Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 201


__ADS_3

...°°~°°...


“Menurut informasi yang saya dapatkan! Nyonya Lena terbukti jika beliau sedang mengalami depresi berat sehingga membuat mental nyonya Lena menjadi terganggu, kemudian menyebabkan beliau menjadi gila!” jelas Rafli yang membuat Zeen langsung memanut manut mengerti.


“Jadi? Sudah tak ada lagi kan orang yang ingin berniat jahat kepada istriku? Jika ada langsung saja habisi orang itu, karena aku tak mau jika istriku kembali celaka.”


“Ya tuan! Saya sudah mengerjakan semua yang anda perintahkan, dan sesuai yang saya katakan jika tak ada kejadian jangal lagi! Jadi anda sudah tak perlu khawatir lagi!” jelas Rafli lagi.


Zeen lantas tersenyum puas mendengarnya, “Bagus! Aku akan memberimu bonus atas kerja kerasmu ini! Sekarang tugasmu sudah selesai, kau boleh beristirahat dan bersantai mulai sekarang! Karena mulai sekarang akulah yang akan menjaga istriku sendiri dan kedua putraku.”


“Terimakasih tuan!” ucap Rafli yang sangat senang mendengar perkataan atasannya itu.


“Ya! Kau boleh pergi sekarang, karena aku juga akan pergi untuk menemui istriku dan anak-anakku!”


Lagi-lagi Rafli tersenyum mendengarnya, “Pasti tuan sudah merindukan nyonya dan para tuan muda!” celetuknya.


Zeen tertawa sejenak, “Ya! Kau benar sekali!”


°


°


°


°


°


Lima tahun sudah berlalu, kini hari-hari kedamaian yang dirasakan oleh Yuna Saily sungguh sangat menyenangkan bagi wanita dua anak itu. Tentu saja sangat menyenagkan jika hari-harinya saat ini dilalui bersama kedua buah hatinya yang saat ini sudah beranjak jadi sosok anak Tk. Ya! Duo G, Gara dan Gio itu sudah mulai bersekolah sekarang atau hari pertama mereka masuk kejenjang pendidikan utama. Tentu membuat Yuna yang memutuskan untuk berhenti bekerja dan memilih menjadi sosok ibu rumah tangga. Harus siap siaga membantu kedua putranya yang sudah mulai aktif itu.


Tapi tak banyak Yuna membantu persiapan sekolah mereka, karena Gara sosok anak pertamanya sudah memiliki sifat mandiri sejak putranya itu berumur tiga tahun. Sosok Gara sangat berbeda dengan sifat putra bungsunya, mengapa bisa dikatakan berbeda? Karena sifat putra sulungnya itu sangat jauh dikatakan dengan anak-anak seusianya dimana putranya itu cenderung memiliki sifat pendiam dan tak perduli pada sekitarnya. Atau bisa dikatakan dingin dan acuh tak acuh-acuh nya. Entah menurun pada siapa sifat anaknya itu! Mungkinkah menurun pada sifat daddynya?

__ADS_1


Sedangkan putra bungsunya, sudah sangat kelihatan sifat siapa yang dituruni. Karena sudah sejak berumur satu tahun putra bungsunya itu memiliki sifat ceria, lembut dan penyayang. Tentu sifatnya itu menurun pada sifat mommynya.


Yuna beranggapan jika putranya yang bernama Gio atau si bungsu, akan memiliki sifat ramah ketika sudah besar nanti. Terlihat sekali saat putranya itu tengah berbincang-bincang dengan teman sebayanya, banyak yang suka dengan sifat lembut putranya. Itu sebabnya putranya itu lebih mudah mendapatkan teman banyak karena tanpa saling berkenalan pun teman-teman sebayanya sudah lebih dulu menempel padanya.


Sedangkan putra sulungnya, lebih memilih atau menghabiskan waktu kesendiriannya dari pada bermain seperti adik kembarannya. Putra sulungnya itu lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca buku atau lebih suka mengerjakan rumus-rumus matematika yang lebih sulit. Bahkan guru Tknya pun tak akan pernah menandingi kecerdasannya, bagaimana tidak? Jika anak seusia itu bisa mengerjakan rumus matematika yang cocok dikerjakan oleh anak-anak sekolah menengah atas?


Yuna sampai dibuat mengeleng ketika mengingat itu. Dua putranya memang penuh kejutan.


“Mungkin aku harus mengajak putraku itu jalan-jalan ketokoh mainan? Biar hidupnya tak dipenuhi dengan rumus matematika!” gumam Yuna sambil tertawa cekikikan.


Saat Yuna tengah fokus pada handphonenya, tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar dibagian lehernya. Yuna tentu terkejut ketika mendapati itu.


“Sayang... aku merindukanmu....”


Tentu Yuna tau siapa pemilik suara itu, dari logat bicaranya yang manja sekaligus bau parfumnya yang sangat familiar. Tentu siapa lagi kalau bukan suaminya?


