Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 205


__ADS_3

...°°~°°...


“Kamu yakin sayang... gak mau mas temani aja sekarang? Mas bisa ambil cuti beberapa hari sampai saat kamu persalinan nanti....”


Sejak tadi subuh, Zeen selalu merengek tak ingin berjauh-jauhan dengan istrinya. Dan menjelang paginya pria itu kembali merengek tak ingin berangkat kerumah sakit karena ingin menemani sang istri yang sedang hamil tua, dan seminggu lagi Zeen akan mendapatkan seorang baby lagi karena usia kandungan Yuna sudah berjalan sembilan bulan.


Yuna sejenak menghela nafasnya saat mendengar itu, entah berapa kali ia menghela nafas, mungkin sudah tak bisa dihitung lagi. “Kan tadi aku udah bilang mas... mas berangkat kerja aja! Kemarin kan dokter sudah memberitahu jika persalinanku nanti perkiraannya seminggu lagi....” jelas Yuna dengan sabarnya.


Zeen tiba-tiba memberengutkan bibirnya, kemudian tanpa aba-aba lelaki itu menarik tangan Yuna dan mendudukan sang istri dikasur. Ia pun ikut duduk dikasur sambil bergelayut manja dipundak istrinya.


Melihat itu, Yuna yang tadinya sedikit kesal karena ulang sang suami, reda dengan sendirinya saat melihat Zeen  yang bertingkah manja seperti anak kecil. Yuna yang merasa gemas akhirnya mengelus-elus rambut Zeen dengan sayang seperti dirinya yang selalu melakukan itu kepada kedua putranya.


“Berangkat kerumah sakit ya mas... kasihan loh pasien-pasien mas yang nungguin... gak selamanya kan? Dokter lain menggantikan tugasnya mas... dokter lain pun pasti sibuk mengurusi pekerjaannya sendiri....” jelas Yuna dengan tutur kata yang lembut agar Zeen dapat terbujuk dengan ucapannya itu. “Lagian disini masih ada mama mertua, nenek dan mama Eva kok mas... jadi mas gak perlu khawatir... sebab masih ada yang jagain aku dan buah hati kita....” jelas Yuna lagi dengan sesekali mengelus perutnya yang membuncit itu.


Zeen terdiam mendengar penjelasan itu, ia tak langsung menjawab karena masih memikirkan tentang dirinya yang akan pergi kerumah sakit atau tetap dirumah untuk menemani sang istri.


“Hemm, walau mas sedikit tak rela meninggalkan kamu... tapi yasudah mas akan berangkat kerumah sakit dan cepet-cepet menyelesaikan pekerjaan mas yang menumpuk biar mas bisa cuti dan menemani kamu dirumah....”


Mendengar itu, lagi-lagi Yuna tersenyum. “Nah... itu baru yang namanya suamiku yang ganteng....”


Zeen mempoutkan bibirnya, “Emang sebelumnya mas mu ini tak ganteng?”


Yuna terkekeh mendengarnya, “Ganteng kok... ganteng banget malah....” ucap Yuna sambil mengecup singkat pipi sang suami.


Zeen yang mendapati itu tentu dibuat tersenyum-senyum sendiri, “Yaudah kalau begitu mas berangkat sekarang ya....” pamit Zeen yang langsung bangkit dari duduknya.


“Iya mas, hati-hati dijalan.”


Seperti biasa, ketika Zeen berangkat bekerja Yuna selalu menyempatkan mencium telapak tangan Zeen dengan khidmat. Begitu pula dengan Zeen yang selalu membalasnya dengan mengecup mesra kening istrinya.


“Jangan antar mas sampai kebawah, kamu disini aja. Mas gak mau kamu kecapean nanti,” terang Zeen yang langsung dianguki kepala oleh Yuna.


Zeen terdiam sejenak, ia lantas menjongkokkan dirinya dan menghadapkan diri pada perut buncit Yuna. Ia menatap lamat perut itu dengan senyuman, kemudian tak lama ia mengelus perut buncit itu dengan rasa sayang.


