Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 28


__ADS_3

Untuk sejenak Yuna menghembuskan nafasnya, ia kemudian membalas tatapan Zeen. "Jika saya tak yakin? Mengapa saya harus susah-susah datang dan bekerja dirumah sakit ini? Jika saya tak merasa yakin... Sudah dari kemarin saya akan menolak permintaan papa dan mama yang menyuruh saya untuk bekerja disini." jelas Yuna dengan penuh keyakinan.


Zeen bersandar pada sofa itu, tak lupa dengan kakinya yang sudah betompang pada kaki kirinya. Kemudian kedua tangannya menyilang dan menatap Yuna seolah tengah menilai.


'Boleh juga ucapannya..' batinya, yang langsung tersenyum miring, ketika melihat Yuna yang sangat percaya diri itu.


"Hemm, oke! Jika memang kau sudah yakin... Maka mulai dari sekarang kau akan bekerja denganku! Siapkan saja dirimu. Karena pekerjaan ini tak akan mudah, seperti yang kau kerjakan ketika kau bekerja dirumah sakit didesamu itu." jelas Zeen dengan nada yang penuh penekanan.


Yuna menganguk paham."Baik! Saya akan berusaha dengan sungguh-sungguh!"


"Ya... Itu yang aku mau, jika kau ingin bekerja denganku. Karena aku tak ingin memiliki bawahan yang malas dan tak kompeten." tekan Zeen.


"Untuk sekarang ruanganmu akan berada sama dengan ruanganku. Karena seorang asisten akan jauh lebih dibutuhkan ketika ada hal yang mendesak, itu sebabnya aku menaruh asistenku untuk berada dekat denganku."


Lagi-lagi Yuna menganguk, "Baik saya mengerti."


Zeen tiba-tiba berdiri dari duduknya, kemudian ia memakai jas dokternya yang tersampir tak jauh darinya itu.


"Oke, karena penjelasannya sudah selesai. Maka sekarang kau ikut denganku untuk memeriksa keadaan pasien disini! Setelah itu aku akan ada jadwal praktek yang harus aku hadiri." jelasnya.


"Dimengerti." jawab Yuna.


Lagi-lagi Zeen tersenyum miring. 'Hemm, sepertinya hari ini akan sangat seru.' gumamnya dalam hati.


'Huftt... Mulai sekarang aku akan bekerja dengan dokter Zeen! Yang mana artinya adalah suamiku sendiri.' gumam Yuna.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian berjalan keluar dari ruangan itu, dengan Zeen yang lebih dahulu memimpin jalannya.


"Selamat siang dokter Zeen.." sapa seorang dokter wanita ketika mereka berdua tengah berjalan dikoridor rumah sakit itu, tak ayal Yuna merasa cangung ketika semua mata terus tertuju padanya.


Zeen membalas sapaan itu dengan senyuman, dan seterusnya pun begitu ketika ada orang yang melewatinya dan menyapanya.


Yuna terus memperhatikan Zeen dari punggung lebar itu. Ia membatin, 'Ternyata sifat dokter Zeen, sama seperti yang aku kenal ketika aku masih akrab dengannya. Didesa maupun disini! Citranya pun bagus dikalangan dokter lain, dokter Zeen sangat friendliy. Murah senyum dan ramah dengan orang lain, itu sebabnya ia sangat terkenal dan banyak dikenal oleh orang-orang yang statusnya lebih tinggi.'


Yuna menundukkan kepalanya.'Bagaimana mungkin seorang gadis desa sepertiku bisa bersanding dengannya? Sepertinya aku mulai mengerti... Jika diriku dan dengannya sangat jauh berbeda, dan sepertinya kami tak akan pernah cocok.'


Yuna terus bergelut pada dirinya, dan tak ayal terus merendahkan dirinya sendiri. Dan merasa tak percaya diri jika berjalan berdampingan dengan pria yang berjalan didepannya itu.


'Yuna.... Berhentilah mengharapkan cinta darinya....'


"Kita sudah sampai." ucap Zeen ketika mereka sudah berada tepat didepan pintu ruangan.


"Selamat pagi nyonya..." sapa Zeen ketika ia berjalan mendekat disalah satu kamar pasien itu.


Orang yang disebut nyonya itu menengok kearah Zeen.


Yuna dapat melihat jika wanita itu sudah sangat sepuh dan kurus seperti tak terurus.


"Wah... Dokter tampan kesini? Padahal sudah ditunggu-tungguin dari tadi loh..." ucap wanita itu.


Zeen tersenyum mendengarnya, "Hemm, maafkan saya nyonya, jika saya sangat terlambat mengunjungi nyonya..." ucap Zeen yang mulai mengganti air infus yang sudah habis itu.

__ADS_1


"Ish... Kau ni... Sudah aku bilang jangan panggil aku nyonya, kan aku berasa sangat tua jika kau panggil aku begitu."


"Hahaha, maaf! Maaf... Saya hampir lupa. Haruskah saya memanggil anda dengan sebutan mam?"


Wanita itu tampak berfikir, "Hemm, sepertinya itu lebih baik. Dari pada disebut nyonya, aku yang mendengarnya serasa panas telingaku ini."


Kedua insan yang berbeda genre itu tampak sangat dekat dimata Yuna, pasien yang ditangani oleh Zeen itu tampak nyaman ketika diperiksa. Bahkan mereka sesekali saling bercanda dan membuat keduanya saling melempar tawa.


Yuna yang melihat itu merasa sangat teduh, ia sangat suka dengan keadaan yang sangat damai itu.


"Oh, iya... Siapa yang gadis cantik yang ada dibelakangmu itu? Apakah kekasihmu?" tanya wanita itu pada Zeen, dan membuat Yuna merasa malu mendengarnya.


Zeen mengalihkan pandanganya menatap Yuna, ia hanya tersenyum kecil ketika melihat Yuna, pandangan itu melihat penampilan Yuna dari atas sampai bawah. Ia seperti tengah menilai, dan mencocokan Yuna dengan dirinya.


"Hahaha... Sepertinya perkiraan mam, sangat melesat. Dia bukanlah kekasih saya, melainkan hanya bawahan saya saja yang menjabat menjadi asisten pribadi saya mulai dari sekarang." jelas Zeen terkekeh pelan.


"Dan asal mam tau, saya sudah memiliki kekasih... Dan Kekasih saya lebih cantik darinya, saya lebih suka tipe wanita yang sangat anggun dan berpendidikan yang lebih tinggi." lanjutnya.


Yuna tersenyum miris mendengarnya, ia tau! Jika secara tak langsung, Zeen membanding-bandikan dirinya dengan Laura, kekasihnya itu.


"Loh? Justru perkiraan kamu yang salah Zeen." ucap wanita itu tiba-tiba dan membuat Zeen mengalihkan pandanganya menatap wanita paru baya itu.


"Apa maksud mam?" tanya Zeen bingung.


"Maksud mam... Wanita yang derajatnya lebih tinggi, atau pendidikannya setinggi langitpun tak semuannya memiliki moral yang baik. Biasanya orang yang kedudukannya lebih tinggi dari kita akan bersikap sangat sombong! Seperti misalnya ya... Kayak orang yang gila harta, jabatan. Atau orang yang menganggap jika dirinya bisa mendapat apa yang ia mau dan tak ada orang yang bisa menolak keinginannya."

__ADS_1


Zeen dibuat tertegun mendengar ucapan itu.


TBC.


__ADS_2