Yuna menoleh kebelakang untuk melihat suaminya yang tiba-tiba datang sambil mengendus-endus lehernya. Yuna sampai dibuat geli dirasanya.


“Soalnya aku rindu banget sayang, kamu tau gak? Aku sengaja menyelesaikan semua pekerjaanku dirumah sakit hanya untuk ingin bertemu denganmu....” ungkap Zeen sambil terus bergelayut manja dipundak milik istrinya.


“Yaampun mas, padahal masih siang begini? Masa mas sudah pulang cepet? Apa orang rumah sakit gak menganggap aneh mas yang lebih dulu pulang cepat dari mereka? Pasti nanti papa marah loh kalau tau kebiasaan mas yang suka pulang cepet,” terang Yuna.


Zeen mengedikan kedua bahunya acuh, ia lantas terus melanjutkan aksinya yaitu mengedus dan mengecupi setiap jengkal leher jenjang itu, yang dimata Zeen sangat seksi dan sayang jika diangurin.


“Mas....” Yuna mulai mendesah kegelian ketika merasakan bibir panas Zeen terus menyapu keseluruh bagian lehernya.


“Nanti ada yang lihat mas, kita masih ditempat umum loh....”


Ya, keduanya saat ini masih berada dikolam berenang. Dimana kedua kaki mereka dicelupkan kedalam air. Dengan posisi Zeen berada dibelakang Yuna dan memeluk erat tubuh ramping milik istrinya itu. Jika dilihat dari kejauhan, tentu posisi itu pasti akan terlihat sangat intim.


“Mas, sudah....” desis Yuna menggigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan suara aneh, yang akan membuat jiwa kelelakian suaminya semakin bergairah.

__ADS_1


“Sebentar sayang, nanggung nih!” tanpa aba-aba, Zeen langsung mengendong tubuh Yuna dan membawanya menuju kedalam. Tentu bibirnya masih belum ia lepaskan dari leher seksi milik istrinya.


“Yaampun mas! Jangan gendong aku kayak gini! Malu mas!” pekik Yuna, meronta-rontakan kedua kakinya.


“Biar gak ada yang melihat kita, kita lanjutkan permainan ini dikamar!” bisik Zeen saat sudah melepaskan bibirnya dari leher istrinya.


“Tapi mas, sebentar lagi kedua putra kita akan pulang! Tentu aku harus menjemput mereka kan?” Yuna mulai mencari alasan, namun alasannya itu memanglah benar jika kedua putranya akan segera pulang dari sekolah.


“Kamu libur dulu jemput mereka, biar supir kita yang jemput. Jadi kamu tenang aja honey! Kamu hanya perlu fokus pada suami tampanmu ini!” jawab Zeen sambil mengerlingkan matanya, menggoda istrinya.


“Sudah bapak-bapak juga, masih aja narsis kayak gitu,” gerutu Yuna.


Zeen menanggapi ucapan itu dengan senyuman, “Bapak-bapak pun aku memang masih tampan sayang!” Zeen kembali mendekatkan bibirnya tepat ditelinga Yuna. “Dan masih kuat untuk memuaskanmu honey....” bisik Zeen dengan nada sensualnya.


Yuna sampai dibuat merona malu ketika mendengar itu, “Dasar bapak-bapak gak punya malu!” gerutu Yuna yang akhirnya pasrah saja dibawa Zeen masuk kedalam kamar. Karena jika ia terus berdebat dengan suaminya itu, maka ia sendiri yang akan dibuat malu seperti barusan. Ia pun menyembunyikan wajahnya didada bidang milik sang suami karena dirinya tak ingin jika tiba-tiba langsung berhadapan dengan sang mertua yang akan membuat dirinya bertambah malu.


Hal itu tentu membuat Zeen tersenyum kemenangan, karena dirinya berhasil membuat istrinya tak berkutit lagi.


Padahal mereka sejak tadi diamati oleh para pelayan yang bersembunyi dibalik tembok, bukan tanpa sengaja mereka melihat tingkah laku majikan mereka. Karena tanpa diketahui dua pasutri itu, para pelayan memang sejak tadi sedang berbersih diarea kolam beruang yang artinya kegiatan mereka kepergok oleh mereka.


Para pelayan wanita yang kebetulan masih jomblo sejati itu, sampai dibuat menganga ketika melihat Yuna dan Zeen bermesraan dikolam berenang.


“Yaampun Tisna... melihat keromantisan majikan kita saja, rasanya aku pengen cepet-cepet kawin sekarang!” celetuk pelayan wanita yang bernama Juminten.


“Iya Ten! Rasanya aku juga pengen mengakhiri jombloku ini yang sudah bertahan selama tiga puluh tahun lamanya!” balas temannya sampai mengebu-gebu.


TBC.


–—–


Hai Gaes! Maaf ya author lama up, soalnya Author lagi mengistirahatkan dulu otak Author. Sambil memperbanyak ide diotak😁

__ADS_1


__ADS_2