Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 132


__ADS_3

...***...


“Sayang ... tolongin mas ... hanya kamu yang bisa menyelamatkan aku dari amukan Mama,” pinta Zeen melirik Yuna dengan ekspresi wajah memohon.


“Cih! Dasar bocah ingusan, beraninya ngadu sama istrinya. Udah Yuna ... kamu gak perlu nolongin suami manja kamu ini, kamu bisa kekamar dulu lalu berbesih setelah itu kamu bantu Mama nanti masak buat makan malam.” Jelas Vina sambil menatap menantunya dengan senyum manisnya. Sedangkan ketika melihat kearah Zeen. Vina lebih memilih memasang wajah garangnya.


Sejenak Yuna melirik Zeen, Zeen yang kala itu masih menatapnya dengan tatapan memohon membuat Yuna sedikit merasa tak enak hati.


“Ayo sayang, kamu gak perlu mikirin suami kamu ini. Biar Mama yang urus suami kamu, soalnya Mama masih ada urusan sama suami kamu ini.” Jelasnya.


Yuna lalu mengangguk menanggapi ucapan mertuanya, “Emm ... yaudah kalau begitu Ma ... Yuna pamit dulu kedalam,”


“Oke sayang!” jawab Vina sambil mengacungkan jempol pada menantunya.


Yuna sekilas tersenyum pada Zeen, lalu setelah itu ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamar.


“Sayang?! Jangan tinggalkan aku sayang! Aku juga mau ikut!” teriak Zeen sambil melambaikan tangannya berniat untuk mengapai Yuna yang sudah jauh dari jangkauannya.


“Eeehh, mau kemana kamu ha? Urusan kita belum selesai putraku tersayang!” Vina menekan kedua bahu putranya agar putranya itu tetap duduk ditempatnya. Ia tak akan membiarkan putranya itu kabur setelah ia selesai dengan urusannya itu.


“Urusan apa sih Ma? Zeen gak ingat ada urusan sama Mama?”


“Urusan kamu itu banyak Zeen Albaret!” tampak Vina berkecak pinggang didepan putranya, “Sekarang Mama mau tanya, kenapa kamu tadi tutup sambungan telfon Mama secara sepihak? Padahal Mama tadi masih mau ngomong.” Tanya Vina menatap putranya dengan tatapan mengintimindasi.


“Ya mau nyusul istriku dong Ma? Itu sebabnya Zeen langsung matiin telfonnya karena Zeen kira Mama sudah selesai berbicara?” tampak Zeen mengerutkan alisnya.


“Siapa bilang Mama selesai bicara? Kamunya aja yang gak mau denger dulu jawaban Mama.”


“Trus? Mama tadi, mau ngomong apa?” tanya Zeen penasaran.


Vina menepuk keningnya seketika, lalu menghela nafasnya merasa frustrasi ketika dihadapkan dengan putra keras kepalanya itu.


“Mama tadi cuman mau bilang sama kamu. Teman anak Mama yang laki-laki itu sebenarnya banci, jadi kamu gak perlu khawatir jika sampai Yuna digoda sama laki-laki lain. Itu yang ingin Mama sampaikan pada kamu tapi kamu malah matiin telfon Mama dulu! Biasanya kan Mama dulu yang matiin telfon kamu!” gerutu Vina sambil mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya didepan.


Zeen memandang wajah Mamanya dengan pandangan bersalah, lalu tiba-tiba ia meraih tangan Mamanya dan mengelus tangan wanita itu dengan gerakan halus.

__ADS_1


“Maafin Zeen ya Ma? Zeen janji gak akan lagi matiin telfon sebelum Mama duluan yang matiin.” Ucap Zeen mengalah.


Vina tampak tersenyum sumringah mendengar ucapan itu, “Hemm untuk soal ini Mama maafin kamu.”


Zeen tersenyum mendengarnya, “Terimakasih Mama cantik.”


“Tapi masih ada masalah baru yang harus kamu jelaskan Zeen.” Vina nampak serius.


“Hem? Apa itu Ma?”


“Mama mau nanya? Kenapa kamu tadi cepat banget datangnya nyusul Mama? Perasaan letak lestoran sama letak rumah sakit Papamu jauh banget?”


Zeen yang mendengar pertanyaan itu tersenyum miring. “Kayak gak tau Zeen aja Mah!” Zeen berucap dengan santai sambil menyandarkan kepalanya disofa itu.


“Maksudnya?” Vina merasa bingung.


