Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 203


__ADS_3

...°°~°°...


Yuna yang merasa kesal atas ucapan Zeen, menginjak kaki Zeen dengan keras. Alhasil membuat Zeen yang tak mengetahui itu terpekik kaget sekaligus kesakitan.


“Awssss... kenapa menginjak kakiku sayang?” tanya Zeen sambil memeganggi kakinya yang terasa nyut-nyutan.


“Pake nanya lagi kamu mas? Itu kalo ngomong didepan anak, disaring dulu mas... nanti otak polos anak-anak kita terbodai gara-gara kamu!” cetus Yuna memberengut kesal.


“Lah? Kan kita memang lagi proses bikin dedek bayi sayang?” celetuk Zeen dengan wajah sok polosnya.


“Yaampun mas Zeen....” pekik Yuna merasa geram.


“Wah... mommy! Mommy mau kasi Gio adik ya? Mana adiknya mom?” tanya si bungsu dengan wajah penuh binaran sekaligus tatapan polosnya. Hal itu membuat Yuna tercengang mendengarnya.


Sedangkan si sulung hanya diam dengan wajah tak berekspresi, namun tak ada yang tau jika didalam hati bocah kecil itu juga merasakan keantusisan sekaligus kesenangan. Hanya saja sulit untuk mengkspresikanya, tidak dengan Gio yang sangat mudah mengekspresikan suasana hatinya.


“A-adik?” gagap Yuna tak tahu harus menjawab apa.


Zeen yang melihat kegagapan sang istri, kembali bersuara. “Adik kalian masih diperut mommy... jadi adiknya akan ada kalau sudah sembilan bulan ya....” jawab Zeen ngasal, yang mana membuat sang istri kembali melotot kearahnya.


“Mas Zeen....” bisik Yuna agar Zeen menghentikan ucapan konyolnya itu.


“Jadi adik bayi masih ada diperut mommy, dad? Kami harus menunggu dulu ya?” tanya si bungsu dengan raut bertanya-tanya.


Zeen tak langsung menjawab, pria itu malah berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak-anaknya.


“Iya putraku tersayang... jadi, lebih baik kalian cepat-cepat membersihkan diri habis itu makan. Tapi makannya tak ditemani mommy dulu ya? Kalian makan bersama kakek dan nenek dulu gak papa kan?” tanya Zeen kepada dua putranya.


Gara dan Gio malah saling menatap dengan raut penuh tanda tanya. Kedua bocah itu kembali dibuat bingung dengan maksud ucapan daddynya itu.


“Kenapa hari ini gak bisa makan bareng mommy, dad? Apa mommy sakit?” tanya si bungsu dengan raut khawatirnya.


“Putraku... mommymu tak sakit kok, mommymu tak bisa ikut makan karena mommymu bersama daddymu ini sedang proses membuatkan adik untuk kalian. Jadi putra daddy, harus belajar mandiri mulai hari ini ya? Karena jika kalian tak belajar mandiri maka kalian tak akan bisa mendapatkan adik bayinya!” jelas Zeen semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


“Mas Zeen!” pekik Yuna yang akhirnya kekesalan yang sejak tadi ia tahan pecah juga. Dirinya yang sangat kesal itu tak segan-segan menarik telinga Zeen dengan kencang sampai membuat pria itu terpekik-pekik kesakitan.


“Aw! Aw! Sayang? Sakit banget ini kenapa ditarik?” ucap Zeen sekaligus mencoba melepaskan tangan Yuna dari telinganya.


“Biar kamu tahu rasa mas! Kamu ini sudah dibilangin kalau ngomong coba disaring dulu....”


Karena rasa kekesalannya sudah tersalurkan, Yuna pun melepaskan tangannya dari telinga Zeen. Kemudian ia tanpa basa-basi lagi, keluar dari kamar dan menggiring kedua putranya untuk pergi dari sana.


Hal itu tentu membuat Zeen kebingungan. “Loh? Sayang? Kamu mau kemana? Kenapa bawa putra-putra kita?” ucap Zeen bertanya-tanya.


Sejenak Yuna menghentikan langkahnya, kemudian ia membalikkan tubuhnya kearah Zeen. “Aku mau mandi dikamar putra-putraku mas! Kamu jangan coba-coba susul aku disana, hari ini kamu aku hukum! Kamu gak boleh tidur sama aku malah ini!” jawab Yuna dengan nada penuh penekanan.


Kemudian tanpa mendengar jawaban dari sang suami, Yuna pun kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Zeen begitu saja dengan wajah cengohnya.


“Loh sayang? Gak bisa gitu dong....” teriak Zeen mencoba mengejar langkah Yuna, namun saat ia akan masuk kedalam kamar kedua putranya. Tiba-tiba dengan cepat Yuna menutup pintu itu sehingga membuat Zeen terkejut sekaligus membuat pria itu sampai terjungkal kebelakang akibat pintu yang ditutup dengan keras itu.


