Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 92


__ADS_3

...***...


“Aku bahkan tak menyangka jika putriku sendiri berani berbuat nekat seperti itu, entah apa tujuannya yang sebenarnya,” gumam Rima frustrasi.


Yuna, Zeen, Vina dan Firo terdiam. Mereka berempat memandang wanita tua yang sudah rapuh itu dengan pandangan sedih dan iba. Mereka semua pun juga tak tahu mengapa Lena melakukan hal yang senekat itu, yang pasti, mungkin ada alasannya wanita itu melakukan hal yang sangat membahayakan bagi sang korban.


Yuna yang semula terdiam, berjalan mendekat pada Rima. Ia duduk disamping wanita itu, lalu diambilnya tangan yang sudah agak keriputan itu dan mengelusnya dengan perasaan tulus.


“Tenang ya nek ... jangan terlalu terpendam oleh kekecawaan, karena itu semua tak ada manfaatnya dan akan menambah beban bagi pikiran ... jadi nek ... lebih baik jangan dulu berpikir yang macam-macam, soal tante Lena ... kita bicarakan nanti setelah keadaan nenek sudah sangat pulih ....” tutur Yuna. Menyalurkan rasa ketenangan bagi orang yang mendengarnya.


Rima masih diam, sambil menundukkan kepala seperti tak ada semangat lagi bagi wanita tua itu.


“Nek ... jangan cemberut dong ... tetap semangat! Strong! Nenek akan terlihat sangat cantik apabila tersenyum dan menunjukan kembali sifat anggun nenek, jadi, harus semangat! Semangat! Gak boleh sedih pokoknya. Nanti cantik nenek hilang kalo nenek gak semangat loh.” Ucap Yuna mengebu-gebu tak lupa mengganggkat satu tangannya diudara.


Rima yang melihat itu tentu dibuat tertawa, ia pun langsung mengelus surai rambut Yuna dengan halus.


“Kamu bisa aja ya ... anak muda seperti patut dicontoh oleh kalangan anak muda lainnya, kamu ... tidak hanya sopan, akhlak yang baik, tutur kata yang sangat lembut dan juga jiwa yang semangat sungguh sangat luar bisa ... andai semua makhluk hidup sepertimu. Pasti dunia ini akan sangat damai.” Ucapnya yang masih mengelus rambut Rima.


“Yah ... kita tidak bisa mengaturnya nek, karena semua makhluk hidup berbeda-beda sifatnya,” jelasnya.


“Ya, kamu sangat benar sekali,” timpal Rima tersenyum tulus pada Yuna. Yuna yang mendapat senyuman itu tentu saja membalasnya tak kalah tulusnya.


“Bolehkah wanita tua ini memelukmu?” Rima bertanya pada Yuna.

__ADS_1


Yuna yang mendengar itu terkekeh, lantas langsung menganggukan kepalanya, “Tentu saja nek. Mengapa harus bertanya?” ujarnya.


Rima tersenyum sumringah, lalu ia memeluk Yuna dengan perasaan senang. “Andai aja kau putriku. Pasti aku akan sangat-sangat bahagia,” ucapnya berkata jujur.


Yuna membalas pelukan itu dengan senyum bahagia, “Oh ya? Berarti nenek tak bahagia dong punya anak seperti tante Lena?” tanya Yuna, gurau.


“Tak seperti itu, jika aku tak senang, itu berarti aku tak bersyukur atas pemberian sang maha pencipta. Aku hanya berandai-andai saja. Jika putriku itu memeliki sifat sepertimu ... mungkin aku akan menjadi orang tua yang paling bahagia didunia ini.” Jelas Rima bersunguh-sunguh.


Tiba-tiba saja, Yuna yang berada diperlukan itu menitikan air mata, ia sungguh tersentuh dan terharu mendengar ucapan itu.


“Jika memang seperti itu, Yuna pun akan sangat senang memiliki orangtua seperti nenek,” suara itu terdengar bergetar ketika ia berucap.


Rima yang merasakan basah pada bajunya itu, segera mengurai pelukannya dan menatap Yuna yang ada didepannya.


“Yuna hanya teringat pada Almarhum nenek ... beliaulah yang sudah merawat nenek hingga dewasa, bagi Yuna ... beliau sungguh sangat berjasa. Yuna sempat menyesal ketika Yuna belum sempat membahagiakan nenek ... nenek Santi seperti pengganti orangtua ku yang telah tiada.”


Menangisalah Yuna, ketika mengingat sosok Santi yang benar-benar sangat ia sayangi dan merindu disetiap panjatan doa, ketika ia tengah bersujud pada sang pencipta.


Rima kembali memeluk tubuh Yuna, dan menepuk punggung Yuna guna menyalurkan rasa ketenangan.


“Sssh ... tak papa jika kau merindukannya, maka menangislah sepuasya. Tapi ingatlah satu hal. Kau tak sendiri didunia ini. Kau masih memiliki kami yang menggantikan dan menjadikan kami sebagai sandaranmu ....” tutur Rima dengan lembut.


Yuna kembali merasa terharu, ia memeluk wanita tua itu dengan erat. “Makasih nek ... terimakasih ....”

__ADS_1


Rima tersenyum, “Iya cucu nenek yang cantik ....” kembali menepuk punggung gadis itu dengan lembut.


Vina yang tengah terdiam sambil mengamati mereka itu, juga ikut menitikan air matanya. Ia yang sudah tak tahan itu berlari menghampiri mereka dan langsung ikut berpelukan.


“Iya sayang ... jangan pernah merasa sendirian didunia ini ... karena kami masih ada untukmu ....” ucap Vina dengan air mata yang tak bisa dibendung lagi.


Akhirnya pun jadilah mereka bertiga saling berpelukan, dan menumpahkan semua kesedihan yang tak bisa ditahan.


Zeen yang sejak tadi tak merubah posisinya itu, merasa sedikit bersalah pada Yuna, ia juga merasa bersalah Almarhum nenek Yuna. Karena beliau telah menitipkan sebuah amanat pada dirinya untuk selalu menjaga Yuna dan akan selalu membahagiakan Yuna.


Tapi apa? Dirinya bahkan mengingkari amanat itu, bagaimana ia tak bersalah coba?


Zeen mengusap sudut matanya yang sedikit mengeluarkan air mata, ia juga merasakan kesedihan ketika melihat Yuna yang menangis didepannya.


'Baiklah ... aku Zeen Albaret bersumpah! Akan selalu menjaganya, membahagiannya, dan selalu bersamanya. Sampai maut memisahkan! Aku Zeen Albaret akan menjalankan tugas amanat dari Almarhummah nenek Santi. Bismillah ... kujalankan tugas itu mulai dari sekarang!' tegas Zeen dalam hati. Dengan hati yang bersunguh-sunguh.


Zeen yang tengah bergumam pada dirinya sendiri itu, merasakan hal yang menyengat pada sisi sampingnya. Ia yang penasaran itu langsung menengokan kepalanya kesamping. Dan betapa bingungnya ia ketika melihat Firo yang tengah melihat kearahnya dengan pandangan tak biasa, bisa dikatakan jika pria itu tengah memelototi Zeen.


'Dasar bocah ingusan, edan!'


TBC.


Jangan lupa komen disetiap chapter ya gaes....

__ADS_1


__ADS_2