Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 96


__ADS_3

...***...


Yuna menenteng baju itu diudara, ia terus mengamati baju itu dengan saksama. Keningnya terus ia kerutkan karena merasa bingung dengan model baju itu, atau bisa dibilang jika Yuna baru pertama kali melihat baju yang ada ditangannya.


“Baju apa ini? Kenapa tipis sekali?” gumam Yuan bertanya, “Apa ini dipake untuk lap ya? Tapi kalo iya, kenapa banyak sekali dikoperku? Bahkan tak ada sama sekali baju yang sehari-hari aku pakai?” gumamnya lagi ketika mendapati isi kopernya yang penuh dengan baju-baju tipis itu serta pakaian dalamnya saja.


“Bagaimana aku berganti baju nanti, jika tak ada satu pun baju yang sedikit tebal? Apa Mama Vina salah kirim koper ya? Apa aku coba saja telfon Mama ya?” Yuna tampak berfikir, bahkan sampai lewat beberapa menit ia tak menyadari jika bersamaan dengan itu Zeen baru saja keluar dari kamar mandi.


Zeen berjalan mendekat kearah Yuna yang tengah membelakanginya, sesekali tangan kirinya ia gunakan untuk mengelap rambut dengan menggunakan handuk kecil.


“Ada apa Yuna?” tanya Zeen penasaran karena tak melihat perubahan posisi dari gadis itu.


"Eh? Ini baju–”


“Kenapa? Baju apa?” tanya Zeen mengerut bingung, ketika Yuna menjeda ucapannya.


“Yaampun mas ... cobalah untuk memakai baju dulu sebelum keluar ....” ucap Yuna ketika tak sengaja melihat tubuh atas Zeen yang tak memakai pakaian dan hanya memakai handuk yang hanya melilit dipinggangnya.


Yuna menunduk, tak ingin wajahnya yang tengah memerah dilihat oleh Zeen.


Zeen yang mendengar perkataan Yuna itu, langsung melihat tubuhnya, bukanya Zeen merasa malu namun ia malah menyerigai ketika melihat tingkah malu-malu dari Yuna.


“Memang kenapa? Aku memang seperti ini ketika sehabis mandi. Bahkan aku bisanya telanjang ketika keluar dari kamar mandi,” ucap Zeen sambil melipat kedua tangannya didada. Dengan pandangan yang terus tertuju pada Yuna.


“Apa?” pekik Yuna terkejut, dan refleks mengangkat kepalanya yang tertunduk dan otomatis mereka berdua kini saling berpandangan.


“Iya ... aku selalu seperti itu ketika sehabis mandi,” jawab Zeen santai apa adanya.


“Apa mas tak malu, jika ada orang lain yang melihat?” selidik Yuna dengan wajah yang sudah memerah padam.


“Orang lain? Disini kan tak ada orang lain, jadi aku tak perlu malu dong?”


“Tapi aku juga orang mas ... mas apa gak malu kalau aku yang melihat?”


Zeen menggeleng dengan cepat, lalu tiba-tiba tanpa sepengetahuan Yuna, Zeen langsung menarik pinggang gadis itu lalu memeluknya dengan erat. Sehingga membuat tubuh mereka saling bersentuhan.

__ADS_1


Zeen yang merasakan tubuh Yuna berjingkrat kaget itu, malah tersenyum, lalu ia dengan beraninya mendekatkan wajahnya pada wajah Yuna setelah itu mengesek hidung Yuna menggunakan hidungnya.


Yuna yang mendapati serangan dadakan itu hanya bisa terdiam.


“Kenapa aku harus malu padamu? Kamu kan istriku, istri itu berhak melihat apa yang dimiliki oleh suaminya, terutama tubuhnya.” Jelas Zeen tak lupa mengerlingkan matanya. Dan tersenyum menggoda.


Yuna yang terlanjur sangat malu itu terus memalingkan wajahnya dan mencoba mendorong tubuh Zeen agar sedikit menjauh darinya, Yuna hampir saja tak bernafas ketika melihat pria yang selalu membuat jantung terus berdebar itu malah membuat jantungnya ingin terus meloncat-loncat.


“Mas ... tolong jangan terlalu dekat, aku tak bisa bernafas ....” kata Yuna beralasan, agar Zeen cepat melepaskan pelukannya.


Tapi, bukanya mendengar perkataan Yuna, Zeen malah menambah jarak diantara mereka dengan semakin mengeratkan pelukan itu. Sehingga membuat Yuna yang tingginya hanya mencapai sepundak Zeen itu. Tak sengaja bibirnya menempel pada jakun milik pria itu.


