Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 70


__ADS_3

Dering suara hanpone berbunyi diatas meja, Yuna yang tadinya tengah sibuk berbincang dengan Fadli itu langsung mengalihkan atensinya.


Sejenak Yuna melihat nama yang tertera pada benda pipih itu. “Mama?” gumamnya ketika melihat nama Vina dilayar hpnya itu.


Yuna kemudian melirik Fadli yang ada didepannya, “Maaf dokter Fadli, saya izin dulu untuk menganggkat panggilan telfon ini.” ucapnya.


Fadli yang tadinya tengah melamun itu langsung tersentak. “Iya Yuna... Silahkan,”


Yuna berdiri dari duduknya, lalu berjalan agak menjauh dari jangkauan Fadli namun masih pada satu ruangan. “Assalamualaikum...”


“Waalaikumsalam Yuna.... Mama ganggu kamu ya?”


“Oh, engak kok mah... Tumben mama menelfon, apa ada sesuatu yang ingin mama sampaikan?” tanyanya.


Terdengar suara kekehan dari seberang telfon.


“Gini loh Yun, Zeen... Suami kamu ini, katanya pingin makan bubur kacang ijo. Dari tadi dia nanyain, kapan kamu pulang... Katanya kalau kamu pulang, kamu disuruh beli bubur dipingir jalan, itu loh Yun... Deket kompleks rumah kita... ” jelas Vina.


Sedangkan yang disebut namanya itu tengah mengertu kesal, pasalnya ia memang meminta mamanya untuk menyuruh Yuna pulang. Tapi dirinya tak tau saja, jika alasan yang diucapkan oleh mamanya itu, malah menargetkan namanya.


Zeen seketika langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tak tau lagi harus menyembunyikan wajahnya dimana.


“Oh! Iya mah, nanti Yuna akan bawakan,” jawabnya.


“Yah... Makasih ya sayang, pesen mama, kamu cepet-cepet pulang! Dari pada suamiku nanti uring-uringgan nyariin kamu,”


Vina tampak terkekeh lagi disela-sela ucapannya.


'Mencariku?' gumam Yuna bingung.


“Iya mah, nanti Yuna akan cepat pulang,”


“Yasudah kalau begitu, Assalamualaikum...”


“Waalaikumsalam mah...”


Setelah panggilan berakhir, Yuna kembali menghampiri Fadli yang tengah melamun ditempatnya.


“Maaf dokter Fadli, sepertinya saya harus pulang sekarang, tadi mertua saya menelfon menyuruh saya untuk cepat-cepat pulang.” ucap Yuna dengan sopan.


Fadli yang tadinya tengah melamun itu, mengalihkan pandangannya menatap Yuna, ekspresi yang ia perlihatkan bukanlah ekspresi pada umumnya. Yaitu ekspresi penuh keceriaan dengan senyum menawannya. Entah apa yang tengah dipikirkan pria itu, sepertinya sangat mengganggu pikirannya.


“Iya Yun... Kamu juga sudah dua jam ada disini, itupun gara-gara saya yang menahan kamu. Kalau begitu mari aku antar,” ucap Fadli mulai bangkit dari duduknya.


“Eh? Tidak perlu repot-repot dokter! Saya akan pulang sendiri menggunakan taksi, anda juga tampak sibuk diklinik, dari pada pekerjaan anda tertunda lebih baik saya pulang sendiri.” jawab Yuna dengan penuh kesopanan ketika menolak tawaran dari dokter muda itu.


“Tapi saya kan yang mengajak kamu kesini, tentunya, saya juga harus mengantarmu pulang dengan selamat,” Fadli masih tetap bersikukuh.

__ADS_1


“Tidak apa-apa dokter, saya pulang sendiri aja karena saya juga mau mampir disuatu tempat dulu.” Yuna kembali menolak.


Fadli tersenyum samar, lalu membuang nafasnya. “Yasudah kalau begitu Yun, jika itu mau kamu, tolong hubungi saya jika ada kendala ditengah jalan. Nanti saya akan cepat datang dan membantu.”


“Iya dokter saya akan ingat pesannya, kalau begitu, saya pamit pulang ya dokter. Permisi.”


“Ya, hati-hati dijalan.” jawab Fadli terus melihat punggung Yuna yang sudah menjauh, ia tak berniat mengantar Yuna sampai kedepan dan malah memilih duduk kembali dikursi kerjanya.


Ketika Yuna sudah pergi dari ruanganya, lima menit berlalu tiba-tiba pintu ruangannya terbuka kembali. Dan memperlihatkan sosok adiknya berjalan cepat kearahnya.


“Kak! Kak! Kak! Bagaima? Bagaiman?”


Baru saja masuk, gadis yang bernama Filda itu langsung nyerocos begitu saja.


“Kecilin suaramu da.... Suaramu itu cempreng banget bikin telinga kakak bedengung.” gerutu Fadli kesal.


“Udah kak, jangan berasa-basi, cepat jelasin keaku.” ia menjeda sejenak ucapannya. “Gimana? Diterima gak?” tanyanya dengan penuh selidik.


Fadli tak menjawab pertanyaan adiknya, ia lebih memilih diam sambil merenung.


“Elah... Lihat wajah kusut kakak kayak gitu aku sudah tau.... Pasti kakak ditolak kan?”


