Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 175


__ADS_3

...***...


Disepanjang perjalanan, Yuna sejak tadi hanya terdiam melamun dan hanya menyandarkan kepalanya pada kaca mobil itu. Bahkan Zeen yang sejak tadi berceloteh sampai tak ditanggapi oleh Yuna.


Kini Zeen dan Yuna sedang menuju pulang kerumah, dengan keduanya duduk dikursi belakang dan juga Vina yang duduk disebelah Zeen. Sedangkan Firo dan Rima duduk didepan, karena sekarang yang bertugas menyetir adalah Firo.


Zeen yang baru menyadari jika ucapannya tak ditanggapi itu menoleh kekiri, dimana ia bisa melihat jika istrinya tengah melamun, kemudian ia menolehkan kepalanya kekanan. Dimana Mamanya tengah tertidur sambil bersedikap dada.


Zeen menghela nafas sejenak, lalu menatap istrinya kembali. Dengan lembut ia mengapai tangan istrinya kemudian ia membawa tangan itu kedalam gengaman tangannya.


Refleks Yuna yang merasakan tersentak dan menolehkan kepalanya kearah suaminya.


“Ada apa hem? Kenapa melamun aja dari tadi? Bicara sama mas, apa yang kamu pikirkan,” ujar Zeen bertanya dengan nada lembut sambil mengecup singkat telapak tangan Yuna yang sudah sangat berisi karena hormon kehamilan istrinya yang sangat berkembang dan sehat membuat wanitanya itu tak seramping dulu. Bahkan kaki istrinya sudah sangat membengkak dan cara berjalannya pun sedikit tertatih, membuat Zeen iba melihatnya. Tapi mau bagaimana lagi? Jika istrinya sudah hamil anaknya dan Zeen sangat menantikan lahirnya sikembar itu.


Yuna nampak tersenyum simpul, lalu membalas gengaman tangan dari suaminya. “Engak mas, aku cuman kepikiran. Apa rasanya nanti sangat sakit ketika akan melahirkan si kembar? Apakah aku nanti aku sanggup menahan sakitnya? Aku pernah baca pada artikel jika melahirkan itu sangat sakit! Tapi setelah melahirkan rasa sensasi sangat luar biasa?”


Sebenarnya yang dikatakan oleh Yuna itu bohong adanya, dirinya bukan memikirkan hal itu. Yang ia pikirkan adalah ketika ia sedang ditoilet rumah sakit dan mendapati teror yang sama untuk kesekian kalinya, dan ia bahkan belum menceritakannya pada suaminya.


“Tenang sayang ... jika kamu kesakitan nanti, kamu bisa lampiasin itu pada mas! Misalnya kayak kamu cakar mas, dijambak. Bahkan kamu pukul mas sambil cubit berkali-kali pun boleh!” ucap Zeen percaya diri yang membuatnya tanpa sadar menjerumuskan dirinya pada maut.


“Oh ya? Benarkah itu mas? Wah ... aku sangat menantikannya, aku sangat suka jika sedang mencubiti mas. Kesannya mas sangat mengemaskan!” ucap Yuna dengan antusias dan mengebu.


Hal itu tentu membuat Zeen ngeri, ketika membayangkan jika itu akan terjadi padanya dua bulan lagi.


'Yaampun Zeen? Mulutmu ini emang gak bisa dikendalikan ya?' gumam Zeen dalam hati sambil mengerutu.


“Iya sayang, asal kamu bahagia! Dan tak merasakan sakit lagi mas akan rela apapun itu,” jawab Zeen sangat pasrah. Karena jika bukan demi istrinya mungkin dirinya tak akan mau.


Sedangkan Firo yang sejak tadi diam mendengar percakapan mereka itu, mencibir kesal. “Seharusnya aku tadi pulang sendirian saja! Males banget jadi nyamuk nyangkut.” Gerutunya melirik sepion kaca atas yang mana memperlihatkan Zeen dan Yuna dengan sinis.

__ADS_1


“Aku mendengarmu sepupu laknat!” ucap Zeen tiba-tiba yang mana malah membuat Firo terkekeh mendengarnya.


“Baguslah! Aku memang sengaja mengucapkanya, agar kakak sepupu tersayang menyadarinya.”


Zeen dibuat mendengus mendengarnya. “Dasar bocah tengik! Bau ingus!”


Firo yang mendengar itu hanya mengedikan bahunya acuh.


Zeen hanya bisa mendensah, kemudian kembali menoleh kearah istrinya.


