
...***...
Tibalah permintaan apa yang diajukan oleh Yuna, yaitu saat ini keduanya tengah berada didepan rumah tetangga, tepatnya disamping rumah mereka.
Kalian pasti bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan?
Terlihat pemilik rumah itu baru saja keluar dari dalam rumah dan berjalan menuju kearah mereka.
“Ada apa malam-malam kemari Yun? Kenapa tak masuk kedalam aja? Disini kan dingin gak baik buat kamu yang lagi hamil.” Ucap Eva kepada Yuna, yang merupakan nyonya dari rumah besar itu. Maksudnya Eva lah nyonya rumah itu.
Yuna tampak tersenyum malu-malu, “Gak papa kok tante Eva, Yuna hanya sebentar saja disini. Dan sebenarnya kami hanya memiliki urusan diluar pekarangan anda.”
“Emang urusan apa itu?” tanya sang tuan rumah Singit namanya, yang saat ini kedua suami istri itu tengah saling merangkul.
“Iya sayang? Emang ada urusan apa sih? Aku bahkan gak kamu kasih tau.” Timpal Zeen yang memang benar adanya jika ia tak diberi tahu sama sekali oleh istrinya, karena istrinya asal bawa dia sampai kerumah tentangga sebelah mereka.
“Loh? Zeen juga gak tau?” tanya Eva mengerutkan alisnya.
Zeen mengaruk tengkuknya yang tak gatal lalu tersenyum canggung. “Iya tante aku bahkan diseret sama istriku ini, tanpa ada alasannya ....” Zeen kemudian merangkul pundak istrinya dengan mesra. Hal itu membuat kedua sepasang istri yang sudah berusia lanjut itu saling melirik lalu tersenyum geli melihat tingkah manja Zeen.
“Emang ada hal penting apa Yuna? Sampai membuat suamimu juga kebingungan.” Tanya Eva lagi sambil terkikik geli.
__ADS_1
“Emm, gini tante. Yuna mau tanya dibelakang halaman tante ada pohon manganya kan?” tanya Yuna.
Kedua pemilik rumah itu saling menganguk secara bersamaan.
“Ya, dibelakang rumah kami ada pohon mangga, tapi mangganya masih muda Yun ....” jawab Eva.
“Oh? Gak papa tante, aku pengen lihat pohonnya boleh gak tante?” tanya Yuna dengan wajah berbinar terang.
Eva terkekeh pelan, lalu mengangguk. “Boleh dong Yun ... yuk kalau begitu kita kedalam sekarang, soalnya kita harus masuk dulu kedalam baru menuju halaman belakang.” Jelasnya.
“Oh? Oke tante! Siap! Siap!” jawab Yuna dengan sangat antusias lalu berjalan menghampiri wanita paru baya itu lantas langsung mengandeng tangannya. Hal itu membuat Zeen kebingungan sendiri saat melihat Yuna yang begitu akrab dengan tetangga sebelah mereka.
Sigit yang melihat keterdiaman Zeen itu mulai mendekati pria itu, lalu menepuk bahunya. “Kenapa diam saja? Kau tak mau ikut?” tanyanya.
“Yasudah ayok,” ajaknya yang kemudian mereka berjalan bersama dengan dua wanita yang berada didepan mereka.
“Zeen pasti binggung ya? Kenapa Yuna begitu dekat dengan istriku?” tanya Sigit sambil berjalan menuju belakang rumah.
“Hemm, iya om saya bingung dan sekaligus penasaran.” Jawab Zeen namun pandangannya terus tertuju pada Yuna.
Sigit terkekeh melihat kelinglungan Zeen, “Istrimu itu kadang-kadang selalu main kerumah om. Dan saat kerumah pasti dia sering buat-buat makanan sama istriku, jadi kau tak perlu heran kenapa mereka bisa sedekat itu.”
