
“Menurut informasi yang saya dapatkan! Nyonya Lena terbukti jika beliau sedang mengalami depresi berat sehingga membuat mental wanita itu menjadi terganggu, sehingga menyebabkan beliau menjadi gila!” jelas Rafli yang membuat Zeen langsung memanut manut mengerti.
“Jadi? Sudah tak ada lagi kan orang yang ingin berniat jahat kepada istriku? Jika ada langsung saja habisi orang itu, karena aku tak mau jika istriku kembali celaka.
“Ya tuan! Saya sudah mengerjakan semua yang anda perintahkan, dan sesuai yang saya katakan jika tak ada kejadi jangal lagi! Jadi anda sudah taj lerlu khawatir lagi!” jelasnya lagi.
Setelah selesai dari sarapannya, Yuna bangkit dari duduknya. "Mah... Aku kekamar dulu ya. Mau anterin makan buat dokter Zeen." ucap Yuna.
"Yuna... Yuna sudah menikah kan?" tanya Vina.
Yuna menautkan kedua alisnya merasa bingung. "Iya mah?" jawab Yuna. Walau pertanyaan dari mertuanya itu terasa ambigu.
"Trus itu tadi kenapa? Kok panggil suami kamu malah dokter Zeen." Vina mengeleng sambil terkekeh pelan. "Zeen bukan dokter kamu Yuna... Zeen itu sekarang suami kamu. Jadi jangan panggil dokter lagi ya? Pake sebutan apa saja yang penting jangan dokter Zeen, nanti orang yang denger ngiranya kamu pasiennya." jelas Vina masih dengan tawa kecilnya.
Yuna menganguk paham, dan menunduk malu."Iya mah... Nanti Yuna coba ganti panggilan lain." cicit Yuna.
Vina tersenyum. "Nah gitu dong.."
"Mah.. Papa berangkat dulu ya, papa udah selesai makannya." ucap Albaret bangkit dari duduknya.
"Iya pah... Ini tasnya."
Albaret menerima tasnya, setelah itu Vina mengecup punggung tangan sang suami dibalas kecupan dahi oleh Albaret.
"Papa berangkat dulu ya Yun.." ujar Albaret berpamitan pada menantu barunya itu, namun hal tak terduga baginya membuat ia sedikit terkejut. Pasalnya Yuna dengan beraninya mengecup punggung tangannya, seperti apa yang dilakukan sebelumnya oleh sang istri.
"Iya pah... Hati-hati dijalan." jawab Yuna dengan senyum manis yang terbit dibibir mungilnya itu.
Hati Albaret tiba-tiba menghangat mendapat sambutan yang tak terduga dari menantunya itu, kemudian ia tersenyum membalas senyuman Yuna. Dan mengusap kepala Yuna dengan pelan.
"Putri papa." gumam Albaret, ia merasa seperti punya anak perempuan dikeluarganya. Dan itu, entah mengapa membuat Albaret sangat bahagia.
Yuna yang mendapat elusan kepala itu, mengembangkan senyumnya kembali.
"Yaudah papa berangkat ya... Assalamualaikum." salam Albaret, lalu melangkah pergi untuk menuju rumah sakit.
"Waalaikum salam!" jawab Yuna dan Vina berbarengan.
"Yaudah mah... Yuna tinggal keatas dulu ya, abis nganterin sarapan buat mas Zeen biar Yuna yang cuci piring-piring ini." ujar Yuna yang tanpa sadar menyebut Zeen dengan sebutan mas.
Vina yang mendengar itu pun tersenyum. "Yaudah... Sana keatas! Nanti cuciannya biar bibi yang beresen, Yuna gak perlu lagi cuci piring karena itu sudah ada yang kerjain." jelas Vina.
"Tapi kan mah.."
"Udah... Dengerin apa kata mama hemm? Udah, kamu kekamar sana. Mungkin suami kamu udah kelaparan disana." upa Vina menyuruh Yuna untuk menghampiri Zeen.
Yuna menghela nafas sejenak, "Yaudah ma... Yuna tinggal ya."
Setelah itu Yuna melangkah menuju kamarnya yang juga merupakan kamar Zeen, tak lupa ditangannya sudah ada sepiring nasi beserta lauk dan air minum. Diletakkan dalam satu nampan.
