Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 26


__ADS_3

Hari pertama Yuna menjalani pekerjaan sebagai perawat rumah sakit, walau hanya membantu mertuanya untuk menggantikan kekurangan pegawai dirumah sakit itu. Namun ia tetap merasa senang, ia sungguh senang ketika melihat keadaan para pasien yang mulai siluman dari sakitnya dan membantu mereka dengan perasaan sabar dan ikhlas. Tiada hari menyenangkan selain membantu orang yang tengah kesusahan, betapa mulianya hati seorang gadis desa itu yang kini gelar sebutan 'gadis' itu sudah dilepas karena karena ia saat ini sudah bersetatus sebagai istri dari dokter Zeen pemilik rumah sakit itu. Walau wanita seutuhnya belum melekat pada dirinya.


"Nak... Kamu perawat baru disini ya?" tanya seorang wanita paru baya, yang saat ini tengah mengecek keadaan ibu itu.


"Eh? Kok ibu bisa tau.." tanya Yuna sedikit bercanda.


"Ibu tau... Karena ibu sudah lama dirawat dirumah sakit ini, mungkin sekitar sebulanan. Ibu juga baru liat kamu disini, apalagi kayaknya kamh yang paling muda disini. Karena sebagian perawat yang kerja dirumah sakit ini sudah tak terlihat muda lagi." jelas ibu itu.


Yuna tertawa mendengar penjelasan ibu itu,"Berarti tidak ada cowok tampan dirumah sakit ini dong bu... Kalo semua dirumah sakit ini tua-tua semua."


Ibu itu ikut tertawa. "Kalo yang tampan mah ada nak.. Kalo gak ada dua dokter tampan disini, namanya kalo gak salah dokter Zeen."


Yuna memanut-manut mengerti, yah... Sudah bukan rahasia umum lagi kalau semua orang menyebut Zeen sebagai dokter tertampan dirumah sakit besar itu. Dan sebagai wanita, Yuna juga tau jika Zeen memiliki paras yang tampan rupawan, yang menurun papa kandungnya sendiri yaitu tuan Albaret, pemilik rumah sakit besar itu.


Ibu itu masih tampak berfikir. "Ada satu lagi sih, dokter tampan disini. Dokternya juga baru-baru bekerja dirumah sakit ini, mungkin sekitar sebulan yang lalu. Tapi ibu lupa namanya, padahal semua orang disini sering gosipin dokter itu loh." ucap ibu itu.


"Hahaha... Yaudah kalau sudah lupa gak papa, jangan dipikirin terus bu... Nanti jadi pusing dan kepala nanti jadi sakit."


"Bener apa kata kamu nak... Eh! Ibu boleh tau siapa nama kamu, dari tadi bicara tapi ndak tau namanya." ujarnya.


Yuna kembali tersenyum menatap wanita paru baya itu, "Nama saya Yuna bu..." jawab Yuna.


Ibu itu tersenyum membalas senyuman Yuna. "Oh, nak Yuna... Nama yang bagus, orangnya cantik! Manis lagi kalo senyum." puji ibu itu.


"Yaampun ibu ini bisa aja.." ucap Yuna merasa malu.


"Haha... Beneran loh, kamu itu manis kalo senyum."


"Wes,wes bu.. Yuna jadi malu. Ibu istirahat aja ya... Biar cepet sembuh."


"Hahaha... Seru banget ledekin kamu, yaudah kalau begitu ibu istirahat dulu, makasih ya nak Yuna. Hari ini ibu seneng dirawat sama kamu."

__ADS_1


Yuna menganguk. "Iya bu.. Sama-sama."


Setelah memastikan pasien itu berbaring dikasurnya, Yuna lalu bergegas keluar dari ruangan itu. Dan berjalan menuju ruangan Zeen, ia ingin menanyakan pada pria itu perihal dirinya yang akan menjadi asisten pribadi itu.


