
...***...
Disebuah ruangan bercat putih dan didominasi warna hitam, terlihat seorang lelaki berjas dokternya tengah sibuk dengan laptopnya. Dia Zeen yang saat ini tengah memeriksa satu per satu data riwayat kesehatan para pasiennya. Begitulah pekerjaan dokter, sangat padat. Wira wiri kesana kemari hanya untuk memeriksa pasiennya. Agar pasiennya merasakan sehat ketika dilanda sakit atau penyakit.
Peran dokter memang sangat besar, salah sedikit saja pasti akan membuat mereka yang menolong pasiennya, pasti akan merasakan kegagalan dan frustrasi jika sang pasien yang mereka tolong tak bisa diselamatkan. Tentu bagi Zeen yang seorang dokter bukan hal tak mungkin lagi jika ia sudah merasakan kegagalan itu. Bahkan sudah beberapa kali. Namun ia meyakinkan pada dirinya jika tak selamatnya sang pasien itu bukanlah kehendaknya. Jika sang pasien tak selamat atau meninggal itu semua sudah kehendak sang pencipta begitupun takdir manusia.
Sedangkan peran dokter hanya bisa membantu sedikit menyembuhkan, bukan menyelamatkan nyawa yang tak mungkin manusia biasa melakukan itu.
Saat Zeen tengah merevisi data para pasiennya, tiba-tiba hpnya berdering. Zeen pun melihat nama yang tertera pada layar pipihnya itu.
“Rafli?” gumam Zeen saat melihat nama sang mata-mata, yang saat ini tengah ia pekerjakan untuk sebuah urusan.
Zeen memencet tombol hijau, yang artinya menerima panggilan telepon itu.
“Selamat siang tuan!”
Terdengar suara Rafli dari sambungan telepon.
“Ya! Apa kau sudah mendapatkan apa yang aku suruh? Aku sudah menunggu kabarmu sejak lima hari ini? Kukira akan cepat mendapatkan informasinya mengingat kau adalah mata-mata handal yang sangat aku kenal.” Ucap Zeen dengan tegas dan merubah rautnya menjadi datar.
Terdengar helaan nafas dari seberang telepon.
“Maafkan saya tuan,” ucap Rafli dengan nada tak enak hati.
“Sudahlah, kita lewatkan itu. Aku ingin mendengar penjelasanmu sekarang, mengingat kau sekarang menelfonku.” Ucap Zeen tak sabaran.
“Begini tuan. Mengenai hal apa yang ada katakan tempo lalu, sebuah keranjang kecil yang anda temukan itu sepertinya adalah sebuah teror. Yang bertujuan untuk diberikan oleh nona muda, istri tuan.” Jelas Rafli.
Zeen seketika mengebrak mejanya dengan keras. “Sudah ku duga jika istriku saat ini sedang dijadikan sasaran!” geram Zeen marah.
“Lantas? Kau tau siapa orangnya?” tanya Zeen sudah kepalang emosi.
“Kemungkinan orang itu adalah orang yang pernah dekat dengan tuan,”
__ADS_1
“Orang yang dekat denganku?” gumam Zeen.
“Dan orang itu sepertinya memiliki dendam pada istri tuan. Sebaiknya untuk berjaga-jaga, tuan harus tetap waspada terhadap keadaan sekitar. Bisa jadi bukan hanya sebuah teror yang menimpa istri tuan.”
Zeen terdiam sejenak, merenungi ucapan itu. “Apakah sebaiknya aku menempatkan penjagaan disekitar Yuna?” gumamnya.
“Tuan?”
“Sebenarnya siapa orang yang pernah dekat denganku?” tanya Zeen susah kepalang penasaran.
“Saya tidak tahu pasti siapa orangnya tuan. Informasi yang saya dapatkan hanyalah tentang orang yang pernah dekat dengan tuan bahkan namanya saja sangat susah didapatkan, sebab data pribadi orang itu sangat susah untuk ditembus ... sepertinya orang itu memiliki orang dalam yang membantunya?” jelas Rafli secara rinci.
Didalam otak Zeen saat ini hanya satu nama yang mampu melakukan teror itu. “Mungkinkah dia?” gumamnya bertanya-tanya.
“Apa tuan memiliki gambaran siapa orang itu tuan? Jika iya anda bisa memberitahu siapa orangnya dan saya akan segera menyelidiknya, jika orang yang anda curigai itu benar melakukan teror itu atau tidak!” ujar Rafli dengan tegas.
“Aku akan memberitahumu itu nanti, jika kita bertemu. Karena lebih bagus kita membicarakannya secara langsung sekaligus melakukan sebuah rencana.” Jelas Zeen.
