
Firo yang baru saja keluar dari toilet itu, tak sengaja melihat Yuna yang tengah berkulit dengan masakannya. Firo mengamati Yuna, ia saat ini masih berada ditoilet sambil menyenderkan tubuhnya didinding.
Yuna yang sebenarnya tau jika Firo mengamatinya itu, hanya memilih acuh dan mengabaikannya saja. Terbukti, saat ia berjalan kearah kulkas untuk mengambil bahan masakan, dirinya bahkan tak melirikkan matanya pada Firo. Padahal Firo yang juga saat ini berada dekat dikulkas itu.
Setelah mengambil bahan masakan, Yuna kembali menutup kulkas itu dan berjalan kembali keempat semula, dimana dirinya tengah berkutat didekat kompor.
Fadli yang melihat keacuhan Yuna itu, tertawa kecil. Kemudian langkahnya membawa dirinya berjalan mendekat, pada Yuna.
"Berpura-pura acuh, padahal dirinya bisa melihat. Ada orang yang tengah menatapnya." ucap Firo, berada sindiran.
Yuna masih belum bergeming.
Firo saat ini berada disamping Yuna, matanya terus menelisik penampilan Yuna, mulai dari atas sampai bawah. Kemudian ia menyentuh dagunya,"Bagaimana mungkin seorang gadis desa sepertimu bisa menjadi bagian, dari keluarga ini?" ucapnya, dengan nada meremeh. Persis saat dirinya tengah meremehkan Zeen dengan kata-katanya itu.
Firo tertawa, "Apakah mata kak Zeen sudah tak berfungsi lagi? Kukira dia menyukai wanita yang sangat cantik dan seksi, seperti wanita yang ada diclup malam." Firo kembali menatap. Yuna yang ada disampingnya.
"Hei! Gadis desa! Apakah kau tak tau? Jika kak Zeen itu memiliki kekasih, yang bahkan standarnya jauh lebih tinggi darimu?" tanyanya, penuh sindiran.
"Hemm," ia bergumam sambil mengetuk dagunya lagi. "Apakah mungkin kak Zeen telah terkena pelet! Berupa, jampi-jampi?" Firo tertawa diakhir ucapannya.
Yuna yang tadinya tengah mengiris bawang merah itu, menghentikan pergerakannya. Kemudian tatapannya mengarah kedepan, dirinya masih belum melirik kearah Firo.
"Oh! Atau kah, kau dijual oleh keluargamu?" ucapnya sambil terkekeh, senang.
Mulut Firo memang tak bisa dikondisikan, dirinya bahkan tak memperdulikan kata-katanya yang terkesan sangat menyinggung lawan bicaranya.
Yuna menghela nafas sejenak, setelah itu barulah ia mengalihkan tatapannya pada Firo. Firo yang mendapati Yuna, langsung menatapnya itu. Agak terkejut, dan baru bisa melihat setiap inci dari wajah Yuna, ia dapat mengamati wajah Yuna yang natural tak ada sedikitpun warna Make Up diwajah polos itu.
Masih dengan menatap lelaki muda yang ada didepannya, kemudian pisau yang ia bawa, ia letakkan kembali dimeja.
"Apakah anda dulu tak diajari sopan santun?" mulut Yuna mulai berucap.
"Hah?" beo Firo, merasa bingung.
__ADS_1
Sejenak, Yuna memutar matanya. "Saya bertanya, apakah anda dulu mendapatkan ajaran sopan santun dari orangtua anda?" tanya Yuna lagi.
"Apa maksud, ucapanmu itu? Aku membicarakan hal lain! Tapi kau, malah bertanya yang bukan topik pembicaraan." ucap Firo merasa heran.
"Jawab saja pertanyaan saya. Apa susahnya hanya menjawab satu pertanyaan saja." ucap Yuna, yang biasanya, bibirnya itu terulas senyum. Kini hanya memasang wajah datarnya saja.
Firo tiba-tiba dibuat kikuk, tak biasanya ia mati kutu seperti itu. "Tentu saja keluargaku memberikan pendidikan yang baik padaku, bahkan mereka menyekolahkanku hingga kejenjang S tiga. Asal kau tau saja, aku ini lulusan dari Amerika, jadi, mungkin gadis desa sepertimu tak akan seberuntung diriku." ucapnya dengan sombong dan angkuhnya.
Yuna menghela nafas sejenak,"Ya... Ucapan anda memang benar, saya hanya gadis desa, yang hanya bisa bersekolah hingga SMA saja." ucap Yuna, setelah itu ia kembali berkutat pada masakannya.
Firo yang mendengar, sungguh dibuat senang. Dirinya merasa bangga dan merasa tinggi diatas orang lain.
"Tapi untungnya, walau pendidikan saya tak lebih tinggi dari anda, saya merasa bangga. Bahwa saya masih bisa menjaga omongan, dan menjaga akhlak saya didepan orang lain. Saya bangga, pendidikan saya tak pernah mengajarkan untuk mencerca orang lain hingga membuat orang itu tersinggung. Semua pendidikan saya dan ajaran orang yang saya hormati, tak pernah sekalipun membuat akhlak saya melenceng dan menyombongkan diri."
