Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 163


__ADS_3

...***...


“Obat Zeen! Zeen!” panggil Albaret pada anaknya.


Zeen yang tadinya tengah menatap penuh cinta pada istrinya dibuat mengalihkan pandangannya. Kemudian ia memasang wajah masa kepada Papanya.


“Apa sih Pah? Manggilnya kok gitu?” gerutu Zeen.


“Iya ini Papa kok begitu?” timpal Vina ikut-ikutan.


Albaret mengabaikan istrinya dan lebih fokus pada putranya. “Papamu ini sudah menjadi dokter ketika kau belum lahir. Dan ketika kau lahir Papa menamaimu Zeen dengan huruf e nya yang ditambah satu. Kamu tau kan? Kalau namamu itu diambil dari kata obat?”


Zeen nampak mengangguk.


“Nah, karena kamu sudah mengerti. Maka tetaplah propesional dalam bekerja putraku Zeen Albaret! Karena Papamu ini ogah menanggung pekerjaanmu yang menumpuk itu. Gara-gara kau yang tak berpropesional semua perawat dan suster rumah sakit pada mengeluh pada Papa! Itu semua karena kamu yang menunda-nunda pekerjaan.” Ujar Albaret bersuara tegas sambil menatap tajam putranya.


“Loh? Kok perawat dan suster? Emang apa sangkut pautnya Pah?” tanya Zeen dengan polosnya.


Albaret menghela nafas gusar, kemudian ia memijit pangkal kepalanya sejenak. “Kau itu bodoh atau apa? Tentu saja berkatmu! Pekerjaan mereka juga tertunda. Kau dokter penting juga disana! Semua para pasien sedang membutuhkanmu. Kau tak kasihan apa? Melihat mereka yang sedang sakit ingin segera sembuh dan kau yang bertugas memeriksa mereka jadi tertunda lah harapan mereka yang ingin cepat sembuh dan berkumpul bersama keluarga dirumah!” Jelas Albaret panjang lebar penuh emosi.


Zeen tak lagi menyahut dan hanya memilih untuk diam dan menundukkan kepala.


“Kenapa kau jadi tak propesional Zeen?” tanya Albaret.


“Kyahahahahahaha ....”


Terdengar suara tawa melengking dibelakang mereka, dan mereka semua pun saling mengalihkan pandangan. Dan Terlihat lah Firo yang tertawa terbahak-bahak diatas tangga.


“Syukurin! Makannya kalo pengen bermesraan ya kakak bangun sendiri rumah sakit sana! Biar kak Zeen bisa keluar masuk santai terus bisa bertemu dengan istrimu tercinta.” Ledek Firo masih dengan tawa bahaknya.


“DIAM KAU!”


Teriak Zeen dan Albaret bersamaan, yang langsung membuat mulut Firo terbungkam.


“Cih! Gak seru!” gerutu Firo lalu kembali melangkahkan kakinya menuju kamar.


“Ingat Zeen apa yang Papa katakan tadi! Jika kau masih ingin mengulanginya! Maka silahkan kau mengangkat kaki dari rumah ini dan istrimu akan tetap disini! Titik! Gak pake koma!” tekan Albaret dengan berapi-api.

__ADS_1


“Loh? Gak bisa dong Pah.” Protes Zeen.


“Papa gak mau tau, pokoknya kau gak boleh ingkar perkataan Papa.” Albaret kemudian bangkit dari duduknya dan sejenak mencium kening istrinya lalu beralih pada Mamanya. “Kita berangkat sekarang! Ayo, Papa tunggu kamu dimobil. Kamu harus berangkat sama Papa mulai sekarang.”


Tanpa mendengar jawaban dari sang anak, Albaret lebih memilih berlalu begitu saja dan mengabaikan teriakan dari Zeen.


“Papa!” Zeen pun mengusar rambutnya dengan kasar. “Yaampun Papa ini seenaknya aja.” Gerutunya.


“Sudah mas, lebih baik kamu cepat susul Papa, dari pada kamu nanti gak bisa lihat aku lagi nanti.” Terang Yuna.


“Kamu belain Papa sayang?” tampak Zeen mengerucutkan bibirnya.


Sambil mengunyah apel, Yuna mengedikan kedua bahunya acuh. “Apa kata Papa tadi kan memang bener, jadi ... mas sekarang ikuti kata Papa aja. Aku jadi malu mas gara-gara mas pengen nempel sama aku mas jadi lalai sama pekerjaan.” Jelas Yuna.


Zeen mendesah seketika. “Ah! Gak seru.” Cemberutnya.


