Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 40


__ADS_3

"Apa maksud kamu Firo? Kenapa bicaramu itu tak sopan sekali?" Vina tersulut kesal oleh ucapan dari lelaki muda itu.


"Sudah, sudah... Hanya hal kecil saja, kau sudah membuat keributan." ucap Rima, melerai.


"Tapi mah..."


Bahu Vina ditepuk oleh Albaret, kemudian Albaret memberi kode agar Vina tak meneruskan ucapannya. Vina yang melihat suaminya itu, hanya bisa menghela nafas pasrah.


"Aku akan memberitahu kalian! Bahwa aku dan cucuku akan tinggal disini selama seminggu, jadi.. Apakah kalian sudah menyiapkan kamar untukku?" tanya wanita tua itu.


"Sudah bu..." jawab Vina seadanya.


"Bagus kalau begitu." ucapnya, lalu menghadap lagi kepada Yuna. "Kamu! Sebagai menantu disini, bisakah kamu menyiapkan makanan untuk kami disini? Aku juga ingin merasakan bagaimana masakanmu itu." ucapnya seperti ingin mengetes Yuna.


"Baik nek, saya akan memasak untuk kita semua sekarang juga." jawab Yuna dan mulai bangkit dari duduknya.


"Bagus."


"Aku akan membantu Yuna, juga." Vina juga bangkit dari duduknya, namun, baru selangkah ia ingin menyusul Yuna. Tiba-tiba Rima, mertuanya itu memanggil dirinya.


"Mau kemana kamu? Aku tak menyuruhmu untuk membantu Yuna, biarkan dia memasak makanan sendiri."


Vina pun menengok kearah mertuanya, "Tapi mah... Ini kan makanannya untuk sekeluarga, jadi, biarkan aku membantu Yuna agar cepat selesai mah..." tutur Vina pada mertuanya.


"Aku tak butuh alasanmu itu, biarkan dia masak sendiri. Aku inginmengetes, apakah ia layak menjadi menantu dikediaman ini."


Ucapan itu, membuat Albaret dan juga Vina dibuat melotot.


"Mahh... Jangan seperti itu." ucap Albaret, merasa tak enak mendengar ucapan itu.


"Sudah! Aku tak ingin penolakan, biarkan menantumu masak sendiri tanpa bantuan. Pelayan pun tak boleh membantunya." ucap Rima, dengan penuh penekanan.


Vina menekan jidatnya, ia dibuat menghela nafas dengan sifat abisius dari mertuanya itu. Benar apa kata Zeen tempo lalu, bahwa wanita tua itu sungguh cerewet dan tak ingin dibantah.


Yuna berjalan mendekat kearah mertuanya, ia menepuk pelan bahu wanita yang seumuran dengan tantenya istri dari Bram. Pamannya sendiri.


Vina pun juga mengalihkan pandangannya menatap Yuna, ia kemudian mengelus pipi Yuna dengan perasaan sayang. Bagaimana pun dirinya sudah menganggap Yuna sebagai putrinya sendiri, ia sangat menyayangi menantunya itu walau baru setengah bulai ia kenal dengan Yuna.


Yuna tersenyum menatap wanita paru baya yang ada dihadapannya, ia pun membawa tangan mertuanya untuk digengamnya.


"Gak papa mah... Anggap aja ini adalah misi, dan Yuna merasa yakin. Bahwa Yuna bisa melakukannya dengan cara yang terbaik, mama tak perlu khawatir memikirkan Yuna. Ingat mah... Yuna ini menantu mama, Yuna tak akan pernah mengecewakan mama."

__ADS_1


Begitu terharu Vina mendengar ucapan itu, bagaimana bisa menantunya ini sangat baik dan juga Sabar. Dirinya merasa beruntung mendapatkan menantu seperti Yuna.


"Maafin mama ya Yun..." lirihnya.


Yuna mengeleng, "Engak.... Jangan minta maaf mah... Mama gak pernah salah." ucapnya.


Yuna kembali menatap Rima yang duduk bertompang kaki.


"Saya akan membuat yang terbaik! Dan saya yakin, nenek akan merasa ketagihan menikmati masakan saya." ucapan itu penuh dengan percaya diri.


Rima tersenyum mendengarnya. "Baiklah... Buktikan kemampuan."


Yuna mengganggu. "Baik." setelah itu, Yuna bergegas menuju dapur.


Firo, lelaki itu menatap punggung Yuna dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Bagaimana dengan perusahaanmu Firo?" tanya Albaret.


Firo mengalihkan pandangannya. "Seperti biasa om! Berjalan dengan lancar, selama saya yang mengendalikan perusahaan." jelasnya dengan nada angkuhnya.


Albaret tertawa mendengarnya, "Seperti biasa ya? Sifatmu itu tak akan pernah hilang. Angkuh dan penuh percaya diri, ingan Firo! Kamu jangan terlalu menyombongkan diri. Karena pepatah mengatakan jika diatas langit, masih ada langit yang lebih tinggi."


