Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 194


__ADS_3

...***...


Saat ini Yuna dan Zeen tengah berberes barang-barang yang akan mereka bawa pulang. Ya! Pada hari ini, tepatnya disiang hari yang sangat cerah Yuna diperbolehkan untuk pulang setelah menginap dirumah sakit hampir sebulan.


Yuna yang sejak tadi duduk diatas kasur itu, mulai menurunkan dirinya dengan hati-hati. Karena bekas operasi diperutnya masih sedikit terasa nyeri dirasanya.


Zeen yang melihat istrinya itu, langsung bergegas menghampiri dan membantu istrinya turun dengan cara mengendongnya.


Hal itu membuat Yuna malu, apalagi saat ada para suster yang baru saja masuk kedalam ruangan tempat ia dirawat.


“Yaampun mas, pake digendong segala, aku kan malu jadinya ....” bisik Yuna tepat ditelinga suaminya.


Zeen yang mendengar itu tersenyum, “Kenapa harus malu? Kan kamu disini pasiennya?”


“Ya kan tetap saja ... aku berasa kayak anak kecil,” gerutunya sambil mengerutkan bibirnya.


“Sudah, tak perlu memikirkan itu lebih baik kita pulang sekarang pasti keluarga kita sudah menunggu diluar, apalagi baby kita juga sudah diculik duluan oleh mereka.”


Yuna nampak terkikik mendengar itu, “Yaudah ayo kita pulang sekarang,” ajaknya.


“Sudah semua kan? Gak ada yang tertinggal?” tanya Zeen memastikan.


Yuna langsung mengangguk menangapi ucapan itu, “Iya mas, lagian semuanya sudah beres dan mas sendiri yang ngeberesin. Aku malah gak ngerjain apa-apa.”


“Ya kan kamu disini pasiennya sayang ... jadi, sebelum kamu sembuh dengan benar-benar totalnya. Mas mu ini tak akan membiarkanmu mengerjakan apapun! Cukup kamu menyusui baby-baby kita saja dan yang lain biar mas yang kerjakan!” ucap Zeen mengebu-gebu. Lalu kemudian ia meletakan Yuna dikursi roda.


“Tapi mas, aku jadi kebosanan kalo cuma itu yang aku kerjakan.” Ucap Yuna sedikit merengek.


'Baru juga sadar dari pingsan, udah bertambah aja sifat posesifnya! Bagaimana bisa aku jatuh cinta kepada lelaki super posesif ini? Apa tipeku memang orang yang posesif?' gumam Yuna terus menerka-nerka didalam hatinya.


Tanpa sepengetahuan Yuna, Zeen tiba-tiba mendekatkan wajahnya tepat ditelinga Yuna, lalu ia membisikan sesuatu.


“Kalo kamu bosan, mas bisa pijit-pijit kamu nanti. Jadi kamu tenang aja, kamu gak akan kebosanan kok.” Bisik Zeen dengan nada sensualnya.


Hal itu membuat Yuna merinding, karena hembusan nafas Zeen yang terus menerpa area telinganya.

__ADS_1


“Sudah mas! Lebih baik kita pulang, ayo! Keluarga dan baby-baby kita pasti sudah menunggu lama disana!” ucap Yuna yang dengan tergesa-gesa menjalankan sendiri kursi roda itu tanpa menunggu bantuan dari Zeen.


“Eh? Sayang, kenapa mas ditinggalin! Tungguin mas donggggg ....” pekik Zeen yang langsung mengejar istrinya, namun sebelum itu ia tak lupa sudah memerintahkan kepada para suster untuk membawa barang-barang bawaannya yang berupa baju-baju Yuna dan bajunya.


°


°


°


Sesuai dengan apa yang mereka ucapkan, ternyata para keluarga sudah menunggu mereka diarea parkiran. Disana sudah ada Sigit, Albaret dan Bram dan jangan lupakan jika Yudas dan Firo ikut serta disana.


Sedangkan para baby kini sudah dibawa masuk kedalam mobil oleh para nenek-neneknya, siapa lagi kalau bukan Eva, Vina dan Winda.


Dengan pelan Zeen mendorong kursi roda Yuna menuju mobil keluarganya, mobilnya tentu bukan hanya satu melainkan dua. Karena tak mungkin hanya satu mobil yang dibawa sedangkan jumblah anggota keluarga yang ikut menyusul kerumah sakit berjumlah delapan orang. Ditambah dua baby dan juga Zeen Yuna yang akan ikut masuk kedalam mobil.


Nampak Albaret sang Papa menatap putranya sematawayangnya dengan tatapan tajam.


“Kamu apain dulu menantuku Zeen? Mengapa kau begitu lama? Bukankah berberes baju hanya membutuhkan tiga puluh menit saja?” ucap Albaret dengan serentetan pertanyaan dengan nada mengintimindasi.