“Dimengerti tuan!”
“Saya akan mela–”
“Aku ingin juga ada penjaga wanita yang berada didekat istriku, tidak hanya penjaga laki-laki saja.” Sela Zeen.
“Baik tuan, apakah ada lagi yang ingin anda katakan?” tanya Rafli.
“Hemm, oh! Aku baru ingat, bagaimana misi kedua yang aku berikan padamu? Tentang masalalu dari tuan Sigit Sanjaya?” tanya Zeen dengan wajah seriusnya.
“Baik tuan! Saya akan menjelaskannya secara rinci. Mengenai masalalu tuan Sanjaya, beliau memang pernah kehilangan putri pertama mereka ketika putri mereka berusia lima tahun. Bisa dibilang kejadian itu sudah berlalu hingga lima belas tahun lamanya.” Jelas Rafli.
“Teruskan!” ujar Zeen yang semakin penasaran.
“Saat itu tuan Sanjaya tengah bekerja diluar kota. Dan saat itu pula kejadian penculikan terjadi disaat putri mereka tengah berjalan-jalan dipusat perbelanjaan, mungkin penculikan itu sudah mengamati mereka dengan lama. Sehingga saat ada kesempatan mereka menculik putri pertama tuan Sanjaya yang masih sangat belia.”
__ADS_1
Entah mengapa, Zeen yang mendengar penjelasan itu dibuat mengepalkan tangannya. Zeen pun tak tahu apa sebabnya, namun didalam hatinya terus merasa gundah dan sedih.
“Saat itu, hanya nyonya Sanjaya saja yang tengah membawa anaknya pergi keluar rumah. Tanpa penjagaan dan tanpa waspada akan ada petaka yang akan menghampiri mereka sehingga membuat petaka akibat rasa iri dari seorang pengusaha itu terjadi, dan nekat untuk menculik anak tuan Sanjaya. Mengertak tuan Sanjaya agar menyerahkan sebuah tender perusahaan kepada si sosok dibalik penculikan itu. Kebetulan saat itu tender yang dimenangkan oleh tuan Sanjaya sangat berpengaruh besar bagi perusahaan manapun. Hingga perusahaan kecil pun pasti akan menjadi maju jika mendapat tender itu karena tender itu berasal dari Cina yang mana artinya orang-orang terus berebutan tender–”
“Cukup, kita skip itu dulu. Sekarang aku ingin bertanya padamu mengenai identitas anak perempuan itu. Aku ingin tahu apakah anak itu masih hidup? Dan dimana keberadaannya?” tanya Zeen.
Terdengar helaan nafas panjang dari sambungan telfon itu. Menandakan jika Rafli siap untuk menjelaskan kembali.
“Megenai anak perempuan itu, saya mendapatkan sebuah informasi jika anak itu masih hidup. Karena pada saat ini, anak dari tuan Sanjaya berhasil melarikan diri dari jeratan para penculik bahkan si penculik itu tak jadi mendapatkan apa yang diinginkan. Karena tahanannya berhasil kabur sampai beberapa tahun berlalu mereka masih belum menemukannya. Alhasil saat tak menemukan jejak apapun dari si anak itu mereka pun memberhentikan pencarian mereka. Begitupula dengan tuan Sanjaya yang menghentikan pencarian mereka karena beranggapan jika putri pertamanya sudah meninggal!”
'Jadi anak om Sigit masih hidup?' gumam Zeen.
“Siapa nama anak itu?” tanya Zeen lagi.
“Anda bisa melihat data pribadinya melalui email yang saya kirim tuan.” Jelas Rafli.
“Baiklah, aku akan melihatnya. Kerjamu sangat bagus walau ada sedikit yang masih jangal. Tapi aku akan tetap mengirim upah untukmu sebagai imbalan kerja kerasmu itu.”
“Terimakasih tuan!”
“Jangan lupa kirimkan penjaga untuk istriku!” titah Zeen.
“Baik tuan!”
Setelah itu sambungan telepon terputus, karena Zeen memutuskan telepon itu lebih dulu.
“Aku akan melihat data yang dikirim oleh Rafli, otaku terus menerka-nerka jika tak segera melihatnya langsung.”
Zeen mulai membaca isi email yang dikirim oleh sang mata-matanya. Ia mulai membaca dari sebuah nama.
“Putri Sanjaya ....” gumam Zeen.
TBC.
__ADS_1
Petama-tama maafkan othor jika masih ada typo yang bertebaran. Soalnya jika saat sudah direvisi pasti masih ada kata typo yang terselip😁