
...***...
Mas Zeen?” Yuna refleks menutup mulutnya dengan tangan bergetar. Ia lantas langsung berlari kearah Zeen dan langsung menghadap pria itu itu dengan perasaan resah dan gelisah.
“Ada apa denganmu mas?” tanya Yuna yang kebingungan serta rasa kekalutan yang langsung menyerang dirinya secara bersamaan.
“Akhh! Jangan lihat kemari Yuna, sebaiknya kamu cepat kembali kekamar.” Ucap Zeen yang masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Tapi mas ....” Yuna mendekati Zeen perlahan dan mencoba untuk menarik tangan pria itu yang terus menutupi wajahnya. Namun tiba-tiba saja Zeen menghindar dan membalikkan dirinya kearah lain.
“Mas Zeen ....” Yuna terus mendekati Zeen sehingga terjadilah mereka saling putar memutar, yang membuat seseorang yang tengah mengamati mereka pusing dibuatnya.
“Hei! Kalian berhentilah! Kenapa kalian bertingkah kekanakan seperti itu?!” kesal Firo tak habis fikir.
“Mas ... kenapa kamu menghindari aku?” tanya Yuna mengabaikan ucapan Firo.
“Aku tak mau kamu melihatku saat ini sayang ... lebih baik kamu kembali saja kekamar dan tunggulah aku disana, nanti pasti aku akan menjelaskannya.” Jelas Zeen kalang kabut. Dirinya benar-benar tak mau jika sampai melihatnya dengan keadaannya seperti itu apalagi saat ini ia sedang menjalankan hukuman dari Papanya. Yaitu berdiri berjam-jam diruang tengah sampai Papanya itu datang dan menyudahi hukumannya.
“Tapi mas ....” Yuna menghentikan langkahnya.
“Sayang ... dengarkan mas kali ini saja ya? Sebaiknya kamu kekamar dulu, aku tak ingin kamu melihatku dengan keadaanku yang seperti ini,” ucap Zeen namun tak memandang wajah Yuna ketika berucap. Ia malah membelakangi Yuna sambil menutup wajahnya rapat-rapat.
Firo yang sudah sangat kesal melihat tingkah kedua pasutri itu, segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Zeen.
“Tinggal dibuka tangannya apa susahnya sih?!” Firo menarik paksa tangan Zeen yang saat itu tengah menutupi wajahnya. Dan alhasil wajah Zeen terbuka membuat pria itu terbengo-bengo seketika.
“Nah, lihat nih, suami tersayangmu!” dengan teganya Firo membalikkan tubuh Zeen yang semula memunggungi Yuna, kini berbalik posisi langsung menghadap pada wanita itu.
Kedua insan itu langsung bertemu pandang, yang satu memperlihatkan ekspresi syoknya dan yang satu lagi memberikan ekspresi tercengoh dan membeku ditempatnya.
__ADS_1
“Yu-Yuna?”
“Ma-mas?”
Keduanya tampak kaget, stok, terkejut dan tak tahu harus berkata apa lagi.
“Kau!!” Zeen langsung melototi Firo dengan tajamnya. Sedangkan yang dipelototi itu malah tertawa cekikan sendiri tanpa merasa takut sama sekali dengan sepupunya itu, menurut Firo mengerjai Zeen adalah kesenangan tersendiri baginya. Dan bisa dilihat saat ini, Firo terus tertawa tanpa henti sambil menunjuk wajah Zeen dengan perasaan gelinya.
“Berapa kalipun aku melihat wajah kakak, tetap saja aku ingin tertawa, bahkan tawaku ini tak tahu akan berhenti kapan? Huahahahaha ....” dengan tawa yang super kencang itu mampu membuat para pelayan berdatangan, namun hanya sekedar melihat dari kejauhan dengan suara yang dibisik-bisikan tak berani jika berkomentar secara langsung didepan majikannya.
Namun bukan berarti persembunyian mereka tak akan terlihat. Buktinya Zeen bisa melihat para pelayan itu yang tengah memandagnya dengan tatapan aneh dan berbisik-bisik sambil menertawainya. Mungkin karena wajahnya saat ini yang sangat terlihat unik dengan hiasan warna membentuk kesulurah wajahnya, bahkan yang awalnya bibir tipisnya yang terlihat seksi itu, kini tampak terlihat sangat tebal akibat warna lipstik merah merona seperti darah membuat bibir itu seperti tersengat lebah/tawon.
“Kalian semua!” teriak Zeen pada para pelayan itu. Membuat para pelayan tersentak kaget dan langsung menundukkan pandangannya.