Fadli melirik adiknya, lalu memejamkan matanya sambil menepuk keningnya. “Yah... Sesuai kata kamu,”


“Hah? Beneran ditolak? Gak mungkin kakakku seganteng ini? Wah.... Parah banget,” Filda terpekik sampai memenuhi ruangan, dan mengeleng miris melihat kakak laki-lakinya itu.


“Emang apa alasannya kak? Coba ceritain keadikmu ini.” tanyanya mengabaikan teguran kakaknya.


Fadli mendengus melihat adiknya, namun tak ayal ia menuruti ucapan itu dan mulai menceritakan masalahnya.


Pov Fadli–


“Sebenarnya ada alasan saya membawamu kesini Yuna...”


Yuna yang baru saja duduk dikursi itu seketika mengerutkan alisnya. “Alasan apa itu dokter?” tanyanya mulai penasaran.


“Saya akan langsung keintinya saja Yuna,” tampak Fadli menjeda ucapannya.


“Saya ingin memperkenalkanmu, pada keluarga saya, Yuna!” ucap Fadli dengan penuh keseriusan.


“Maksud dokter?” Yuna tampak bingung.


“Saya ingin mempersuntingmu Yuna! Menikahlah denganku!” ungkapnya dengan mantap dan kesungguhan.


Yuna yang mendengar pengakuan itu tentu saja terkejut, hal itu benar-benar terlalu tiba-tiba, dan membuat otaknya seketika ngeblang.


Fadli tampak melirik wajah Yuna yang tengah terkejut. “Saya tau jika kamu sangat terkejut saat ini, tapi saya benar-benar serius ingin mempersuntingmu Yuna!” jelasnya lagi.

__ADS_1


“Maaf dokter.... Tapi kenapa tiba-tiba sekali? Kita berdua bahkan baru setengah bulang saling mengenal.” tanya Yuna, pulih dari rasa terkejutnya.


“Memang, jika ini terdengar tiba-tiba, tapi asal kamu tau Yuna.... Saya sudah jatuh hati sejak pertama kali bertemu denganmu. Entah apa alasannya, saya pun tak tau! Namun menurut kata hati saya, pesonamulah yang membuat saya jatuh hati.” jelas dengan raut kejujuran.


“Saya tak tau jika anda mengakui pesona saya, tapi.... Saya bukanlah gadis semenarik itu dokter, saya hanya gadis kampung yang tinggal dari desa dan tak pernah berdandan sedikutpun. Dan membuat orang lain pasti akan memandang saya dengan pandangan sebelah mata.”


“Namun, yang saya tak mengerti... Kenapa seorang dokter mapan seperti anda, memilih saya?”


Fadli tampak menyunging senyumnya. “Sudah saya katakan padamu Yuna.... Saya jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu, dan saya tak akan pernah bisa menyangkal hati saya.”


Yuna tampak menunduk kebawa dan tersenyum. 'Andai jika itu dokter Zeen....' batinya.


“Bagaimana Yuna? Apakah niat saya diterima?” tanyanya lagi dengan penuh kehati-hatian, merasa gugup dengan jawaban yang diberikan oleh Yuna.


Menghela nafas sejenak, lalu menatap dokter muda itu kembali. “Maaf dokter! Saya sangat menghargai ungkapan anda yang sangat berani itu, namun saya tak bisa menerimanya.”


Jantung Fadli tiba-tiba berpacu cepat. “Apa alasannya Yuna?”


“Saya sudah menikah, ini buktinya!” jawab Yuna, lalu menunjukan cincin berlian yang ada pada jari manisnya.


“S-sudah Men-menikah?” ulangnya lagi dengan suara terputus-putus.


Yuna mengangguk. “Ya, dan suami saya itu, yang beberapa kali bertemu dengan anda.”


“Siapa—” Fadli menjeda ucapannya. “Tidak mungkinkan, Yuna?”


“Apa yang anda pikirkan itu memanglah benar, dokter.” jawab Yuna dengan raut santai.


“Tapi! Yang saya tau, dia masih memiliki kekasih? Bagaimana bisa?”


“Mungkin saya tak bisa menjelaskan semuanya dengan rinci dokter! Tapi satu hal yang pasti, bagaimanapun rupanya, sosok lelaki itu tetaplah suami saya!” ucap Yuna mantap.


Pov Fadli, end–


“Yaampun... Kakakku... Kasihan banget, ternyata wanita yang kakak sukai itu merupakan wanita yang sudah bersuami.” ucap Filda sambil mengelengkan kepala, tak lupa menepuk pundak kakaknya sebagai rasa penenag.


“Sudahlah kak, kakak Yuna sudah menjelaskan kak? Jadi lebih baik kakak mundur saja. Gak mungkinkan merebut istri orang?”


“Tapi suaminya itu, masih memiliki wanita lain,” gumam Fadli yang dapat didengar oleh Filda.


“Hah? Yang bener?” Filda tampak terkejut. “Tapi kak, kalau memang itu semua bener, kakak tak ada hak untuk memiliki kak Yuna ya.... Bagaimanapun dia masih bersetatus istri orang.” jelasnya, namun tak ditanggapi oleh kakaknya.


Filda pun melirik wajah kakanya dengan kerugian didahi. “Jangan bilang kakak....?” ia membuka mulutnya hingga membesar.


“Jangan melakukan hal-hal aneh ya kak! Itu gak baik....” peringatnya, merasa ketakutan dengan isi pikiran kakaknya.


“Selama pria itu bermain dengan wanita lain, kenapa tidak?”

__ADS_1


TBC.


__ADS_2