Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 38


__ADS_3

Dipagi hari yang cerah, seperti biasa Yuna akan selalu berada ditaman besar, milik kediaman rumah Albaret. Ia saat ini tengah menyiram tanaman bunga-bunga yang ada dikediaman itu, kebetulan hari ini murapakan hari liburnya, jadi ia tak berangkat kerja dirumah sakit. ia pun terus menebarkan senyum disetiap langkahnya menuju bunga yang ada disekelilingnya.


Kicauan burung yang saling beradu membuat dirinya semakin tersenyumnya, dengan wajahnya yang bersinar cerah.


Tiba-tiba langkah Yuna terhenti, ketika ia melihat salah satu bunga dipot itu layu dan kering. Yuna pun berjongkok untuk melihat bunga itu.


"Sepertinya bunga ini harus diganti dengan bunga yang lain." gumam Yuna, lalu ia mengambil pot yang agak kebesaran itu dan mencabut bunga yang kering.


Ia pun juga mengganti tanah yang ada dipot dan menggantinya dengan tanah yang baru. Setelah selesai dengan itu, Yuna mengambil satu buah biji bunga dan menanamnya dipot itu.


"Cepat tumbuh, dan menjadi bunga yang cantik ya..." gumamnya menatap pot itu dengan tersenyum.


"Yuna..."


Yuna yang mendengar namanya dipanggil itu, segera bangkit dari jongkoknya. Pandangannya melihat sosok mertuanya yang tengah berjalan kearahnya.


"Ya mah... Ada apa?" tanya Yuna, saat mertuanya itu sudah lebih dekat kearahnya.


"Kamu masih inget kan? Pesan papa kamu yang kemarin, pas waktu kita sarapan bareng." ucap Vina bertanya pada Yuna.


Yuna mengangguk, "Iya mah, Yuna masih inget. Papa berpesan, jika hari ini nenek akan datang kerumah." jawab Yuna.


Vina tersenyum mendengarnya. "Kamu itu beda banget ya, sama Zeen. Mungkin sekarang dia sudah lupa kalo neneknya akan dateng kesini, jam segini aja masi molor dikamar dia." dengusnya.


Yuna terkekeh mendengarnya. "Sepertinya memang begitu mah.." timpal.


"Yasudah, sekarang kamu bangunin dia gih... Bilangin, untuk siap-siap sekarang." ujar Vina.


"Siap mah..." jawab Yuna.


"Yaudah yuk, mending kita masuk sekarang. Kamu juga mandi gih biar wangi."


Yuna mengangguk, setelah itu mereka berjalan bersama dan masuk kedalam rumah.


🍂🍂


Yuna berjalan dan membuka pintu kamarnya yang juga merupakan kamar Zeen, atau bisa dibilang dia hanya menumpang dikamar itu.


Ia berjalan mendekat kearah ranjang, yang disana masih ada Zeen tengah meringkuk didalam selimut tebal itu. Yuna pun sedikit meyibak selimut itu yang menutupi sebagian dari tubuh Zeen. Tiba-tiba Yuna menutup selimut itu kembali, yang hanya menyisakan kepala Zeen yang masih memejamkan matanya.


Yuna mengibas-ngibaskan wajahnya yang terasa panas, padahal ac diruangan itu masih menyala.

__ADS_1


Pipi lembut dan mulus itu sejenak memerah akibat dirinya yang tak sengaja melihat, tubuh telanjang milik Zeen, Ralat! Hanya tubuh atasnya yang telanjang. Karena tubuh bagian bawahnya masih memakai celana, atau celana boker nan pendek dan ketat.


"Apakah dia sudah biasa tak memakai baju ketika tidur?" gumam Yuna, kepalanya terus berfikir liar ketika ia melihat otot perut Zeen yang sangat terbentuk. Sejenak ia meneguk ludahnya.


Yuna yang tersadar dari pikiran liarnya itu, langsung menepuk kedua pipinya."Astaga Yuna... Apa yang kau pikirkan, dasar kau ini." gerutu Yuna, kesal pada dirinya sendiri.


Yuna menghela nafas sejenak, barulah setelah itu, ia membalikkan tubuhnya dan kembali menghadap Zeen yang masih setia memejamkan matanya itu.


Tangan Yuna terulur, dan menyetub bahu Zeen hanya sedikit. Setelah itu mengoyangkannya tak terlalu kencang.


"Mas... Bangun..." ia berucap tak terlalu kencang.


Lagi, Yuna mengoyangkan bahu itu untuk membangunkan Zeen yang masih terlelap itu.


Zeen yang tadinya terlentang, kini membalikkan tubuhnya menghadap Yuna. Yuna yang melihat itu, refleks langsung menarik tangannya kembali.


"Emmm, aku masih ngantuk..." Zeen bergumam dalam tidurnya.


