
...***...
Siang ini Zeen sedang berada disebuah Cafe dekat dengan rumah sakit milik Papanya. Ia saat ini sedang berbincang serius dengan Rafli orang yang tengah bekerja dengannya untuk menyelidiki kasus-kasus yang ia pinta. Tentu hubungan keduanya menjadi dekat seperti seorang sahabat karib atau seperti saudara. Itu semua akibat mereka yang selama ini saling bertemu dengan saling berbincang dan mengirim informasi atau juga sesekali sedikit bercanda dengan santai layaknya orang yang sudah lama kenal.
“Sepertinya memang akhir-akhir ini tidak ada hal yang mencurigakan tuan. Saya juga telah mengerahkan beberapa anggota saya untuk tetap stay didekat nyonya Yuna.” Jelas Rafli.
Zeen mengangguk-angguk kepala memahami penjelasan itu.
“Ya ... memang sudah lama sekali kejadian itu terjadi. Terakhir kali teror itu terjadi saat istriku menginjak ular mati dihalaman Papa mertua, dan juga terdapat beberapa paku disana, jika saja istriku saat itu terjatuh maka pasti ....” Zeen mengepalkan kedua tangannya mengingat kejadian jangal yang dialami oleh istrinya itu. Dan informasi itu tentu ia dapatkan dari pengawal yang ia perintahkan untuk menjaga Yuna dari dekat.
Bahkan Yuna belum menceritakan kejadian itu kepadanya sampai sekarang. Dan menurut informasi Yuna memberi perintah kepada pekerjanya untuk tak memberitahu kejadian itu kepadanya, alasannya karena Yuna tak ingin membuat dirinya merasa khawatir. Tentu hal itu membuat Zeen merasa menjadi suaminya tak siaga dan tak bisa menjaga istrinya dimanapun berada selama 24 jam akibat dirinya yang sibuk dirumah sakit.
“Hahhh ... siapapun orangnya, aku pasti tak akan pernah mengampuninya! Beraninya dia meneror istriku!” geram Zeen sampai mencengkram gelas jus yang tadi ia minum dan hampir pecah jika Rafli tak segera menyelanya.
“Lebih baik anda tak perlu terlalu memikirkannya tuan. Biar saya yang akan mengurus masalah ini, jika ada informasi penting maka saya akan segera memberitahu anda.” Timpalnya.
Zeen mengusap kepalanya dengan kasar, “Aku tak bisa berhenti memikirkannya jika orang itu belum tertangkap dan mendapatkan hukumannya, aku tau jika dialah orangnya yang berani melakukan perbuatan ini.”
“Apakah anda benar-benar yakin tuan?”
“Ya!” jawab Zeen langsung. “Siapa lagi kalau bukan dia! Aku baru tahu jika dia benar-benar menakutkan!” terangnya menahan segala emosi.
“Terus selidiki dia Rafli! Selidiki setiap gerak-geriknya, aku tau jika dia memang sedang berdiam diri dan semua yang ia perbuat itu dibantu oleh orang-orang yang ada dibelakangnya.” Lanjutnya.
Rafli mengangguk paham. “Baik tuan!”
Saat Zeen tengah seriusnya, handphonenya tiba-tiba terasa bergetar disaku celananya.
Zeen melihat nama yang tertera pada layar pipih itu, dan terpampang nama istrinya yang akhir-akhir ini memenuhi isi pikirannya.
“Halo sayangku~”
Rafli sampai dibuat mengelengkan kepala saat melihat sang atasan berubah dalam sekejap, yang tadinya sangat dingin mencengkam kini berubah menjadi hangat penuh ekspresi ceria.
“Aku sekarang lagi dirumah sakit mas, aku menelfonmu hanya memberitahu saja,”
“Apa?” Zeen tiba-tiba berdiri dari duduknya sampai berteriak dan hal itu membuat pusat perhatian mengarah padanya.
__ADS_1
“Ehem, tapi kenapa kamu gak bilang dari tadi sayang? Seharusnya kamu bilang kalau mau kerumah sakit, biar aku bisa jemput kamu.” Ucap Zeen.
Terdengar helaan nafas dari sambungan telfon. “Aku udah kirim pesan sama kamu mas ... tapi kamu tak membalasnya, bahkan kamu gak membacanya.”
Zeen terdiam sejenak, lantas dirinya langsung membuka aplikasi WhatsApp dan benar saja jika istrinya itu telah mengirimkan beberapa pesan padanya setengah jah yang lalu.
Zeen kembali berdem, “Maaf sayang. Mungkin aku terlalu fokus jadi tak melihat pesanmu.”
