Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 137


__ADS_3


...***...


“Sudah-sudah, sebaiknya kita pulang kerumah sekarang. Mama sama nenek sudah menunggu kita dirumah, mereka sangat bahagia ketika Papa memberi kabar ini.” Jelas Albaret sambil menunjukan senyum sumringahnya.


Zeen yang masih berdiri dari duduknya itu langsung menoleh kearah Papanya, “Papa ini, seharusnya kita bikin kejutan orang rumah. Kan jadi gak seru kalau Papa udah bilang duluan.” Dan tambah kesal lah Zeen sekarang. Menatap Papanya dengan memasamkan wajahnya.


Albaret mengedikan kedua bahunya acuh, “Mau kejutan atau apa itu. Kan sama saja nanti juga mereka akan tahu,” jelasnya santai sambil melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


“Sudah, ayo kita pulang, hari ini sisa kerja kita dilanjutkan besok saja. Papa juga akan beri tips buat para pegawai Papa disini. Kabar bahagia itu harus dibagi-bagi kan?” kilah Albaret dengan wajah sombongnya akibat mendapatkan cucu pertama dari anak atu-atunya.


“Papa benar! Kabar bahagia itu harus dibagi-bagi.” Timpal Zeen dengan raut wajah tak kalah sombongnya.


“Nah, yaudah sekarang ayo kita pulang!” ajak Albaret yang sudah berjalan meninggalkan sepasang pasutri itu.


“Papa memanglah yang terbaik!” Zeen menepuk dadanya dengan perasaan bangga.


Sedangkan Yuna yang melihat itu hanya bisa memutar matanya malas.


“Yaudah mas kita pulang sekarang–”


Saat Yuna hendak turun dari kasur itu, Zeen langsung mencegahnya.


“Eh? Mau apa sayang?” tanya Zeen dengan raut panik.


Yuna mengangkat satu alisnya bingung. “Ya mau pulang dong mas? Mau apa lagi?” tanya Yuna heran.


“Ya mas tau, tapi kenapa kamu malah mau turun dari kasurmu?”


“Yaampun mas? Kalo gak turun trus gimana? Masa aku harus pulang sambil bawa-bawa kasur ini? Ya ngak mungkin dong mas?” Yuna menatap suaminya dengan raut kesal.


“Ya itu mungkin dong sayang? Kamu ini masih lemes? Jadi kamu tak boleh berjalan dulu.”

__ADS_1


Yuna yang mendengar itu dibuat diam sambil menatap suaminya dengan tatapan cengoh. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya itu, terlalu melarang ini itu padahal dirinya tak sakit parah. Yuna menjadi bingung, mengapa suaminya ini menjadi sangat posesif? Padahal sebelum-sebelumnya tak pernah seperti ini?


“Aku gak mau mas ... kalau harus pakai kasur– akkkkhh?”


Yuna memekik terkejut ketika mendapati dirinya yang sudah berada diudara, ralat! Zeen yang tiba-tiba mengendong dirinya tanpa sepengetahuannya.


“Mas Zeen?!” teriak Yuna melototi Zeen dengan tajamnya.


Zeen tersenyum miring seketika, “Kenapa? Bukankah ini yang kamu mau?” tanya Zeen mengangkat sebelah alisnya.


“Siapa yang meminta mas? Aku tak pernah memintanya? Jadi tolong turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri,” timpal Yuna sambil meronta-rontakan tubuhnya yang ada didalam gendongan itu.


“Eits gak boleh! Kamu harus tetap didalam gendongan ku.”Katanya semakin memeluk tubuh Yuna yang berada dalam gendongannya.


“Tapi mas–”


“Kalian ini kenapa lama sekali? Papa sudah dari tadi nunggu kalian diluar loh? Kalian mau menginap disini?”


Albaret tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan raut menahan kekesalan, namun saat melihat Zeen yang mengendong Yuna raut wajahnya langsung berubah menjadi raut yang tengah ingin menggoda kedua pasutri itu.


