
“Nek ... ini teh jahenya,” kata Yuna, lalu meletakkan cangkir itu dimeja.
“Oh! Ini yang ku ditunggu-tunggu tadi, teh jahe buatan cucu menantu sungguh sangat enak.”
Yuna terkekeh, “Hahaha, nenek terlalu memuji.”
Diam-diam Laura tersenyum miring, 'Tertawalah sesukamu gadis kampungan! Namun setelah ini, kau tak akan bisa tertawa lagi sesukamu.' Batinnya tersenyum sinis.
“Tante dan Laura, juga silahkan diminum tehnya, Yuna juga membuatkan teh yang sama untuk anda berdua.” Ujar Yuna.
Laura dan Lena saling berpandangan sejenak.
“Oh ... tentu, terimakasih ya, Yuna.”
“Sama-sama tante,”
Laura dan Lena terus memfokuskan diri pada pergerakan Rima. Saat mereka melihat teh yang dibuat oleh Yuna sudah diminum oleh Rima, didalam hati mereka pun bersorak bahagia.
“Memang pagi-pagi begini, paling enak ditemani teh jahe. Cucu menantu memang luar biasa ke–”
Ucapan Rima teropong, kala tiba-tiba wanita tua itu langsung memegang lehernya.
Yuna yang melihat perubahan dari Rima itu, langsung meletakkan cangkir yang ia pegang, dimeja. “Nek ... ada apa? Kenapa nenek tiba-tiba berkeringat banyak?” tanya Yuna dengan ekspresi khawatir.
“A-kuh, kuh.”
Rima tak bisa menjawab, seolah suaranya tersendat didalam tenggorokan.
Lagi-lagi Laura tersenyum miring, namun itu merupakan senyuman kemenangan. Ia lalu membatin, 'Dalam hitungan ketiga, wanita tua itu akan segera tumbang. Satu ... dua ... ti–ga ....'
Prang!!!
Cangkir yang dipegang oleh Rima itu langsung terlepas dari pegangannya, dan terjatuh naas dilantai putih itu.
“Nenek!!!”
Yuna berteriak dengan kencang, begitupun dengan Laura dan Lena yang juga ikut berteriak.
“Ada apa dengan nenek?! Nenek! Bangun nek ...!” Yuna kembali berteriak, sambil mengguncang tubuh Rima agak kencang. Namun sekeras apapun Yuna mencoba membangunkan Rima, tetap saja tak ada reaksi apapun dari wanita tua itu.
Lena dan Laura diam-diam bertos ria, mereka sangat senang karena rencana mereka berjalan dengan mulus.
__ADS_1
“Ada apa ini?! Kenapa ada suara kegaduhan?”
Dari balik pintu, Albaret dan juga Vina berjalan tergopoh-gopoh kearah mereka. Begitu pula dengan Zeen yang langsung keluar dari ruang pribadinya.
“Akhirnya ... rencana selanjutnya akan semakin seru, tante ....” bisik Laura tersenyum senang.
“Kamu benar sayang ....” balas Lena tak kalah senangnya.
Yuna yang mendengar suara dari mertuanya itu, langsung berdiri dari jongkoknya dan memandang kedua mertuanya dengan perasaan kalut. “Pah ... nenek–”
Ucapan Yuna terpotong, kala Lena yang tiba-tiba saja berlari kearah Albaret dan mulai bermain drama lakonnya.
“Kakak ...! Mamah kak, mamah, hiks.” Dan mulailah Lena mengeluarkan air mata palsunya.
“Ada apa Lena? Ada apa dengan Mama? Kenapa kamu sampai menangis seperti ini?” tanya Albaret secara beruntun.
“Aku takut kak ... jika Mamah terjadi apa-apa, Mamah tiba-tiba saja pingsan ... Aku gak tau apa alasannya,” jawab Lena sambil memyeka air matanya.
“Apa? Bagaimana bisa–”
“Sebaiknya, kita langsung bawa mama kerumah sakit saja suamiku. Kita bahas masalah ini nanti saja.” tutur Vina, mengelus lengan suaminya untuk menyalurkan ketenangan.
Albaret menghela nafas sejenak, memejamkan matanya untuk meredamkan rasa kalutnya. “Baiklah, kita bawa Mama kerumah sakit kita. Zeen! Beritahu para dokter-dokter prepesional kita. Untuk segera datang kerumah sakit, sekarang juga! Mau ini hari libur sekalipun. Mereka harus tetap datang!” ujar Albaret dengan suara tegas.
“Kita bawa Mama sekarang juga!”
Dengan gerakan cepat, Albaret langsung membopong Rima dan segera membawa tubuh wanita tua itu menuju mobil.
