Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 148


__ADS_3

...***...


“Mas Zeen kenapa diam saja disitu?!” teriak Yuna dengan kencang membuat Zeen yang melamun itu langsung tersadar sekaligus tersentak kaget, karena teriakan dari istrinya itu lumayan memekikan gendang telinga padahal jarak diantara mereka lumayan agak jauh.


“Zeen ayok, istrimu sudah marah-marah begitu loh, kamu gak takut kalo dia ngamuk?” kini giliran Sigit yang bersuara, dirinya dibuat terkekeh geli ketika melihat wajah cengoh dari seorang Zeen Albaret. Dan baru pertama kali ia melihat itu.


“Ah? Iya om, saya menyusul.” Ujar Zeen mengaruk kepalanya kembali yang tak terasa gatal itu dan mulai berjalan mendekati istrinya dengan senyuman kikuk.


“Mas ini jalannya lelet banget?! Masa dari tadi sampe situ-situ aja?” ucap Yuna sambil mengerucutkan bibirnya merasa kesal.


Kedua sepasang suami istri pemilik rumah itu kembali dibuat tertawa.


“Biarkan saja Yuna ... mungkin suamimu sedang kecapean karena baru pulang dari rumah sakit kan?” kata Eva.


Yuna terdiam mendengar ucapan itu, lantas kemudian pandangannya ia alihkan lagi kearah Zeen. “Mas capek ya? Pasti enggak kan? Kan disini aku yang paling capek, bawa dua bayi diperut aku sekaligus ....” ucap Yuna sambil mengelus perutnya yang agak buncit itu.


“Wah? Yuna, kamu hamil kembar?” tanya Eva dengan raut tak percaya.


Yuna mengangguk menanggapi ucapan itu, “Iya tante, tadi baru periksa dan baru juga tau jika Yuna sedang hamil kembar.” jelasnya.


Tiba-tiba Eva menutup mulutnya dengan kedua tangannya, “Wah ... selamat ya nak ....” kemudian Eva memeluk tubuh Yuna dengan sangat erat. Bahkan wajahnya memancarkan kebahagian yang teramat.


“Makasih tante ....” Yuna pun membalas pelukan itu.


Sigit menepuk bahu Zeen dengan senyuman, “Selamat ya Zeen, ternyata bukan hanya satu tapi dua sekaligus. Siapkan kesabaran dan mental. Soalnya ibu hamil kadang sangat rewel kadang juga sangat manja. Harus-harus jadi suami siap siaga kamu.” Jelas Sigit kemudian terkekeh pelan.


Zeen pun ikut tertawa mendengar itu, “Saya pasti akan mengingat nasihat itu.” Timpal Zeen.


“Masss! Sini mas!” teriak Yuna lagi padahal jarak diantara mereka terbilang sudah sangat dekat. Tapi entah mengapa wanita hamil itu sedari tadi terus berteriak memanggil Zeen namun arah matanya malah tertuju pada pohon mangga yang agak menjulang tinggi itu.


Zeen pun dibuat menghela nafas. “Sayang ... aku dibelakangmu, kenapa manggilnya teriak terus sih?” tanyanya dengan nada terselip kesal.


Yuna cengegesan ketika melihat Zeen yang sudah berada disampingnya. “Hehehe, maaf mas ... kirain aku kamu masih ada jauh banget.” Kekeh Yuna sambil terus menampakkan sederet gigi putihnya yang kecil-kecil, sangat manis jika dilihat.

__ADS_1


Zeen yang merasa gemas itu langsung mengacak-acak rambut Yuna, hingga membuat wanita itu berdecak kesal.


“Ihh ... mas ....” Yuna menyingkirkan tangan Zeen yang ada dikepalanya.


“Emang ada apa sih sayang? Kenapa kamu panggil aku tadi?”


Yuna yang semula memperbaiki rambutnya yang lusuh itu kembali menatap suaminya, “Mau itu mas ....” kata Yuna sambil menunjuk arah atas pohon mangga itu.


Zeen menatap arah yang ditunjuk oleh Yuna. “Mau mangga?” tanyanya.


Yuna langsung mengangguk dengan cepat, hingga membuat pipi berisinya sedikit bergoyang. “Iya mas, aku mau mangga muda itu.”


