
...***...
“Kenapa belum siap? Coba katakan alasannya padaku, hem?” Zeen berucah namun masih dengan posisi yang sama, posisi berbaring dan menindih Yuna yang berada dibawahnya. Bahkan sangking dekatnya membuat posisi itu bisa dikatakan sangat intim. Bahkan hidung mancung Zeen hampir mengenai hidung milik Yuna.
“Y-ya, aku akan mengatakannya jika mas memberikan sedikit keleluasan, aku tak enak mas jika berbicara dengan posisi seperti ini.” Jelas Yuna yang memalingkan wajahnya kesamping ketika menjawab ucapan Zeen. Bahkan ia tak berani hanya sekedar melirik wajah Zeen yang padahal berada tepat dihadapannya.
“Posisi seperti apa? Menurutku ini posisi yang tepat loh ....” ucap Zeen sambil menangkup dagu Yuna, dan langsung membalikkan wajah itu untuk mengarah kembali kepadanya.
Yuna kembali menahan nafasnya ketika ia kembali dihadapkan dengan wajah tampan itu, yang tentu membuat jantungnya tak karuan, hingga membuat jantung itu berdisko dengan riangnya.
Fyuhh~
Zeen tiba-tiba saja menipu wajah Yuna, sehingga membuat Yuna refleks memejam, apalagi mendapati aroma mint yang menguar dalam indra penciumannya.
“Jangan menahan nafasmu ... kenapa setiap kali kita berdekatan seperti ini, kamu selalu menahan nafas. Kamu mau membuatku kejang-kejang ya? Jika nanti kamu keterusan tak bisa bernafas lagi dihadapanku?” tampak Zeen memasang ekspresi yang serius.
Yuna menatap Zeen sambil menggigit bibir bawahnya. 'Bagaimana aku bisa bernafas? Jika kamunya yang menjadi alasannya,' gerutu Yuna hanya mampu dalam hati.
“Ayo bernafaslah, kamu mau buat rekor ya? Biar jadi juara menahan nafas paling lama didunia?”
Tampak Yuna langsung mengeleng menjawab perkataan Zeen.
“Terus kenapa kamu tak segera bernafas?”
Kali ini Yuna tak menjawab perkataan itu.
“Kamu yakin gak mau bernafas sekarang juga?”
“Mas lepaskan aku dulu baru aku akan bernafas,” ucap Yuna namun tak membuka mulutnya saat berbicara, melainkan berbicara dengan menutup rapat mulut itu.
Zeen menyerigai tipis, sangking tipisnya Yuna bahkan tak bisa melihat itu.
“Aku tak akan melepaskanmu, karena aku punya cara lain agar kamu bisa bernafas tanpa paksaan dariku!” jelas Zeen percaya diri.
Yuna tampak mengangkat satu alisnya, bingung dengan ucapan itu.
“Bagama–”
Belum sempat Yuna menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba bibirnya merasakan sentuhan lembut dan hangat pada bibirnya. Tentunya sentuhan itu berasal dari Zeen yang dengan santainya menempelkan bibirnya pada bibir Yuna. Ingat itu hanya sekedar menempel bukan hal yang lain.
__ADS_1
Yuna yang terkejut itu, tentu saja membulatkan kedua bola matanya sampai tak berkedip sekali pun.
Zeen mengangkat kepalanya kembali, dan menatap Yuna yang masih belum tersadar dari terkejutnya.
“Hmm, masih belum bernafas ternyata, lihatlah. Wajahnya sampai memerah kerena menahan nafas. Memang betul-betul gadis ini.” Zeen kembali menyerigai karena otaknya belum kehabisan dengan ide-ide yang akan membuat Yuna tambah terkejut.
“Umft!”
Yuna memekik tertahan saat merasakan bibir bawahnya digigit dengan sangat kecil, sehingga membuat Yuna refleks membuka mulutnya.
Zeen kembali menyerigai, 'Kena kau!'
Tak ingin kehilangan kesempatan, Zeen langsung mencium bibir Yuna kembali. Namun kali ini berbeda, ciuman itu bukan sekedar menempel saja. Melainkan Zeen mempermainkan bibir itu dengan ******* lembut bibir itu.
Yuna yang merasakan itu tentu dibuat terkejut, bukan! Bukan sekedar terkejut saja, melainkan terkejut yang teramat-amat. Dan dirinya pun tak tahu harus berbuat apa. Karena sebuah ciuman pada bibir itu adalah hal yang pertama baginya. Jika dicium pada pipi atau kening ia sudah pernah. Dan yang menciumnya bukanlah seorang pria melainkan hanya neneknya saja.
“Umft! Mas!”
Yuna memuluk-mukul dada bidang Zeen, agar pria itu segera melepas ciumannya. Karena dirinya tadi sempat mengatakan, jika ia masih belum siap. Namun bukanya melepas Zeen malah memperdalam ciuman diantara mereka. Dengan menyesap, menghisap, mengulum dan mengecap bibir Yuna.
Yuna bahkan tak bisa mengimbanggi dan tak bisa dengan cepat membalas ciuman itu, karena dirinya yang belum berpengalaman tentu saja hanya diam dan menerima semua itu dengan pasrah.
“M-as!” lagi, Yuna lagi-lagi mencoba mendorong tubuh Zeen agar melepas ciuman itu, karena sejak tadi Yuna tak diberi kesempatan hanya sekedar untuk menghirup udara.