Vina terus menatap punggung menantunya, dengan senyum yang terus mengembang. "Huh... Entah kenapa rumah ini berasa hidup. Mungkin berkat Yuna ya?" gumamnya sambil mengeleng-gelengkan kepala.
🍂🍂
Ceklek...
Tanpa mengetuk pintu Yuna langsung saja masuk kedalam kamar itu, dan ia lihat Zeen yang sudah rapi dengan tubuhnya yang berbalut kemeja berwarna biru nafi disertai dasi yang bermotif biru putif. Membuat seorang Zeen yang sudah tampan, kini ketampananya pun makin bertambah.
Yuna sejenak tertegun melihat penampilan Zeen, sehingga suara bariton tiba-tiba membuatnya buyar dari lamunnya.
"Kenapa kamu?" ya, suara itu berasal dari Zeen yang menatap Yuna melalui pantulan cermin.
Yuna sejenak meneguk salifanya, dan berusaha menertalkan rasa gugupnya. Ia kemudian berjalan mendekat kearah Zeen, dan meletakkan nampan berisi nasi itu dimeja kecil yang memang sudah disediakan disana.
"Ini sarapan, buat mas Zeen. Aku tau mas pasti belum sarapan." ucapnya, tak lupa senyum manis yang masih mengembang dibibirnya itu.
Zeen tertegun mendengar kata 'mas' yang terucap keluar dari bibir Yuna. Zeen membalikkan tubuhnya dan menghadap kearah Yuna, kembali! Ia dibuat tertegun ketika melihat senyum Yuna yang memang begitu manis dimata Zeen, senyum itu yang ia lihat waktu sebulan yang lalu. Ketika ia mendapat tugas menjadi dokter didesa dan bertemu Yuna disana, Zeen tak menyangka jika dirinya bisa melihat senyuman itu kembali.
"Mas! Sarapannya dimakan dulu ya, biar pas kerja dirumah sakit nanti gak kelaparan." tutur Yuna dengan suara lembut, sepertinya Yuna telah melupakan kejadian waktu malam. Saat Zeen dengan lantangnya, mencemoh dirinya, menghinanya dan meninggalkan dirinya begitu saja.
Zeen kembali menetralkan dirinya. Dan kembali menatap Yuna dengan tatapan datar seolah sedang malas menghadapi wanita yang ada dihadapannya itu.
"Aku tak butuh sarapan! Melihat wajahmu saja membuatku mual. Gimana jadinya jika aku makan dihadapanmu? Mungkin nasinya akan keluar lagi melalui mulutku." ucap Zeen dengan melirik sinis kearah Yuna.
Yuna menghela nafas, "Yasudah.. Jika memang begitu, saya akan keluar dari kamar ini. Biar mas bisa menikmati sarapannya." ucap Yuna yang ingin berlalu pergi, namun suara Zeen menghentikan langkahnya.
"Hei, gadis kampungan! Aku tak butuh sarapan dari mu. Bawa itu kembali, aku tak akan berselera jika makanan itu dari mu." ucapnya dengan angkuh.
Lagi-lagi Yuna menghela nafas, namun helaan nafasnya terasa begitu panjang. Yuna pun akhirnya menuruti perkataan Zeen, ia mendekat kearah meja dan mengambil nampan itu. Saat ia ingin berjalan menuju keluar tiba-tiba suara Zeen menghentikannya lagi.
"Kenapa kau memangilku dengan sebutan mas? Heh... Kau merasa jika kau sudah mulai dekat dengan ku ya?" ucap Zeen sambil berdecih sinis.
Yuna membalikkan tubuhnya menghadap kearah Zeen. "Lantas saya harus memanggil mu apa? Saya memanggil dokter Zeen, dengan sebutan mas itu semua karena mama yang menyuruh." jelas Yuna.
Zeen kembali berdecih, "Jangan membawa-bawa mama, dengan dalih alasan mu itu."
"Hahhh... Terserah apa kata kamu saja. Saya akan tetap memanggil dokter dengan sebutan mas, karena ini semua demi mama." ucah Yuna, kemudian melanjutkan langkahnya.
"Kau tak akan bertanya tentang dimana aku semalam?" tanya Zeen dengan sedikit berteriak.
