Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 155


__ADS_3

...***...


Satu per satu, kalimat demi kalimat. Zeen terus membaca data pribadi milik anak pertama dari Sigit yang menghilang bertahun-tahun lamanya itu dengan penuh ketelitian dan tak ingin ada yang ketinggalan sedikit pun dari kata per kata, bait ke paragraf itu.


Zeen sampai menutup mulut merasa tak percaya dengan kenyataan yang baru ia ketahui. Sekaligus tak menduga, jika dugaannya saat ini ternyata memang benar. Dan sepertinya hanya dialah yang tahu kebenaran itu.


“Apakah aku harus memberi tahu tentang ini pada om Sigit? Beliau selama ini pasti masih mencari keberadaannya putrinya.” Gumam Zeen pada diri sendiri.


°°°°


Sedangkan disatu sisi, dibawah teriknya matahari siang ini, terlihat seorang wanita muda tengah bermain cipakan air dikolam berenang. Dengan tak lupa ditemani oleh kedua orang wanita yang saat ini tengah berbincang ria disalah satu meja santai disamping kolam berenang itu. Juga terdapat payung untuk menghalangi sinar matahari yang begitu terik.


“Yuna ... sini sayang, jangan lama-lama disana, apalagi cuacannya lagi panas banget. Takutnya nanti calon cicit Mama ikut kepanasan.” Ujar Vina sedikit mengencangkan suaranya. Karena jarak antara mereka sedikit jauh.


Yuna menoleh kearah mertuanya, “Iya Mah, Yuna kesana.” Jawab Yuna lalu mengangkat kakinya yang tadi ia celupkan dikolam berenang itu, kemudian ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju mertua dan neneknya berada.


Namun baru beberapa ia melangkah, tiba-tiba ia dibuat terkejut ketika melihat lima orang berpakaian hitam disertai kaca mata hitam kini berjalan kearahnya.


Lima orang diantar mereka terdapat empat lelaki berbadan kekar, sekaligus satu wanita bertubuh tegap yang berprawakan tinggi.


“Selamat siang nyonya Albaret!” sapa kelima orang itu. Bahkan Rima dan Vina juga dibuat kaget sekaligus bingung, dan akhirnya mereka berdua bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Yuna dengan perasaan kalut nan cemas.


“Kalian siapa?” tanya Vina saat sudah sampai pada tujuan dan kini tengah merangkul menantunya berniat untuk berjaga-jaga.


“Kami adalah pengawal nyonya muda Albaret, nyonya! Dan mulai sekarang kami akan menjaga nyonya muda dimanapun nyonya berada.” Jawab wanita berpakaian hitam itu.


Yuna, Rima dan Vina tampak bingung. Mereka bertiga saling berpandangan dengan pikiran yang tengah bertanya-tanya.


“Siapa yang menyuruh kalian? Saya tak pernah menyuruh siapa pun menjaga menantuku. Bahkan aku melarang orang asing masuk kedalam rumahku?” ucap Vina bertanya.


Wanita berpakaian hitam itu kembali berdehem pelan untuk menjawab pertanyaan sang nyonya rumah itu, sekaligus menjelaskan situasi mereka yang datang tiba-tiba.


“Pertama-taman, saya sebagai perwakilan meminta maaf kepada anda semua karena saya dan juga anggota saya telah tak sopan masuk begitu saja kedalam kediaman ini. Kami bertujuan datang kesini untuk menjaga nyonya Yuna Saily atas perintah Tuan kami.” Jelas wanita itu.

__ADS_1


“Ya, ya, siapa namamu?” tanya Vina lagi.


“Nama saya Brian nyonya,” jawabannya kepada Vina.


“Oke Brian, aku ingin tahu siapa nama dari tuanmu itu? Dan kenapa kalian harus menjaga menantuku?”


“Nama tuan kami adalah Rafli nyonya. Kami mendapatkan informasi dari tuan kami, dan mempekerjakan kami untuk mengawal nyonya Yuna. Dan sebelumnya kami telah mendapatkan izin dari orang pertama yang mempekerjakan kami yaitu tuan Zeen Albaret!”


“Putraku?” gumam Vina semakin dibuat kebingungan. Sepertinya ia harus meminta penjelasan langsung kepada putranya itu.


“Baiklah, aku akan meminta penjelasan pada putraku saja. Kebetulan yang kau sebut namanya itu adalah putraku.” Ucap Vina.


“Iya nyonya.” jawab Brian menunduk horman, namun tak beranjak dari tempatnya.


“Kenapa kalian tak pergi?” seolah Vina melupakan jika kelima orang berpakaian hitam itu bertugas untuk menjaga Yuna.


“Maaf nyonya, kami tak akan pergi dari sini. Karena atasan kami menyuruh kami tetap berada didekat nyonya muda.” Jelas Brian yang kembali menundukkan kepalanya memberi hormat.


