Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 139


__ADS_3


...***...


Yuna merasakan kegugupan yang teramat ketika wanita itu terdiam sambil menatapnya dengan tatapan intens.


Namun rasa gugupnya itu menghilang dan digantikan oleh rasa terkejut ketika Rima memeluk tubuhnya dengan sangat erat.


“Selamat ya cucu menantu ... kau berhasil membuat keluarga ini menjadi keluarga yang penuh dengan warna, karena berkat dirimu semua orang merasakan kebahagiaan.” Ujar Rima dengan suara tulus namun terdengar serak, sepertinya wanita tua itu tengah menangis.


Yuna yang merasakan bahunya yang basah itu, segera mengangkat wajah Rima dari pelukan itu.


“Nenek kenapa menangis?” tanya Yuna sambil mengelap air mata itu dengan kedua tangannya.


Rima mengeleng sejenak, “Aku menangis bukan berarti aku tak senang mendengar berita ini. Aku menangis karena merasa bahagia sekaligus terharu, terharu karena cucu kesayanganku ternyata tangguh juga. Bisa membuatmu langsung isi dalam beberapa hari. Aku sungguh salut sekali.” Jelas Rima sambil tersedu-sedu disela tangisnya.


Albaret dan Vina sekaligus para pelayan, langsung menahan tawanya ketika mendengar ucapan frontal dari wanita tua itu. Mereka tau jika ucapan itu terselip nada meledek dan meremeh pada seorang Zeen Albaret.


Bahkan Zeen yang mendengar itu sampai dibuat tergangga, bagaimana bisa neneknya itu menjatuhkan harga dirinya didepan semua orang? Yang ada disana? Bahkan para pelayan dirumah itupun tengah menertawakannya saat ini.


“Nenek ....!!” Zeen mengeram kesal pada neneknya. “Kalo ngomong ya disaring dulu dong ....” kesalnya.


Rima mengalihkan pandangannya dengan acuh se acuhnya kearah Zeen. “Emang apa salahnya ucapanku barusan? Bukankah itu sebuah pujian karena aku mengatakan kau adalah cucu yang tangguh bisa membuat istrimu langsung berisi setelah kita berdebat waktu kau baru pulang dari Bali. Bukankah itu benar?” ia melipat kedua tangannya lalu menatap cucunya dengan raut santai.


Zeen tampak berfikir-fikir ketika mendengar penjelasan itu. “Oh? Iya, ya? Bener apa kata nenek, kalau aku tak tangguh mungkin Yuna akan lama hamilnya. Justru saat aku tangguh maka Yuna akan cepat hamilnya! Aku sungguh banga pada diriku. Itu berarti benihku sangat luar biasa.” Ucap Zeen dengan kepercayaan diri tingkat tinggi.


“Mas Zeen ...?!” Yuna menatap tajam suaminya, merasa malu sendiri ketika mendengar ucapan itu padahal bukan ia yang mengatakan kata-kata itu.

__ADS_1


“Kenapa sayang?” beo Zeen merasa bingung.


Yuna seketika mendesah kesal, bagaimana seorang Zeen Albaret yang terkenal ketampanannya dan kepintaranya, langsung begitu lemot ketika ia memberi teguran pada pria itu. Dia sendiri tak yakin jika orang-orang sekitar pernah mengatakan jika Zeen sangat cerdas. Tapi ini apa? Kenapa urat malunya bisa hilang tak tersisa?


“Hahaha, iya Zeen, Papa mengakui jika kamu sangat tangguh dalam hal membuat cicit kita. Papa salut padamu putraku tersayang!” Timpal Albaret menepuk sebelah bahu Zeen. Lalu tertawa terbahak tanpa henti.


“Kenapa Papa malah tertawa? Papa sedang meledekku ya?” tampak Zeen mengerutkan alisnya.


Albaret mengeleng, “Tidak kok putraku kau itu memang tampan seperti Papamu ini!”


“Dih?” Zeen menatap Papanya dengan tatapan medelik sebal. “Ditanya apa, malah dijawab apa? Papa ini benar-benar narsis ya.” Lanjut Zeen menatap Albaret dengan tatapan sebal.