Tinggallah Yuna yang masih berdiri, diam sendiri disana. Entah mengapa, ia sungguh sangat takut saat ini. Tangannya tiba-tiba saja bergetar hebat saat ia dengan langsung menyaksikan Rima yang tumbang didepan matanya.
“Aku harus menyusul mereka, aku ingin tau, apa alasannya nenek seperti itu.” Tanpa basa-basi lagi. Yuna pun langsung bergegas menyusul mereka.
🍂🍂
Saat ini, semua keluarga inti tengah berkumpul didepan pintu ruangan dimana Rima tengah ditangani. Kecuali Zeen dan Albaret yang ikut mengecek keadaan Rima secara langsung didalam ruangan itu.
Bahkan Laura pun masih bergabung diantara mereka, dengan raut wajahnya yang terus terpancar kebahagiaan.
Cklek! Menunggu beberapa menit lamanya, akhirnya pintu ruangan itu terbuka dan memperlihatkan dokter yang menangani Rima, dan juga Zeen berjalan keluar dari ruangan itu. Sedangkan Albaret masih berada diruangan.
“Bagaimana dengan kondisi mama saya dok?!”
__ADS_1
Lena langsung menghampiri dokter itu, dengan pertanyaan yang terlontar dari mulutnya.
“Keadaan pasien saat ini masih dalam kondisi pemulihan ... untung saja anda semua dengan segera, langsung membawa beliau kerumah sakit. Jika telat sedikit saja, maka racun yang tak sengaja beliau minum. Akan cepat mempengaruhi organ tubuhnya.” Jelas dokter secara rinci.
“Apa? Racun?!” Vina berteriak, karena mendengar penjelasan yang membuatnya kaget seketika.
“Iya bu ... pasien Rima meminum racun tikus, sepertinya hal itu bukanlah disengaja. Melainkan tak sengaja beliau meminum racun tikus itu, yang bisa dibilang ... jika ada orang yang sengaja menaruh racun tikus didalam air minum, yang tengah beliau minum.”
“Hah?” lagi-lagi Vina tercekat mendengar penjelasan itu.
Sedangkan Zeen, pria itu masih tetap diam tak bersuara, dengan ekspresi dingin dan datar.
“Siapa yang berani melakukan itu pada ibu?” gumam Vina bertanya.
“Tapi kak ... terakhir kali, aku melihat jika Mama minum teh yang dibuat oleh Yuna.” Jelas Lena, membuat Vina langsung menoleh kearahnya.
“Apa maksudmu Lena? Bagaimana bisa kau menuduh menantuku?”
Vina seolah, tak mudah percaya dengan ucapan Lena.
“Tapi itu memang bener kok kak ... Laura pun juga melihatnya, ya kan Laura?”
Laura mengangguk cepat, “Iya tante, itu memang benar. Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri.” Sargas Laura.
Vina memicingkan matanya, ia menatap kedua wanita itu dengan tatapan menyelidiki.
“Yuna–”
“Apa kalian ada buktinya?” Zeen yang awalnya terdiam itu, tiba-tiba langsung mengeluarkan suaranya dan membuat semua mata mengarah kepadanya.
Sedangkan Lena dan Laura kembali saling berpandangan, ada guratan gugup diantara mereka.
Tiba-tiba Laura maju selangkah menghadap kearah Zeen, “Zeen, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Zeen! Dia yang membuat teh itu untuk nenek. Dan nenek sampai jatuh pingsan! Sepertinya gadis ini ingin meracuni nenek.” Kata Laura mulai melancarkan aksinya.
Mata Yuna membola, ia seolah terkejut dengan tuduhan yang dibuat oleh Laura.
“Itu tidak benar—” mulut Yuna seolah terkunci ketika melihat Zeen dengan raut dingin tak bersahabat. Ia memilih menundukkan kepala dan mulai menggulung-gulung ujung bajunya, merasa tak tau lagi harus berkata apa. Karena ia beranggapan jika Zeen tak akan pernah mendengarkan ucapannya, dan pembelannya itu pasti akan sia-sia saja. Pria yang bersetatus sebagai suaminya itu pasti akan membela kekasihnya bukan dirinya. Ia yakin itu.
Yuna melirik Zeen kembali yang masih dengan ekspresi yang sama. 'Sepertinya dia percaya dengan ucapan kekasihnya,' gumamnya, ia berniat untuk pergi dari sana. Dengan cara diam-diam dan melangkahkan kakinya mundur kebelakang.
'Ya ... pergilah yang jauh-jauh gadis kampungan, kau memang sudah tak pantas berada dikeluarga ini.' gumam Laura tersenyum sinis, ketika ia melihat Yuna yang melangkah mundur. Dan pergi begitu saja tanpa berpamitan.
__ADS_1
TBC.