"Dan saya tak pernah sekalipun, menyesal karena pendidikan saya tak sampai kejenjang yang lebih tinggi seperti anda!" jelas Yuna dengan raut santai, tanpa melihat lawan bicaranya. Ia masih saja berkutat pada acara masaknya itu.
Sedang Firo? Pemuda itu tentu saja dibuat terdiam, sekaligus merasa terhina oleh sindiran yang diberikan oleh Yuna itu. Dirinya membantu ditempat, dan untuk kedua kalinya ia dibuat tak bisa menjawab perkataan itu.
"Sialan!" umpat Firo, namun begitu keras.
"Hei gadis desa!"
Yuna kembali mengalihkan pandangannya menatap Firo, ia mengangkat pisau besar nan tajam itu ditengah-tengah mereka. Firo pun dibuat mundur ketika melihat pisau tajam itu.
Kali ini Yuna memperlihatkan senyumnya, "Iya, adik sepupu Firo? Apakah anda membutuhkan sesuatu?" tanya Yuna dengan nada santai, masih dengan pisau yang diangkat ditangannya.
Firo melihat pisau dibuat takut-takut, ia meneguk ludahnya sejenak. "Aku tidak butuh sesuatu darimu! Ingat gadis desa! Kau itu hanya orang asing dirumah ini, jadi kuperingatkan. Jangan sok bertingkat dirumah ini." tekan Firo.
Yuna sedikit mengoyangkan pisau yang ia genggam, hal itu membuat Firo tersentak kaget.
"I-tu saja yang kuucapkan, cepat selesaikan masakanmu. Jangan membuat kami semua kelaparan, hanya karena kau lama masaknya."
Setelah mengucapkan itu, Firo benar-benar pergi dari hadapan Yuna. Dirinya berjalan cepat hingga sampai diluar area dapur.
__ADS_1
Yuna yang melihat kepergian Firo, langsung menghela nafas lega. Dirinya dibuat sesak nafas, ketika berhadapan dengan adik sepupu dari Zeen itu. Yuna benar-benar tak nyaman berdekatan dengan pemuda itu.
"Orang itu benar-benar, hampir membuatku pingsan." gumam Yuna sambil mengelengkan kepalanya.
Yuna tak tahu saja, dibalik pintu dapur disana. Ada sosok yang sejak tadi tengah mengamati interaksi antara Yuna dan juga Firo, dialah Zeen yang sejak tadi mengamati Yuna dari kejauhan dalam diamnya.
Senyum miring langsung terbit dibibir tipis itu, "Hemm, baru kali ini aku melihat seorang sepupu Firo, tak berkutat didepan orang lain. Bahkan didepanku saja dia tak pernah seperti itu! Sepertinya gadis desa itu memiliki ilmu sihir." gumam Zeen, tertawa sambil mengelengkan kepalanya.
Ia pun kemudian, membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan dapur itu.
Zeen kembali duduk ditempat ia sebelumnya, dimana para kedua orangtua dan juga neneknya tengah berkumpul diruang tengah itu. Tak lupa, Firo yang juga sudah ada, duduk dihadapannya dengan raut wajah. Yang sungguh membuat dirinya ingin menyembuhkan tawanya.
Sebenarnya tadi Zeen sempat mengikuti Firo yang pergi ketoilet dapur, ia bertujuan ingin mengolok-olok sepupunya itu. Karena sepupunya itu sudah berani menghina dan meremehkannya didepan orangtuanya, juga neneknya.
Tapi niatnya itu sepertinya terlupakan, kala ia seperti mendapat secercah keberuntungan ketika melihat, sepupu yang super angkuh itu tak berkutit didepan gadis desa yang biasa-biasa saja.
Zeen menutup mulutnya yang tak sengaja tertawa itu, entah mengapa jika terbayang hal itu. Dirinya selalu ingin tertawa, terbahak-bahak didepan sepupunya.
Zeen kembali melihat kearah sepupunya. "Adik... Kenapa wajahmu, kusut seperti itu?" tanya Zeen, dengan nada meledek.
Firo membalas tatapan Zeen, "Apa makasudmu kak?" tanyanya dengan perasaan campur aduk.
Zeen menyandarkan dirinya disofa, lalu kedua tangannya terlihat didada. "Hemm, aku hanya merasa... Jika wajahmu sangat pucat. Apa kau sedang sakit?"
"Apa?" beo Firo, merasa dibuat bingung.
"Yaampun cucuku sedang sakit? Kenapa tak bilang? Kita bisa membawamu kerumah sakit sekarang." ucap Rima, sambil menyentuh dahi Firo.
"Ti-tidak nek... Firo tak sakit." ucapnya, setelah itu tatapannya kembali melihat Zeen yang sudah tertawa cekikikan disana.
Firo mengeram kesal, dirinya sedang dikerjai oleh Zeen, kakak sepupu rasa musuhnya sendiri.
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa, komen yang banyak-banyak🐸