Zeen yang kesal itu dengan cepat mengecup dahi dan perut Yuna dalam sekali. Kemudian salim kepada Mama dan neneknya. Lantas setelah selesai ia berjalan dengan lebar begitu saja dengan mulut yang terus komat-kamit.


“Suamimu itu Yuna.” Seru Vina mengeleng kepala dengan pandangan terus menatap punggung putranya.


“Itu juga putra Mama ....” gumam Yuna bersuara lirih.


“Mau kemana kau?” teriak Albaret yang sudah berada dimobil miliknya sendiri dengan duduk dikursi belakang karena ada supir pribadi yang akan mengantar jemput dirinya nanti.


“Ya mau kerumah sakit dong Pah? Kan Papa sendiri tadi yang nyuruh,” kesal Zeen menatap malas Papanya.


“Ya aku menyuruh kau kerumah sakit. Tapi aku tak menyuruh kau pake mobil sendiri datang kerumah sakit! Jadi kamu harus berangkat bersama sama Papa.”


“Tapi aku mau berangkat sendiri Pah,” rengek Zeen.


“Mobilmu sudah Papa kempesin, jadi kamu gak bisa berangkat sendiri.” Ujar Albaret santai tak merasa kasihan sekali dengan wajah lusuh anaknya.


“Tapi kan masih ada mobil Zeen yang lain,” ucap Zeen tak begitu kaget karena ia masih menganggap mampu memiliki mobil yang lain.


“Yang lain sudah Papa kempesin juga.” Celetuk Albaret.


“Apa?” pekik Zeen melongo. Ia yang penasaran itu langsung berjalan cepat menuju mobil-mobilnya yang lain.

__ADS_1


Ia pun mulai mengecek ban satu per satu mobil mewahnya itu. Dan sesuai dengan ucapan Papanya, ternyata semua ban mobil miliknya kempes depan belakang. Hal itu tentu membuat kekesalan Zeen meninggi dan hanya bisa melampiaskan emosinya kedinding.


Bugh!


“Sial!” umpat Zeen, lalu sedetik kemudian ia mengibaskan tangannya yang teras berdenyut akibat ulahnya sendiri.


Mau tak mau Zeen akhirnya pasrah saja, dan lebih memilih langsung masuk kedalam mobil Papanya tanpa lontaran perkataan pedas.


“Loh? Katanya mau berangkat sendiri pake mobilnya?” tanya Albaret berpura-pura tak peka.


Zeen mendengus kesal. “Tak usah dibahas Pah, aku akan bicara nanti setelah Papa memberikan ganti rugi atas mobil kesayanganku yang jadi tak sempurna gara-gara Papa yang mengempesi bannya.” Zeen mengeluarkan unek-uneknya yang bersarang dipikirkannya.


Albaret yang mendengar itu langsung tertawa terbahak-bahak, mencontoh Firo yang tadi sempat menertawai Zeen.


Tentu membuat Zeen semakin kesallah melihat itu.


“Hahaha, malangnya nasib putraku.”


“Papa mau berangkat apa mau menertawakanku terus sih?!” pekik Zeen berteriak.


“Oiya, iya. Kita berangkat sekarang, hahahaha ... ayo pak kita berangkat sekarang.” Perintahnya sambil tertawa.


“Baik pak.” Jawab sopir itu.


Zeen sampai mengeleng melihat tingkah Papanya. 'Papa sungguh menyebalkan.'


°°°


“Bagaimana jeng Vina? Apa putriku masih tak ingin bertemu dengan kami?” tanya Eva yang saat ini sudah berada dikediaman Albaret. Namun kali ini Eva sendiri tak ditemani suaminya karena suaminya itu tengah sibuk dikantor.


“Aku masih belum menanyakannya jeng. Yuna tadi hanya diam saja tak membahas tentang ini.” Ujar Vina.


Eva yang mendengar itu dibuat menghela nafas dan nampak sedih diwajahnya. Didalam dirinya ia benar-benar ingin segera kembali utuh bersama putrinya, ingin segera mendekat putrinya agar bisa menyalurkan kerinduan yang begitu mendalam.


“Tak usah sedih jeng, aku akan bicara dulu kepada Yuna. Jeng bisa menunggu disini jika jeng mau, tapi kalau jeng Eva mau nunggu dirumah jeng juga gak papa.” Ujar Vina mencoba mengalihkan rasa sedih yang dirasakan oleh Eva.


“Aku akan menunggu disini jeng.” Jawab Eva langsung.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2