Hela nafas, lagi-lagi keluar dari mulut Yuna. "Kenapa susah sekali dibangunin sih..." gerutu Yuna.


"Yuna..."


Yuna mendengar sebuah teriak dari luar kamarnya, Yuna pun berjalan keluar untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"Iya mah... Ada apa?" tanyanya.


Vina membalikkan tubuhnya, "Gimana, kamu dan Zeen udah siap-siap belum?" tanya Vina dengan gestur yang terlihat, tergesa-gesa.


"Emmm, belum mah.." jawab Yuna kikuk, dengan bibirnya yang gigit kecil.


Vina menepuk jidatnya, dan terdengar helaan nafas dimulutnya. "Yaampun... Emang Zeen belum bangun?" tanyanya yang dijawab gelengan kepala oleh Yuna.


"Emang kebo banget itu bocah satu," gerutu Vina. "Yasudah, biar mama aja yang bangunin dia. Kamu siap-siap aja dulu, karena nenekmu benar lagi sampai kesini."


Yuna mengangguk dan mengikuti Vina yang sudah berjalan lebih dahulu, masuk kedalam kamarnya itu.


Vina yang sudah berada tepat dihadapan Zeen, ia langsung saja berkecak pingangg. Mengeleng melihat putranya yang masih nyaman memejamkan matanya itu. Yuna seketika meneguk ludahnya dengan hati-hati saat melihat mertuanya yang seperti kesal melihat putranya itu, ia tak tahu ibu mertuanya itu akan membangunkan Zeen dengan cara apa. Yang pasti, mungkin dengan cara yang tak biasa~batin Yuna.


Dan benar saja, Yuna seketika dibuat melotot ketika ia melihat mertuanya yang dengan santainya menarik tangan Zeen, dengan kencang sehinga membuat Zeen tersungkur dari kamarnya itu.


Yuna yang melihat itu dibuat meringis, "Pasti sakit sekali itu badannya." gumam Yuna.

__ADS_1


"Aduh..... Pinganggku.... Kenapa sakit sekali.." Zeen mencengram pingangnya yang terasa seperti akan patah. Ia pun meringis kesakitan.


"Kenapa mimpinya sampe jatuh sih?" gerutunya.


Tiba-tiba, tanpa diduga sebuah jeweran menara ditelinga Zeen.


"Aduh.. Aduduhh, kenapa ditarik sih..." Zeen mengalihkan pandangannya menatap seseorang yang ada disampingnya. Zeen pun melotot ketika mendapati mamanya yang tengah menatapnya dengan tatapan garang.


"Mah... Kenapa kuping Zeen ditarik sih..."


"Biarin, biar kamu tau rasa. Ini tuh udah siang Zeen! Udah jam sembilan kamu masih aja tidur enak-enak dikasur kamu." ucap Vina, mode emak-emak yang mengomeli anaknya.


"Yah, ini kan hari libur mah... Masa gak boleh enak-enakkan dikamar sendiri." gerutu Zeen.


Vina yang dibuat kesal itu semakin memelintir telinga Zeen, membuat sang korban memeki kesakitan.


Yuna yang kebetulan masih melihat adegan itu, juga dibuat meringis seketika.


"Akkhhh... Mama jangan ditarik terus... Nanti copot kupingnya..." pekik Zeen, merasakan sakit yang sungguh luar biasa.


"Kamu ini! Beneran lupa atau pura-pura lupa. Kamu gak inget apa pesen papa tempo lalu? Yaampun anak ini...."


"Yah... Apa mah, Zeen gak tau." masih dengan posisi yang sama, Zeen mencoba melepaskan tangan Vina yang masih menjewer telinganya.


"Yuna! Jelasin, biar anak ini mengerti." ucap Vina, pada Yuna yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi.


Zeen pun mengalihkan pandangannya menatap Yuna.


"Ehem, hari ini nenek akan berkunjung dirumah. Mas Zeen." jawab Yuna, sambil meneguk ludahnya.


Zeen melotot, astaga dirinya benar-benar lupa akan hal itu.


"Nah, sudah inget kan?" tekan Vina menatap anaknya yang sedang menundukkan kepalanya itu.


"Maaf mah..." cicit Zeen.


"Memang dasar bandel, yasudah! Kamu ikut mama, mama mau mandiin kamu dikamar mandi mama aja. Biar Yuna yang mandi disini." jelas Vina, langsung menyeret putranya keluar dari kamar itu.


"Hah? Yang bener mah? Zeen gamauuuuu..." pekik Zeen saat sudah keluar dari kamar itu.


Yuna, dirinya mati-matian menahan tawanya. Untung dirinya tak tertawa didepan Zeen, jika itu terjadi bisa berabe masalahnya.

__ADS_1


"Cepet mandi Yun, nanti nenek mau dateng." ucapnya pada diri sendiri, dan langsung bergegas menuju kamar mandi.


TBC.


__ADS_2