Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 100


__ADS_3

...–🍀Happy seratus bab🍀–...


...***...


Drrtt ... drtt ...


“Mas Zeen, hp mas bunyi terus tuh ....”


Zeen melihat hpnya yang ada dimeja itu terus bergetar. Ia pun mengambil benda pipih itu dan melihat siapa gerangan yang sedang menelfonya.


Setelah melihatnya Zeen pun menganggkat terlfon sambungan itu, “Ya Mah?” sahut Zeen ketika Vina Mamanya yang menelfonya.


“Mama telfon karena nenek kamu mau bicara Zeen!”


“Nenek?” gumam Zeen.


“Halo cucuku sayang ....”


“Yaapun nek, kok ngomongnya lebai gitu? Pasti ada maunya?” selidik Zeen.


“Wah ... bisa nebak, pinter kamu Zeen!”


“Emang mau ngomong apa nek? Tadi mama bilang, nenek mau ngomong sesuatu.”


“Itu Zeen, nenek mau nanya, cucunya sudah jadi belum?”


Sepontan Zeen langsung berdiri dari duduknya dan berjalan agak menjauh dari Yuna, agar gadis itu tak mendengar percakapan antara dirinya dengan Rima.


“Aduh nenek ... kita aja baru satu hari menginap disini, kok sudah tanya cucu. Kalo Zeen hamili Yuna pas belum menikah dulu, pasti nenek akan cepat dapat cucunya. Ini Zeen aja baru mulai bikin masa nenek langsung nanya kayak gitu.” Oceh Zeen dengan santainya ia mengatakan ucapan itu tanpa rasa beban sama sekali.


“Oh! Belum jadi toh? Yasudah kalau begitu, nenek tagih nanti aja.”


Setelah mengucapkan itu, Rima langsung mematikan sambungan telfon secara sepihak. Membuat Zeen yang melihat itu dibuat melotot sekaligus kesal.


“Dasar! Punya nenek kok rempong banget,” gerutu Zeen berjalan sambil menghentak-hentakan kaki, sampai ia tak menyadari jika ada seseorang yang tengah berjalan berlawanan arah dengannya.


Bruk!!


“Aww ....” pekik seorang wanita muda, yang terjatuh hampir saja telungkap.


Zeen terkejut, lantas langsung berjongkok didepan wanita muda itu. “Oh? Maaf dek, saya ngak lihat jalanan tadi.”

__ADS_1


“Ini sakit ....” katanya yang tak memperdulikan ucapan Zeen dan malah mengusap lututnya yang tengah berdarah.


“Eh! Jangan usap!” cegah Zeen dengan cepat.


“Hah? Apa maksud–” ucapnya terhenti ketika ia melihat wajah tampan Zeen, membuat ia hampir saja meneteskan air liurnya.


“Coba saya lihat lukanya, kebetulan saya ada tisyu basah ....” Zeen tanpa memperdulikan tatapan dari wanita itu mulai membersihkan luka itu, karena sebagai seorang dokter pastilah naluri dalam dirinya ingin membantu ketika melihat seseorang yang tengah terluka.


“Baiklah, ini lebih baik. Saya sudah memberikan plaster pada kaki kamu, jadi jika setelah mandi tolong diganti yang baru plasternya.” Jelas Zeen dengan cermat, namun wanita itu hanya menulikan telinganya dan hanya terus fokus pada wajah Zeen.


Merasa sudah selesai pada urusannya, ia pun bangkit dari jongkoknya dan mulai melangkahkan kakinya pergi meninggalkan wanita muda itu.


Wanita itu tiba-tiba tersadar ketika Zeen sudah tak ada didepannya, “Eh? Tungg–”


Ia menghentikan ucapannya, ketika melihat sosok Zeen yang sudah menjauh dari jangkauannya.


“Seharusnya aku berterimakasih padanya,” gerutunya kesal.


🍂🍂


Zeen kembali menghampiri yang tadi sempat ia tinggal karena ibunya menelfon dan neneknya yang menanyakan sesuatu yang aneh. Mengingat itu tentu saja membuat Zeen menggelengkan kepala. Bagaimana tidak? Jika dirinya saja belum memulainya dengan Yuna, namun malah sudah ditanyai hal yang konyol seperti itu.


Zeen menghentikan langkahnya ketika melihat Yuna yang tengah berbincang dengan seorang lelaki asing dimatanya.