Albaret yang melihat keangkuhan dari putra adiknya itu, hanya bisa mengelengkan kepalanya. Ia jadi merasa, jika sifat Firo sangat persis dengan sifat mamanya. Sedangkan wajah Firo sama persis dengan wajah papa kandungnya yang telah lama meninggal.


Firo kembali mengalihkan pandangannya menatap Zeen. "Bagaimana denganmu kak?" tanyanya, membuat Zeen mengerutkan alisnya.


"Maksudnya?" tanya Zeen.


Firo kembali tersenyum semirk, "Maksudku, bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah kakak masih bekerja dibawah paman?" ucapan itu terdengar seperti sindiran.


"Jika memang iya kenapa?" tanya Zeen, mulai tersulut emosi.


Firo terkekeh sejenak, dan hal itu membuat Zeen tambah kesal. Lantaran dirinya seperti diremehkan.


"Apa maksudmu, tertawa begitu hah? Kau meremehkanku?" Zeen berdiri dari duduknya, tak lupa kedua tangannya yang terkepal kuat.


Vina yang melihat putranya itu, ikut bangkit dari duduknya. "Yaampun sayang... Jangan begitu." Vina menenangkan putranya dan membawanya kembali, duduk disampingnya.


"Tapi mah..."


"Emang kenapa denganku? Kak Zeen, aku hanya tertawa. Emang dirumah ini, melarang manusia untuk tertawa ya?" ucap Firo, dengan raut meremeh.

__ADS_1


"Kau...." geram Zeen sambil menatap tajam, lelaki muda yang tengah meremehkannya itu.


"Ck, ck, ck..... Kamu Zeen, kau itu lebih tua dari Firo. Tapi mengapa sifatmu jauh lebih kekanakan?" Rima mengelengkan kepala.


Zeen mengalihkan pandangannya tak ingin menatap seseorang yang membuat dirinya kesal. "Cucu kesayangan nenek itu, yang suka sekali mencari masalah denganku."


"Tapi kamu juga cucu kesayangan nenek." ucap Rima, gagal paham.


Zeen memutar matanya malas, "Sayang apanya, orang yang selalu dibangakan cucu nenek satu itu." akhirnya, unek-unek Zeen dikeluarkan begitu saja.


"Zeen!" kedua orangtua Zeen langsung menegur, namun Zeen bertingkat acuh.


"Apa maksudmu kak? Kau cemburu denganku, karena nenek memberiku sebuah perusahaan besar?" ucap Firo, yang sangat senang meremehkan Zeen


"Firo.... Jaga ucapanmu! Zeen lebih tua darimu, ingat itu." tegur Rima pada cucunya itu.


"Kenapa aku harus cemburu denganmu? Kau kan hanya anak yang sangat kehausan, perhatian kan? Itu sebabnya kau mati-matikan bekerja diperusahaan yang kau bangakan itu. Hanya karena ingin mendapatkan pujian dari orang-orang sekitarmu?" Zeen berucap, dengan raut wajah tajam nan meremeh.


"Apa yang kau katakan?!" urat yang ada dileher Firo itu terlihat, ucapan dari Zeen itu membuat dirinya mengeram marah.


Zeen yang melihat itu pun tersenyum senang.


"Astaga kalian... Kenapa disetiap kalian berjumpa, tak pernah ada akur-akurnya. Kalian membuatku pusing saja..." Rima menghela nafas, sambil memijit pelipisnya yang berdenyut.


Vina yang melihat mertuanya itu bangkit dari duduknya, namun sejenak ia mengarahkan tatapan tajam pada Zeen, tentu saja Zeen yang melihat itu hanya terdiam.


"Urusanmu nanti dengan mama." setelah wanita paru baya itu mengancam putranya, ia berjalan mendekat kearah mertuanya.


"Mari mah, Vina pijit kepalanya biar tak pusing." setelah mendapat ijin dari mertuanya, ia pun langsung memijit kelapa Rima yang dibuat memejamkan mata merasakan sensasi nyaman itu.


Tiba-tiba Firo bangkit dari duduknya, "Paman, dimana letak toilet paman?" tanya pemuda itu.


"Didekat daput ada kamar mandi disana, pintu toiletnya berjejer." jelas Albaret yang dianguki kepala oleh Firo.


Albaret menatap punggung Firo yang berjalan kearah dapur. "Yaampun bocah itu, padahal waktu kecil sering main kesini. Tapi kenapa sampai lupa dimana letak toilet?" gumam Albaret sambil mengelengkan kepala.


TBC.


Jangan lupa terus dukung author ya🐭☺️ biar author ini tambah semangat..... Oh iya jangan lupa sematkan Vote, like dan komen. Atau kirimkan bunga mawar seiklasnya saja🐨🦥


See you next time....

__ADS_1


__ADS_2