
Kini mobil Zeen telah terparkir dihalaman, sebuah apartemen. Tepatnya diapartemen milik kekasihnya, yaitu Laura.
Ia tengah menunggu didalam mobil, namun entah mengapa pikirannya tengah kalut dan melamun ketika ia sampai dihalaman apartemen itu.
Zeen tiba-tiba memukul setir mobilnya, "Sialan! Kenapa aku terus terpikir oleh gadis desa, kampungan itu." umpatnya, sambil meraup gusar wajahnya itu.
Zeen tersenyum sinis. "Aku tak menyangka, gadis lugu sepertinya bisa memikat pria yang baru ia kenal? Apakah dia menggoda pria itu?" gumamnya bertanya pada diri sendiri, ia pun tertawa sinis.
"Ya, ya, ya... Bagaimana mungkin pria setampan dia bisa terpincut oleh gadis desa, kampungan itu, walau pun aku yang jauh lebih tampan darinya." narsisnya.
"Gadis desa itu pasti mengodanya, tidak mungkin jika pria itu langsung menempel begitu saja.... Benar-benar wanita licik." ucapnya terdengar begitu, sangat sinis.
Tok... Tok... Tok..
Zeen dikejutkan oleh suara ketikan, yang berasal dari kaca mobilnya. Ia pun mengalihkan pandangannya menatap seorang wanita seksi yang sudah berdiri diluar mobilnya.
Zeen pun tersenyum, mendapati kekasihnya yang tersenyum kearahnya.
Tak mau lama-lama, Zeen membuka pintu mobil itu dari dalam. Dan Laura pun masuk kedalam mobil, ketika melihat pintu mobil itu dibukakan oleh Zeen.
"Sayang..." saat mendudukan diri dikursi penumpang itu, Laura langsung bergelayut manja pada lengan kokoh milik Zeen, tak lupa ia mengecup singkat pipi Zeen dengan lirikan mata yang menggoda.
Zeen tersenyum, ia mengelus rambut kekasihnya dengan rasa sayangnya.
"Kamu lama ya? Nungguin aku?" tanya Laura.
"Enak kok, sayang... Walaupun kamu lama pun, aku akan tetap setia menunggu kamu disini." ucap Zeen, setelah itu mengelus pipi Laura dengan lembut.
Laura tersenyum senang, "Benarkah? Ouhh... Soswit banget." ucapnya dengan nada manja.
Zeen tersenyum melihatnya.
"Oh iya, kamu gak berangkat bareng sama gadis yang bernama Yuna itu? Eh, maksudnya istri kecil kamu itu." tanya Laura yang dijawab gelengan kepala oleh Zeen.
"Kenapa?" tanyanya lagi dengan mengangkat satu alisnya.
"Dia berangkat dengan pria lain." jawab Zeen dengan nada ketus.
Laura dibuat terdiam sejenak, "Terus, kenapa kamu biarkan saja? Bukankah jika mereka berdua dalam satu mobil akan menimbulkan kecurigaan bagi orang yang melihat?"
__ADS_1
Zeen mengedikan bahunya, acuh. "Biarkan saja dia begitu, gadis yang sok polos dan lugu. Padahal aslinya munafik." ketus Zeen membuat Laura kembali mengerutkan keningnya.
"Kenapa kamu kesal begitu? Apakah kamu mulai ada rasa, pada istirahat kamu itu?" tanyanya, menduga-duga.
Zeen menghela nafas, lalu menatap Laura yang ada disampingnya.
"Sayang.... Aku mana ada punya perasaan sama dia? Aku tak akan pernah terpincut oleh gadis desa kampungan itu, yang aku mau itu kamu.... Kekasihku yang paling kucintai." ucap Zeen, lalu mengenggam tangan Laura dan menecupnya singkat.
"Hemm, jangan pernah ingkar kata-kata kamu ini ya, sayang... Aku akan sangat sedih... Jika kamu benar-benar mencintai gadis desa itu." ucap Laura, dan memperlihatkan wajah memelasnya yang ia buat-buat.
Zeen kembali mengelus wajah Laura dengan perasaan sayang, ia kemudian menarik pinggang wanitanya untuk masuk kedalam pelukannya.
"Iya... Aku tak akan pernah, mencintai gadis desa itu." ucap Zeen dengan mengelus rambut kekasihnya.