Kali ini Yuna tak membalikkan tubuhnya kembali, ia memejamkan matanya sejenak. "Saya tidak tau kemana semalam mas pergi.... Tapi asal mas tau, jika mas ingin pergi kemana pun, dan dimana pun saya tak akan mencampurinya, sekalipun! Jika mas menemui kekasih yang mas sangat cintai itu, saya tak akan berkomentar apa pun. Karena saya hanya gadis kampungan yang asing dimata mas!" setelah mengatakan itu, Yuna benar-benar melangkah pergi dari kamar itu. Ia bahkan tak menengok sekalipun kearah Zeen, bahkan melirik saja tidak.
Zeen yang mendengar ucapan dari Yuna sedikit tercengang. Pasalnya baru kali ini Yuna berkata panjang lebar dan mampu menusuk keuluh jantungnya.
"Sialan aku merasa terhina." umpat Zeen merasa kesal.
Tiba-tiba senyum miring terbit dibibirnya, "Kita lihat saja Yuna.... Seberapa kuat kau mempertahankan rumah tangga ini." gumam Zeen tersenyum sinis.
Setelah mengatakan hal menyakitkan pada Yuna, Zeen memilih untuk pergi keclup tempat biasanya ia nongkrong. Dan menghabiskan waktunya ditempat haram itu, ia meninggalkan Yuna begitu saja padahal malam ini merupakan malam pertama setelah ia menikah.
Namun hal itu, seakan tak begitu penting bagi Zeen.
"Bodo amat tentang malam pertama, mau malam pertama gimana kalau pengantinnya bikin aku muak banget ngeliat wajah sok polosnya itu, mending ketemu Laura aja." gumamnya, lalu mengedarkan pandangan mencari sosok sang kekasih.
Ketika Zeen menemukannya, ia lalu berjalan kearah Laura berada."Hai sayang." ujar Zeen saat sudah sampai tepat disamping Laura.
Laura yang mendengar suara Zeen mengalihkan pandangannya dan tersenyum kearah sang kekasih. "Sayang... Ternyata kamu menepati ucapanku tadi ya..." ucap Laura, setelah itu ia berdiri dari duduknya dan mengecup singkat bibir Zeen.
Zeen menggiring sang kekasih untuk duduk kembali, "Tentu saja dong... Apa sih yang enggak buat kekasihku ini." Zeen kemudian menyentuh pipi Laura dan mengelusnya dengan lembut.
"Trus... Gimana dengan istri kamu itu? Kamu kan baru nikah... Seharusnya sekarang kamu lagi enak-enak sama dia... Ini kan malam pertama kamu." kata Laura bertanya.
Zeen mendengus mendengarnya, "Tolong minuman seperti biasa." ujar Zeen pada pelayan bar clup itu.
"Siap tuan." jawab pelayan itu.
"Gimana mau malam pertama? Aku aja gak minat banget sama dia... Aku tuh gak bernafsuh sama gadis desa yang kampungan kayak dia." ucap Zeen dengan nada malasnya, karena membahas tentang Yuna.
Laura tertawa mendengarnya, "Yaampun... Sayangku ini kok tega banget ngomongnya." ucap Laura dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Zeen.
Zeen menarik pinggang Laura untuk lebih dekat dengannya, "Biarin... Lebih baik aku malam pertama denganmu dari pada dengan gadis desa itu. Kau yang membuatku lebih bergairah..." bisik Zeen dan mengecup singkat leher jenjang milik sang kekasih.
Laura tertawa. "Aku sungguh terharu sayang... Walau kau sudah menikah, tapi dirimu lebih memilih datang kesini dan menemui diriku. Aku sangat tersanjung sayang.."
Mereka berdua saling berbicara dengan mendekatkan wajah mereka, sehingga tak ada jarak diantara mereka. Bahkan hidung mereka pun saling bergesekan.
"Tentu saja aku lebih memilih mu Laura... Kau adalah kekasihku, kau adalah bagian dari cintaku. Dan itu untuk selamanya." ucap Zeen, setelah itu ia menerjang bibir Laura dan mengecapnya dengan sempurna. Bahkan pelayan bar disana sangat merasa malu melihat adegan ganas itu, pelayan itu lebih memilih diam dan meletakkan minuman yang tadi dipesan oleh Zeen.
Sebenarnya bukan hanya Zeen yang melakukan adegan tak senonoh itu, melainkan beberapa orang yang ada dibar clup itu juga melakukan hal serupa. Bahkan ada yang membawa pasangan mereka masuk kedalam kamar yang sudah disediakan oleh pemilik bar itu.
