
...***...
Saat ini Yuna dan Zeen tengah menuju pusat perbelanjaan, tepatnya mereka akan membeli beberapa baju untuk Yuna kenakan karena baju normal yang dikenakan oleh Yuna hanya satu, dan itu hanya sebuah dres selutut yang menurut Yuna tak nyaman sekali jika dipakai. Itu bagi Yuna kalau bagi orang lain ia tidak tahu.
Zeen pun juga sangat kesal dengan pakaian yang dikenakan oleh Yuna, mengapa ia kesal? Karena gara-gara pakaian itu semua mata lelaki terus tertuju pada Yuna. Mungkin karena kecantikan alami dari Yuna membuat semua mata pria terus tertuju pada gadis itu. Bahkan Yuna sendiri pun tak menyadarinya.
'Ini semua gara-gara Mama dan nenek. Bisa-bisanya mereka dengan teganya hanya membawakan baju selutut dan setipis itu?' batin Zeen dalam hati merasa kesal.
Zeen yang asyik mengerutu itu bahkan tak menyadari jalannya yang berleok-leok membuat dirinya menubruk tubuh Yuna yang ada disampingnya.
“Aww ....” pekik Yuna saat disengol agak keras oleh Zeen.
“Oh!” Zeen tersadar, langsung saja ia memeluk Yuna karena merasa bersalah. “Maaf Yuna ... sepertinya aku tengah melamun tadi,” ujar Zeen.
Yuna menggeleng, “Makanya mas ... kalau lagi jalan jangan melamun terus ... nanti kalau orang lain yang mas tubruk bagaimana? Pasti mas langsung dapat omelan.”
Zeen mengaruk kepalanya yang tak gatal, “Haha, iya .... Yaudahlah kita lanjutkan cari bajunya. Sepertinya disana tokoh bajunya.” Tunjuknya.
Yuna mengangguk, “Iya, ayok mas ....” timpal Yuna, lalu mereka langsung masuk kedalam tokoh itu dengan berjalan beriringan.
Saat sudah masuk kedalam tokoh itu, Zeen dan Yuna mulai memilih baju.
Ketika mereka tengah berjalan terpisah disitulah seorang wanita yang dua jam lalu bertubrukan dengan Zeen, berjalan menghampiri Zeen dengan senyum yang mengembang.
“Halo ....” sapanya pada Zeen, namun Zeen malah menanggapinya dengan menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan. Beranggapan jika wanita itu tengah menyapa orang lain.
“Saya?” tanya Zeen sambil menunjuk dirinya, dan langsung dianguki kepala oleh wanita itu.
Zeen hanya menautkan kedua alisnya dan memilih mengabaikan wanita itu dengan melanjutkan langkahnya kembali.
Namun bukannya merasa tersinggung, wanita itu malah mengikuti Zeen dari belakang tanpa berniat untuk beranjak dari sana.
“Halo ... namaku Mita, apa anda mengenali saya? Saya yang anda tolong tadi loh....” ucapnya dengan nada riang.
“Oh ya? Sepertinya saya tak ingat,” saat menjawab ucapan itu, Zeen tak mengalihkan pandangannya pada baju-baju yang ada didepannya. Hanya menjawab ala kadarnya saja dan tak berniat memberi tahu namanya.
Wanita bernama Mita itu tampak sedikit kecewa, ketika ucapannya setengah diabaikan. Bahkan dirinya yang memperkenalkan nama lebih dulu tak mendapat jawaban nama dari Zeen.
“Ngomong-ngomong anda–”
__ADS_1
“Maaf, saya duluan.” Zeen yang merasa risih langsung menyela ucapan Mita dan berlalu pergi meninggalkan wanita itu, yang tengah menatap punggungnya dari kejauhan.
Mita mengepalkan kedua tangannya dan melihat kepergian Zeen dengan senyum semirk, “Boleh juga tuh cowok!” gumamnya.
🍂🍂
“Mas ... ini apa gak kebanyakan bajunya?” tanya Yuna ketika mereka sudah selesai membeli baju dan berniat untuk pergi memesan makanan, karena perut mereka perlu diisi asupan.
Zeen tersenyum dan mengelus rambut Yuna, “Kebanyakan apa sih? Itu mah cukup buat menginap disini selama satu bulan.” Jelas Zeen sambil menggeleng.
“Hah? Satu bulan?” pekik Yuna terkejut.
“Ya ... satu bulan, kenapa kamu kaget begitu? Bukannya Mama udah kasi tahu kamu sebelum kesini?”