“Tak apa mas, aku ini juga lagi nunggu giliran soalnya banyak yang mau periksa dede bayinya~”
“Tunggu aku sayang! Aku akan menyusulmu kesana!”
“Eh? Gak perlu mas, mas kan lagi sibuk.”
“Tak apa sayang, aku akan menyusul kesana demi istri tercinta. Oke~ see you sayang emuahcc!”
Bahkan saat telfon sudah terputus Zeen tetap saja tersenyum-senyum sendiri yang membuat Rafli melongo melihatnya.
“Aku harus kerumah sakit, istriku tercinta saat ini pasti sedang menunggu.”
Zeen tersenyum mendengar itu, lantas dirinya berdiri dari duduknya dan menepuk pelan bahu kokoh milik Rafli. “Tak apa, kau kan akhir-akhir ini sibuk mengurus urusan yang aku berikan. Maklum lah jika kau tak tahu.”
Rafli mengangguk, “Selamat tuan anda sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.”
Zeen meletakan jari telunjuknya dibibirnya. “Ssst ... ucapan selamatnya ditunda dulu ya, kasi selamatnya nanti karena bayi-bayiku akan lahir dua bulan lagi.” Ucapnya memberitahu.
Rafli mengangguk mengiyakan ucapan itu.
“Okelah, aku pergi dulu.”
Ya, kandungan Yuna tanpa terasa sudah berjalan tujuh bulan lamanya. Tentu semakin naik bulan maka semakin besar pula perut wanita itu. Itu sebabnya Zeen akhir-akhir terus memikirkan istrinya, dan disaat bekerja pun pikirannya terus tertuju pada wajah istrinya.
“My wifi l cooming!” teriak Zeen girang.
Rafli kembali menggeleng melihat itu. “Apakah menikah itu rasanya semenyenagkan itu?” gumamnya bertanya.
🍂🍂
__ADS_1
Yuna saat ini tengah diperiksa oleh dokter Mita, kini wanita hamil itu tengah berbaring dibrangkar yang memang telah dipersiapkan diruang kerja itu.
Mita dengan hati-hati mengerakan alat kedokterannya diperut buncit Yuna. Dokter muda itu tersenyum saat melihat kedua janin Yuna, hal itu tentu tak luput dari pandangan Yuna.
“Bagaimana keadaan mereka dok ...?” tanya Yuna.
Mita menyelesaikan pemeriksaan itu lalu membantu Yuna yang kesusahan untuk bangkit dari baringnya.
Sejenak Mita tersenyum pada Yuna, “Baby twinnya–”
Brak!
Keduanya terkejut lantas langsung menoleh kesamping dimana tepat ditengah-tengah pintu itu terlihat Zeen yang acak adul sedang mengatur nafasnya, mungkin karena akibat ia yang berlari-lari ditengah koridor rumah sakit ditengah ramainya sehingga membuat penampilannya yang awalnya cool itu menjadi seorang pria?
“Sudah tahap penjelasan?” tanya Zeen tanpa ba bi bu.
Refleks kedua wanita itu saling mengeleng.
“Good!” Zeen yang sudah selesai mengatur nafasnya itu berjalan santai dengan gaya super kecenya kearah istrinya, berada.
Kedua wanita itu masih melongo melihatnya, bahkan sampai Yuna yang digendong dan ditaruh dikursi pengunjung itu masih terdiam tanpa ada pergerakan.
Zeen pun ikut duduk disamping Yuna dengan masih gaya sok coolnya.
“Kenapa diam saja? Anda tak ingin menjelaskan kandungan istriku?” tanya Zeen kepada Mita yang masih terdiam ditempatnya.
Mita tersadar, “Eh? Oh um, ya ... saya akan menjelaskannya.” Ucap Mita yang akhirnya duduk dikursi kerjanya dan sekarang tengah duduk didepan kedua pasutri itu.
'Apa benar pria ini yang pernah kusukai dulu?' batin Mita yang tampak mengamati Zeen dengan heran.
“Kenapa malah melihatku? Jangan sampai anda terus melihatku, anda jadi terpincut padaku! Now! Jangan, karena saya sudah punya istri jadi anda tak boleh menyukai saya!” peringat Zeen.
“Mas!” tegur Yuna menyikut lengan suaminya dengan gemas.
“Dulu aku memang menyukaimu! Tapi rasa suka itu sudah hilang dan berganti dengan rasa menyesal saat tahu kau ternyata senarsis ini? Entah kenapa hal itu membuatku geli sendiri melihatnya.” Gumam Mita bersuara lirih.
TBC.
__ADS_1