Zeen melepas ciumannya karena merasakan nafas Laura sudah ter engah-engah. Mereka berdua meraup udara dalam-dalam untuk mengisi oksigen mereka kembali.
Zeen melempar senyum pada Laura. "Bagaimana kalau kita minum dulu, hemm?" ujarnya lalu mengangkat gelas yang berisi menuman anggur.
Laura membalas senyum itu. "Tentu saja... Cress" ucap Laura bersulang pada gelas milik Zeen.
"Cress.." Zeen membalasnya, dan mulai menyesal alkohol itu.
__ADS_1
Setelahnya mereka hampir menghabiskan beberapa botol, dan membuat mereka berdua dilanda kemabukan.
Dirasa sudah sangat mabuk, Zeen mencoba bangkit dari duduknya walau tubuhnya sedikit lunglai. Ia menghampiri Laura yang sudah terkapar tak berdaya dan menelungkapkan kepalanya di eja bar itu.
"Sayang..." Zeen mencoba membangunkan Laura dengan mengoyangkan tubuh seksi itu.
"Umm.." Laura melenguh dalam tidurnya.
"Bangun yuk... Kita pergi aja disini, sepertinya kamu butuh istirahat." kata Zeen, ia lalu mengangkat tubuh Laura dan membopongnya pergi dari bar clup itu.
🍂🍂
Tit.. Tit.. Tit..
Kode masuk untuk membuka pintu apartemen, setelah menekan tombol itu. Pintu itu otomatis terbuka.
Zeen kembali membopong Laura masuk kedalam apartemen itu, kalian pasti bertanya-tanya siapa pemilik apartemen itu? Apartemen itu merupakan apartemen milik Laura yang sebelumnya milik Zeen, tapi Zeen memberikan apartemen itu pada kekasihnya agar dirinya bisa leluasa bertemu dengan Laura.
"Kita sudah sampai sayang... Bersihkan dirimu terlebih dahulu. Setelah itu kau bisa istirahat." ucap Zeen dan membawa Laura duduk disofa itu.
"Umm.."
Saat Zeen berhasil membopong Laura disofa, tiba-tiba Laura menarik dirinya dengan kuat sehingga mereka berdua ambruk disofa itu. Zeen menindih tubuh Laura dengan Laura yang berbaring dibawahnya.
Zeen tertawa. "Yaampun sayang... Sepertinya kau benar-benar mabuk hari ini." ujar Zeen dan mengelus rambut dengan lembut milik sang kekasih.
"Jangan pergi ya sayang... Kamu disini aja, hari ini aku mau dipuasin sama kamu." walau ucapan Laura sedikit tak jelas, namun Zeen dapat memahami ucapan itu.
"kamu sangat lelah hari ini sayang... Jadi, lebih baik kamu istirahat aja ya?"
Mata Laura yang tadinya terpejam, kini terbuka dan menatap Zeen dengan sayu. "Gak mau sayang... Kamu disini aja ya? Temenin aku malam ini, mau ya? Plissss" ucap Laura memohon pada Zeen.
"Tapi Laura.."
Belum sempat Zeen menjawab, tiba-tiba Laura menyambar bibir Zeen dan mendecapnya dengan bruntal. Zeen yang mendapati itu, mau tak mau mengikuti sensasi yang diberikan oleh sang kekasih. Mereka pun kembali mengulangi adegan itu seperti saat mereka berada dibar clup, namun kali ini berbeda. Zeen dengan penuh hasratnya mencumbui leher Laura, sehingga membuat wanita itu mend***h menerima cumbuan dan seketika membuat dirinya terbang melayang.
Tak hanya itu, Zeen melucuti pakaian Laura sehingga hanya menyisakan dua kain yang hanya menutupi benda indah itu. Setelah melepas pakaian milik sang kekasih, Zeen kemudian melepas pakaiannya dan hanya menyisakan celana boxer miliknya.
Laura yang melihat tubuh indah milik Zeen, tersenyum kesenangan. Ia lalu menyentuh dada Zeen dan menyusuri tangannya pada perut sixpack yang sangat memanjakan mata itu.
"Tubuh mu sangat indah sayang... Dan ini hanya milikku." ucap Laura yang diberi senyuman oleh Zeen.
Kemudian mereka berdua melakukan kembali adegan panas itu, Zeen dengan bruntalnya meremas kedua bukit milik sang kekasih.