“Oh ya? Papa gak percaya, kalau kamu gak apa-apain Yuna, kamu pasti tak akan membuat kami menunggu satu jam lebih lamanya ... kamu gak tau aja tadi baby-babymu sempat menangis karena mencari mamanya. Untung kami para orangtua bisa menenangkan mereka karena kami sudah sangat berpengalaman.” Timpal Albaret tanpa menjeda ucapannya.


Zeen mendengus mendengar itu, “Iya-iya yang sudah berpengalaman!” gerutu Zeen sebal, “Udahlah pah lebih baik kita pulang sekarang. Kasian Yuna panas-panasan sejak tadi.” Ucap Zeen mengalihkan pembicaraan karena sangat malas jika kembali terlibat perdebatan dengan sang Papa.


Albaret juga ikut mendengus, “Alah alasan aja kamu! Bukanya berterimakasih sudah dibantuin jaga anak malah tak tau diri!” sinis Albaret menatap jengkel anaknya.


“Yah kan Zeen gak minta pah, wlee ....” dengan sengaja Zeen memanas-manasi Papanya dengan memeletkan sedikit lidahnya.


Hal itu membuat Albaret menimpuk kepala sang putra dengan gemas, sekaligus mengacak-acak rambut Zeen karena sangking kesalnya.


“Dasar kamu ya ... sudah dipungut dari kandang kambing malah gak tahu diri,”


Dan terjadilah pergulatan antara anak dan bapak, tapi hanya bercandaan semata saja.


Sementara yang lain yang menonton tingkah mereka itu, hanya bisa saling pandang dengan helaan nafas yang keluar dari mulut mereka.

__ADS_1


“Aku tak menyangka jika besanku bisa bertingkah menjadi anak kecil seperti itu bersama putranya, aku saja tak bisa seperti itu karena putraku yang super kaku!” monolog Bram yang menyindir Yudas sang anak laki-laki.


Yudas yang merasa tersindir itu hanya bisa mendengus kesal, dia tak salah apa-apa malah dibawa-bawa.


Sedangkan Sigit menangapi itu dengan kekehan pelan, “Aku malah yang punya anak gadis saja dibuat pusing tujuh keliling,” timpalnya.


“Memang kenapa?” tanya Bram merasa kepo.


“Anak gadisku itu sejak kecil sudah nakal, pernah waktu itu kami dibuat khawatir karena putriku yang berusia delapan tahun waktu itu menghilang sampai berjam-jam. Kami pun hampir meminta bantuan pada polisi karena kami takut jika putri kami hilang diculik orang. Eh pas malamnya malah kami menemukan putri kami tidur dikolom meja yang sangat sempit!” jelas Sigit sambil tertawa karena merasa geli mengingat hal konyol beberapa tahun yang lalu itu.


“Anak gadismu yang namanya Diana itu ya?” tanya Bram.


“Iya, anak gadisku yang itu! Kalau putriku Yuna sifatnya lain dengan adiknya. Karena sifat Yuna menurun pada Papanya ini!” jawab Sigit dengan percaya dirinya.


“Oh ya? Sepertinya anak gadismu yang kedua itu bar-bar sekali ya?”


Sigit tergelak dan mengencangkan tawanya, “Sudah tak tertolong lagi, semakin dewasa sifat bar-barnya semakin menjadi-jadi!”


Sedangkan disisi lain, Diana yang sedang sibuk menyiapkan sesuatu langsung mengorek-ngorek telinganya. Dan mencoba mengeluarkan kotoran yang ada ditelinganya itu.


“Hais, pasti papa ini yang ngomongin aku! Gatal sekali rasanya!” gerutu Diana kesal. Kesal karena disaat lagi sibuk telinganya malah mengajak berperang. Karena kotoran yang ada didalam telinga susah ia dapatkan, ia tak akan berhenti mengorek jika kotoran itu tak ia dapatkan.


Sedangkan Vina yang sejak tadi menunggu dengan gusar karena perutnya melilit ingin dikasi asupan, sudah tak tahan lagi. Wanita berkepala empat itu turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Zeen dan Papanya yang masih adu tenaga itu.


Dengan tak sabaran, Vina langsung menari telinga kiri suaminya dan telinga kanan milik putranya.


“Masih mau bercandaan disini? Kalau iya kalian tak akan boleh masuk lagi kerumahku, dan tak boleh pulang melihat baby-baby lagi!” ancam Vina dengan tegasnya. Hal itu membuat kedua pria yang tengah ia jewer merasa merinding dibulu kuduk mereka.


“Iya sayang iya! Papa akan menuruti perkataan sayangku ini kok!” ucap Albaret memohon seperti anak kecil.


Zeen pun ikut-ikutan. “Iya mah, gak akan dilanjutin lagi kok! Ayo kita pulang sekarang ayo!”


Vina langsung melepas jeweranya, “Bagus, sekarang kalian cepat masuk kedalam mobil, jangan buang-buang waktu lagi! Gak tau apa semua orang disini sudah lapar?” ucap Vina dengan nada sinis.


Kemudian wanita paru baya itu kembali melangkah kakinya, masuk kedalam mobil. Diikuti Zeen dan Albaret yang juga masuk kedalam.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2