“Jadi sayang ... kamu jangan terlalu memikirkannya ya? Aku takut jika kamu terlalu memikirkannya, baby-baby kita nanti juga ikut keresahan.” Tutur Zeen dengan lembut, yang kembali mengecup singkat kedua telapak tangan Yuna kemudian beralih mencium perut buncit istrinya dengan perasan senang dan tulus.


Zeen kembali menatap istrinya yang hanya diam dengan tatapan kosong. “Kamu benar-benar tak apa sayang? Aku khawatir sama kamu, soalnya kamu tadi tak mau makan dikantin dan makanan tadi yang sudah dipesan hanya kamu aduk-aduk saja,” jelas Zeen yang pada saat itu, bersamaan Vina bangun dari tidurnya.


“Apa? Menantu Mama belum makan tadi? Yagusti ... seharusnya kamu suapin dong Zeen! Kamu sih yang terlalu gak siaga jadi suami.”


Kini Vina mulai menyalahkan Zeen yang membuat sang empun hanya menghela nafas saja menerima cercaan dari sang Mama.


“Beneran sayang? Nanti kalau sampai rumah mas langsung siapin makanan buat kamu deh. Mas gak rela jika istri mas gak makan dalam satu hari, itu membuat mas juga merasa tak berselera ketika makan!” jelas Zeen dengan sorot mata serius.


“Oke, Mama nanti juga mau buatkan menantu Mama masakan kesukaan kamu! Biar cucu-cucuku makin mateng dan gemuk!” timpal Vina mengebu.


Yuna sampai tertawa mendengarnya, sejenak kejadian ditolite tadi menghilang didalam pikirannya dan diganti dengan celotehan orang-orang tersayangnya. Dirinya merasa terharu mendapatkan kasih sayang dari mereka yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


“Terimakasih, Mah, mas. Kalian membuatku terharu!”


Dengan sigap Zeen langsung meraih kepala Yuna dan menyandarkanya pada bahunya. “Kami akan terus membuatmu terharu sampai air matamu tak berhenti menetes.”


Firo yang mendengar itu kembali mencebik, “Eleh ... puitis! Dasar bucin angkutan!”

__ADS_1


“Hei! Bukan bucin angkutan, melainkan bucin akut! Perbaiki cara bicaramu anak muda! Sepupu tampanmu ini sedang membucin akut dengan kakak iparmu ini!” terang Zeen dengan sangat mengebu-gebu dan penuh percaya diri.


Firo hanya bisa mendengus mendengarnya.


“Sudahlah kalian ini membuatku pusing!” sela Rima yang sedari tadi tertidur, namun saat mendengar suara perdebatan itu membuat dirinya mau tak mau bangun dari tidurnya.


“Memang dua cucu Mama itu, bocah yang sangat tengik bertengikan!” timpal Vina sambil menyembunyikan tawanya.


Semua pemandangan itu terus diamati oleh Yuna, yang sejak diam merenung. 'Ya Allah ... apakah nanti aku akan dipisahkan oleh keluargaku ini? Tolong jauhkan hamba dari mara bahaya, dan tolong hamba melawan segala macam cobaan agar kedua bayiku lahir didunia dengan selamat. Hanya itu yang hamba minta ya Allah ....'


Sebelumya keadaan terasa aman-aman saja, tapi sejurus kemudian terdengar ban meletus dimobil itu yang membuat mereka yang berada didalam terpekik kaget.


“Apa? Kenapa bannya meletus? Apa ada paku?” ucap Firo merasa heran.


“Mungkin memang ada paku yang menancap cucuku! Coba kau lihat dulu,” timpal Rima.


Firo menurut, lantas langsung keluar dari mobil dan melihat ban belakangnya yang sudah sangat kempes sekaligus ban itu tampak robek.


“Sepertinya kita tak bisa memakai mobil ini! Akan lama perbaikannya karena bannya sudah sangat rusak.” Ucap Firo yang membuat Rima dan Vina keluar dari mobil.


“Sepertinya begitu, kalau begitu tante telfon pamanmu dulu buat jemput kita. Disini juga jalanan agak sepi jadi taksi pasti jarang lewat.” Ujar Vina mengusulkan.


“Oke tan, aku akan menghubungi montir untuk membawa mobilku kebengkel.”


Yuna dan Zeen yang sejak tadi diam dimobil itu juga ikut keluar, dengan Zeen yang agak terpincang-pincang ketika berdiri.


“Mungkin mobilmu terlalu butut, sehingga membuat bannya meletus!” cibir Zeen membuat Firo melotot.


“Jangan menghina–”

__ADS_1


Perkataan Firo terhenti, kala tiba-tiba saja beberapa orang-orang berpakaian hitam datang berkumpul diantara mereka dan mengepung mereka dengan membentuk lingkaran.


TBC.


__ADS_2