"Ah..." satu des**n lolos dibibir itu, membuat Zeen yang mendengarnya tentu saja sangat bersemangat.
Setelah mereka berdua melakukan pemanasan, kalian semua pasti tau apa yang akan dilakukan oleh sepasang manusia itu.
🍂🍂
Disisi lain, Yuna yang masih belum memejamkan matanya melihat kearah jam dinding yang tertera disana. Jam sudah menunjukan angka 23:56 yang artinya sudah sangat larut malam.
Yuna menghela nafasnya, ia sedari tadi menunggu kepulangan Zeen. Tapi sosok lelaki itu belum juga menampakkan dirinya.
"Dimana dokter Zeen? Apakah sekarang.... Dirinya tengah bersama kekasihnya?" gumam Yuna bertanya pada dirinya sendiri.
tujuan, Zeen menghentikan langkahnya tepat pada pintu ruangan.
"Sayang... Kamu tunggu didalam aja ya? Nanti aku nyusul kamu kedalam, setelah antar Yuna keruangan papa." ujar Zeen pada Laura, tak lupa ia mengeluh pipi kekasihnya itu.
"Hemm, yaudah deh kalo gitu. Aku masuk dulu ya, muach.."
Laura mengecup pipi Zeen sekilas dan berlalu masuk kedalam ruangan itu, yang bisa dikatakan jika itu ruangan pribadi milik Zeen.
Setelah melihat Laura masuk kedalam ruangannya, ia lalu membalikkan tubuhnya dan menghadap pada Yuna dan memasang wajahnya menjadi datar.
"Ikuti aku, kita keruangan papa." ucap Zeen pada Yuna, ia tak menunggu respon dari Yuna dan memilih melangkahkan kakinya lebih dahulu.
Yuna terdiam sejenak, kemudian ia melangkahkan kakinya dan mengikuti langkah kaki Zeen dari belakang.
"Masuk!"
Gagang pintu itu dibuka dan memperlihatkan papanya yang tengah fokus pada dokumen yang ada ditangannya itu.
"Pah.." ucap Zeen dan membuat papanya mengalihkan pandangannya kearah putranya itu.
"Oh? Kenapa Zeen?" tanyanya.
"Kemarin papa nyuruh Yuna untuk datang kerumah sakit."
"Oh, iya papa hampir lupa!" ucap Albaret seketika menepuk keningnya.
Zeen menghela nafas, "Yasudah kalau gitu Zeen pamit dulu Pah, masih ada pasien yang harus Zeen periksa." ucap Zeen pada papanya.
"Gak mau nunggu dulu?"
"Apanya yang mau ditunggu? Zeen juga sibuk pah..."
"Yasudah kalau itu maumu, pergi aja sana, hus.. Hus.." ucap Albaret ketus dan menyuruh anaknya segera keluar dari ruanganya, namun terkesan seperti mengusir.
Zeen mendengus melihat tingkah papanya itu, ia tak mau menjawab dan lebih memilih untuk keluar dari ruangan itu. Sebelum Yuna menghentikan langkahnya.
"Tunggu, dokter Zeen!" cegat Yuna.
Zeen melirik sinis kearah Yuna. "Apa lagi?" tanyanya ketus.
Yuna mengambil sesuatu dari tas yang agak kebesaran itu, kemudian ia mengeluarkan sebuah kotak makanan dan diberikanya pada Zeen.
"Ini bekal buat dokter, biar pas istirahat bisa dimakan." ucap Yuna yang langsung memberikan kotak bekal itu ditangan Zeen.
"Kenapa kau repot-repot membawakanku ini?" ucapnya sambil menenteng kotak itu setinggi kepala Yuna.
"Zeen!"
Suara bariton itu berasal dari papanya.
"Yang sopan kalo ngomong, kalo dikasi istrinya itu ya harus diterima dong... Kalo papa yang jadi kamu. Papa mungkin langsung bersyukur menerimanya, mama aja loh yang dirumah aja gak pernah tuh ngasi papa bekel. Tapi ini Yuna yang juga ikut kerja masi nyempetin buat bekel, untuk diberikan pada suaminya." oceh Albaret yang terus menyindir putranya itu.
Zeen lagi-lagi mendengus sebal kala mendengar ocehan dari papanya itu. Ia lalu berjalan meninggalkan ruangan itu dengan keadaan kesal.
