
...***...
Hari ini dipagi yang cerah, tampak Zeen tengah berbaring diranjang dengan sangat malas-malasan. Kebetulan hari ini adalah hari cuti jadi dirinya bisa berleha-leha dengan santai tanpa merasa penat memikirkan pekerjaan.
Bahkan sejak sebulan ini Zeen tak semangat sekaligus tak serius ketika bekerja. Pria itu kadang melewatkan jadwal periksa untuk para pasiennya alasannya hanya ingin tidur siang dengan nyenyak karena akhir-akhir ini pria itu kesulitan untuk tidur dikarena morning sicknessnya yang tak tahu waktu. Hal itu membuatnya pusing merana.
Ngomong-ngomong tentang kehamilan Yuna, kehamilan Yuna saat ini sudah berjalan satu bulan dengan keadaan wanita itu yang sehat dan kuat, beda halnya dengan Zeen yang loyo tak berdaya.
Bahkan wanita hamil itu dalam sebulan ini tampak berisi dan juga porsi makannya menjadi bertambah, bisa dilihat jika saat ini Yuna tengah mengemil puding labu tepat dibalkon. Puding labu bukan hanya sekedar puding labu saja, puding itu ukurannya sangat besar tidak seperti puding pada umumnya yang ukurannya hanya setengah-setengah saja.
Dan apakah kalian tahu jika puding itu bukan dibuat dari rumah, melainkan mencari dengan susah, karena Yuna meminta dibelikan puding yang penjualnya samping tempat sekolah sdnya dulu bisa dibilang tempat tinggal Yuna yang ada didesa. Dan tahukah kalian jika puding itu sendiri yang mencarinya adalah Zeen. Karena Yuna tak ingin dipesan melalui online melainkan secara langsung dari tempatnya.
Itu sebabnya Zeen sekarang tampak loyo, karena dirinya baru saja sampai dirumah setengah jam yang lalu karena ia membeli puding itu ketika jam tiga malam tadi.
Zeen tampak mengamati Yuna dalam diam, rasa penat yang semula datang kini berangsur hilang ketika melihat wajah keceriaan Yuna yang terpancar pada wajah Yuna ketika ia sedang memakan puding itu. Tentu saja Zeen merasa sangat senang ketika perjuangannya mendapatkan puding itu dihargai oleh istrinya yang langsung memakan puding itu hingga tersisa sedikit saja.
Yuna yang merasakan jika sedang dipantai dari arah jauh menoleh kearah Zeen, “Mas mau?” tanya Yuna dengan mulut yang terus mengunyah dan bibir yang belepotan menambahkan kesan mengemaskan pada wanita itu.
Zeen mengeleng langsung, ia lalu bangkit dari baringnya dan berjalan menuju istrinya, “Tidak sayang kamu habiskan saja, mas sudah kenyang hanya ngeliatin kamu makan saja.” Ujar Zeen sambil mendudukan dirinya disofa tepat disamping Yuna.
Yuna mengangkat sebelah alisnya bingung, “Kenyang gimana? Kalo mas aja gak belum makan sejak pagi?” tampak Yuna menatap suaminya dengan tatapan heran.
“Itu sebabnya aku tadi bilang jika melihatmu saja sudah membuatku kenyang ....” ucap Zeen mengelus sayang pipi Yuna.
Yuna yang mendengar itu hanya memberengut saja, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada pudingnya kemudian mulai memakan puding itu hingga habis.
Terdengar suara sendawa dari Yuna, wanita itu tampak menyandarkan tubuhnya kemudian mengelus-elus perut yang agak membuncit itu.
__ADS_1
“Mas ....”
“Hem?” Zeen menoleh.
“Aku cuman merasa aneh sama perutku. Sepertinya perutku ini agak besar? Bukankah kalau masih satu bulan itu belum terlihat ya?” jelas Yuna bertanya-tanya.
Zeen nampak kembali menyungingkan senyumnya, “Mungkin anak kita yang ada didalam sudah tumbuh besar, itu sebabnya perutmu agak membuncit.” Jawab Zeen sambil mengelus lembut perut Yuna kemudian sesekali mengecupi perut itu.
“Mana mungkin seperti itu?” Yuna semakin dibuat kebingungan.
Bahkan raut kebingungan itu tak lepas dari pandangan Zeen yang membuat pria itu betah menatap wajah wanitanya.
