Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 106


__ADS_3

...***...


Jantung Yuna semakin berdegup kencang, bahkan rasa kegugupannya kembali melanda dirinya saat ia membuka kedua matanya yang tadi sempat ia tutup, dan kini matanya langsung tersuguhi oleh dada bidang Zeen yang sangat berbentuk. Yang sungguh! Wanita manapun pasti akan langsung meneguk ludahnya ketika melihat tubuh bagian atas Zeen, apalagi jika pria itu naked seperti dihadapannya sekarang. Sungguh akan membuat jantung siapapun langsung berdisko.


Yuna yang melihat Zeen tengah fokus pada posisi bagian bawahnya, membuat wajah Yuna, kembali merona malu.


“M-as tolong ha– ukh?!”


Belum sempat Yuna menyelesaikan ucapannya, Yuna tiba-tiba merasakan bagian inti bawahnya terasa nyeri dan mengajal. Ia pun yang penasaran langsung menengok kebawah dan betapa terkejutnya ia, ketika melihat benda agak kebesaran itu telah mengenai miliknya. Itulah mengapa bagian bawahnya terasa sangat nyeri dan perih.


“M-as, sakittt ...!! Tolong lepaskan! Lepaskan itu sekarang!” pekik Yuna yang tak tahan akan sakitnya dan refleks mengayunkan kakinya mendorong perut Zeen agar menjauh darinya.


Namun dorongan itu, agaknya tak berefek bagi Zeen, karena pria itu masih setia diposisinya dengan keningnya yang terus mengetat.


“Tanggung Yuna ...! Sebentar Yuna ... kamu tahan dulu. Setelah ini masuk dengan sempurna, maka kamu tak akan merasa kesakitan lagi,” Jelas Zeen yang kembali mendorong pingulnya sedikit demi sedikit. Walau miliknya juga merasakan nyeri karena merasa terjepit diantara kepunyaan Yuna yang sulit diraih.


Yuna mengeleng keras sambil mencengram sprei itu dengan kencangnya, “Tapi mas ... ini sak– ukh!”


Yuna kembali menjerat saat ia kembali merasa kesakitan, begitupun dengan Zeen yang langsung terpejam merasakan miliknya yang sudah mencapai pada tujuannya.


Ia yang melihat Yuna yang kesakitan itu, langsung menyambar bibir gadis itu yang sudah resmi menjadi wanita seutuhnya karena dialah yang sudah mengambil mahkota yang sudah lama dijaga oleh Yuna dan hal itu tentu saja membuat Zeen terharu.

__ADS_1


Zeen mengulum bibir Yuna agar wanitanya merasakan ketenakan, karena sempat merasakan kesakitan yang disebabkan olehnya. Merasakan jika Yuna juga menikmati cimannya, Zeen tersenyum sejenak lalu melepas ciuman itu. Karena merasakan jika Yuna sudah berangsur tenang.


Mengelus bibir Pink agak bengkak karena ulahnya, Zeen mengecup bibir itu kembali namun tak mengulum dan mengecapnya seperti tadi.


Setelah mengecupnya, ia menatap wajah Yuna yang lemas dengan tatapan sayu. Kemudian dengan gerakan yang pasti, ia kembali mengerakan pingulnya dengan irama maju mundur secara halus. Tentu membuat Yuna yang tadinya terdiam kini kembali melenguh saat merasakan kenikmatan itu.


Namun beberapa menit saat irama Zeen yang tadinya lambat, kini berubah menjadi cepat tak terkendali membuat Yuna kembali mencengram dengan erat sprei itu dan meletakkan kedua kakinya dipinggul Zeen dengan sangat erat.


Suara deru nafas yang saling beradu dan beralun, membuat ruangan kedap suara itu menjadi panas. Bahkan suara cicak pun tak berani menganggu kegiatan suami istri itu yang sudah berlangsung selama dua jam lamanya.


Bahkan Yuna yang sangat lemas dan meminta Zeen untuk berhenti itu pun tak dituruti, karena lelaki itu terus menggunggkung nya dengan jangan istirahat selama lima detik saja.


“Uhm!”


Zeen tak tinggal diam, ia menarik tubuh Yuna yang sudah lemas itu masuk kedalam pelukannya dengan sangat erat.


Zeen kembali melirik kebawah, ketika melihat bercak darah yang sudah kering dispresi putih itu, ia pun langsung mengulum senyum ketika mengingat jika dirinyalah yang mengambil mahkota Yuna dan membuat istrinya untuk pertama kali merasakan nikmatnya surga dunia.


Zeen perlahan mengecup dahi Yuna dan menatap wajah Yuna yang sudah terlelap dengan tatapan bahagia.


“Terimakasih Yuna ... terimakasih istriku ... aku berjanji, akan menjadikanmu wanita satu-satunya didalam hidupku!” gumam Zeen dengan bersunguh-sunguh.

__ADS_1


Setelah puas memandangi wajah istrinya yang sudah terlelap, akhirnya Zeen ikut memejamkan matanya saat dirinya sudah menutupi tubuh polos mereka dengan selimut tebal.


🍂🍂


Pagi menyinari hari, tampak sinar matahari tengah memancarkan cahayany dan membuat seseorang yang tadinya terlelap dengan nyaman, harus terusik ketika wajahnya tak sengaja terkena pantulan cahaya melalui cela-cela jendela.


Yuna saat ini tengah mengerjab-ngerjabkan kedua matanya, saat dirasa sangat berat untuk membuka bola matanya itu. Mungkin efek kelelahan sehingga membuat kantuk sedikit menyerang Yuna.


“Uhm ... apa ini?” gumam Yuna saat merasakan belitan pada pinggangnya.


Yuna mengerutkan keningnya bingung dan penasaran apa yang ada pada pinggangnya yang terasa berat dan tengah tertutup oleh selimut tebal itu.


Yuna yang penasaran itu akhirnya menyibak selimutnya dan mendapati tangan besar nan kelar tengah memeluk dengan erat pinggangnya itu. Awalnya Yuna sempat terkejut ketika mendapati hal itu, namun saat melihat wajah Zeen yang berada tepat dihadapannya, rasa terkejutnya itu langsung berangsur-angsur hilang dan digantikan oleh senyuman hangat yang terulas dibibir kecilnya.


Yuna menyentuh pipi Zeen, lalu mengelusnya dengan perlahan. Tak hanya itu, Yuna mengambil kesempatan itu dengan mempermainkan wajah Zeen menggunakan jari telunjuknya dengan cara menekan-nekan pipi Zeen dengan rasa gemasnya.


Hal itu membuat Yuna kesenangan sendiri, dan tertawa geli walau harus menahannya karena takut jika pria itu terbangun.


Namun saat Yuna tengah asyik bermain, tiba-tiba jarinya ditangkap dan digengam oleh tangan besar milik Zeen. Hal itu tentu membuat Yuna terkejut.


“Sudah bangun, hem?” gumam Zeen namun masih memejamkan matanya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2