Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 57


__ADS_3

Tangan Yuna yang tadinya terulur untuk memberikan tisyu yang ia bawa, kini tangannya ia turunkan kembali dan masih menggenggam bungkusan tisyu itu.


"Iya tante... Tidak apa-apa," jawab Yuna dengan senyum yang dipaksa.


Mata Yuna tak sengaja melihat kearah Firo yang kebetulan, juga tengah menatapnya, lelaki itu tengah tersenyum aneh padanya. Sesekali pria itu juga tersenyum miring padanya, dan dapat Yuna tafsirkan jika pria itu tengah meremehkannya terlihat sekali dengan raut wajah yang mudah dibaca itu.


Yuna hanya mengeleng-geleng saja melihat itu.


"Yasudah yuk! Kita sarapan aja sekarang, ibu juga ikut yuk!" ajak Vina sambil berjalan kearah mertuanya, untuk membantu mertuanya menuju dapur.


"Sudah jelas aku ikut lah... Aku mana mau sarapan nanti-nanti, yang ada aku akan kelaparan." ucap Rima, mengundang gelak tawa bagi mereka.


Lena pun ikut mengandeng Rima disebelah kiri, sedangkan disebelah kanan ada Vina yang juga tengah mengandeng tangan mertuanya.


Semua anggota keluarga berjalan beriringan menuju dapur, sedangkan Yuna masih tertinggal disana. Pandangan Yuna terus tertuju pada keluarga Zeen yakni pria yang sudah menjadi suaminya, rasanya Yuna seperti tak merasa pantas berada ditengah-tengah keluarga itu. Dirinya merasa kecil jika bersama mereka yang merupakan keluarga terpandang, sedangkan dirinya hanya sosok menantu dari desa kecil sekaligus tak memiliki orangtua atau yatim piatu, yang hanya beruntung saja menikah dengan seorang dokter tampan nan mapan.


"Yuna...! Sini sayang! Kita makan bareng."


Terdengar suara teriakan dari mertuanya, tak ingin berlama-lama merenung, ia pun segera melangkahkan kakinya menyusul mereka.


"Iya mah..." jawab Yuna sedikit berteriak.


πŸ‚πŸ‚


"Yuna sama mas Zeen berangkat dulu ya mah... Assalamualaikum...."


Yuna berpamitan pada mertuanya, tak lupa ia selalu mencium telapak tangan wanita berumur empat puluh tahun keatas itu secara takzim, ia selalu melakukannya setiap ia ingin berangkat kerumah sakit.


"Waalaikumsalam.... Hati-hati dijalan ya..." jawab Vina sambil mengelus rambut mertuanya dengan perasaan sayang.


"Iya mah, Yuna pergi dulu..." Yuna pun membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar menuju pintu utama.

__ADS_1


"Kak!"


Terdengar suara Lena, memanggil kakak iparnya.


"Ya Len...?" Vina berbalik, dan melihat Lena yang tengah berjalan kearahnya.


"Mantu kakak ikut kerja sama Zeen?" tanya Lena.


"Ya... Yuna bekerja bersama suaminya sebagai asisten pribadi Zeen, sebenarnya aku dan mas Albaret yang mengusulkan Yuna untuk bekerja dirumah sakit." jelas Vina.


"Loh? Kenapa kakak malah menyuruh mantu kakak bekerja? Seharusnya kalo sudah jadi mantu itu... Tugasnya ya harus dirumah aja, ngurusin rumah sama ngurusin suami, bukan ikut bekerja! Kayak suaminya gak bisa ngebiayain hidupnya aja." Lena tampak ketus ketika berucap.


Vina tampak mengeleng mendengar ucapan adik iparnya, adik iparnya itu seperti tak berkaca pada ucapan yang terlontar pada mulutnya itu.


"Kami menjadikan Yuna menantu bukan untuk menjadi pelayan dirumah, kami menjadikan Yuna menantu hanya bertujuan untuk menjaganya sebagaimana orangtua yang tengah menjaga putrinya sendiri. Aku dan mas Albaret ingin menjalankan amanah pada almarhum nenek Santi. Beliau sangat berjasa pada keluarga kami." jelas Vina dengan raut santai sambil tersenyum didepan adik iparnya, ia jelas merasa jika adik kandung dari suaminya itu tengah meremehkan menantunya. Dan tentu saja sebagai mertua Yuna sekaligus menganggap Yuna sebagai putrinya, ia tak ingin diam saja jika putrinya diganggu.


"Yaampun kak... Kalo aku jadi kakak, aku pasti tak akan mengizinkan dia bekerja. Enak saja menantu malah enak-enak berkeliaran diluar, tak membantu mertuanya bersih-bersih dirumah...." sungut Lena dengan nada sinis.