Pintu ruangan itu ditutup agak keras dan sedikit menimbulkan suara debuman pada pintu itu.
Albaret yang melihat tingkah putranya itu hanya bisa mengelengkan kepalanya.
"Maafin putra papa itu ya Yun... Zeen emang kadang-kadang bersikap kekanak-kanakan, jadi kamu yang sabar-sabar aja ya Yun.." jelas Albaret.
Yuna memandang papa mertuanya itu dengan senyuman, "Gak pah... Nanti Yuna juga terbiasa kok." jawab Yuna.
Albaret menghela nafas, "Syukurlah kalau begitu, mari, jangan berdiri aja disana. Duduk disini didepan papa." ucap Albaret menyuruh menantunya untuk duduk dikursi depan, tepat didepan meja kerjanya itu.
Yuna menganguk, dan berjalan kearah kursi itu dan mendudukinya.
"Oh iya pah... Yuna juga bawa bekal buat papa, kebetulan Yuna bawa tiga kotak." ujar Yuna sambil mengeluarkan kota bekal yang agak besar dan diberikan pada ayah mertuanya itu.
"Wah... Papa juga dapat nih? Gede lagi kotaknya, tadi papa liat kotak punya Zeen agak kecil. Wah... Papa merasa seperti diistimewahkan, hahahaha..." ucap Albaret diiringi tawanya.
Yuna ikut tertawa mendengar celetukan ayah mertuanya itu. "Bener kata papa, yang lebih tua harus diistimewahkan."
Albaret yang mendengar itu merasa terharu, walau hanya seorang menantu. Yuna sudah ia anggap seperti putrinya sendiri, seperti halnya dengan istrinya. Ia melihat jika gadis yang sudah jadi menantunya ini memiliki hati yang lembut dan baik hati, ia merasa tak salah jika menjodohkan putranya dan menikahkannya pada seorang Yuna itu. Yuna memang hanya gadis desa, namun gadis desa itu memiliki keistimewaan dan pesona tersendiri, dan hanya orang tertentu yang bisa melihat keistimewaan itu.
"Papa jadi terharu dengannya, makasih ya Yun... Bekalnya nanti pasti papa makan."
Yuna menganguk senang, dan lagi-lagi memperlihatkan senyum manisnya itu.
"Oh iya pah... Yuna nanti kerja dibagikan mana?" tanya Yuna pada Albaret.
Albaret tampak berfikir. "Kata Zeen dirumah sakit ini kekurangan anggota. Papa pengen kamu jadi asisten Zeen buat ngebantu dia ngurusin pasienya, gak papa kan Yun?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya pah, Yuna gak papa."
"Hemm, papa mau tanya, dulu Yuna kerja didesa jadi perawat juga? Perawat langsia ya?" tanya Albaret lagi.
"Iya pah, Yuna jadi perawat langsia. Tapi Yuna ngerasa seneng karena Yuna ngerasa kayak ngerawat nenek Yuna sendiri. Tapi Yuna kadang juga ngerawat pasien lain, selain pasien langsia." jelas Yuna, yang dianguki kepala oleh Albaret.
"Oke, kalau begitu, papa putuskan kamu jadi perawat langsia sebagian dan jadi asisten Zeen ketika dia membutuhkan. Bagaimana Yun? Kamu setuju?"
Yuna menganguk antusias, "Iya pah... Yuna setuju."
"Good, mantu papa pinter!" ucap Albaret yang langsung mengundang gelak tawa oleh Yuna.
🍂🍂
Disisi lain, Zeen yang baru saja keluar dari ruangan papanya itu masih menyimpan kekesalnya. Ia menghentikan langkahnya dan melihat kotak bekal yang ia bawa. Seketika ia menjadi kesal kembali ketika melihat kotak itu.
"Hei kamu!" teriak Zeen memanggil seorang Ob yang sedang mengepel lantai itu.
Ob itu menengok kearah Zeen dan berjalan kearahnya.
"Iya dok? Dokter memanggil saya?" tanya Ob itu.
"Iya, nih... Buat kamu sarapan. Ini saya kasi kekamu." kata Zeen menyerahkan kotak bekal itu pada Ob.
Ob itu kebingungan. "Beneran ini dok?"
"Iya, jangan banyak tanya! Jika tidak mau, kamu bisa membuangnya ketempat sampah." ucap Zeen.
"Eh? Enggak dok. Biar saya makan saja, sayang kalau dibuang nanti mubazir.."