Tanpa sadar, hal itu membuat jiwa lelaki Zeen sedikit terbangun.


'Uhh, kenapa saat menempel bibirnya terasa panas dileherku?' gumam Zeen sambil memejamkan matanya.


Yuna yang sadar akan perbuatan yang tak disengaja itu, langsung menjauhkan bibirnya dan menatap Zeen dengan pandangan malu.


“Mas ... tolong jangan terlalu erat memelukku, aku tak bisa bernafas,”


Refleks Zeen langsung melepaskan pelukan itu, dan memandang Yuna dengan pandangan bersalah.


“Maaf Yuna ... tanpa sengaja aku membuatmu–”


“Tak apa mas ... hanya saja aku tak bisa bernafas jika terlalu erat dipeluk, tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Mas jangan khawatir.” Ujar Yuna sambil tersenyum.


“Ya ... sekali lagi aku minta maaf, lain kali aku tak lakukan itu, jika tak benar-benar khilaf.” Ucap Zeen sambil cengengesan.


Yuna hanya menggeleng menanggapi ucapan itu, lantas tiba-tiba ia kembali teringat sesuatu.


“Oh ya mas, tadi aku sempat tanya sesuatu–”


“Hem? Apa?” tanya Zeen yang penasaran dengan ucapan Yuna yang menggantung.


“Sebentar, dimana ya tadi ... oh! Ini dia,” Yuna memungut baju tipis yang terjatuh dilantai. Yang tadi tak sengaja terlepas dari tangannya akibat Zeen yang tiba-tiba memeluknya.

__ADS_1


“Ini mas, ini bajunya siapa ya mas? Sepertinya Mama salah kirim baju, aku tak pernah memiliki baju seperti ini mas. Bahkan kainnya pun tipis ... sepertinya ini dipakai untuk lap meja ya?” tanya Yuna secara beruntun. Bahkan sampai menenteng baju itu diudara dengan wajah polosnya.


Zeen tiba-tiba meneguk ludahnya dengan sangat kasar, ia tak menyangka jika Yuna akan segera menemukan baju itu. Sebenarnya tak heran juga, karena memang koper itu milik Yuna. Jadi wajar saja Yuna cepat menemukannya.


Bahkan yang mengherankan bagi Zeen, ia sampai tak mengerti jika Yuna tak mengatuhui baju apa yang ia pegang itu. Haruskah Zeen menjelaskannya?


Seketika otak Zeen ngeblang, ia bingung harus menjelaskan apa.


“Emm, sebenarnya itu baju yang dipersiapkan sama Mama, jadi Mama tak mungkin salah ....” cicit Zeen bersuara lirih.


Yuna mengerutkan alisnya bingung, “Lantas, kenapa bajunya tipis seperti ini mas?” tanya Yuna lagi.


“Emmm, memang seperti itu bentuknya Yuna ... jadi kamu jangan heran. Karena baju itu, fungsinya untuk dipakai di malam hari.” Jelas Zeen dengan nada tak canggung seperti tadi. Bahkan ia dengan percaya diri mengatakan jika baju itu dikenakan ketika malam hari tiba.


“Di malam hari?” ulang Yuna.


Zeen melipat kedua tangannya didada, dengan wajah percaya diri. “Ya ... baju itu dibuat khusus untuk sepasang kekasih seperti kita, jadi ... kamu hanya boleh memakainya didepan pasanganmu. Tak boleh memakainya didepan orang lain.”


“Mengapa tak boleh mas?”


Zeen mencolek hidung Yuna, karena gemas dengan tingkah polos dari gadis itu.


“Karena itu tak boleh ... sayangku, itu sebabnya baju itu hanya khusus dilihat oleh pasangannya sendiri bukan orang lain. Paham kan?”


Yuna yang ditanya itu, hanya mengangguk karena merasa belum paham dengan penjelasan yang diterangkan oleh Zeen.


“Tapi mas, baju ini namanya baju apa? Apa ini baju yang lagi tren?”


Zeen tampak berfikir sejenak, “Emmm, kalau gak salah nama bajunya ... lingeren? Apa ya? Oh! Baju buat dinas lebih mudahnya!” Zeen tampak yakin dengan ucapannya.


“Hah? Baju lingeren? Baju dinas?” gumam Yuna mulai berfikir, dan menjadi sangat penasaran.


“Apa aku coba cari diinternet aja ya? Mungkin jika cari diinternet, penjelasanya lebih mudah ....” gumamnya lagi, dan mengganguk-angukan kepalanya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2