
Yuna kembali masuk kedalam kamarnya, walau dia agak kesusahan ketika sedang membuka pintu dikarenakan dia yang tengah membawa nampan berisi baskom air hangat itu.
Ia kembali berjalan mendekat kearah Zeen, tak lupa ia sudah menutup pintu kamar dengan rapat.
Ia lalu meletkan nampan itu diatas meja kecil yang berada tepat disamping ranjang itu, dengan penuh kehati-hatian ia mencelupkan kain yang ia bawa, langsung masuk kedalam baskom, kemudian tak lupa ia memeras air itu. Setelah selesai ia langsung menempelkan kain itu pada kening Zeen yang masih terbaring memejamkam matanya dengan gerakan tubuhnya yang tampak gelisah.
"Semoga cepat sembuh." gumamnya, kembali melakukan kegiatannya yang memberi kompres pada Zeen berulang kali, saat air pada kain itu meresap habis dan kering.
Hingga sampai tengah malam ia masih melakukan kegiatan itu, seolah rasa lelahnya yang tadinya melanda tak begitu penting baginya saat ini.
Melihat Zeen yang sudah memejamkam matanya dengan nyaman, Yuna pun langsung menghembuskan nafasnya lega. Tak ada lagi guratan pada kening Zeen dan juga gerakan gelisah dari tubuh pria itu, tentu saja hal itu membuat Yuna merasa senang. Dan langsung beranjak dari duduknya, kembali melangkahkan kakinya menuju sofa berniat untuk mengistirshatkan tubuhnya yang sudah sangat kelelahan, akibat ia yang terlalu memaksakan diri mengurus Zeen hingga pukul dua dini.
Yuna menarik selimunya dan menutupi dirinya sampai dibagian pinggang, setelah dirasa nyaman ia pun menutup kedua matanya mulai memyelami alam mimpi yang tengah menantinya.
ππ
Pagi menyinari hari, mentari pagi lagi-lagi masuk kecela lubang pada bagian tembok dan jendela itu. Membuat insan yang tadinya tengah nyaman pada tidurnya menjadi terusik, apalagi mendengar suara alaram hanpone entah dari mana asalnya.
"Eugh..."
Seorang pria yang tadinya mencoba bangkit dari baringnya itu, refleks langsung kembali memposisikan dirinya menjadi berbaring lagi dan tak lupa kembali memejamkam matanya. Ia yang ingin mematikan suara alarm dari hpnya itu langsung ia urungkan, entah apa alasannya ia bertingkah seperti itu, ia sendiri pun tak tau. Gerakan tubuhnya lah yang membuatnya seperti itu.
Yuna mengucek-ngucek kedua matanya, mencoba mengumpulkan kesadaran dari tubuhnya yang baru saja bangun dari tidurnya itu. Setelah dirasa sudah terkumpul, ia pun bangkit dari tidurnya. Sejenak merengangkan kedua tangannya, agar tubuhnya terasa segar lagi.
Pandangan Yuna yang tadinya menatap kearah jendela, kini pandangan itu teralih menatap wajah Zeen yang masih memejamkan mata diranjang, berbalut selimut itu. Perlahan, langkah Yuna membawa dirinya kearah Zeen, saat sudah sampai tepat disamping ranjang itu, ia mengamati wajah Zeen kemudian tanpa ia duga tanganya terulur begitu saja, menyentuh dahi pria itu.
__ADS_1
"Hemm, masih panas..." gumam Yuna, kemudian mengatur selimut pria itu yang tadinya berantakan kembali ia benarkah, dan mengangkat selimut itu untuk menutupi tubuh Zeen hingga sedada pria itu.
Setelah selesai dari kegiatannya, ia mengambil nampan yang tadi malam ia gunakan sebagai kompres dan membawanya keluar bersamanya.
Saat mendengar pintu kamar tertutup dari luar, mata Zeen yang tadinya terpejam kembali ia buka lebar-lebar, ia mengalihkan pandangannya menatap pintu itu dan menghembuskan nafasnya seketika. Langsung ia menepuk keningnya dan dibuat terkejut ketika mendapati kain tebal yang tengah menempel dikeningnya.
"Kenapa kain ini ada disini?" tanyanya sambil mengambil kain itu dari keningnya. "Apa gadis desa itu yang melakukan ini? Apa yang terjadi denganku tadi malam?"