__ADS_1
“Oh ... baru tahu aku om. Kukira istriku tak akan mudah mengakrabkan diri dengan orang lain mengingat jika sifatnya itu yang pendiam dan malu.” Jelas Zeen sambil tersenyum mengingat masa pertemu pertama mereka, karena pada saat itu Zeen dapat melihat jika Yuna adalah seorang yang pendiam dan banyak menyendiri.
Sigit lantas mengangguk paham, “Om paham maksudmu itu Zeen. Tapi kadang om suka bingung juga melihat mereka yang langsung akrab dihari pertama mereka bertemu seperti cocok dengan satu sama lain. Berkat itu istriku yang selama ini terlihat murung kini terlihat sangat ceria saat pertemuanya dengan Yuna, hal itu membuatku sangat bahagia karena untuk kesekian lamanya istriku tersenyum ketika kami kehilangan anak perempuan satu-satu kami.” Jelas Sigit dengan raut sendu. Dirinya pun merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya namun dirinya mampu menyembunyikan rasa sedih itu agar bisa menguatkan istrinya yang kala itu sedang merasa terpuruk.
Zeen bahkan yang mendengar itu lantas menoleh kearah pria paru baya itu, karena ia merasa terkejut dengan cerita yang baru ia dengar dari tentanga yang sudah dianggap oleh keluarganya sebagai saudara sendiri.
“Maaf om aku baru tahu cerita itu. Aku bahkan tak merasa percaya jika om pernah mengalami hal itu. Mengingat om dan tante sangat seperti keluarga yang sangat harmonis dan tak terlihat tertimpa masalah. Dan aku kira om hanya memiliki satu putri yang Cika, anak om yang masih kecil itu?” tampak Zeen sangat kebingungan.
Sigit kembali terkekeh. “Ya, wajar saja jika kamu beranggapan seperti itu karena kamilah yang berusaha untuk menutupi kesedihan kami, dan ngomong-ngomong soal Cika anak om itu bukan anak kecil lagi. Sekarang dia sudah Smp dan bersekolah ditempat neneknya tinggal. Om sengaja mengirim Cika jauh dari om dan tante karena ....”
Sejenak Sigit menjeda ucapannya. “Karena om tak mau hal dimasalalu terjadi kembali, sebab didunia bisnis itu sangat menyeramkan. Itu lah mengapa om tak memberi tahu kepublik jika om dan tante masih memiliki anak dan orang-orang luar sana pasti beranggapan jika om hanya memiliki satu anak yaitu putri om yang hilang karena diculik disaat dia masih sangat kecil.” Singit hampir saja menangis ketika mengingat putrinya yang tak pernah ditemukan hingga sampai sekarang.
Zeen yang merasa sangat iba itu segera merangkul pundak pria paru baya itu, ia tak menyangka dibalik senyuman yang terpancar dari keluarga itu, ada duka yang mendalam yang tak pernah diketahui oleh orang manapun.
“Aku turut sedih mendengarnya om. Aku akan mengizinkan Yuna terus berjalan-jalan kesini agar tante dan om tak merasa sedih karena mengingat masalalu.” Jelas Zeen dengan sungguh-sungguh.
“Haha, ada-ada aja kamu Zeen.” Timpal Singit tertawa, “Oh ya. Om juga sempat mengira jika wajah Yuna seperti mirip dengan wajah istriku. Tapi entahlah mungkin itu hanya kebetulan saja.” Ujar Sigit terkekeh pelan.
Zeen yang mendengar itu lagi-lagi dibuat tertegun, ia bahkan tak sampai berfikir disitu. Jika memang dilihat-lihat wajah Yuna dan juga wajah dari tante Eva hampir mirip. Hal yang ia duga-duga, mulai menerka-nerka didalam pikirannya.
“Mungkinkah ...? Yuna dan keluarga om Sigit?” gumam Zeen sangat penasaran. “Aku harus cari tahu kebenarannya.” Tekat Zeen.
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa tinggalkan jejak...