“Daddy berangkat dulu ya... kamu yang baik-baik didalam sana, jangan nakal... biar mommy tak kecapean nanti. Oke?”


Kebiasaan baru Zeen yang selalu mengoceh didepan perut Yuna, membuat wanita dua anak otw tiga itu merasa tersentuh sekaligus terharu. Terharu karena tak menyangka jika suaminya bisa menyayanginya seperti itu. Didalam hati Yuna selalu membatin jika ia merasa sangat beruntung mendapatkan sosok suami seperti Zeen. Zeen yang selalu lembut kepadanya, memberikan kasih sayang berlimpah kepadanya dan juga kepada dua putranya. Sungguh membuat Yuna terus jatuh hati kepada pria gagah itu.


“Semoga cinta kita tak akan terpisahkan ya mas....” gumam Yuna dengan bersuara lirih, tentu Zeen tak akan mendengar gumaman itu.


Zeen langsung berdiri dari jongkoknya dan kembali menatap sang istri. “Mas berangkat sekarang ya? Kamu dirumah yang baik-baik jangan kemana-mana, tunggu mas sampai pulang.”


Yuna langsung mengangguk menanggapi itu, “Iya mas... aku akan selalu menuruti ucapan kamu....”


Zeen menghembuskan nafas lega mendengarnya, “Yaudah mas berangkat! Assalamualaikum....”


“Waalaikum Salam....” jawab Yuna dan mengantar Zeen hanya sampai kepintu kamarnya saja.

__ADS_1


°


°


°


°


Siang hari, Yuna nampak bersantai diruang keluarga. Dirinya saat ini tengah menonton tv sambil menyemil buah-buahan yang tadi diberi oleh sang mertua. Mertuanya itu memang sangat perhatian sejak dulu kepadanya, tak ayal Yuna selalu dilarang bekerja sedikit saja oleh mertuanya itu. Sifat mertuanya itu sangat mirip dengan Zeen suaminya. Perhatikan namun terkesan posesif.


Ngomong-ngomong soal bersantai, tentu Yuna saat ini ditemani oleh dua putranya yang sedang mengerjakan tugas mereka masing-masing. Juga ditemani oleh dua mamanya dan juga neneknya yang saat ini tengah berbincang-bincang seputar kehamilannya.


Yuna tentu hanya menyimak saja ketika ibu-ibu itu tengah berbincang, karena dirinya saat ini tengah fokus menonton drama sambil mengemili buah cherry yang membuatnya ketagihan.


“Ternyata doaku dikabulkan jeng Vina... cucu kita sekarang berjenis kelamin perempuan... biar komplit gitu ya, karena sudah mendapatkan dua cucu lelaki sekarang dikasi cucu perempuan....” ucap Eva dengan antusiasnya.


Vina tersenyum mendengarnya, ia pun tak kalah antusiasnya seperti Eva. “Iya jeng... pas awal denger Yuna hamil lagi aku senang banget jeng... rasanya tidak sabar mendandani cucu kita kembali....”


“Wah betul jeng....” timpal Eva sambil tertawa.


Sedangkan Rima yang mendengar hanya bisa menghela nafasnya saja, “Walau jika kita diberi cucu berjenis laki-laki lagi tak apa-apa, yang penting keadaan ibu dan anak sehat-sehat saja....” jelas Rima dengan bijaknya. Hal itu membuat Yuna menatap sang nenek dengan tatapan haru.


“Hahaha, iya betul mah... apa yang dikatakan mama betul sekali....” timpal Vina.


Yuna ikut bahagia ketika melihat keluarga besarnya merasa bahagia karena kehadiran calon anaknya itu. Ia pun mengelus-elus perut buncitnya dengan rasa sayang yang mengebu.


Yuna yang tadinya fokus mengelus perutnya itu, dibuat mengalihkan pandangannya saat melihat hpnya yang berbunyi.


Yuna segera mengangkat panggilan masuk itu saat melihat jika suaminya yang menelfon.


“Halo mas....”


“Halo sayang kamu baik-baik saja kan?” balas Zeen langsung pada pertanyaannya.


