
...***...
“Lihatlah putra-putra kita sayang ... mereka begitu tampan sepertiku! Apakah kamu tak merasa penasaran melihat wajah-wajah mereka?”
Saat ini Zeen tengah duduk dikursi tepat disamping Yuna, ia juga masih membiarkan kedua putranya yang memeluk Mommynya.
Hingga saat ia termenung memikirkan sang istri, dirinya tiba-tiba dibuat terkejut lantaran mendengar suara tangisan dari putra bungsunya.
Hal itu membuat Zeen langsung bangkit dari duduknya dan menatap putranya tak percaya.
“Mama! Putra keduaku menangis Mah?” pekik Zeen dengan suara gembira.
Eva, Vina dan Winda kembali berlari menghampiri Zeen, kemudian menatap cucu mereka dengan mulut yang dibungkam.
“Yaampun ini sebuah keajaiban! Cucuku menangis!” pekik Vina tak kalah senangnya.
“Bahkan suara cucu kita begitu merdu walau sedang menangis ....” timpal Eva menatap haru putra Zeen itu.
“Sepertinya kita harus memberi kabar bahagia ini kepada para suami kita?” Usul Winda.
Vina langsung menatap setuju kearah Winda, “Wah mantap tuh! Ayo kalian cepat telfon suami kalian, aku akan menghampiri suamiku diruangannya!”
Kemudian ketiga wanita sibuk sendiri memberi kabar kepada suaminya.
Sampai membiarkan Zeen yang sedang kalang kabut menenangkan bayi keduanya yang tak mau berhenti menangis.
“Giliran disuruh menangis tapi gak bisa berhenti....” gumam Zeen yang terus menepuk-nepuk bokong putranya.
Zeen terus sibuk menimang-nimang putranya, sampai matanya tak seganja melihat putra pertamanya tengah mencium pipi istrinya.
“Eh? Itu, itu mulai nakal ya si abang,”
Namun yang namanya bayi, tentu saja sang bayi akan memilih acuh dan melanjutkan apa yang dia inginkan.
“Abang ... kamu kenapa gak mau menangis juga? Malah nyiumin pipi mommymu? Itu punya daddy loh jangan diciumun terus ....”
Saat Zeen menyentuh tangan putra pertamanya karena ingin menghentikan aksi si sulungnya itu, ia dibuat terkejut lagi saat tangannya ditepis oleh sang putra, kemudian putranya itu seperti bermonolong sendiri dengan raut yang dibuat kesal.
“Astaga? Apakah bayi bisa membuat ekspresi wajah seperti itu?” gumam Zeen tak percaya.
Kemudian sibayi mungil itu kembali melanjutkan aksinya yang terus menciumi seluruh wajah mommnya, hal itu tentu membuat Zeen cemburu lantaran ia merasa jika miliknya telah diambil walau itu putranya sendiri, tapi ia tetap saja merasa tak rela.
__ADS_1
“Hei kau, berhenti menciumi pipi mommymu. Nanti tidurnya mommu terganggu loh, kalau mommymu membuka matanya pasti kau langsung dijewer kupingmu itu!” terang Zeen mengebu-gebu. Namun tetap saja diabaikan oleh sang bayi. Mau merespon bagaimana? Jika bayi yang sangat kecil itu hanya bisa mengerak-gerakan kaki dan tangannya saja.
Sementara itu sang baby kedua terus saja menangis, Zeen sudah memberikan sebuah susu yang ditaruh didot bayi. Tapi bukanya diminum bayi itu malah terus menolak saat dot itu dipepetkan dibibirnya itu.
“Sssss ... ditimang-timang anakku sayang, kalau menangis kok kencang-kencang, kalau mau pup bilang sama daddy tampanmu ini!” monolog Zeen yang malah bernyanyi tak nyambung.
Hal itu membuat si baby tambah menangis dengan kencang, tentu saja membuat Zeen yang melihatnya keheranan sendiri.
“Nak? Kenapa malah dikencengin volumenya? Kamu mau pup beneran?” tanyanya, kemudian ia terus menimang-nimang sang baby, ia sungguh dibuat kalang kabut bingung mau berbuat apa karena ia baru mengalami hal tersebut.
“Ini para bu ibu kemana sih? Disaat begini aja ngilang?” gerutu Zeen, “Daddy memang menyuruh kalian untuk menangis, tapi kalau menangis tolong diusahakan untuk diam sendiri. Karena daddymu tak tahu harus menenangkan kalian dengan cara apa? Apakah daddy harus jadi ultramen dulu biar kalian tenang?”
Dan setelah mengatakan itu, sang baby tiba-tiba saja terdiam.