Zeen menggosok pinggangnya, yang terdapat bekas cubitan Yuna, “Kamu sudah berani ya? Mencubitku?” ucapnya sambil menatap Yuna tak percaya.
“Kenapa tak berani? Aku bahkan bisa menendang mas dari sini?” ucap Yuna bernada, menantang.
“Kamu!” Zeen melotot mendengarnya, lantas kemudian ia mengusap bibir Yuna dengan lembut. “Kenapa kamu mencubitku? Kita kan masih belum selesai,” ujarnya dengan wajah memelas.
“Apanya yang belum selesai mas? Aku bahkan belum mengizinkan mas untuk menciumku.” Jawabnya santai.
“Kamu memang belum mengizinkanku, tapi aku kan sudah bilang tadi ... jika ini adalah bagian dari hukumanmu karena kamu sempat membuatku marah,” jelas Zeen tak mau kalah.
“Mas ....” tampak Yuna memandang Zeen pandangan memohon.
Zeen yang melihat itu terdiam sejenak, lantas kemudian helaan nafas keluar dari mulutnya. Ia yang tadi menghimpit tubuh Yuna kini beranjank dari posisi itu, dan memilih duduk disisi ranjang sambil memperlihatkan wajah kusutnya.
Hal itu tak luput dari pandangan Yuna, ia pun sempat mendengar gumaman Zeen yang memang agak samar-samar dipendengaran.
__ADS_1
“Apakah malam ini tak jadi lagi? Sudah dua hari kita menginap disini, tapi masih belum melakukannya. Apakah aku harus menahanya dan kembali menuntaskannya tengah malam nanti?” gumam Zeen bersuara lirih. Namun tetap saja masih didengar oleh Yuna.
Zeen pun kembali diam sambil menerawang pandangan kedepan, sedangkan Yuna yang melihat itu tentu merasa iba dan bersalah. Apalagi dirinya juga melihat kala malam itu ia melihat wajah frustrasi Zeen, sambil memainkan milik lelaki itu dan tak lupa ia juga mendengar namanya disebut disela-sela suara berat khas desaha*n yang keluar dari mulut Zeen.
Yuna yang tadinya tengah berbaring itu, kini bangkit dari baringnya dan mendekati Zeen walau hatinya merasa gugup tak karuan.
Saat Yuna mendekati Zeen, lelaki itu tak menoleh kearahnya dan membuat Yuna langsung menghela nafasnya.
Diraihnya tangan Zeen, kemudian membawa tangan itu kedalam gengamanya, membuat lelaki itu yang bersetatus sebagai suaminya akhirnya kini menoleh kearahnya.
“Mas ... maafkan aku jika aku terus menolakmu ....” ucap Yuna dengan perasaan bersalah.
Membuat Zeen yang melihat raut wajah Yuna langsung membalas gengaman itu, “Tidak apa-apa Yuna ... sebenarnya aku juga yang salah terlalu memaksamu. Padahal kamu belum siap melakukannya denganku, tapi dengan bodohnya aku malah memikirkan hasratku dan melupakan perasaanmu. Padahal keikhlasan dan kemauanmu lah yang paling penting disini.” Ucap Zeen dengan sungguh-sungguh. Karena ia juga menyesali atas perbuatannya beberapa menit yang lalu itu.
“Tidak mas ... disini aku juga yang salah, karena sebagai istri seharusnya aku melayanimu, karena kamu suamiku berhak atas diriku mas ....”
Zeen yang mendengar itu tersenyum lebar, sehingga membuat lesung pipinya terlihat.
Terdiam sejenak menatap Yuna dengan intens, kemudian ia langsung merengkuh kembali tubuh mungil itu dan membawanya kedalam pelukkannya.
“Iya ... aku tahu itu, tapi tak apa jika kamu belum siap. Maka aku akan menunggumu, walau aku harus menunggu dengan lamanya ... tapi aku akan terus menunggu ....” ucap Zeen sungguh-sungguh. Tak lupa tangannya yang terus mengelus rambut Yuna dengan perasaan sayang.
Yuna yang mendengar kesungguhan itu tentu dibuat terharu, ia pun semakin merasa bersalah ketika ia melakukan hubungan suami-istri dengannya, hanya karena alasan tak masuk akal.
Setelah terdiam dalam beberapa menit lamanya, akhirnya Yuna sudah bertekad.
Yuna pun menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya sejenak.
“Baiklah mas, aku sudah siap!” ucap Yuna penuh ketekatan.
Zeen yang menikmati pelukan diantara mereka tersenyum dan masih memejamkan matanya, “Hemm, kalau belum siap mas akan tetap menunggu.”
Sepertinya Zeen belum menyadari ucapan Yuna barusan, dan dalam beberapa menit berlalu, barulah Zeen menyadarinya dan membelalakan matanya seketika.
Zeen langsung memegang kedua bahu Yuna dengan perasaan tak karuan, “Apa kamu bilang tadi?” ulangnya.
Yuna berkedip-kedip sejenak, lalu tersenyum, “Aku bilang. Aku sudah siap mas ....” lalu tersenyum malu-malu sambil menundukkan kepalanya.
TBC.
__ADS_1
Ciee ... yang nungguin😆
Jangan lupa dukung Author ya, dengan cara like, komen and vote. Bisa juga berikan Author gift sesuka kalian ♡