Vina seketika menghela nafas panjang. “Yasudah terserah kalian, kalian bisa mengawasi menantuku dari jarak yang sedikit jauh, karena kami masih belum merasa nyaman dengan keberadaan kalian disini.” Ujar Vina mengusir secara halus orang-orang berpakaian hitam itu.


“Aku tak menyuruh kalian untuk pergi jauh dari tempat ini! Aku menyuruh kalian agar tak terlalu dekat dengan kami, kami ini masih butuh prifasi. Apa kalian bekerjanya seperti ini? Lebih baik kalian beranjak dari rumahku! Jika kalian tak ingin menuruti perkataan dariku!” Vina berucap dengan tegas. Tak lupa matanya yang menatap tajam kelima orang itu, bak seseorang yang tengah mengintimindasi.


Keliam orang berpakaian hitam itu pun saling melirik satu sama lain.


“Baik nyonya, kami akan berada sedikit jauh dari jangkauan.”


Akhirnya pun para penjaga Yuna lebih memilih mengalah, dari pada terlibat pada sang nyonya pemilik rumah yang akan berakibat pada pekerjaan mereka nanti.


“Begitu kek dari tadi,” seru Vina tersenyum puas.


“Lebih baik kita masuk kedalam saja ya? Kita tunggu Zeen didalam, minta penjelasan pada bocah usil itu yang buat keluarganya pusing saja.” Seloroh Vina berdecak kesal.


“Ya ... lebih baik seperti itu, aku juga sedikit lelah hanya karena melihat para orang berwajah menyerahkan itu.” Timpal Rima, yang sejak tadi diam saja menyaksikan menantunya berdebat pada kelima orang itu yang mengaku sebagai penjaga Yuna.

__ADS_1


“Biarkan cucu menantu istirahat didalam, cucu menantu pasti lelah apalagi membawa dua bayi yang akan jadi cicit kita.” Ucap Rima sambil mengelus puncuk kepala Yuna.


Ya, seluruh keluarga besar itu sudah tahu jika Yuna sedang mengandung bayi kembar yang akan jadi penerus bangsa dimasa depan nanti. Dan hal itu tentu membuat para keluarga bahagia ketika mendengar kabar yang tak terduga itu.


Yuna tampak tersenyum lembut. “Yuna gak papa nek ... Yuna masih kuat kok nemenin nenek jalan-jalan.” Ucap Yuna.


“No! No, no. Sayang ... bener apa kata nenek, lebih baik kamu istirahat dulu didalam kamar. Nanti kalo suami kamu pulang Mama nanti kabari kamu.”


“Tapi Ma–”


“Jangan ada tapi-tapi, sekarang waktunya kamu tidur siang. Biar nanti pas ketemu suami kamu sudah seger dan gak merasa kantuk lagi. Mama tau kalo kamu menahan ngantuk sekarang karena kamu hamil jadi hormon kehamilan pasti bawaannya pengen tidur terus, dulu Mama merasakannya ketika mengandung suamimu.” Jelas Vina panjang lebar.


“Yaudah Mah, kalo gitu Yuna tidur duluan ya? Kalo mas datang Mama bisa bangunin aku langsung.” Jawab Yuna akhirnya mengalah saja. Karena memang benar apa yang dikatakan oleh Vina jika ia saat ini tengah menahan kantuk.


“Iya, Mama antar sampe depan pintu.” Ujar Vina, kemudian mengandung tangan Yuna dan mertuanya untuk menuntun mereka masuk kedalam rumah.


Tak lupa juga, saat mereka pergi, baru para kelima penjaga itu mengikuti langkah mereka dari belakang.


“Kenapa kalian mengikuti lagi?” tanya Vina heran.


“Kami akan terus menjaga nyonya Yuna dari belakang.”


Vina menghela nafas, lalu memutar bola matanya malas.


“Ya, ya, ya terserah lah.”


°°°°


Sedangkan disisi lain, orang yang sedang dibicarakan itu saat ini tengah berada dirumah Sigit yang mana artinya ia sama saja sedang pulang dari rumah sakit, karena rumah Sigit dan rumahnya hanya berjarak sepuluh langkah saja. Karena jaraknya yang sangat begitu dekat. Bedanya hanya melewati satu rumah saja.


“Lama menunggu ya Zeen?” tanya Sigit yang baru saja keluar dari ruang kerjanya. Karena pria paru baya itu lebih memiliki bekerja dari rumah jika tak ada hal yang penting seperti rapat diantara para kolega. Dan lebih suka menghabiskan waktunya dirumah seperti orang yang sedang liburan.


Zeen yang mendengar suara familiar itu langsung bangkit dari duduknya. Dan melihat Sigit dengan pandangan tak terbaca.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2