
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya, kini mobil berwarna hitam mengkilap itu telah terparkir disebuah klinik, tepatnya disamping jalan raya dan banyak sekali kendaraan sepeda motor telah terparkir didepan klinik itu.
Fadli keluar dari mobilnya dan berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil pada Yuna.
"Sudah sampai tuan putri..." ucapnya ketika Yuna juga keluar dari mobilnya.
Yuna yang mendengar itu terkekeh samar, "Ada-ada saja dokter ini...."
Fadli pun ikut tertawa. "Kamu belum makan kan? Kalau belum kita masuk kedalam sekarang." ajaknya, namun suara Yuna membuat langkahnya terhenti.
"Tunggu sebentar dokter Fadli, saya sedikit penasaran, apakah klinik ini merupakan klinik milik dokter?" tanya Yuna, dengan wajah penasaran.
Lagi-lagi Fadli tertawa renyah, tanpa sadar ia mengacak rambut Yuna dengan perasaan gemas. "Tepat sekali Yuna... Kamu pintar sekali menebak." ucapnya dengan senyum manisnya.
Tubuh Yuna menegang saat merasakan elusan dari kepalanya, Fadli yang tersadar itu terdiam seketika. Ia yang tadinya tersenyum lebar itu berubah menjadi tersenyum kikuk. Kemudian dengan hati-hati ia menurunkan tangannya yang tadi tengah mengelus rambut Yuna.
"E-emmm... Maaf, m-maaf Yuna.... Tangan saya refleks, saya terbiasa mengelus rambut adikku jadi tanpa sadar...." Fadli merasa canggung.
Yuna yang melihat itu tertawa pelan, "Hahaha, tak apa-apa dokter yang namanya juga tak sengaja."
Fadli kembali tersenyum, masih memandang Yuna dengan tatapan yang sulit dijelaskan. 'Sebenarnya bukanlah disengaja.... Tapi memang sengaja....' gumamnya terkekeh sejenak.
"Hemm, kalau begitu kitu masuk sekarang bagaimana?" ajaknya lagi.
Yuna mengangguk, "Baiklah dokter." jawab Yuna, setelah itu mereka berdua berjalan beriringan masuk kedalam klinik itu.
Saat sudah masuk kedalam, Yuna langsung disuguhkan dengan pemandangan orang-orang yang hampir memenuhi isi ruangan itu. Bahkan Yuna sampai melongo dibuatnya.
"Wah, klinik dokter sukses ya?" celetuk Yuna yang disuguhi tawa oleh Fadli.
"Yah.... Saya sebagai dokter pemula sangat bersyukur Yuna... Bisa membangun klinik sendiri, dan bahkan tak menyangka jika klinik saya banyak didatangi orang-orang." jawab Fadli dengan binaran mata yang ada pada dirinya.
"Bukan pemula lagi dokter.... Kalau disebut pemula, pasti tak akan bisa membangun klinik sebesar ini sendiri? Saya menganggap, jika dokter Fadli itu... Sudah pro.." ujar Yuna bersungguh-sungguh.
Fadli yang tadinya menatap kearah orang-orang, kini langsung mengalihkan pandangannya pada Yuna. Sejenak ia mengamati Yuna dalam diam, setelah beberapa detik tawa itu kembali terdengar dari mulutnya.
"Yaampun Yuna... Kamu lucu sekali ya? Kamu menganggap saya pro? Haduh... Saya tak sehebat yang kamu kira Yuna... Hahahaha..." ia kembali tertawa dihadapan Yuna.
__ADS_1
Yuna menautkan alisnya, ia tampak bingung. Apakah ucapannya barusan itu salah? Namun ia tak menganggap jika perkataannya itu salah, ia menganggap jika pria yang ada disampingnya itu merupakan orang hebat yang bisa membanggun klinik dengan jerih payahnya sendiri, lantas, bukankah hal itu yang biasa dianggap pro?
"Tapi dokter? Saya bicara sejujurnya..." ucap Yuna dengan wajah polosnya.
Fadli yang melihat kepolosan Yuna itu berusaha menahan kegemasannya, ingin sekali ia mengacak-acak rambut itu kembali, namun ia mencoba menahannya.
"Yasudah, yasudah.... Terserah kamu saja, saya malah seneng jika dapat pujian terus sama kamu." ucapnya sambil menatap mata Yuna dengan tatapan dalam.
Ditatap seperti itu tentu saja Yuna langsung mengalihkan pandangannya, ia merasa, tak baik jika berlama-lama menatap mata pria itu.
Saat Yuna merasa kecanggungan kembali diantara mereka, tiba-tiba sebuah suara membuat mereka mengalihkan pandangan secara bersamaan.
"Kakakkk....."
Sebuah teriakan terdengar dari arah seberang.
"Kakakkk..... Kenapa baru dateng sih...."