“Mungkin dong sayang ... atau kita buktikan saja besok? Besok kan jadwal cek kandunganmu? Bagaimana kalau kita bertaruh? Jika ucapanku itu salah maka aku akan mengabulkan permintaanmu apapun itu. Dan sedangkan jika aku yang menang maka aku juga akan meminta apapun padamu! Gimana?” Zeen mengangkat-angkat kedua alisnya sambil menatap istrinya dengan tatapan menantang.
“Hemm, oke! Siapa takut! Jika mas yang salah jangan nangis ya ...?” jawab Yuna yang langsung menyetujui permainan konyol dari Zeen itu.
Zeen dengan senyum angkuh menyandarkan kepalanya disofa itu, “Hemm, mas tak akan nangis karena mas tahu jika mas yang akan menang!” ucap Zeen dengan penuh percaya diri.
Hal itu membuat Yuna mencebik malas mendengar perkataan suaminya.
“Cih! Kita lihat aja besok!” timpal Yuna.
Dan sesuai apa yang dikatakan oleh kedua sepasang pasutri itu. Kini keduanya berjalan berdampingan untuk menuju keruangan dokter Elena yang merupakan dokter kandungan yang sebelumnya pernah memeriksa keadaan Yuna. Dan saat ini Yuna kembali diperiksa oleh dokter berusia empat puluh tahun itu, karena sebelumnya Zeen sudah meminta janji temu pada dokter Elena itu.
Sesampainya didepan pintu ruangan dokter Elena, kini Yuna mengetuk pintu itu dengan perlahan. Setelah beberapa detik mengetuk pintu itu, langsung terdengar sebuah suara dari dalam ruangan.
“Masuk!”
__ADS_1
Keduanya pun masuk setelah mendapatkan izin.
“Selamat siang dokter ....” sapa Yuna dengan sangat ramah kepada dokter wanita yang lebih tua darinya.
Elena menanggapi senyuman Yuna, “Ya pagi ....” kemudian pandangannya ia arahkan pada sosok lelaki yang berada disamping Yuna. Namun sosok lelaki yang tak lain adalah Zeen itu hanya menatap kearah lain dan tak berniat untuk menyapanya. Hal itu hanya bisa membuat Elena geleng-geleng kepala saja.
“Baik kita langsung periksa saja ya? Yuna bisa membandingkan diri dikasur.” Elena berdiri dari duduknya dan berjalan kearah brangkar tempat para pasien diperiksa.
Yuna yang mendengar perkataan intruksi itu menggangguk paham dan menuruti perkataan dari dokter Elena dengan dirinya yang sudah berbaring diatas kasur itu.
Elena mulai memeriksa keadaan Yuna dengan menempelkan alat kedokteran miliknya diperut buncit Yuna.
Setelah memeriksa keadaan Yuna dokter Elena kembali bangkit dari duduknya dan berjalan kearah meja kerjanya.
Sedangkan Yuna dan Zeen saat ini sudah duduk anteng didepan dokter wanita itu.
“Bagaimana dengan kondisi bayi saya yang ada didalam dok?” tanya Yuna.
“Kondisi janin sangat baik dan sehat berkat ibu yang selalu memakan makanan yang sangat bergizi, sehingga kandungan pun ikut terjaga, mohon teruskan seperti ini sampai sembilan bulan.” Jelas Elena.
Yuna menganguk langsung, “Alhamdulillah jika semuanya baik-baik saja dan saya akan terus mengikuti anjuran yang anda katakan barusan.” Jawab Yuna sambil mengusap-usap perutnya karena merasa bahagia mendengar keadaan bayinya baik-baik saja didalam perutnya.
Begitupun dengan Zeen, pria itu yang juga ikut senang, juga ikut mengelus perut Yuna dengan lembut. Namun otak berlianya itu kembali mengingat tentang perbincangan mereka kemarin malam.
“Dokter Elena ada yang ingin saya tanyakan dan saya sangat penasaran.” Ucap Zeen yang membuat Elena mengerutkan alisnya karena keheranan jika pria itu baru saja mengeluarkan suaranya, saat sejak tadi diam ketika memasuki ruangan Elena.
“Hem? Pertanyaan apa itu?” tanya Elena.
__ADS_1
“Saya ingin bertanya, kenapa kandungan istri saya sudah nampak terlihat jelas ya dokter? Maksudnya terlihat sedikit membuncit.”
TBC.