Zeen sampai mengusap hidungnya yang terkena pintu itu, “Bisa pesek nanti hidung mancungku ini.” Gumam Zeen sambil menatap pintu yang ada didepanya dengan tatapan nanar.


“Hais... haruskah malam ini aku tidur sendiri? Padahal ini saja baru mau menjelang sore? Bukankah masih ada banyak waktu untuk membujuk dan merayu istriku untuk kembali kepelukanku lagi?” Zeen sampai tersenyum semirk saat menyadari ucapannya. Otak cerdik nan mesumnya itu kembali berkutat untuk memikirkan bagaimana caranya ia membawa istrinya kembali kedalam kamarnya. Dan mengurung istrinya selama berjam-jam?


°°°


Pagi-pagi sekali Yuna terbangun dari tidurnya, ia melirik kesamping dimana ada suaminya yang sedang berbaring sambil memeluk erat tubuhnya yang masih tak mengenakain pakaian itu.


Ya! Yuna tak jadi menghukum Zeen untuk tidur sendiri, karena entah dengan cara apa. Suaminya itu berhasil merayu dirinya sehingga membuatnya tidur didalam pelukan suaminya itu. Tentu tanpa adanya penghalang diantara mereka, dimana kedua bocil mereka tertidur pulas dikamar yang letaknya disamping kamar mereka.


“Aku tak menyangka jika kedua putraku, untuk pertama kalinya tak tidur bersamaku malam kemarin....” gumam Yuna sambil terkikik geli, kemudian ia kembali menatap suaminya yang masih terlelap itu. “Pasti ini gara-gara daddynya yang super mesum ini....” gumamnya lagi sambil mentoel-tole hidung mancung Zeen.


Namun tanpa Yuna duga, tiba-tiba jari telunjuknya digengam oleh tangan besar Zeen. Yuna sampai terkejut mendapati itu.


Perlahan tapi pasti, Zeen mulai membuka matanya walau masih agak sipit. Ia lalu menatap istrinya dengan senyuman menggoda. “Walau suami tampanmu ini mesumnya kebangetan. Tapi kami tetap suka kan?” tanya Zeen dengan nada menggoda.


“Astaga!” Yuna yang terkejut itu langsung menarik tangannya dari gengaman tangan besar itu. Yuna pun juga refleks terbangun dari baringnya.

__ADS_1


Zeen sampai tertawa melihatnya, “Kamu terkejutnya kaya lagi lihat setan saja sayang?”


“Emang kamu kayak setan mas, kamu tiba-tiba bangun kayak gitu bikin aku kaget saja....” timpalnya sambil mengelus-elus dadanya untuk menetralkan detak jantungnya.


Zeen mengerucutkan bibirnya, “Tega banget kamu sayang, masa ganteng-ganteng gini dibilangin setan?”


“Mas kumat lagi narisnya!” pekik Yuna.


Zeen acuh, ia lalu meraih tangan Yuna agar segera mendekat padanya. “Tidur lagi sayang, ini masih pagi banget!” ajak Zeen.


“Engak mas bentar lagi juga–”


Belum selesai Yuna menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba wanita dua anak itu berlari menuju toilet dengan membungkam mulumnya.


Hal itu membuat Zeen kembali terkejut, dan segera bangkit dari baringnya kemudian menyusul sang istri yang sudah masuk kedalam kamar mandi.


Yuna saat ini berjongkok ditoilet sambil memeganggi perutnya yang terasa diaduk-aduk.


Uwekk! Uwekk!


Terdengar suara muntahan dari Yuna, namun hanya air saja yang keluar dari ronga Yuna. Yuna terus melakukan itu sampai bebedpa menit karena entah mengapa dirinya merasa mual sekarang.


Zeen yang berada dibelakang Yuna, dengan setia menunggu sambil mengelus-elus punggung sang istri guna untuk menenagkannya.


“Kenapa sayang? Apa kamu merasa sakit? Bagaimana kalau kita periksa dirumah sakit biar lebih jelas?” ucap Zeen merasa panik dan sampai melupakan fakta jika dirinya adalah dokter.


“Gak perlu kerumah sakit mas, mungkin aku masuk angin saja itu sebabnya aku merasa mual....” tutur Yuna.


“Yaudah sayang, bagaimana kalau kamu berbaring dulu dikasur sambil aku kerokkin? Biar masuk anginnya ilang?” usul Zeen.


Yuna menghentikan pergerakannya dan menatap Zeen dengan tatapan selidik.


“Aku gak akan ngelakuin apa-apa kok sayang! Suer deh!” ucap Zeen sambil mengangkat kedua tangannya diudara membentuk dua jarinya menjadi huruf v. Seolah Zeen tau apa maksud dari tatapan tersebut.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2