“Bukan aku yang narsis, tapi kamu Zeen! Tingkat kepercayaan diri kamu sungguh sangat luar biasa. Aku bahkan sampai dibuat melongo melihatnya, apa lagi orang lain toh? Itu berarti kau yang narsis bukan Papamu ini.” Jawab Zeen tak mau kalah.


“Hah? Papa ngomong apa sih? Bukanya Papa yang lebih narsis? Kenapa Papa menyangkalnya?” tanya Yuna dengan beruntun.


“Dasar dua-duanya suka narsis malah tak mengaku?” Vina sampai mengeleng melihat tingkah dua orang pria itu. Bahkan Rima dan Yuna pun sama, ketika melihat kerecokan dan penuh rusuh itu dibuat pusing and frustrasi.


“Sebaiknya kita pergi ketempat lain saja? Kita berbincang lagi ditempat yang damai dimana tak ada dua pria rusuh didepan kita ini.” Usul Rima yang langsung dianguki kepala oleh Yuna dan Vina.


“Ide bagus itu Mah, kalau begitu yuk! Kita otw sekarang,” ajak Vina dengan senyum merekah.


Beberapa menit berlalu, ruangan itu nampak kosong setelah ketiga perempuan itu pergi dan diikuti para pelayan yang memilih untuk melanjutkan pekerjaan mereka dari pada harus menonton adu mulut antara Zeen dan Papanya. Karena mereka tau jika adu mulut itu akan berhenti sangat lama, mungkin biasanya bisa dihitung dalam dua jam lamanya.


Namun untuk saat ini adu mulut itu tak berlangsung lama ketika mereka berdua menyadari jika keadaan ruangan itu begitu sepi setelah mereka berdua menghentikan ocehannya.


Mereka pun sampai celingukan kesana kemari, mencari sosok para wanita yang tak ada disana.

__ADS_1


“Kemana mereka?” tanya Albaret bingung.


“Entahlah, kenapa mereka pergi tak bilang-bilang?” timpal Zeen yang juga kebingungan.


Mereka berdua terdiam, setelah itu saling memandang dengan kerutan yang ada pada kening mereka.


“Ini semua gara-gara Papa!” ucap Zeen menyalahkan Papanya.


“Kenapa salah Papa? Bukankah ini salah kamu?”


Terdengar suara helaan nafas panjang dari mulut Zeen, “Seandainya Papa tak mengajak ribut. Mungkin kita tak akan seperti ini yang ditinggal oleh para wanita tanpa kita tahu?”


“Hei? Kau berani menyalahkan Papamu?” Albaret langsung menatap tajam putranya.


“Ya trus salah siapa kalau bukan salah Papa? Papa kan yang lebih dulu mengejek Zeen ini dan itu, trus kita jadi saling debat sampai tak sadar jika kita ditinggal disini berdua saja? Itu berarti semua ini salah Papa dong?!”


Albaret mendengus kesal seketika, lalu melipat kedua tangannya didepan. “Pokoknya ini semua bukan salah Papa! Tapi salah kamu!” ucap Albaret acuh nan angkuh.


Zeen menatap Papanya dengan pandangan jengah sekaligus jengkel. “Sudahlah Pah! Ngomong sama Papa itu gak ada ujungnya, mending aku cari istriku saja dari pada harus menangapi ocehan Papa yang tak jelas itu.” Jelas Zeen tak kalah angkuh dari Papanya. Dan setelah itu ia lebih memilih pergi tanpa berpamita pada Papanya.


“Hoh? Dasar bocah tengil itu? Benar-benar kalo dibilangin maunya menang terus! Anaknya siapa sih itu?” Albaret menatap pungung Zeen dengan pandangan jengkel, sekaligus ingin sekali menendang anaknya itu hingga ke planet pluto.


“Dulu istriku ngidam apa sih? Kok sampe punya anak super menjengkelkan kayak gitu?” gumam Albaret bertanya-tanya.


Albaret kemudian mengeleng seketika. “Ah sudahlah! Pikiran kotor ini harus cepat dihilangkan dari pada aku terus memikirkan hal-hal aneh yang disebabkan oleh putraku sendiri ....” Albaret bergumam sambil menggeleng kecil saat merasakan keaneh dari ucapannya itu.


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak....


__ADS_2