Zeen melirik bekal itu sekilas. "Yasudah, kembali bekerja sana!"
"Iya dok, kalau begitu saya permisi." ucap Ob itu dan meninggalkan Zeen disana.
"Bodo amat lah... Mending samperin Laura." ucap Zeen acuh, dan melanjutkan langkahnya kembali menuju ruangannya.
Hari pertama Yuna menjalani pekerjaan sebagai perawat rumah sakit, walau hanya membantu mertuanya untuk menggantikan kekurangan pegawai dirumah sakit itu. Namun ia tetap merasa senang, ia sungguh senang ketika melihat keadaan para pasien yang mulai siluman dari sakitnya dan membantu mereka dengan perasaan sabar dan ikhlas. Tiada hari menyenangkan selain membantu orang yang tengah kesusahan, betapa mulianya hati seorang gadis desa itu yang kini gelar sebutan 'gadis' itu sudah dilepas karena karena ia saat ini sudah bersetatus sebagai istri dari dokter Zeen pemilik rumah sakit itu. Walau wanita seutuhnya belum melekat pada dirinya.
"Nak... Kamu perawat baru disini ya?" tanya seorang wanita paru baya, yang saat ini tengah mengecek keadaan ibu itu.
"Eh? Kok ibu bisa tau.." tanya Yuna sedikit bercanda.
"Ibu tau... Karena ibu sudah lama dirawat dirumah sakit ini, mungkin sekitar sebulanan. Ibu juga baru liat kamu disini, apalagi kayaknya kamh yang paling muda disini. Karena sebagian perawat yang kerja dirumah sakit ini sudah tak terlihat muda lagi." jelas ibu itu.
Yuna tertawa mendengar penjelasan ibu itu,"Berarti tidak ada cowok tampan dirumah sakit ini dong bu... Kalo semua dirumah sakit ini tua-tua semua."
Ibu itu ikut tertawa. "Kalo yang tampan mah ada nak.. Kalo gak ada dua dokter tampan disini, namanya kalo gak salah dokter Zeen."
Yuna memanut-manut mengerti, yah... Sudah bukan rahasia umum lagi kalau semua orang menyebut Zeen sebagai dokter tertampan dirumah sakit besar itu. Dan sebagai wanita, Yuna juga tau jika Zeen memiliki paras yang tampan rupawan, yang menurun papa kandungnya sendiri yaitu tuan Albaret, pemilik rumah sakit besar itu.
Ibu itu masih tampak berfikir. "Ada satu lagi sih, dokter tampan disini. Dokternya juga baru-baru bekerja dirumah sakit ini, mungkin sekitar sebulan yang lalu. Tapi ibu lupa namanya, padahal semua orang disini sering gosipin dokter itu loh." ucap ibu itu.
"Hahaha... Yaudah kalau sudah lupa gak papa, jangan dipikirin terus bu... Nanti jadi pusing dan kepala nanti jadi sakit."
"Bener apa kata kamu nak... Eh! Ibu boleh tau siapa nama kamu, dari tadi bicara tapi ndak tau namanya." ujarnya.
Yuna kembali tersenyum menatap wanita paru baya itu, "Nama saya Yuna bu..." jawab Yuna.
Ibu itu tersenyum membalas senyuman Yuna. "Oh, nak Yuna... Nama yang bagus, orangnya cantik! Manis lagi kalo senyum." puji ibu itu.
"Yaampun ibu ini bisa aja.." ucap Yuna merasa malu.
"Haha... Beneran loh, kamu itu manis kalo senyum."
"Wes,wes bu.. Yuna jadi malu. Ibu istirahat aja ya... Biar cepet sembuh."
"Hahaha... Seru banget ledekin kamu, yaudah kalau begitu ibu istirahat dulu, makasih ya nak Yuna. Hari ini ibu seneng dirawat sama kamu."
Yuna menganguk. "Iya bu.. Sama-sama."
Setelah memastikan pasien itu berbaring dikasurnya, Yuna lalu bergegas keluar dari ruangan itu. Dan berjalan menuju ruangan Zeen, ia ingin menanyakan pada pria itu perihal dirinya yang akan menjadi asisten pribadi itu.
