
Sekarang ini, Yuna sudah berada tepat dirumah sakit. Ia tengah duduk dimeja kerjanya yang memang sudah disiapkan sejak pertama ia kerja dirumah sakit itu. Yuna tengah sibuk membolak-balikan sebuah map berisikan kertas yang diyakini, jika kertas itu merupakan semua laporan tentang riwayat kesehatan, atau riwayat penyakit yang diderita oleh pasien yang selama ini ia rutin memeriksa pasien-pasien itu. Tentu ia tak sendiri, ia selalu bersama dengan Zeen ketika mengecek kondisi para pasien, dan dirinya yang sebagai asisten Zeen bertugas mencatat semua yang diarah oleh dokter muda itu ketika memeriksa.
Yuna yang sejak tadi disibukan oleh kertas-kertas yang cukup berserakan dimejanya itu, tak tahu saja jika Zeen yang juga, berada diruang yang sama dengan Yuna itu, sejak tadi terus menatap Yuna. Entah apa yang ada didalam pikiran dokter muda itu hanya dirinya yang tau.
Zeen pun sampai tak sadar jika Yuna baru saja bangkit dari duduknya dan mulai menapaki kakinya, berjalan kearahnya.
Masih saja Zeen terus menatap Yuna yang saat ini sudah berada tepat dihadapannya.
"Dokter Zeen, saya ingin anda menandatangani surat pernyataan ini." ucap Yuna sambil meletakkan sebuah map berisi surat pertanyaan tepat diatas meja Zeen, yang sang empun masih melamun menatapi Yuna.
Yuna yang tak mendapat respon dari Zeen itu mengerutkan alisnya."Dokter Zeen?" panggil Yuna sedikit keras, namun masih belum mendapati respon dari pria yang tengah menatapi dirinya itu.
"Ada apa dengannya?" gumam Yuna, dirinya lalu berinsiatif menepuk bahu Zeen agar sang empun tersadar dari lamunnya.
"Dokter Zeen!"
"Eh!" Zeen pun terperanjat kaget, bersamaan dengan itu pintu ruangan juga terbuka tanpa diketuk sama sekali, dan memperlihatkan seorang wanita yang berpakaian seksi baru saja masuk kedalam ruangan itu.
__ADS_1
"Sayang..." Laura yang baru saja datang itu, langsung berlari kecil kearah Zeen yang pada saat itu Yuna berada tepat disamping Zeen.
Zeen mengalihkan pandangannya menatap Laura yang tengah menghampirinya, dan ketika sudah dekat dengannya, Laura tanpa malu langsung memeluk Zeen dari samping. Hal itu tentu saja dilihat oleh Yuna, namun Yun yang melihat itu segera mengalihkan pandangannya kedepan.
Zeen sedikit merasa risih ketika Laura memeluknya, ia pun segera melepas pelukan Laura dan memperbaiki posisi duduknya, kembali menjadi tegak dan tak lupa dengan raut tegasnya yang mendominasi wajahnya, khas seorang dokter yang ia perlihatkan pada semua orang.
"Ada apa kamu kesini Laura? Kenapa kamu tak mengetuk pintu lebih dahulu ketika masuk keruanganku." tanya Zeen yang masih dengan raut tegasnya. Sepertinya ia ingin memperlihatkan sikap prepesionalnya dalam bekerja dihadapan Yuna.
Laura tampak mengerucutkan bibirnya, ia pun kembali memeluk Zeen dari samping."Aku kesini karena merindukanmu sayang.... Kamu semalam tak membaca pesanku.... Bahkan tadi pagi, aku menelfonmu kamu tak menjawabnya.... Satu hari saja tak berada disisimu aku sangat rindu... Biasanya kamu kan selalu datang menemaniku diapartemen..." rengek Laura, bergelayut manja dilengan kokoh milik Zeen.
"Tolong jangan seperti ini Laura... Kamu tak malu dilihat oleh asistenku?" Zeen kembali melepaskan Laura darinya.
Laura tampak kesal, namun ditahannya. "Kenapa harus malu? Kan kita biasanya juga bermesraan didepan umum." jelas Laura.
"Laura..."
Yuna yang merasa sangat tak nyaman diruangan itu, ingin sekali bergegas keluar. "Maaf dokter, jika saya menyela. Mohon tandatangani surat pernyataan ini, jika urusan anda sudah selesai. Saya mohon undur diri dahulu, karena ada pasien yang sedang menunggu untuk diperiksa." setelah mengatakan itu, Yuna benar-benar keluar dari ruangan itu dan menyisakan sepasang insan yang masih terdiam menatap punggung yang sudah menghilang dari jangkauan.
__ADS_1
Zeen tanpa sadar mengusap rambutnya dengan kasar, dirinya menghela nafas. Ada rasa tak enak didalam dirinya ketika ia memperlihatkan kemesraan antara dirinya dan juga Laura, walau bukan dirinya yang memulai duluan, tapi entah kenapa rasa tak enak hati tiba-tiba muncul didalam hatinya. Padahal biasanya ia tak pernah seperti itu. Malah tanpa ragu-ragu ia pernah berbuat lebih dari itu didepan Yuna, dan tak pernah terbesit rasa bersalah didalam dirinya.
"Sayang..." Laura pun kembali memulai aksinya dengan berani, mendudukan dirinya tepat dipaha Zeen.
Aroma parfum yang kuat dari Laura itu membuat Zeen menahan pernafasanya seketika, aroma itu yang membuat jiwa lelaki siapa saja akan bergejolak, Zeen pun mengakui hal itu. Karena dirinya lah yang selalu tergoda oleh Laura ketika mencium aroma itu.
Laura mulai menjamah Zeen dengan mengelus leher tegas itu, lalu turun kesisi dada bidang nan terbentuk milik Zeen. Sepertinya Laura mulai menjalankan aksinya untuk menggoda pria yang ia duduki itu.
"Laura jangan seperti ini... Kau ingat! Disini adalah rumah sakit, aku tak ingin seseorang melihat kita..." desis Zeen, menekan jiwa lelakinya yang mulai bangun itu.
"Jangan pedulikan itu sayang..." bisik Laura, setelah itu ia mengecup singkat pipi Zeen. Lalu beralih mengecup bibir tipis itu.
Kebetulan, Yuna yang baru saja ingin masuk kedalam ruangan, tiba-tiba ia urungkan. Tubuhnya langsung ia sandaran didinding dekat pintu itu. Ia tentu saja kaget ketika melihat adegan seintim itu didepan matanya sendiri. Yuna menghela nafas panjang, untuk menenangkan hatinya yang terasa bergemuruh itu.
TBC.
Komennnnn.... Yang banyak😆🐥
__ADS_1