudah lengkap mengenakan pakaiannya.


Zeen menunjukan senyumnya kearah Yuna, saat tatapan mereka tak sengaja saling bertemu. “Sini sayang ....” Zeen menepuk-nepuk pahanya, berniat agar Yuna duduk dipangkuannya.


Yuna yang melihat itu hanya acuh saja, dan lebih memilih duduk disofa yang jaraknya agak jauh dari kasur itu.


Zeen pun tak ingin diam saja, ia pun berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Yuna, kemudian duduk disamping wanitanya dengan menduselkan kepalanya tepat dibahu Yuna.


Ingin sekali Yuna menyingkirkan kepala itu yang dengan seenaknya bersandar dibahunya, namun menginggat jika Zeen adalah suaminya, ia pun mengurung niatnya itu.


Ting! Tong!


Belum sempat Zeen membuka mulutnya, tiba-tiba terdengar suara bel dari luar yang membuat dua insan itu saling berpandangan.


“Mas pesan makanan lewat online, kan?” tanya Yuna.


“Mungkin tak sesuai perkiraan mas. Hemm, kalau begitu biar aku aja ya yang buka?”


Saat Yuna mulai bangkit dari duduknya, tiba-tiba Zeen menarik tangan Yuna sehingga membuat wanita itu duduk kembali disofa.


“Kenapa mas?” tanya Yuna bingung.


“Kamu disini aja, biar aku yang bukakan.”


“Tapi kan sama aja mas?”


“Udah ... kamu diem aja disini, kamu gak malu? Itu dileher kamu banyak tanda merahnya,” tunjuk Zeen sambil menekan leher Yuna yang juga terdapat tanda kiss mark nya. Yang sengaja ditinggalkan oleh Zeen, padahal tanda itu sangat banyak dileher Yuna. Bahkan warna kulit Yuna yang begitu putih membuat tanda itu semakin terlihat dan memerah.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Zeen berdiri dari duduknya dan masih sempat-sempatnya ia mengacak-acak rambut Yuna dengan perasaan gemasnya.


“Udah ya? Biar aku aja yang buka,” setelah mengatakan itu, Zeen benar-benar berlalu dari sana dan meninggalkan Yuna yang masih terbengong dalam diamnya.


Tersadar dari lamunnya, Yuna pun juga ikut berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju meja rias yang terdapat kaca besar disana. Yuna yang sudah sampai pada tujuannya, mulai melihat tanda kemerahan itu dilehernya, karena dirinya penasaran apakah benar ada tanda merah dilehernya.


Dan seper detik kemudian, Yuna tiba-tiba kembali dibuat melotot, saat benar adanya jika ada tanda kiss mark yang ada pada leher putinya.


“Astaga ...!! Kenapa banyak sekali tandanya? Bahkan ada tanda gigitan disini, sangat jelas da-dan merah?” Yuna bergetar ketika mencoba menyentuh lehernya. Ia sendiri tak menyangka akan mendapatkan sebuah tanda yang bahkan dirinya saja baru menyadari.


“Benar-benar mas Zeen ...!” Yuna kembali menggelengkan kepalanya, merutuki Zeen yang membuat dirinya kembali merasa malu.


Dalam satu menit Yuna mengamati dirinya dikaca, bertepatan dengan itu Zeen baru saja masuk kedalam ruangan, tak lupa tangannya membawa sebuah plastik yang bisa Yuna tebak jika isi plastik itu merupakan makanan yang dipesan Zeen secara online.


“Beneran pesenan mas, ya?” tanya Yuna berjalan mendekat kearah Zeen yang masih berdiri dari tempatnya. Namun saat Yuna melihat raut berbeda Zeen, Yuna seketika mengerutkan keningnya.


“Kenapa mas? Kok bengong aja?” tanya Yuna menyadarkan Zeen dari lamunya.


Zeen menatap Yuna sekilas, lalu menatap bingkisan makanan yang ada ditangannya.


“Ini memang makanan, tapi ini bukan atas namaku yang pesan, karena aku tak memesan makanan seperti ini.” Zeen meletakkan plastik itu diatas meja. Lalu pria itu duduk disofa sambil menghela nafas panjang.


“Loh? Trus? Siapa yang pesan mas?” tanya Yuna beruntun.


“Ada dua plastik makan disini! Yang satu dari dokter Fadli. Dan yang satu lagi dari seorang wanita bernama Mita! Entah siapa Mita itu, aneh sekali, mengirim makanan kepada orang lain.” Zeen mengeleng dan kembali menghela nafas panjang.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2