"Jangan bilang begitu Lena... Kamu sendiri pas masih menjadi seorang istri aja malah bekerja diluar sebagai model, kamu juga ngebiarin Firo yang masih kecil diasuh sama nenek..." telak Vina mengeleng-gelengkan kepala.


Lena yang mendengar ucapan dari Vina itu mengepalkan kedua tangannya, ia merasa diremehkan dan merasa tersainggi atasan ucapan itu hanya karena seorang gadis desa yang baru saja masuk kedalam keluarga Albaret. Dan langsung membuat keluarga Albaret menyukainya, terutama sang nenek yang sudah memiliki respon bagus pada Yuna.


"Gadis kampungan itu sama sekali tak cocok menjadi keluarga ini, masih lebih baik Laura dibandingkan gadis desa itu.... Yaiyalah, Laura kan wanita modis, sedangkan gadis polos itu hanya seorang gadi kampung, dan akan tetap kampungan!"


Lena tampak tersenyum semirk ketika mencaci-caci Yuna secara tak langsung, otak liciknya pun mulai ia jalankan pada saat ini juga, entah apa alasannya ia langsung tak begitu suka pada Yuna yang baru pertama kali ia lihat. Tapi yang pasti, dalam pendiriannya gadis kampung seperti Yuna tak cocok bersanding dengan Zeen yang merupakan pria terpandang, dengan jabatan sebagai dokter handal dirumah sakit besar milik keluarga.


"Aku pastikan jika gadis desa itu tak akan lama, meninggalkan rumah ini dengan sendirinya..." gumamnya tersenyum penuh arti.


Disatu sisi, Yuna yang tengah berjalan menuju depan rumah itu seketika melihat mertuanya dan juga Zeen tengah berbincang pada seseorang entah siapa itu, karena orang itu tertutup oleh tubuh mertuanya.


Yuna yang penasaran itu melangkahkan kakinya mendekati mereka.

__ADS_1


"Eh, Yuna." Albaret tersenyum ketika melihat menantunya yang berada tak jauh dari mereka.


Yuna pun membalas senyuman itu, dan ketika matanya mengarah pada seseorang itu, ia langsung melihat jika seseorang yang tengah berbincang dengan mertuanya itu adalah dokter Fadli.


"Dokter Fadli?" Yuna berucap dengan kening berkerut.


"Pagi Yun!" sapa Fadli dengan senyum lebarnya. Yuna membalas sapaan dengan senyuman.


"Dokter Fadli ada urusan dengan dokter Albaret?" tanya Yuna.


"Iya Yun, sekaligus mau ajakin kamu berangkat bareng lagi." jawab Fadli dengan cengiran.


"Tidak perlu! Yuna akan berangkat dengan saya!"


Zeen langsung menyela ucapan itu, membuat ketiga manusia itu melihat kearahnya.


"Oh... Begitu, tapi saya ingin mendengar jawaban dari Yuna, apakah Yuna mau dengan ajakan saya?" Fadli lantas menatap kearah Yuna.


Sedikit bimbang rasanya Yuna mendapati ajakan dari dua orang sekaligus, dirinya pun langsung menghela nafas sejenak. Ia lalu menatap kedua pria itu secara bergantian, ada rasa tak enak jika ia menolak ajakan dari Fadli, tapi ia lebih tak enak lagi menolak ajakan dari Zeen suaminya sendiri.


"Maaf dokter, sepertinya saya akan berangkat bersama dengan dokter Zeen." jawab Yuna dengan raut tenang namun terselip tak enak hati ketika melihat raut wajah Fadli.


"Oh, begitu... Yasudah kalau memang itu jawabanmu." Fadli masih tersenyum kearah Yuna, "Yasudah kalau begitu dokter Albaret, dokter Zeen dan Yuna. Saya berangkat lebih dulu, sampai jumpa lagi dirumah sakit." ucap Fadli dengan sopan.


"Iya nak Fadli, hati-hati menyetir dijalan jangan ngebut-ngebut." timpal Albaret.


Fadli tersenyum mengangguk, "Iya dokter, kalau begitu saya permisi."


Setelah melihat Fadli yang sudah masuk kedalam mobilnya, tiba-tiba entah ada angin apa tanpa alasan Zeen tersenyum kesenangan menatap Fadli yang sudah mengendarai mobilnya dan meninggalkan area kediamannya.


"Yasudah, kalau begitu kita juga berangkat sekarang." ucap Albaret yang dianguki oleh Yuna dan disusul oleh Zeen.

__ADS_1


TBC.


Hemm... Ada apa dengan ZeenπŸ€”


__ADS_2