
...***...
“Mas ...!! Ayo mas! Kenapa manjatnya lama sekali?!” teriak Yuna, yang saat ini tengah berada dibawah pohon dengan berkecak pinggang meneriaki Zeen dengan perasaan tak sabarannya.
Dengan nafas yang ngos-ngosan Zeen terus memanjat sedikit demi sedikit untuk mencapai puncak, “Iya sayang sebentarr! Dikit lagi mas nyampe keatas kamu gak perlu khawatirin mas yang ada diatas ini! Cukup kamu beri semangat dengan memangilku sayang! Lagi maka aku akan semakin berjuang demi kamu!” jawab Zeen yang juga ikut berteriak dengan suara mengebu-gebu.
Zeen mulai kembali mengayun-ayunkan kakinya diantara batang pohon mangga yang besar itu, ia mengira jika ia akan segera sampai pada puncak. Namun entah mengapa puncak itu semakin lama semakin tak tercapai entah kenapa alasannya Zeen pun tak tahu.
“Mana semangatnya sayang?! Ayo beri mas semangat biar mas mu ini segera memberimu sepucuk berlian berupa mangan madu,” teriak Zeen ngasal.
Namun bukanya mendengar kata semangat dari sang pujaan hati, ia malah merasakan jika pantatnya seperti disodok-sodok dari bawah.
“Aw? Kenapa nih? Kok rasanya aneh banget dipantatku?” gumam Zeen namun tangannya masih nampluk dibatang pohon itu.
“Semangat apanya sih mas?! Kenapa kamu manjatnya disitu-situ aja? Mana bisa cepat nyampenya kalau begitu?” teriak Yuna sambil memegang batang kayu yang ada ditangannya untuk menyodok pantat Zeen yang saat itu hanya namplok ditengah-tengah pohon itu namun tak tinggi.
Zeen terdiam sejenak, lalu menolehkan kepalanya dibawah sana dimana ia bisa melihat raut kekesalan yang terpancar dari wajah istrinya. Ia juga heran, kenapa wajahnya bukanya terlihat kecil dari bawah malah terlihat sangat jelas? Kenapa mengapa? Apa saat ini ia benar-benar memanjat pohon atau?
“Kenapa kamu bisa menyodok pantatku sayang? Bukankah aku saat ini sudah berada diatas? Apa kamu juga ikutan naik keatas pohon ini?” tanya Zeen beruntun dengan raut yang tiba-tiba menjadi panik.
Yuna seketika menghela nafas panjang, lali menatap suaminya dengan tatapan malas. Sangat malas sehingga membuat wajahnya tak ada lagi raut antusias seperti tadi.
“Mas apa gak sadar? Coba deh mas lihat kebawah, mas itu bukanya manjat tapi mas itu cuman namplok dipohon mas ... Mas ini ternyata benar-benar gak bisa manjat pohon ya?” ucap Yuna berkecak pinggang sambil mengelengkan kepala menatap suami luknatnya.
__ADS_1
“Apa? Yang benar saja sayang? Aku padahal udah manjat pohon sampai satu jam? Masa belum sampai jauh?” tanya Zeen kebingungan.
Yuna lagi-lagi menghela nafasnya, lalu kemudian beranjak dari tempat itu dan duduk disalah satu kursi halaman disana.
“Terserah mas aja deh!” acuh Yuna sambil melipat kedua tangannya didepan dengan perasaan dongkol.
“Ngambek?” gumam Zeen sambil menatap bingung istrinya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada sepasang suami istri yang tengah melihatnya sambil menertawainya.
“Om, tante, apa Zeen benar-benar tak manjat ya?” tanya Zeen memastikan.
“Iya Zeen, sesuai apa yang dikatakan oleh istrimu, kau saat ini masih saja berada ditempat dan tak maju keatas sedikitpun.” Jawab Sigit sambil mengelengkan kepala.
Zeen kemudian menoleh lagi kebawah dan seketika menghela nafas, karena memang benar apa yang dikatakan oleh pria paru baya itu dirinya saat ini berada tak jauh dari pijakan sana. Dengan perasaan penuh malu ia pun menurunkan kakinya yang masih melingkah dipohon itu. Kemudian ia berdiri menghadap sang istri dengan perasaan kikuk dan malu yang teramat.
Hal itu tentu membuat Zeen terngaga. Bagaimana bisa pria paru baya itu tak bilang sejak tadi? Bahkan dirinya sudah memanjat pohon mangga sudah satu jam lamanya? Beginikah yang namanya kesal tapi tak bisa diungkapkan dengan kata-kata?
Eva yang tahu betul dengan perubahan raut wajah dari Zeen itu kembali tertawa terbahak. Ia merasa kasihan sekali dengan nasi seorang Zeen Albaret yang terkenal angkuh dan datar kini malah takut didepan istrinya sendiri.
“Dasar anak muda ....” gumam Eva mengelengkan kepala.
°
°
__ADS_1
°
“Ini Zeen tangganya, maafin om ya? Om tadi lupa bilang jika ada tangga didalam rumah,” ujar Sigit sambil menyandarkan tangga panjang itu dipohon mangganya.
Zeen tak menjawab, ia hanya memberi senyuman saja, tak tahu harus menjawab apa karena dirinya juga masih merasa kesal pada pria paru baya itu.
Zeen mulai menampaki satu per satu tangga itu, namun tampakan kakinya ia hentikan dan menolehkan kepalanya kebelakang melihat istrinya yang masih terdiam dibangku sana.
“Aku akan mengambilkan banyak mangga untukmu sayang! Tunggulah aku disana!” teriak Zeen dengan senyum terpancar, lalu kembali menampaki tangga itu sampai dirinya mencapai atas pohon itu.
Zeen tersenyum bangga ketika ia berhasil membawa dirinya diatas pohon, dan kemudian ia mulai mencari mangga-mangga yang berada tak jauh dari jangkaunya.
Saat Zeen melihat sebuah mangga yang cukup besar, ia pun segera memetik mangga itu dan kemudian ia taruh didalam bajunya. Sampai beberapa menit berlalu Zeen sudah mengumpulkan semua mangga-mangga didalam bajunya, Zeen pun memutuskan untuk turun karena merasa jika didalam bajunya itu sudah penuh dan membuat bagian depannya menjadi mengembung besar akibat ia yang menaruh buah mangga itu didalam bajunya.
Saat dipertengahan menuju kebawah, dirinya seperti merasakan gatal-gatal pada bagian kulit perutnya. Gatal-gatal itu tak hantu satu kaki saja namun beberapa kali, hal itu tentu membuat Zeen panik dan refleks menarik tangannya dari pegangan tangga untuk mengaruk perutnya yang terasa gatal. Sehingga pada saat itu juga ia baru menyadari apa yang ia perbuat saat ini. Membiarkan tangannya diudara sehingga membuat tubuhnya goyah dan langsung terjatuh dari tangga itu.
“Aaaaa!”
Teriak Zeen mengelegar, sehingga membuat Sigit dan Eva menghampiri Zeen dengan perasaan khawatir melihat pria itu yang jatuh naas dibawah sana.
Yuna pun tak tinggal diam, ia pun berlari menuju suaminya dengan raut wajah yang sudah sangat kalut.
“Mas Zeen? Mas Zeen gak papa? Mana yang sakit mas?” tanya Yuna beruntun, berjongkok untuk melihat kondisi Zeen yang sungguh sangat kasihan berbaring diatas tanah sambil membawa mangga-mangga yang ada didalam bajunya.
__ADS_1
TBC.