
...***...
Saat ini keduanya sudah sampai dirumah sakit, tepatnya rumah sakit milik tuan Albaret. Dilihatnya rumah sakit itu begitu ramai, karena pada jam itu merupakan jam kerja bagi para dokter dan para perawat yang ada dirumah sakit itu.
“Aku tak menyangka mas, kita kesini bukan untuk bekerja. Melainkan untuk menjenguk nenek,” ujarnya.
Zeen tersenyum mendengarnya, “Kamu benar, biasanya dijam begini, kita lagi sibuk-sibuknya mengurus pasien ... bahkan sampai melupakan jam istirahat.” Zeen menggeleng mengingat itu.
“Ya ... bahkan mas tak memperbolehkan ku untuk sekedar duduk saja.” Yuna terkekeh pelan ketika menginggat Zeen yang sangat arogant, ketika dirinya yang tak diperbolehkan untuk istirahat sejenak saja.
Zeen mengaruk kepalanya merasa malu, ia pun dengan segera langsung merangkul tubuh Yuna dan membawanya kedalam pelukannya.
“Maaf ya ... aku memang jahat sekali waktu itu,” cicit Zeen merasa bersalah.
“Iya mas, tapi jangan merangkulku seperti ini ....” Yuna berusaha melepas rangkulan itu, namun segera dicegah oleh Zeen yang dengan sengaja merangkul Yuna dengan eratnya.
“Kenapa? Apa kamu merasa risih, dengan suamimu sendiri?” tanya Zeen binggung.
Yuna kesal, bagaimana bisa ada orang yang tak sepeka seperti Zeen ini?
“Bukan begitu mas! Mas apa gak lihat? Banyak yang sedang memandang kita mas ... bahkan mereka seperti sedang membicarakan kita ....” bisik Yuna, yang memang merasa tak nyaman jika dirinya dijadikan pusat perhatian oleh orang-orang sekitar.
“Apa kamu merasa tak nyaman?” tanya Zeen begitu serius.
Yuna yang melihat wajah keseriusan dari Zeen itu mengerutkan keningnya binggung, lalu ia menganggukkan kepala sebagai jawaban.
“Baiklah jika memang begitu ....”
“Hah? Maksudnya?” Yuna semakin binggung dengan gumaman yang ia dengar.
“Hei! Kau!”
Zeen tiba-tiba berteriak, membuat Yuna sedikit terlonjak. Yuna pun mengikuti arah pandang Zeen ketika melihat sorot mata tajam itu, sedang mengarah pandangannya kearah lain.
Yang mendapat teriakan itu, tak lain dan tak bukan adalah sekelompok suster yang tengah merumpi dibagikan repsepsionis bagian administrasi rumah sakit itu.
Para suster yang berjumblah lima orang itu menundukkan pandangannya seketika. Ketika mereka melihat, wajah menyeramkan putra dari pemilik rumah sakit itu.
__ADS_1
“Kenapa kalian tak bekerja hah?! Apa rumah sakit ini mengaji kalian hanya dengan gosipan kalian itu, hah? Ingat ini masih jam kerja! Jadi kalian cepat kembali bekerja. Jika saya melihat kalian begitu lagi, maka saya pastikan kalian akan mendapat surat pemecatan dari saya!” kecam Zeen dengan suara angkuh dan dinginnya.
Kelima suster itu masih menunduk dan menganggukkan kepala. Dan berlalu meninggalkan tempat, tanpa menjawab ucapan dari Zeen.
Zeen mendengus kesal melihatnya, “Dasar! Bukanya menjawab malah melarikan diri ....” gerutu Zeen kesal.
'Ya jelas gak dijawab ... orang kamu aja nyeremin kayak gitu ....' batin Yuna mengeleng.
“Sudah hilang pengganggunya, yuk kita lanjutkan perjalanan kita,” seru Zeen tak lupa kembali merangkul pundak Yuna dengan mesranya.
Yuna menatap lekat Zeen. Karena pada hari ini, untuk pertama kalinya Zeen dengan terang-terangan mengumbar kemesraan dengan dirinya didepan umum, tak seperti diawal Yuna datang kesini. Saat itu Yuna berjalan dibelakang dan hanya melihat punggung Zeen yang tengah merangkul Laura. Tentu saja pada saat itu membuat hati Yuna sakit hati.
Tapi itu sudah berlalu, kini kesabarannya telah dibayar, dengan perubahan Zeen yang jauh diatas dugaanya. Ia tak menyangka, jika pria ini akan berubah dengan sendirinya disaat ia ingin menyerah kala pernikahan mereka hampir saja goyah.
Zeen yang merasakan tatapan dari Yuna itu, menengok. “Kenapa?” tanyanya dengan mengangkat satu alisnya.