Pandangan Yuna melihat jika seseorang yang tadinya berteriak itu tengah menghampiri Fadli dan langsung memeluk dokter muda itu. Pikiran Yuna dapat menebak jika gadis muda yang tengah bermanja pada dokter Fadli itu merupakan adiknya, terlihat sekali dengan wajah yang mirip dengan pria itu.
"Hemm, soalnya kakak lagi jemput seseorang tadi..." Fadli mengelus rambut gadis itu yang tengah bermanja pada lengannya.
Sejenak Fadli menjentikan tangannya pada kening gadis muda itu, lalu ia tersenyum memandang Yuna.
"Seseorangnya ada disamping kita, tuh!" ujar Fadli masih menatap Yuna.
"Huh?" gadis itu tampak menautkan kedua alisnya, namun tak ayal ia mengikuti arahan dari Fadli.
Gadis itu mengurai pelukannya lalu menatap Yuna dengan tatapan menyelidiki, kemudian seringai terlihat pada bibir mungilnya. "Wah.... Kakak kesini bawa pacar ya? Pantesan lama..." gadis itu tampak menggoda Fadli.
Fadli yang mendengar itu tentu saja terkejut, ia lalu menatap gadis muda itu dengan tatapan tajam. "Huss, ngomongnya, perempuan yang kakak bawa ini merupakan teman kerja kakak dirumah sakit, bukan pacar kakak." jelas Fadli dengan raut kikuk sambil melirik Yuna kembali.
Yuna masih diam dengan tenang, ia mengamati dua bersodara itu, tak ingin mengganggu pembicaraan mereka berdua.
"Ohhh... Temen toh...." ia tampak mengangguk, lalu kembali melirik Fadli dengan tatapan menggoda. "Ya, ya, ya, masih temen. Tapi yang nantinya temen jadi calon pacar." lanjutnya lagi sambil tertawa kencang.
Fadli menghela nafas panjang melihat tingkah laku gadis muda itu, ia lalu kembali melihat Yuna dengan pandangan malu. "Maaf ya Yuna... Adik saya emang suka begitu."
"Haha, gak apa-apa kok dokter..." Yuna membalas sambil tertawa.
__ADS_1
"Oh iya, saya sampai lupa mengenakan kamu," Fadli menjeda ucapannya. "Yuna, kenalan ini adik saya namanya Filda. Dan Filda, dia teman kakak namanya Yuna." jelas Fadli memperkenalkan.
Yang disebut Filda itu mengangguk, lalu menjulurkan tangan kanannya pada Yuna dengan wajah keceriaan. "Halo kak Yuna.... Namunku Filda..."
Yuna menerima uluran itu, "Halo Filda, kamu manis sekali... Salam kenal ya..." balas Yuna dengan tak kalah cerianya.
"Hoh! Ya, ya dong, tentu saja aku sangat manis dan cantik." baru saja berkenalan, ia langsung saja menunjukan sosok kepedeannya pada Yuna, membuat Yuna tertawa melihatnya.
"Halah kamu ini, dipuji dikit aja langsung besar kepalanya." Fadli lagi-lagi mengelengkan kepalanya.
Filda tampak memanyungkan bibirnya, lalu menatap kakaknya dengan tatapan sinis. "Sewot aja lu kak."
"Hahh... Mending kamu lanjutin tugas kamu aja, masih banyak tuh orang-orang yang pada dateng.." Fadli mencoba mengusir adiknya dengan alasan pekerjaan.
"Aelah kak.... Kan masih ada pegawai, jadi selow ajalah." gerutu Filda yang tak mau mengalah.
"Selow, selow, itu pegawai kita lagi kewalahan. Kamu gak kasihan apa liatnya? Udah cepet balik lagi kerja kamu!" usirnya dengan paksa.
"His! Kakak sendiri kenapa gak ikut bantu?"
"Lah? Kakak kan pemilik klinik ini, terserah kakak dong mau bantu kerja apa engak." jawab Fadli dengan acuh dan angkuhnya, tak lupa dengan kedua tangannya yang terlipat didadanya.
"Cih! Terserah deh, mending aku makan aja diruangan." dengus Filda, tanpa berpamitan, gadis muda itu langsung nyelonog pergi dari hadapan mereka.
"Dasar bocil cerewet."
Yuna yang sejak tadi mengamati perdebatan mereka itu tampak menahan tawa. Ia sampai mengeleng-geleng melihatnya.
"Eh? Maaf Yun, kamu jadi liat kelakuan adik saya." Fadli tampak bersalah.
"Dokter ini terlalu berlebihan ya? Sejak tadi sudah berulang kali loh dokter, minta maaf terus pada saya." Yuna mengeleng kepalanya.
Fadli tampak mengaruk kepalanya. "Haha, iya ya? Saya sampai tak menyadari. Yasudah, kalau begitu kita masuk aja kedalam ya?"
"Iya dokter." jawab Yuna mengangguk.
**TBC**.
**Ciee... Yang gak ada Zeen diepisode ini🤥 hemm, seneng pasti kalian ya🤔**
__ADS_1
**Jangan lupa komen🤎**