
°Udah bab, 80 aja🤭 gak terasa udah sejauh ini. Hem.... Hem... Hemm.... 🎶 pantengin terus ceritanya ya gaes🤎°
***
Zeen akhirnya memutuskan pencarian selanjutnya dikediaman Bram. Paman dari Yuna, sejak pernikahannya dengan Yuna, ia belum sempat mengunjungi kediaman itu. Entah karena dirinya yang malas atau terlalu acuh. Mungkin kedua-duanya.
Zeen menggigit kukunya, karena kegugupan yang tiba-tiba melanda pada dirinya. Ia tengah berfikir. Apa yang akan ia sampaikan pada keluarga itu ketika ia berhadapan dengan mereka? Apa yang akan ia sampaikan pada Yuna ketika ia berhadapan dengan gadis itu? Memikirkannya saja sudah membuat kepalanya sakit.
Zeen memukul setirnya agak keras, ia mendesah, perasaan resah dan gelisah berkumpul pada dirinya.
“Shit! Aku tak menyangka jika ini akan terjadi padaku!” gumamnya.
“Yuna ... Yuna ... untuk pertama kalinya, kau membuat seorang Zeen ini kelimpungan hanya dirimu seorang. Kau memang benar-benar gadis luar biasa!” ucapnya terkekeh pelan.
“Dan kau hanya milik seorang Zeen! Tak ada lelaki lain yang boleh memilikimu.” gumamnya lagi dengan penuh percaya diri.
“Titik! Tak ada koma! Hahahaha ....”
Perasaan gugup yang tadinya berangsur-angsur hilang, kini datang lagi melanda padanya ketika ia melihat gerbang kediaman Bram sudah didepan mata.
Saat sudah tepat didepan gerbang itu, ia langsung memasukkan mobilnya ketika melihat penjaga yang sigab membuka gerbang itu.
Ia mengatur nafasnya sejenak, kemudian mulai turun dari mobilnya ketika perasaannya sudah mulai tenang.
“Tuan!”
Sebuah suara langsung mengangetkannya, ia pun berbalik badan dan melihat sosok penjaga itu berada dibelakangnya.
“Tuan! Apa tuan ada keperluan sama pemilik rumah? Jika iya, saya akan menyampaikannya.” Jelas penjaga itu.
“Oh! Tidak perlu pak! Biar saya saja yang menyampaikan sendiri, ” jawab Zeen.
“Oh ... yaudah jika memang begitu, kalau begitu saya permisi ya tuan. Jika anda membutuhkan bantuan, anda bisa mengatakannya pada saya.”
“Iya pak! Terimakasih,” jawabannya, sedikit tersenyum sebagai kesopanan.
“Sama-sama tuan, mari ....”
Zeen mengangguk dan melihat penjaga itu yang sudah berlalu pergi meninggalkannya. Kembali, ia kembali menegakan tubuhnya, ia menatap bangunan mewah itu dengan perasaan yakin. Yakin ingin menghadapi rintangan.
__ADS_1
“Baiklah ... pertama-taman kita ketik dulu pintunya,” gumamnya, lalu perlahan-lahan mengetuk pintu itu.
Setelah beberapa kali diketuk, akhirnya pintu itu dibuka. Dan terlihatlah seorang pria muda yang wajah sama persis dengan tuan rumah, yaitu Bram paman Yuna.
“Cari siapa ya?” tanya pria itu dengan menganggkat satu alisnya.
Zeen terdiam sejenak melihat pria itu, ia merasa bingung karena wajah itu terasa asing baginya. Dan tak pernah melihat keberadaan pria itu dipernikahannya, tapi yang ia yakini jika pria muda itu merupakan anak dari Bram. Bisa dilihat dari wajahnya yang agak kemiripan dengan tuan rumah itu.
“Ehem, apa benar anda putra dari paman Bram?” tanya Zeen.
“Ya? Saya putranya, anda siapa ya?”
“Benar ternyata, begini, untuk pertama-taman saya ingin memperkenalkan jika saya Zeen Albaret ....” ujar Zeen mengulurkan tangannya pada pria itu.
Pria itu pun menerima uluran dari Zeen, “Saya Yudas! Putra dari Bram,” jawabnya.
“Eh! Tunggu dulu, sepertinya aku familiar dengan namamu! Apa kau kesini mencari Yuna?” tanyanya.
Zeen yang mendengar nama Yuna itu, langsung berbinar, ia mengangguk dengan semangatnya. “Ya! Saya kesini untuk mencari Yuna. Apakah Yuna ada didalam?”
Yudas, pria muda itu terkekeh, “Betul ternyata ... dengan tak tau malunya kau datang kesini setelah membuat Yuna menangis?” ucapnya, yang tiba-tiba nadanya berubah menjadi sinis.