Laura membalas pelukan itu, dan mengelus punggung lebar milik Zeen.
"Terimakasih sayangku..."
Diam-diam Laura tersenyum miring dipelukan itu, 'Zeen kekasihku tersayang dan bodoh... Aku tak akan membiarkanmu jatuh kepelukan wanita lain, kau akan tetap menjadi milikku untuk selamanya-lamanya.... Aku tak akan membiarkan wanita manapun mendekatimu. Sekalipun, jika dia istri sah mu sendiri.' batin Laura tersenyum sinis.
🍂🍂
"Ehem..." terdengar suara deheman dari Fadli.
"Yuna... Apakah saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Fadli, sedikit melirik kearah Yuna.
Yuna mengalihkan pandangannya menatap dokter tampan itu.
"Silahkan dokter..." jawab Yuna dengan nada sopan.
Fadli tersenyum mendengar itu, "Hemm, sebenarnya sejak tadi saya diam karena tengah memikirkan sesuatu. Saya penasaran dengan kamu yang bisa tinggal bersama dengan dokter Albaret, apakah saya lancang menanyakan hal itu?" tanyanya dengan nada hati-hati.
Yuna pun tersenyum mendengarnya."Oh... Jadi itu yang tengah menganggu pikiran dokter sejak tadi?" tanya Yuna, terkekeh pelan.
Fadli mengaruk tengkuknya, merasa kikuk. "Iya... Hahaha."
"Jawabannya memang iya saya tengah tinggal dirumah dokter Albaret. Saya sudah tinggal disana sudah hampir sebulan." jelas Yuna, yang diangguki oleh Fadli.
"Emmm, kalau boleh tau. Emang dokter Albaret itu siapanya kamu? Kerabat kamu kah? Aku merasa sedikit kaget, ketika kamu memanggil beliau dengan sebutan papa."
__ADS_1
Lagi-lagi Yuna tersenyum menanggapi, rupa-rupanya dokter tampan yang ada disebelahnya itu tengah dilanda penasaran.
"Sebenarnya dokter Albaret itu-"
Ucapan Yuna terhenti ketika mendengar suara dering hanpone dari saku, milik dokter Fadli.
"Eh! Maaf-maaf sebentar, aku jawab telfonnya dulu." ucap Fadli, langsung menghentikan mobilnya ditepi jalan.
"Ya?" Fadli menjawab telfon itu.
"Oh! Oke kalau begitu, saya akan secepatnya kesana." ucapnya, yang terdengar panik.
Fadli mematikan telfon itu, dan menaruhnya kembali disakunya.
"Kita lanjutkan nanti ya? Ceritanya, soalnya saya ada jadwal operasi dadakan." jelas Fadli menatap Yuna.
Yuna tersenyum dan menganguk. "Iya dokter."
Mobil itu kembali dinyalakan dan berjalan dengan sedikit menambah kecepatan.
Yuna dan juga Fadli, sudah sampai dirumah sakit. Fadli dan Yuna keluar dari mobil itu dan berjalan beriringan.
Saat Yuna tengah fokus pada jalannya, ia tiba-tiba melihat Zeen dan juga Laura yang baru saja keluar dari mobil.
Pandangan Yuna tak sengaja bertemu pada, pandangan mata Zeen. Sejenak mereka saling bertatapan, namun Zeen lebih dulu memutuskan pandangan mereka.
Yuna melihat jika Laura tersenyum kearahnya dengan mengandeng mesra tangan Zeen, Yuna pun membalas senyuman itu ala kadarnya, agar terkesan sopan dan tak sombong.
"Selamat pagi dokter Zeen!" sapa dokter Fadli, yang memang melihat keberadaan Zeen dan Laura.
Zeen menanggapinya dengan menganggukan kepala, setelah itu Zeen lebih dahulu pergi meninggalkan Yuna dan Fadli yang tertinggal dibelakangnya.
Yuna yang melihat Zeen tengah mengandeng tangan kekasihnya itu hanya bisa menghela nafasnya. Ia seperti tak dianggap istri sah! Oleh Zeen itu.
"Ayo Yun, kita masuk." ajak Fadli.
"Iya dokter." jawab Yuna, dan berjalan bersama, memasuki rumah sakit besar itu.
TBC.
__ADS_1