
...***...
Saat ini Yuna dan Zeen tengah berada diruang keluarga. Ditemani sepasang suami istri pemilik kediaman itu. Beserta Yudas yang juga tengah duduk tenang ditempatnya.
“Benar kalian mau balik sekarang?” tanya Bram pada Zeen dan Yuna.
Zeen yang tengah menggenggam erat tangan Yuna itu, mengangguk yakin.
“Ya om! Kami memutuskan untuk kembali kerumah sekarang!”
“Kami ... atau kamunya sendiri Zeen ...? Hemm?” selidik Bram yang membuat Zeen salah tingkah.
“Emm ....”
“Sudahlah, kami tau kok kalau kamu yang ngebet-ngebet, ngajak Yuna pulang bersamamu. Padahal tante pengen Yuna menginap disini lebih lama lagi ... tapi kamunya malah ngajak pulang Yuna. Jadi tante gak bisa kangen-kangen deh ....” ucap Winda berpura-pura kecewa dengan wajah yang dibuat cemberut.
Zeen yang mendengar itu terpancin, ia pun merasa bersalah dan menengok kearah Yuna yang juga tengah menatapnya, “Apa kita tinggal disini seminggu lagi?” tanyanya pada Yuna.
Yuna mengedikan bahunya, “Terserah mas, Yuna ikut mas saja ....” jawab Yuna tersenyum manis.
Sedangkan kedua suami istri yang sudah berusia lanjut itu, saling berpandangan. Kemudian tertawa cekikikan.
Yudas yang sejak tadi diam itu, hanya bisa menghela nafas, menggeleng melihat tingkah absur kedua orangtuanya itu.
“Yaampun ... tante cuman bercanda kok ... tante mana tega maksa kalian tinggal disini,” ucapnya.
“Tapi, kami bisa menginap disini lebih lama lagi kok tante, saya tau jika tante sangat merindukan Yuna.” Jawab Zeen.
__ADS_1
“Haha, kamu baik banget sih Zeen. Tapi gak papa, soal rindu merindu bisa kapan-kapan saja jika kalian menginap lagi disini. Jadi untuk sekarang kalian kembali dulu kerumah. Pasti orang rumah lagi cari-cari kalian.” Jelasnya.
“Iya Zeen ... nanti kalau kalian sempat ... kalian bisa menginap disini lagi, pintu rumah kami akan selalu terbuka untuk kalian.” Balas Bram sambil tersenyum.
Yuna yang mendengar itu merasa terharu, “Terimakasih tante, om.” Ujar Yuna, mendekat pada wanita paru baya itu dan langsung memeluknya menyalurkan perasaan bahagia pada wanita yang sudah ia anggap ibunya itu.
“Sama-sama sayang ....” Winda membalas pelukan Yuna, sambil mengelus punggung gadis itu.
🍂🍂
“Kalian yang baik-baik ya? Jangan main perang dingin lagi. Pesan tante, jika ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin dan secara baik-baik.” Tutur Winda.
Zeen dan Yuna mengangguk bersama.
“Terutama kamu Zeen!” Winda memandang Zeen dengan tatapan tajam, “Jangan mengulangi kesalahan yang sama. Jaga anak gadis tante ... jika kamu kembali menyakiti hatinya. Maka kamu akan dapat bagiannya.” Tekan Winda sambil menunjukan bogeman tangan pada Zeen.
Zeen meneguk ludahnya secara kasar, lalu mengangguk. “Iya tante, Zeen berjanji tak akan lagi mengulangi hal yang sama!”
Zeen mengaruk kepalanya, tak tahu harus menjawab apa.
Yudas yang semula diam itu berjalan menghampiri Zeen, lalu menghadap Zeen dengan tatapan mengintimindasi.
“Sesuai ucapan Mama dan Papaku! Jika kamu berani mempermainkan Yuna kembali. Maka kamu akan berhadapan denganku! Ingat baik-baik itu,” ancamnya dengan suara tegas.
Zeen kembali mengangguk, pasti. “Ya! Aku Zeen Albaret! Tak akan pernah kembali menyakiti istriku! Aku akan menjaganya, layaknya seorang kakak, seorang ayah, seorang ibu dan terakhir seorang suaminya.” Jelas Zeen tak kalah tegasnya.
Yudas yang mendengar itu tersenyum semirk, “Bagus! Beginilah yang aku mau, jawaban yang tegas! Dan meyakinkan!” Yudas menjeda ucapannya sejenak, “Aku Yudas Bram Adipra! Mengizinkanmu membawa adikku bersamamu!” tegasnya penuh wibawa. Lalu tak lupa memeluk Zeen sebagai seorang adik ipar.
__ADS_1
Zeen yang sejenak tertegun itu, membalas pelukan Yudas dengan perasaan senang dan bangga. Senang karena keluarga Yuna mengizinkan dirinya membawa Yuna pulang, bangga karena mengenal seseorang yang tegas dan penuh wibawa seperti Yudas, dan hal itu patut dicontoh untuknya.
Zeen mengurai pelukannya dan menatap keluarga besar itu.
“Saya! Zeen Albaret! Kembali mengucapkan terimakasih untuk anda semua!” tegasnya.
Mereka bertiga mengangguk, tak lupa memberikan senyum kebahagiaan pada Yuna dan Zeen.
Setelah acara pamit telah usai, kini Zeen membawa Yuna bersamanya. Menuju mobil yang memang telah dipersiapkan untuk mereka pulang.
Sebenarnya Zeen membawa mobil, namun keluarga Adipra memaksa mereka berdua untuk menaiki mobil pribadi keluarga itu, dan disediakan sopir untuk mengantar mereka dengan nyaman.
Saat mobil itu telah berjalan, Zeen yang sejak tadi menahan sesuatu itu langsung mengecupi tangan Yuna yang ia genggam.
“Akhirnya kita akan pulang, setelah ini, kamu mau mampir dulu kesuatu tempat? Atau langsung pulang?” tanya Zeen pada Yuna.
Yuna mengalihkan pandangannya menatap Zeen, lalu tersenyum sejenak. “Aku ingin ... kita kerumah sakit mas ... aku ingin tau keadaan nenek, terakhir kali aku melihat nenek, nenek terjatuh pingsan dan dilarikan kerumah sakit.” Ucap Yuna menundukkan kepalanya.
Zeen yang melihatnya tentu tak tinggal diam, ia dengan hati-hati meraih kepala Yuna dan menaruh kepala itu bersandar pada bahunya.
Ia mengecupi singkat kepala Yuna, lalu mengusap lembut kepala itu, “Tenang ... nenek seperti itu bukan karena salahmu ... tapi karena kesalahan tante Lena dan wanita tak tahu diri itu!” ucap Zeen sedikit mengeram ketika melihat kelakuan mereka.
Yuna mendongakkan kepalanya menatap Zeen, “Mas sudah tau?” tanya Yuna tak percaya.
Zeen menggangguk, “Iya ... aku sudah tau akal busuk mereka, aku sudah menyelidikinya dan langsung menjebloskan mereka kepenjara!”
“Benarkah seperti itu? Apa tak masalah mas? Dia kan tante mas sendiri ....”
__ADS_1
“Biarpun dia kerabatku sekalian, yang namanya salah ya harus dihukum! Biarkan mereka merasakan hukumnya. Jika tidak, maka aku sendiri yang akan menghukum mereka!” tegas Zeen. Yang pada akhirnya ia tak tahu jika Laura yang ia laporkan kepihak berwajib. Keluar begitu saja tanpa sepengetahuan nya.
TBC.