“Kau kesini mau membujuk Yuna untuk pulang kan? Ohh ... tak semudah itu, aku tak akan menguzinkanmu membawa Yuna pergi bersamamu.” tekan Yudas dengan tegasnya.
Seolah mengerti dengan arah pembicaran itu, Zeen pun mengubah raut wajahnya menjadi tegas. “Saya kesini memang bertujuan untuk itu. Tapi yang saya tak mengerti, kenapa anda malah melarang saya untuk membawa Yuna? Atas hak apa anda berkata seperti itu?”
“Hak?” ia kembali terkekeh, “Tentu saja aku memiliki hak! Aku ini–”
“Ada apa Yudas? Siapa yang datang? Kenapa kamu tak menyuruhnya masuk kedalam?”
Suara bariton itu berasal dari Bram yang tengah menghampiri mereka.
“Om!” Zeen tersenyum ramah pada pria paru baya itu.
“Loh Zeen? Ada apa kamu datang kemari?” tanya Bram merasa bingung.
“Saya datang kemari untuk menjemput Yuna, om.” Jawab Zeen.
“Oh? Begitukah, jika begitu, masuklah kedalam–”
__ADS_1
“Tak ada masuk kedalam! Biarkan dia diluar, aku tak ingin pria ini dipertemukan dengan Yuna. Nanti Yuna menangis lagi gara-gara melihat wajah pria bajingan ini,” ucap Yudas melirikkan matanya kearah Zeen dengan sinis.
“Yaampun Yudas ... kamu tak boleh bicara seperti itu pada kakak iparmu, Zeen itu lebih tua darimu Yudas,” jelas Bram, mengeleng melihat putranya.
“Aku gak perduli pah ... yang pasti, aku tak ingin melihat pria ini masuk kedalam rumah kita! Lebih baik kau pergi sana!”
“Hei! Yudas–”
Blam!!
Ucapan Bram terpotong ketika pintu utama ditutup dengan kasar oleh Yudas. Zeen yang melihat itu tentu saja terkejut, apalagi dirinya yang berada didekat pintu itu sehingga membuat hidungnya menjadi korban. Zeen mengusap hidungnya yang terasa sakit, akibat terkena pintu kayu namun kokoh itu.
“Hahh ... ternyata, begini rasanya mendapat sebuah cobaan.” gumam Zeen sambil mengelus hidungnya.
“Aku sudah berjanji pada Mama, jika aku tak berhasil membawa Yuna kembali. Maka aku tak diizinkan untuk pulang.” Ucap Zeen lesu, sambil menatap pintu itu dengan perasaan nanar.
“Baiklah ... aku akan menunggu disini, sampai aku diizinkan untuk membawa istriku pulang,” gumamnya dengan penuh ketekatan.
🍂🍂
Disis lain, didalam kediaman Bram, saat ini pria paru baya itu tengah mengomeli putra sematawayangnya.
“Kamu ini Yudas! Papa tak pernah mengajarkanmu bersikap tak sopan santun seperti itu. Searah apapun kamu, tapi tetap saja, kamu tak ada hak untuk melarang kakak iparmu masuk kedalam rumah ini. Yang ada hak untuk melarang. Ya hanya Yuna ....” ujar Bram dengan penuh ketegangan.
Yudas yang tengah duduk dikursi sofa itu tak menanggapi, ia hanya menekuk wajahnya dengan raut kesal. Tak ingin mendengar perkataan Papanya.
“Ada apa sih mas ... kok ribut-ribut?” tanya Winda, istri dari Bram yang saat ini tengah berjalan kearah mereka.
“Ini loh Mah ... anakmu ini bandel kalo dibilangin, masa Zeen yang datang kesini malah diusir? Ya papa omelin lah.” Jawab Bram sambil melipat kedua tangannya didada.
“Oh ya? Yaampun ... kasihan dong Zeennya ... lain kali jangan begitu ya sayang? Gak boleh kayak gitu, biarin mereka mengurus masalah mereka sendiri, kita sebagai keluarga hanya cukup mendukung saja. Selebihnya biar mereka yang ngatasi.” Tutur Winda dengan suara lembut sambil mengelus suarai rambut anaknya.
“Biarinlah Mah! Biar dia tau rasa!” sungut Yudas, yang masih terselip kesal pada dirinya.
Kedua orangtuanya saling bertatapan, kemudian mengelengkan kepala, tak tahu lagi harus mengatakan apa pada putranya itu. Dikasarin tak mempan? Dilembutin tak mempan juga, harus bagaimana lagi mereka?
TBC.
Hayoloh .... Yunanya belum muncul sampai sekarang 🤭
__ADS_1