Yuna terkekeh mendengarnya, “Iya mas... aku baik-baik saja. Sekarang aku lagi ngumpul sama putra-putra kamu, nenek dan mama-mama....”


Terdengar helaan nafas lega dari sambungan telfon itu, tentu Yuna dapat mendengarnya.


“Syukurlah kalau begitu sayang, rasa-rasanya aku terus kepikiran sama kamu sayang... takut jika kamu akan melahirkan sekarang....”


“Jangan takut begitu mas... kan lahirannya seminggu lagi...”


“Ya tetap aja, masmu ini khawatir....”


“Ya... aku maklumi kok mas.....” jawab Yuna kembali dibuat tertawa.


“Bagaimana keadaan bayi kita didalam perut kamu? Gak rewel kan? Atau ada sesuatu yang ingin kamu pengenin?”

__ADS_1


“Baby baik-baik saja mas gak rewel kok, ngak ada yang aku pengenin. Yang aku pengenin mas cepat pulang dengan selamat, sepertinya aku merindukan mas....” ucap Yuna malu-malu.


Terdengar deheman keras dari sambungan telefon itu, yang mana sepertinya perkataan Yuna membuat Zeen kesenangan.


“Ehem! Yaudah kalau kamu berkata begitu, mas akan cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan dan cepat-cepat kembali kerumah biar kangen kamu gak kebangetan nanti....”


“Ya gak sampai kebangetan gitu lah mas....”


“Hem... tetap saja mas akan cepat pulang, jadi kamu tunggu kedatangan mas ya.... misa you....”


Setelah mengatakan itu, Zeen langsung mematikan sambungan, bahkan tanpa mendengar jawaban dari Yuna. Hal itu membuat Yuna mengeleng-geleng melihatnya.


“Siapa Yun? Apa itu suami kamu?” tanya Vina.


Yuna mengangguk, “Iya mah... mas Zeen telfon tanya keadaanku dan keadaan baby yang ada didalam perut....” jawab Yuna sambil mengelus-elus perutnya.


Sejenak Vina dibuat mengeleng, “Sejak kamu hamil, Zeen makin hari makin posesif ya? Putra mama itu. Tak membuat kamu kesusahan kan sayang?” tanya Vina.


“Tidak kok mah, malah Yuna merasa beruntung mendapatkan seorang suami yang sangat perhatian....” jawab Yuna dengan tersenyum manis.


“Baguslah kalau memang begitu, mama jadi lega mendengarnya....”


“Iya mah, soalnya mas Zeen benar-benar perhati– Uhh...!?”


Tiba-tiba Yuna memeganggi perutnya, karena entah mengapa ia merasakan nyeri diperutnya.


“Ada apa sayang? Apa yang sakit?!” pekik Eva panik langsung berlari menghampiri putrinya. Tentu Vina, Rima dan dua twin ikut panik melihatnya.


“G-gak tau mah... entah kenapa perut Yuna rasanya sakit banget....” ujar Yuna yang masih terus memeganggi perutnya.


“Oh yaampun!” tiba-tiba Vina memekik dengan histeris.


Wanita paru baya itu sangat terkejut saat melihat air bening yang mengalir disela-sela kaki Yuna.


“Sepertinya Yuna akan melahirkan! Air ketumbanya sudah pecah....!” pekik Vina semakin histeris.


“Aaaa... aku akan memberitahu suamiku untuk membantu membawa Yuna kerumah sakit!!” pekik Eva tak kalah hebohnya.


Dua twin yang mendengar itu langsung memeluk mommynya.


“Sebentar lagi adik kita akan keluar bang....” cicit Gio.


Gara mengangguk menanggapi, “Kau benar... adik kecil kita akan segera keluar....”


Sedangkan Yuna sekarang masih terengah-engah karena menahan sakitnya, “Oh yaampun! Seharusnya aku menyuruh mas Zeen pulang saja tadi! Sekarang aku benar-benar membutuhkannya....”


TBC.

__ADS_1


__ADS_2