Yuna menggeleng, “Engak ... Mama sama nenek gak ada bilang sama aku ....”
Zeen mendengus seketika, “Yaampun para ibu-ibu itu ... bisa-bisanya menantu kesayanganya tak diberitahu.” Ucap Zeen menggeleng.
“Tapi mas ... bukanya itu terlalu lama ya mas? Bukankah mas juga harus segera kembali kerumah sakit?”
Zeen mengedikan kedua bahunya acuh, “Aku juga tak mengerti sayang ... mereka menyuruh kita untuk berlibur lama, jadi ya nikmati ajalah. Sebelum kita kembali bekerja nanti. Iya kan?” kata Zeen sambil mengedip-gedipkan matanya.
“Oh! Berarti kamu tak suka ya? Kalo berlibur disini bersama aku? Hem?” goda Zeen dan merapatkan diri pada Yuna, namun tak terlalu rapat karena ia tak ingin membuat Yuna sesak kembali gara-gara ulahnya.
“Hahaha, suka kok mas, jangan gelitiki aku ... Aa aku mohon!” pekik Yuna merasa kegelian.
🍂🍂
Sampailah kini mereka berdua didalam sebuah lestoran, dan mulai mengisi perut mereka dengan khidmat dan jangan lupa jika makanan dilestoran itu sangat nikmat.
Setelah selesai dengan acara makan mereka, mereka pun berniat untuk kembali kepenginapan. Karena tubuh yang sudah lelah sekaligus hari yang sudah sangat malam.
“Tunggu disini ya sayang ... aku mau ketoilet dulu sebentar,” ujar Zeen yang memang sudah sangat kebelet dan ingin segera menuntaskan panggillan alamnya.
“Ya mas, aku tunggu disini.”
“Oke, kalo ada apa-apa langsung telfon mas ya?”
“Ada apa-apanya gimana mas?” Yuna tampak bingung.
__ADS_1
“Ya kalau asa cowok iseng atau cowok aneh kayak tadi, langsung telfon mas, nanti aku akan langsung datang menghampiri tuan putri.”
“Iya, iya, sudahlah mas ... cepat sana katanya mau ketoilet?”
Zeen tiba-tiba memberengutkan bibirnya. “Gak mau pergi, rasanya gak rela.” Rengek Zeen lalu memeluk tubuh Yuna dengan erat.
Yuna segera mendorong tubuh Zeen agar pria itu tak terus merengek aneh seperti itu. “Sudah ya mas ... cepat masuk sana, nanti e'ek nya keluar.” Ucap Yuna ngasal.
“Bukan e'ek Yuna ... tapi mau buang air kecil!!!” teriak Zeen mengema, dan langsung berlari menuju toilet karena sudah tak tahan.
“Yaampun kelakuanya kayak anak kecil ....” Yuna mengeleng geli melihat tingkah absurd Zeen.
“Loh? Yuna, kamu ada disini?” tanya seseorang yang membuat Yuna tersentak, lantas langsung mengalihkan pandangannya pada seseorang itu.
🍂🍂
“Hahh, sudah legah, ayok Yun– hemm?”
Alis Zeen mengerut ketika melihat Yuna yang seperti sedang berbincang dengan seorang pria, namun dari perawakannya sangat begitu famikiar dimata Zeen.
“Pasti itu cowok aneh tadi yang gangguin Yuna, awas aja kalo memang benar. Siap-siap aja pingsan ditempat.” Zeen mengulung lengan bajunya, dan bersiap untuk menerjang pria yang dengan beraninya berdekatan dengan Yunanya.
Namun rencananya itu ia urungkan, ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri, pria itu tengah mengusap rambut Yuna. Rambut yang hanya boleh ia sentuh. Hal itu tentu saja membuat Zeen mengeram marah sekaligus kesal ketika pria terus saja menyentuh kepala Yuna.
“Tidak bisa dibiarkan!” sungut
Zeen berjalan cepat kearah mereka.
“Lepaskan tanganmu dari istriku!” teriak Zeen mengelgar.
“Mas?”
Yuna tampak kalut ketika melihat kemarahan yang terpancar pada mata Zeen.
Pria itu yang mendengar suara teriakan dari Zeen, juga ikut mengalihkan pandangannya, namun belum sempat menoleh. Tiba-tiba sebuah bogeman langsung mengenai wajahnya.
“Mas!!” pekik Yuna ketakutan.
TBC.
__ADS_1