Ketika Yuna berjalan pelan menyusuri koridor rumah sakit. pandangannya teralihkan pada seorang bocah kecil yang tengah digandeng oleh orangtuanya itu, bocah itu sungguh mengemaskan dimata Yuna. Bagaimana tidak mengemaskan jika bocah itu terus berceloteh tak jelas sambil berjalan diapit oleh kedua orangtuanya itu.
Dukk...
Tiba-tiba saja Yuna terhuyung ketika tak sengaja, bahunya tersengol oleh seseorang yang lewat.
"Aduh.." refleks Yuna bersuara, ia menompang kedua tangannya dilantai agar tubuhnya tak mendarat dilantai itu.
"Eh? Maaf! Maaf... Kamu gak papa." tanya orang itu.
Yuna belum melihat siapa gerangan yang menabraknya itu, "Iya gak papa... Sepertinya saya yang salah, karena ndak lihat jalan.." ucap Yuna dan berdiri dari jongkoknya itu.
Yuna mengibas-gibaskan tanahnya yang sedikit itu. Ia lalu beralih menatap seseorang yang ada didepanya, Yuna agak terkejut karena seseorang yang ada didepanya itu adalah seorang dokter, yang perawakanya tinggi, kulitnya yang putih dan ada tahi lalat dibawah matanya membuat wajah itu semakin tampan.
"Beneran gak apa-apa kan? Saya tadi terburu-terburu jadi tak melihat jika ada orang didepan saya. Maafkan saya, saya teledor yang tak memperhatikan sekitar." ucap dokter itu dengan raut bersalah.
Yuna mengeleng-geleng. "Oh! Tak perlu minta maaf dok! Saya juga salah karena saya tak memperhatikan jalan didepan. Jadi sepertinya bukan salah dokter saja." ucap Yuna membenahi.
"Berarti salah kita berdua gitu?" tanyanya.
Yuna menganguk. "Iya seperti itu." jawabannya sambil tersenyum.
Dokter itu ikut tersenyum. "Hahaha, yaudah kau begitu. Saya tetap minta maaf karena menabrak kamu... Oh, iya, kalau begitu saya duluan ya! Saya terburu-terburu karena masih ada urusan yang harus saya urus." ucap dokter itu pada Yuna.
"Oh! Iya silahkan dok."
Dokter itu menganguk, kemudian melanjutkan langkahnya kembali dengan sedikit tergesa-gesa.
Setelah dokter itu pergi, Yuna juga kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju keruangan Zeen. Ia berjalan dengan memperhatikan keadaan sekitar, karena tak mau mengulang kejadi beberapa menit tadi.
Saat sudah sampai didepan ruangan Zeen, Yuna yang ingin mengetuk pintu itu tiba-tiba mengerutkan keningnya kala pintu itu tak tertutup dengan rapat.
"Umm, sayang.."
Samar-samar Yuna mendengar suara seorang perempuan.
"Apa pacar dokter Zeen belum pulang?" gumamnya.
Yuna sedikit mengintip ruang itu dari cela pintu yang sedikit terbuka. Matanya menangkap objek satu wanita dan satu pria yang tengah duduk bersama disofa ruangan itu.
Hati Yuna lagi-lagi berdesir, saat melihat Zeen yang dengan mesranya mengelap bibir wanita itu yang terdapat sisa makanan disana.
"Sayangku ini, kalau makan selalu belepotan ya?"
"Hehe, kan ada kamu yang mau ngelapin."
Yuna melirik sebuah makanan dimeja yang mereka makan, ia melihat sebuah kota tapi bukan kota bekal yang ia berikan pada Zeen sebelumnya. Setidaknya ia bisa bernafas lega ketika masakannya tak dimakan oleh wanita itu.
"Kamu laper banget ya sayang? Makanya kok banyak banget?" ucap wanita itu yang tak lain adalah Laura.
"Iya aku laper banget.."
"Emang kamu gak dikasi sarapan dirumah?"
"Engak sempet, tapi tadi aku dikasi bekel sama gadis desa itu. Tapi enggak aku makan bekal yang dia kasi. Mending kukasi sama tukang Ob dirumah sakit ini. Dari pada ku buang kan?"
"Wah... Tega banget hahaha."
"Biarin aja.."
TBC.
Jangan lupa terus dukung author ya🐭☺️ biar author ini tambah semangat..... Oh iya jangan lupa sematkan Vote, like dan komen. Atau kirimkan bunga mawar seiklasnya saja🐨🦥
See you next time....
__ADS_1