Zeen pun melongo dibuatnya, “Wah? Kau setuju jika daddy jadi ultramen? Tapi sayangnya daddy tak mau jadi ultramen, daddy maunya jadi orang yang paling tampan dimata istriku tercinta!” jelas Zeen dengan percaya dirinya.
Ooeeeeeee! Oeeeeeee!
Dan ya, sang baby pun menangis kembali.
“Astaga? Baru diem malah nangis lagi? Yaampun anak daddy benar-benar ....”
Sampai-sampai Zeen tak menyadari, jika sejak tadi, sepasang mata terus mengamatinya dengan senyum dibibirnya. Seseorang itu adalah Yuna yang beberapa menit yang lalu sudah membuka matanya.
Dialam bawah sadarnya, ia merasakan basah dipipi kirinya. Dan dikedua telinganya terus mendengarkan suara-suara yang memekikan kedua gendangnya. Itu sebabnya secara perlahan Yuna mulai sadarkan diri.
Dan saat ini ia tengah mengelus lembut punggung putranya, yang tengah berada didalam pelukannya. Siapa lagi kalau bukan si sulung.
Awalnya ia terkejut saat melihat bayi disampingnya, dan rasa terkejut itu tak berlangsung lama saat ia melihat sang suami tengah mengendong seorang bayi yang mirip dengan bayi yang ada disampingnya. Tentu ia langsung mengetahui jika kedua bayi itu adalah anak-anaknya.
“Anak mommy ganteng banget ....” gumam Yuna sambil mentoel gemas hidung mungil itu, tentu membuat si sulung terkikik geli sambil sesekali mengoceh sehingga membuat bibir mungil itu terus bergerak-gerak.
“Ngomong apa sih? Mommy gak ngerti,” ucap Yuna juga ikut terkikik geli melihat putra sulungnya itu.
“Sayang ....”
Tiba-tiba suara Zeen terdengar, tentu ia langsung mengalihkan pandangannya kearah sang pemilik suara.
Zeen yang baru menyadari istrinya sudah membuka matanya itu, langsung berlari menghampiri sang istri dan tak mau menunggu lama lagi pria berusia 27 tahun itu langsung menaiki kasur dan menghambur memeluk sang istri.
Alhasil membuat si kembar menjadi ditengah-tengah diantara mereka.
__ADS_1
“Huaaaaa ... sayang kenapa kamu tak bilang-bilang kalau sudah sadar? Huaaaaaaaa ....” dan jadilah sang daddy ikut menangis. Kemudian disusul dua putranya yang ikut menangis, alhasil membuat ruangan itu menjadi ramai.
“Yaampun yang tua malah ikut nangis?” ucap Yuna merasa heran. “Sudah mas! Masa sudah tua malah nangis? Gak malu apa sama anak sendiri?” Yuna mencoba mengurai pelukan mereka, namun nampaknya Zeen tak mau melepaskan pelukan itu sehingga membuat Yuna akhirnya mengalah.
“Emang kenapa kalau nangis? Kan aku juga manusia huaaaaaa ... aku kangen banget honeyyyy!” pekik Zeen diselingi tangisnya.
Oeeeeee!
Oeeeeeee!
Kemudian diikuti si sulung dan si bontot.
Yuna menepuk jidatnya seketika. “Astaga sepertinya aku akan pingsan lagi!” gumam Yuna frustasi.
“Masss! Nanti anak kita jadi gepeng kalau kamu pepetin mereka,” teriak Yuna agar Zeen segera menyadarinya.
Tentu saja Zeen langsung melepaskan pelukan diantara mereka, karena baru mengingat jika ada sang baby baby diantara mereka.
“Astaga! Maafkan daddy, daddy baru ingat jika kalian sudah lahir, daddy kira kalian masih diperut mommy kalian!” ujar Zeen dengan santainya.
Hal itu tentu membuat Yuna tersulut kesal, kemudian ia menyalurkan kekesalannya itu dengan mencubit pinggang suaminya.
“Dasar bapak-bapak satu nih! Padahal dia sendiri yang benah perutku! Kok malah lupa?” ucap Yuna semakin gemas kepada sang suami, semakin gemas pula ia menambah ritme cubitan itu. Alhasil membuat Zeen terpekik kesakitan.
“Aaaaaaa, rasanya sungguh luar biasaaaa ... inilah yang aku tunggu darimu honey! Aku rindu sangat cubitanmu!” pekik Zeen malah kesenangan.
Hal itu membuat Yuna yang melihatnya, langsung menyalah artikan jika sang suami sudah mengidap penyakit gila.
TBC.
Baby twin✨
Mommy Yuna✨
Daddy Zeen✨
__ADS_1