“Bisa-bisanya kalian malah bergosip disini?! Kalian berniat kerja atau tidak? Hah? Jika tidak maka aku sendiri yang memecat kalian sekarang juga!” teriak Zeen dengan suara tegas dan mengertak membuat para pelayan yang tengah bersembunyi langsung berhambur sendiri-sendiri, dan meninggalkan tempat itu dengan perasaan resah dan gelisah.
Zeen kembali melirik sepupu laknatnya dengan tatapan tajam, “Dan kau! Jika kau masih saja tertawa, maka aku sendiri yang akan memotong mulut jelekmu itu!” tekan Zeen menebarkan aura dinginnya.
“Berani kau ya?!” Zeen langsung melangkahkan kakinya menuju Firo.
“Eh? Aku akan menutup mulutku, lihat ini!” Firo seolah memperlihatkan bibirnya dikunci dengan gembok, lalu mengayunkan tangannya seolah membuang kunci itu.
“Aku tak akan puas jika kau masih ada disi–”
“Ada apa ini?!”
Sura bariton yang penuh ketegasan membuat Zeen langsung menghentikan langkahnya, dan membalikkan tubuhnya kearah sumber suara itu.
Pemilik suara bariton itu tak lain dan tak bukan adalah Albaret, yang saat ini berjalan menuju ruang tengah, dan jangan lupakan Vina yang juga berjalan berdampingan dengan suaminya dengan mengandengkan tangannya.
“Papah ....” bak anak kecil, Zeen berlari dengan gerakan kemayunya kearah Papanya dengan ekspresi yang dibuat-buat sedih.
__ADS_1
“Papah, sudahilah hukuman menyakitkan ini! Papa handa apa tak merasa kasihan dengan putramu ini yang akan meneruskan kerajaan kelak?” ucap Zeen mendramatis.
Albaret dengan angkuhnya mengangkat dagu setinggi mungkin, “Biarlah kamu merasakan hukuman menyakitkan ini. Biar kamu tersadar, jika perbuatanmu itu membuat dirimu durhaka kepadaku dan kepada Mama handamu.”
Bak drama lakon antara putra mahkota dan raja angkuh, membuat suasana menjadi sunyi. Bahkan Yuna yang masih ada disana itu hanya bisa terbengo, termenung dan tercengoh.
Sedangkan Firo hanya bisa memutar bola matanya malas, dan lebih melanjutkan kembali bermain game dilayar pipihnya itu.
Plak! Plak!
Suara tamparan dua kali itu sangat nyaring dipendengaran. Albaret dan juga Zeen saling mengusap pipi mereka yang sudah merah akibat Vina sang ibu negara yang menampar mereka dengan perasaan gemasnya.
“Dasar bocah kecil, bau aki-aki. Sudah tua gak ingat umur!” gerutu Vina, dan dengan santainya ia berjalan menuju ruang tengah dan mendudukan dirinya disalah satu sofa disana.
“Sini sayang, kamu disini sama Mama,” ucap Vina dengan nada lembut. Menyuruh menantunya agar duduk disampingnya. Yuna pun tentu menurut dan langsung duduk disamping Vina.
“ Biarkanlah bocah-bocah tua itu bermain barbie, kita ibu-ibu cukup bergosip saja.” Ucap Vina santai dan mulai asyik bercerita dengan Yuna.
Albaret dan Zeen saling berpandangan. Lalu memandang wanita mereka dengan mulut menganga.
“Pah! Hukumanku sudah selesai kan? Aku jengkel seperti ini terus Pah, apalagi setelah dilihat oleh istriku, sungguh harga diriku langsung jatuh. Aku sudah kapok dan tak akan bersikap usil lagi Pah. Jadi maafkan Zeen ya pah?” rengek Zeen sambil menatap Papanya dengan tatapan memohon.
Albaret menatap wajah putranya sekilas, ada rasa ingin tertawa ketika melihat wajah Zeen, namun sekuat tenaga ia menahannya.
“Baiklah, hukumanmu Papa cabut. Papa tak tega sekali melihatmu menderita,” jelas Albaret sambil mengusap sayang punggung putranya.
“Serius pah?!” pekik Zeen kesengan dengan wajah yang berbinar-binar, ia sungguh tak sabar sekali untuk membersihkan wajahnya dengan menggunakan scincare andalannya agar ketampanannya itu terus terpancar. Tentu ketampanannya hanya untuk wanitanya seorang.
“Ya ....” jawab Albaret mengangguk, namun bersamaan itu bibirnya juga tersenyum samar sehingga Zeen tak dapat melihatnya.
TBC.
__ADS_1