“Ah? Bukan begitu Pa–”


“Tak apa, jangan malu-malu, Papa duluan ya? Dada ....”


“Papa ....”


Yuna merasa sangat malu yang teramat. Ia kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya, bisa-bisanya mertuanya itu berpikiran jika ia tengah bermesraan dirumah sakit? Betapa tak etisnya itu?


“Ayo ... kita pulang saja ....” cicit Yuna bersuara lirih.


“Apa? Kamu ngomong apa sayang?” tanya Zeen yang memang tak mendengar suara Yuna.


“Kita pulang mas!” jawab Yuna sedikit mengerahkan suaranya, namun masih menutupi wajahnya.

__ADS_1


Zeen yang mendengar itu tersenyum miring, “Jadi, mau digendong sampe pulang?” tanya Zeen dengan nada menggoda.


“Aku meminta untuk diturunkan pun, mas tak akan menuruti ....” cicit Yuna lagi, lalu membuka wajahnya menatap wajah Zeen dengan pandangan sebal.


Zeen yang mendengar itu dibuat terkekeh gemas, lalu dengan gerakan cepat ia langsung mengecup singkat bibir pink milik istrinya. “Gemas banget sih? Pengen ku makan deh,” goda Zeen sambil mengerlingkan matanya pada Yuna.


“Sudahlah mas. Jangan mengodaku terus ... kamu apa tak kasihan pada Papa yang menunggu kita diluar?” jelas Yuna dengan mengerucutkan bibirnya.


“Hehehe, yaudah ... kita pulang sekarang ya? Sayangku? Cintaku? Loveku?” dengan perasaan gemas yang mengebu, Zeen mengecup seluruh wajah Yuna sampai wanita yang ada digendongannya itu mengeliat.


“Mas?!” pekik Yuna menatap tajam suaminya.


“Hahahaha ....” tawa Zeen mengelegar hingga kesepenjuru ruangan.


°


°


°


Sampai diluar koridor dan disepanjang jalanan, Yuna benar-benar dibuat malu setengah mati. Bagaimana tak malu? Jika semua orang saat ini tengah melihat kearahnya sambil berbisik-bisik membicarakan mereka, para orang-orang yang ada disana menatap mereka dengan tatapan menggoda dan ada juga yang menatap mereka dengan tatapan iri. Iri karena ingin sekali berada diposisi Yuna yang sungguh beruntung digendong oleh pangeran tampan yang ada dirumah sakit itu.


“Selamat ya dokter Zeen ....”


“Selamat ya Yuna ....”


Begitulah sampai diperjalanan, semua orang nampak mengucapkan selamat kepada pasutri itu. Mungkin karena semua seisi rumah sakit tau jika Yuna saat ini tengah mengandung, dan siapa lagi kalau bukan Papanya yang sudah menyebarkan berita kehamilannya itu.


Saat keduanya masih berada dikoridor, tak sengaja dua orang yang sangat dikenali mereka datang kehadapan mereka. Siapa lagi kalau bukan Fadli dan juga Mita? Entah kebetulan apa dua orang itu saat ini tengah berjalan bersama, bahkan terlihat saling bercakap-cakap dan langsung menghentikan cakap-cakap mereka ketika empat insan itu langsung bertemu pandang.


Keempat insan itu terdiam sejenak sambil saling menatap, bahkan Yuna sampai merasakan kecangungan saat melihat dua orang pria tengah saling memandang entah apa arti pandangan diantara mereka? Hanya mereka yang tahu.


“Saya dengar-dengar, Yuna saat ini sedang hamil ya, dokter Zeen?” tanya Fadli mengisi keheningan diantara mereka.

__ADS_1


Zeen yang mendengar pertanyaan itu langsung tersenyum miring, “Ya! Istriku saat ini tengah mengandung buah cinta kami.” Jelas Zeen dengan ekspresi banganya.


TBC.


__ADS_2