Yuna mengeleng sambil tersenyum.
“Kenapa sih ...? Bikin orang kepo aja,” ujar Zeen sambil mencubit gemas hidung Yuna.
“Aw, jangan dicubit!” pekik Yuna mengusap hidungnya.
“Apa?” Yuna terkejut.
Zeen menggeleng samar, tak lupa dengan senyum yang misterius. “Tak apa, yuk! Cepet-cepet. Nanti nenek ngamuk nungguin kita.” Alibi Zeen yang langsung membawa Yuna dengan berlari.
🍂🍂
“Kalian ini, baru jenguk nenek! Padahal nenek sudah siuman dari kemarin. Dasar cucu-cucu tak berperasaan.”
Ternyata ucapan sempontan dari Zeen itu benar adanya, kala disaat mereka berdua sampai dikamar rawat VIP milik Rima, mereka berdua langsung disuguhi omelan oleh wanita tua itu.
Yuna dan Zeen tentu saja merasa dibuat kikuk ditempatnya.
“Sukurin ...!! Keenakan pacaran ya gitu, berasa dunia milik berdua. Sampai lupa waktu, nenek pun dilupain.”
Celetukan itu berasal dari Firo yang saat ini tengah duduk disofa tepat disamping Vina yang hanya terkikik sendiri ketika menonton dua sepasang insan itu.
__ADS_1
Firo memang sejak tadi pagi berada disana, menemani neneknya, namun matanya malah fokus pada ponselnya.
“Kenapa kalo kita pacaran? Kau iri Hah?” sungut Zeen, berkecak pinggang.
Firo yang tadi fokus pada ponselnya, kini ia mengalihkan pandangannya pada Zeen. “Ngapain iri? Kalo pacarku aja ada banyak, bukan hanya satu!” ucap Firo dengan sombongnya.
“Dasar bocah ingusan! Sok-sok'an bilang pacarnya banyak, tapi gak pernah bawa pacarnya sama sekali.” Dengus Zeen menggeleng.
“Biarin lah! Dari pada kakak, udah punya istri malah punya simpanan.” Firo yang kesal tak ingin mengalah.
Zeen melotot, ia yang ingin membuka mulutnya tak jadi karena Rima lebih dulu menyahut.
“Apa? Simpanan? Zeen punya simpanan?” tanyanya, memberikan tatapan tajam pada Zeen. Sedangkan Yuna yang ada disampinya tak ingin ikut campur dalam perdebatan itu.
“Iya nek ... kakak tuh punya simpanan, namanya Laura Claudia!” salip Firo menekan nama mantan kekasih Zeen.
“Sialan! Bocah kau!” Zeen mengumpat sambil melotot andik sepupu laknatnya.
Sedangkan yang dipelototi itu, menanggapinya dengan tertawa mengejek.
“Zeen!” pekik Rima, membuat Zeen tersentak.
“Apa benar kamu punya simpanan?” tanya Rima dengan nada penuh intimindasi.
Zeen menggeleng dengan cepat, “Engak nek, Zeen gak ada simpanan. Yang dikatakan Firo itu cuman mantan Zeen. Zeen sudah memutuskan hubungan dengan wanita itu.” Ucapnya dengan tegas.
“Benarkah?” tanya Rima dengan mengangkat satu alisnya.
“Iya nek. Suer ....” dengan mengangkat tangan dan membentuk dua jari, Zeen menganggukkan kepala bak anak kecil.
“Baiklah ... jika kau benar-benar memiliki simpanan, bahkan dengan wanita yang sudah berani meracuniku itu! maka kupastikan! Kau kusunat sebagai hukumanmu! Dan wanita itu! Kupastikan hidupnya juga akan menderita, jika kau memang berani bermain api dengan wanita tak tahu diri itu!” kecam Rima dengan penuh penekanan.
Zeen yang mendengar kata sunat itu, seketika menyentuh kepunyaanya, ia bergidik ngeri jika hal itu benar-benar terjadi.
'Ngeri banget ....' batin Zeen ketakutan.
“Ja-jadi, nenek sudah tahu semuanya?” tanya Zeen hati-hati.
__ADS_1
Rima melipat kedua tangannya didada, lalu mengganggkat dagunya sedikit keatas. “Ya! Aku tau! Aku juga tau jika putriku sendiri ikut bersekonkol dengan mantanmu itu.” Rima menggeleng sejenak, “Dasar anak itu. Bahkan ibu kandungnya sendiripun dijadikan bahan rencana liciknya.” Rima menghela nafas panjang. Lalu memijit pelipisnya yang terasa berdenyut akibat mengginggat ulah Lena putrinya sendiri yang ia besaran dengan sepenuh hati.
TBC.