Sejenak Zeen menghela nafas, “Tadi Zeen cepat datangnya karena jalanan dikota gak macet Mah, jadi Zeen bisa dengan mudah main ngebut-ngebutan.” Jelas Zeen dengan raut kesenangan sambil memperagakan diri mengendarai mobil.


“Apa kamu bilang? Jadi kamu tadi ngebut naik mobilnya?!” tanya Vina memekik kencang.


Telinga Zeen kembali ditarik oleh Vina, bahkan tarikan itu lebih kencang dirasanya.


“Mama? Mama! Kenapa ditarik lagi telinga Zeen? Baru juga sembuh tadi kok ditarik lagi?” teriak Zeen sambil mencoba melepaskan tangan Mamanya dari telinganya itu.


“Ini hukuman buat kamu! Yang sudah berani main kebut-kebutan! Mama kan udah pernah berpesan sama kamu? Kamu kalau naik mobil gak boleh ngebuttt Zeen! Udah berapa kali Mama bilang kan? Kok bandel banget sih kalo dibilangin!” Vina yang terlanjur gemas itu kembali menarik telinga Zeen sekuat tenaga. Bahkan Zeen yang merasakan tarikan itu serasa akan lepas telinga berharganya itu.


“Kan jalannya sepi Mah ... Mama jangan ditarik lagi dong kuping Zeen ... Zeen rasanya mau mati kalo terus-terus begini ....” rengek Zeen mendramatis, sambil sesekali mengeluarkan isak air mata palsu dimulutnya.


Vina yang mendengar itu langsung melepas tangannya, lalu duduk disamping Zeen sambil mengelus lembut wajah putranya.


“Yaampun ... sakit ya sayang? Maafin Mama ya?” Vina yang tampak bersalah itu memandang wajah putranya dengan pandangan sendu.


Dalam hati Zeen, ia tersenyum senang, Mamanya ini paling lemah jika ia sudah merengek sambil menangis benar-benar hal yang tak terduga.


“Jangan ditarik lagi ya Mah?”

__ADS_1


“Iya sayang iya ... kamu pasti udah lapar kan? Kalau begitu kamu bersih-bersih dulu habis itu kita makan malam bersama,” jelas Vina masih memeluk Zeen yang ada diketiaknya sambil mengelus surai lembut putranya itu.


Zeen mengangguk dalam pelukan itu, “Iya kalau be–”


“Oh ... ini dia anak manjanya? Malah enak-enakan disini, dan malah main manja-manjaan diketiak istriku? Emang dasar kamu Zeen?”


Albaret yang baru saja pulang dari rumah sakit itu, berjalan tergopoh-gopoh kearah Zeen. Dengan tatapan yang tajam menghunus kearah putranya.


Zeen segera bangkit dari duduknya dan menatap Papanya dengan tatapan kalut.


“Mampus aku ....” gumam Zeen sambil meneguk salifanya dengan sangat kasar.


“Emang ada apa sih Pa?” tanya Vina bingung sekaligus penasaran.


Albaret dengan wajah emosinya langsung melempar tas kerjanya kesembarang arah, lalu dengan gerakan cepatnya pria paru baya itu mengangkat lengan bajunya sehinga membuat otot-otot yang masih kokoh dilengannya itu terlihat dengan jelas.


“Anak kamu ini Mah ... bukanya nyelesain kerjanya dirumah sakit malah kabur gitu aja!” sungut Albaret sambil berkecak pinggang menatap putranya.


“Hah? Tadi kukiran Zeen nyusul Mama arisan, karena kupikir kerjaannya sudah selesai? Ternyata belum toh?”


“Wah ... Zeen?!” bertambahlah tatapan menghunus yang diperlihatkan oleh Papa Albaret kepada putra satu-satunya.


“Kau malah ikut arisan Mama mu? Dan malah tak menyelesaikan pekerjaanmu? Kau mau jadi ibu-ibu Zeen?”


Gleg!!


Zeen kembali meneguk ludahnya dengan kasar, menatap Papanya dengan tatapan takut-takut. “Ma-maf Pah ....” cicit Zeen langsung berlari kesembarang arah agar tak tertangkap dari Papanya yang sebelas dua belas dengan Mamanya itu.


“Hei?! Mau lari kemana kamu Zeen?!”


Dan terjadi kejar mengejar antara anak dan bapak, sedang ibunya malah asyik makan camilan tanpa melerai kericuhan itu.


Bahkan Rima dan Yuna yang sejak tadi melihat itu hanya bisa dibuat menggeleng kepala.


“Itu suamimu? Kenapa kayak bocah gitu?” tanya Rima pada Yuna yang hanya bisa tersenyum kaku dibuatnya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2