“Oh yaudah kalo gitu, kita tinggal ambil saja kan?” tanya Zeen santai yang kembali dianguki kepala oleh Yuna dengan tatapan berbinar.


Bahkan Zeen sampai dibuat gemas dengan tingkah wanitanya. “Baiklah, tunggu disini sebentar mas coba panggil penjaga buat ambil mangganya.”


Saat Zeen hendak melangkahkan kakinya, Yuna pun segera menghentikan pergerakan itu dengan cara menarik tangan Zeen.


“Trus kalo mas pergi? Gimana mas manggil penjaganya sayang? Oh! Atau suruh penjaganya om saja ya!”


“Om? Penjaga om bisa saya pinjam dulu gak? Soalnya biar bisa bantuin ambil mangga mudanya.”


“Oh! Ada kok, sebentar biar pelayan yang panggilkan.” Saat Sigit hendak memanggil pelayan rumahnya, Yuna kembali menghentikan itu.


“Gak perlu om, aku gak mau jika yang ambilin mangga penjaga om.” Tolak Yuna dengan nada sopan.


Zeen lantas menatap aneh sang istri, “Loh? Trus kalo gak panggil penjaga, siapa yang mau ambil mangga buat kamu.” Tanya Zeen merasa keheraban sendiri.


Yuna kembali menatap Zeen, namun tatapan itu adalah tatapan tajam nan menghunus, membuat Zeen langsung keringat dingin dibuatnya.


“Kan ada maa disini!” sungut Yuna.


“Maksudnya sayang?” tanya Zeen kembali bingung.

__ADS_1


“Hih! Kok gak peka-peka sih mas? Ya aku gak mau jika penjaga atau orang lain yang ambil mangga buat aku, aku maunya mas lah yang memanjat pohon mangga ini terus memetikan beberapa mangga buat aku.” jelas Yuna yang lagi-lagi kembali tersenyum manis.


“Apa? Aku?” Zeen memekik kaget sampai mengangga.


Yuna mengangguk antusias, “Ya ... mas yang ambilin, ayo mas ... cepet ambilin ....” rengek Yuna semakin gencar.


“Ta-tapi sayang? Mas kan gak bisa manjat ....” cicit Zeen.


Yuna nampak menghela nafas, lalu memutar bola matanya malas. “Yaampun mas? Mas kan lakik? Kok malah gak bisa sih? Mas beralasan karena gak mau ngambilin mangan buat aku ya ....” Yuna kemudian menundukkan kepala dengan wajah sendu.


Zeen yang melihat itu kelegapan.


“Padahal anak kamu yang pengen mas ... kalo gak turutan nanti bisa-bisa ngiler babynya ....” sendunya kembali mengelus perutnya dengan irama manja.


Zeen semakin dibuat kelagapan, apalagi ketika Yuna menyebutkan babynya. “Emm, tapi sayang ... kenapa tak minta lain aja? Minta apa saja nanti mas langsung cariin kok.”


“Ya ini yang aku minta mas! Aku mintanya diambilin manga dari pohonnya langsung.” rengek Yuna.


“Ayo Zeen ... turuti saja apa kata istri kamu, nanti bisa-bisa anak kamu ileran jika permintaannya gak keturutan.” Timpal Eva sambil terkekeh geli.


Zeen memandang kedua pasutri itu dengan tatapan pias, kemudian ia menatap istrinya yang tengah menatapnya dengan tatapan memohon. Semakin tertekanlah Zeen dibuatnya.


“Apa aku bisa memanjat pohon besar ini?” gumam Zeen mengamati pohon mangga itu dalam diam, seumur-umur dirinya tak pernah memanjat pohon dan baru sekarang ia akan melakukan misi pemanjatan itu hanya demi istrinya.


“Yasudah, mas akan ambilkan khusus buat kamu.” putus Zeen dengan ucapan pasti sambil menatap istrinya.


“Yeyy, makasih sayang ... cepet ambilin yang banyak-banyak ya? Aku tungguin disini.”


Mendengar kata sayang dari Yuna, tentu membuat hati seorang Zeen menjadi berbunga-bunga. Dengan semangat 45, ia pun langsung menganguk dengan percaya dirinya.


“Oke sayang! Demi kamu aku rela melakukan misi ini!” teriak Zeen dengan suara mengebu-gebu.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2