Tak ingin terus menerka-nerka pikirannya, ia pun kembali bangkit dari posisinya. Namun, baru beberapa detik ia bangkit, sakit kepala tiba-tiba menerjangnya membuat dirinya mau tak mau memegang kepalanya erat-erat.
Brakk!!
Pintu tiba-tiba saja dibuka secara paksa dan memperlihatkan sosok wanita paru baya berlari tergesa-gesa kearahnya.
Zeen yang mendengar itu, seketika menghela nafas lelah. "Mahh... Jangan heboh gitu dong, Zeen cuman sakit kepala kok..." ujarnya sambil memeganggi kepalanya yang terasa berdenyut sejak tadi.
"Yaampun nak... Biarpun hanya sakit kepala, yang namanya penyakit tuh yah tetep aja penyakit jangan diangep remeh. Kamu yang dokter kok malah meremehkan begitu." dengus Vina kesal.
Zeen lagi-lagi hanya bisa menghela nafas pasrah, maminya itu memang suka sekali bikin kehebohan. Sampai para keluarganya mengumpulkan dikamarnya saat ini, dan matanya tak sengaja bertemu pandang pada Yuna yang hanya terdiam menatapnya, berdiri paling belakang.
Rima yang juga ikut masuk kekamar Zeen itu berjalan mendekat kearah cucunya sambil membawa tongkat kesayangannya, untuk menyangga tubuhnya yang tak bisa berdiri dengan tegap. Ia lalu mendudukan dirinya dikasur Zeen dan menatap cucunya dengan tatapan khawatir.
"Cucuku, kalau sakit dibawa kerumah sakit ya? Atau suruh dokter dari rumah sakit papamu untuk memeriksamu." tuturnya dengan suara lembut.
"Nek... Kenapa repot-repot panggil dokter? Om Albaret kan juga seorang dokter." timpal Firo, yang saat ini menyandarkan tubuhnya didinding samping pintu.
__ADS_1
Rima mendengus mendengar ucapan cucu satunya itu. "Kamu tak ingat? Om mu itu kan dokter anak!"
Firo yang menyadari itu hanya cengegesan, "Oh iya, lupa..." katanya dengan raut santai tak merasa bersalah dengan ucapannya.
"Yaudah sih... Gak usah heboh gitu, kak Zeen sendiri yang bilang hanya sakit kepala dan gak mau kerumah sakit. Ya kita turuti aja dong, kok susah." lanjutnya lagi sambil memainkan ponselnya.
"Lebih baik kau keluar saja Firo, kau hanya membuat suasana rusak saja." usir Rima sangking kesalnya.
Firo mendengus, "Ya, ya, ya. Aku keluar." kesalnya, lantas melirik Zeen sejenak. "Dasar! Yang paling suka dimanjain!" ketusnya langsung berlari keluar dari kamar agar tak kena omelan lagi oleh neneknya.
Rima mengeleng melihat tingkah rusuh cucunya, entah kenapa kepalanya juga ikutan pusing gara-gara cucunya itu. "Abaikan saja ucapan adikmu itu, dia rusuh kayak gitu hanya cemburu saja sama kamu yang dapat banyak perhatian. Jelas dapat perhatian karena kamu sekarang lagi sakit." jelas Rima.
Zeen menghela nafas, "Sudah biasa nek..." jawabannya sambil menyandarkan kepalanya dibadan kasurnya.
"Lebih baik kita kerumah sakit saja ya sayang? Hemm? Mama takut kamu kenapa-napa, kamu kan gak pernah sakit, sekalinya sakit pasti sembuhnya membutuhkan waktu lama." bujuk Vina pada putranya.
Zeen hanya diam, ia saat ini tengah mengerutu dalam hati. Dirinya tak tau lagi harus menolak bujukan itu dengan apa, mamanya ini tak akan menyerah sebelum ia menerima bujukan, rayuannya itu. Sekelebat ide mencul begitu saja dalam kepala Zeen, ia ragu apakah idenya ini akan berhasil atau tidak, namun dia harus mencobanya sebelum ia dibawa kerumah sakit dengan paksa oleh mamanya.
Ia mengangkat tangannya diudara, lantas tangannya mengarah dan mununjuk kearah Yuna. "Zeen gak mau kerumah sakit, biar dia yang merawat Zeen!"
Semua pandangan menatap kearah Yuna, yang ditatap itu malah terbengong, bingung dibuatnya.
TBC.
Ada apa dengan Zeenπ€ why? Kenapa Yuna? Why, why, why.....?
__ADS_1