Ketika Yuna berjalan pelan menyusuri koridor rumah sakit. pandangannya teralihkan pada seorang bocah kecil yang tengah digandeng oleh orangtuanya itu, bocah itu sungguh mengemaskan dimata Yuna. Bagaimana tidak mengemaskan jika bocah itu terus berceloteh tak jelas sambil berjalan diapit oleh kedua orangtuanya itu.


Dukk...


Tiba-tiba saja Yuna terhubung ketika tak sengaja, bahunya tersengol oleh seseorang yang lewat.


"Aduh.." refleks Yuna bersuara, ia menopang kedua tangannya dilantai agar tubuhnya tak mendarat dilantai itu.


"Eh? Maaf! Maaf... Kamu gak papa." tanya orang itu.


Yuna belum melihat siapa gerangan yang menabraknya itu, "Iya gak papa... Sepertinya saya yang salah, karena ndak lihat jalan.." ucap Yuna dan berdiri dari jongkoknya itu.


Yuna mengibas-gibaskan tanahnya yang sedikit itu. Ia lalu beralih menatap seseorang yang ada didepanya, Yuna agak terkejut karena seseorang yang ada didepanya itu adalah seorang dokter, yang perawakanya tinggi, kulitnya yang putih dan ada tahi lalat dibawah matanya membuat wajah itu semakin tampan.


Yuna mengeleng-geleng. "Oh! Tak perlu minta maaf dok! Saya juga salah karena saya tak memperhatikan jalan didepan. Jadi sepertinya bukan salah dokter saja." ucap Yuna membenahi.


"Berarti salah kita berdua gitu?" tanyanya.


Yuna menganguk. "Iya seperti itu." jawabannya sambil tersenyum.


Dokter itu ikut tersenyum. "Hahaha, yaudah kau begitu. Saya tetap minta maaf karena menabrak kamu... Oh, iya, kalau begitu saya duluan ya! Saya terburu-terburu karena masih ada urusan yang harus saya urus." ucap dokter itu pada Yuna.


"Oh! Iya silahkan dok."


Dokter itu menganguk, kemudian melanjutkan langkahnya kembali dengan sedikit tergesa-gesa.


Setelah dokter itu pergi, Yuna juga kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju keruangan Zeen. Ia berjalan dengan memperhatikan keadaan sekitar, karena tak mau mengulang kejadi beberapa menit tadi.

__ADS_1


Saat sudah sampai didepan ruangan Zeen, Yuna yang ingin mengetuk pintu itu tiba-tiba mengerutkan keningnya kala pintu itu tak tertutup dengan rapat.


"Umm, sayang.."


Samar-samar Yuna mendengar suara seorang perempuan.


"Apa pacar dokter Zeen belum pulang?" gumamnya.


Yuna sedikit mengintip ruang itu dari cela pintu yang sedikit terbuka. Matanya menangkap objek satu wanita dan satu pria yang tengah duduk bersama disofa ruangan itu.


Hati Yuna lagi-lagi berdesir, saat melihat Zeen yang dengan mesranya mengelap bibir wanita itu yang terdapat sisa makanan disana.


"Sayangku ini, kalau makan selalu belepotan ya?"


"Hehe, kan ada kamu yang mau ngelapin."


Yuna melirik sebuah makanan dimeja yang mereka makan, ia melihat sebuah kota tapi bukan kota bekal yang ia berikan pada Zeen sebelumnya. Setidaknya ia bisa bernafas lega ketika masakannya tak dimakan oleh wanita itu.


"Kamu laper banget ya sayang? Makanya kok banyak banget?" ucap wanita itu yang tak lain adalah Laura.


"Iya aku laper banget.."


"Emang kamu gak dikasi sarapan dirumah?"


"Engak sempet, tapi tadi aku dikasi bekel sama gadis desa itu. Tapi enggak aku makan bekal yang dia kasi. Mending kukasi sama tukang Ob dirumah sakit ini. Dari pada ku buang kan?"


"Wah... Tega banget hahaha."


"Biarin aja.."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2