“Siapa itu?”


Tak ingin terus penasaran, Zeen pun berjalan cepat kearah Yuna dan langsung menghadap kearah mereka ketika ia sudah sampai pada tujuan.


“Oh mas? Dari mana saja?” tanya Yuna.


“Siapa dia?” bukanya menjawab, Zeen malah balik bertanya.


Yuna melihat pria asing yang ada disampingnya. “Dia ....”


“Halo tuan!” sapa pria itu tiba-tiba, mau tak mau Zeen langsung mengalihkan pandangan kembali dan melihat kearah pria itu.


“Apa anda kakaknya? Jika iya, saya ingin meminta izin panda anda, ” kata pria itu dengan tersenyum.


“Apa kakak?” tampak Zeen mengerutkan keningnya bingung.


“Yap, saya ingin meminta izin pada anda. Bolehkah saya membawa adik anda untuk berkencan bersama saya? Karena setiap kali saya mengajak adik anda, ia selalu menyebut nama Zeen dan ternyata itu nama anda.” Jelas pria itu masih memperlihatkan senyum ramahnya.

__ADS_1


'Apa dia bilang? Adik? Sialan orang ini!' Zeen mengepalkan kedua tangannya tampak kesal mendengar ucapan itu.


“Saya bukan kakaknya! Saya ini suaminya! Dan dia adalah istriku, bukan adikku!” tekan Zeen dengan sedikit emosi.


“Apa?” tampak pria tak percaya atas ucapan Zeen. “Anda jangan bercanda, hanya karena anda ingin melarang saya untuk dekat-dekat dengan adik anda?” pria itu tertawa hambar.


“Hei! Sudah ku bilang jika dia bukan adikku, melainkan istriku! Istriku!” Zeen yang sangking kesalnnya itu mulai berteriak, bahkan orang-orang yang berlalu lalang langsung melihat kearah mereka dengan tatapan aneh.


Pria itu tampak dibuat bingung sekaligus malu, karena banyak mata yang melihat kearah mereka.


“Saya tau jika anda beralasan! Karena saya sudah sering mendapatkan perlakuan seperti anda yang mengaku sebagai kakaknya! Dan saya tak akan muda percaya seperti itu!” ucap pria itu dengan nada ditekan.


“Kau!” tunjuknya, “Ngeyel sekali ya kalau dibilangin.”


Pria itu hanya diam acuh tak menanggapi.


“Baiklah jika memang kau benar-benar tak percaya, maka lihatlah ini!”


Zeen menunjukan sebuah cincin yang melingkar dijari manisnya dan juga dijari manis Yuna.


Pria yang tadinya tampak bersikukuh itu langsung tampak terkejut dan mengucek kedua matanya.


“Jadi ini semua benar?” tanya pria itu tak percaya.


“Ya! Masih mau ngeyel lagi? Atau mau aku buktikan hal yang lain lagi?” tantang Zeen.


Pria itu langsung menggeleng, “Tidak! Tidak! Itu semua sudah cukup. Maaf telah mengganggu, kalau begitu saya permisi ....”


“Hei!” Zeen melotot ketika melihat pria itu sudah ngancir pergi dari hadapannya. “Dasar pria aneh! Padahal aku masih belum puas memakinya.” Gerutu Zeen.


“Sudah mas ... yang sabar ....” ucap Yuna sambil mengelus bahu Zeen untuk menenangkan pria itu, namun dirinya juga sesekali cekikikan karena merasa lucu dengan tingkah Zeen yang marah-marah.


“Bagaimana haru sabar? Jika cowok tadi bilang kita kakak beradik? Ya kesel dong aku! Emang aku setua itu ya? Sampe diangep kakak sama orang itu?” tanya Zeen pada Yuna dengan wajah yang ditekuk.


Yuna menggeleng, ia lalu tersenyum lembut pada Zeen tak lupa tangannya yang mengelus lengan Zeen dengan rasa tulusnya.


“Engak kok mas ... mungkin orangnya aja yang rabun, orang mas aja ganteng kayak gini kok dibilangin udah tua ....” ucapnya terkekeh.


Zeen yang mendengar kata ganteng dari mulut Yuna sendiri itu, entah mengapa ia jadi berbunga-bunga sendiri. Bisa dilihat dari dirinya yang terus mesem-mesem tak jelas didepan Yuna itu.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2