Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 193


__ADS_3

...***...


Terdengar suara pintu terbuka dan nampaklah para keluarga Albaret, Bram dan Sigit baru saja memasuki ruangan. Disertai para istri yang juga ikut menyusul dibelakang.


“Ada apa ini? Kenapa dari luar terdengar bising sekali?” ucap Albaret bertanya-tanya.


“Iya? Kenapa berisisk sekali dari luar?” timpal Bram.


“Sampai suster-suster diluar pada nguping loh,” celetuk Sigit juga ikut menimpali.


Namun dari pertanyaan-pertanyaan mereka tak ada yang menjawab. Membuat mereka saling bertatapan dengan wajah bingung, lantas kemudian mereka semua mengarahkan pandangan mereka kearah Zeen dan baby twin berada.


Ternyata pertanyaan-pertanyaan mereka langsung terjawab, ketika mereka semua melihat dan mendengar dengan jelas. Jika dikasur tempat khusus pasien itu dipenuhi suara-suara tangisan yang sangat mengelegar mengema disenjuru ruangan.


“Ternyata bukan cucu-cucu kita yang menangis, tapi bapaknya juga ikut menangis? Mama kenapa tak bilang juga sama papa! Jika putra atu-atu kita itu juga ikut menangis?” ucap Albaret menatap sang istri dengan diiringi pertanyaannya-pertanyaan yang ada.


Vina membalas tatapan sang suami dengan diiringi suara helaan nafas yang panjang. “Mama aja juga baru tau pah! Kan tadi mama langsung keruangan papa tanpa mengecek bapaknya si cucu-cucu kembar kita!” jelas Vina.


Albaret langsung menepuk keningnya, “Hadehhh ... bikin malu aja tuh anak! Didepan para besannya.”


Sedangkan para besan yang melihat Zeen menangis itu hanya bisa tersenyum kikuk saja.


“Menantuku ternyata aktif ya? Kayak anak-anaknya,” celetuk Sigit yang malah merasa senang ketika dimatanya, jika Zeen dan kedua cucu-cucunya terlihat sangat akur.


Bram menepuk bahu Sigit yang sudah ia anggap saudara sendiri. “Sabar bro, sabar ... bagaimana pun juga dia tetap menantumu! Suami yang sangat dicintai oleh Yuna.”


Sigit menoleh kearah Bram dengan raut bingung, “Maksudnya sabar? Emang saya kenapa?”


Bram menghela nafas sejenak, “Aku tau jika kau kaget dengan tingkah kekanakan menantumu. Dan pasti didalam hatimu sangat tak ingin memiliki menantu seperti itu.” Jelas Bram yang ternyata salah mengartikan jika Sigit tak menyukai Zeen sebagai menantu.


“Hah? Kau ini bicara apa Bram? Aku bahkan tak mengatakan itu, diriku bahkan sangat banga memiliki menantu seperti itu! Dia itu seperti pahlawan yang diciptakan untuk menjaga Yuna!” jelas Sigit dengan wajah berbinar-binar.


“Apa? Itu pendapatmu tentang Zeen?” tanya Bram tak percaya.


Bram mengangguk dengan semangat, “Iya dong,”


Sementara disisi lain, kini bu ibu tengah menghampiri Zeen dan Yuna berada. Mereka bertiga kaget saat melihat Yuna yang sudah membuka mata dan sekaligus senang ternyata Yuna bangun dengan keadaan baik-baik saja.


“Yuna? Apakah itu kau sayang?” tanya Vina masih tak percaya.

__ADS_1


Yuna yang mendengar suara itu segera mendorong tubuh suaminya yang sejak tadi menempel padanya.


“Iya dong mah, siapa lagi kalau bukan Yuna?” jawab Yuna sambil tersenyum, kemudian senyum itu hilang dan berganti dengan keterkejutan saat merasakan jika Zeen kembali memeluknya.


“Yaampun mas, disini ada keluarga kita ... berhenti dong nempelnya, kamu gak malu apa?” bisik Yuna pada Zeen.


Zeen mengelengkan kepalanya didalam pelukan. “Gak mau sayangggg ....” rengek Zeen.


Kemudian sebuah tepukan halus mendarat dibahu Zeen, membuat pria itu menoleh kebelakang.


“Nak Zeen, boleh mingir sebentar? Mama juga ingin memeluk anak perempuan mama,” pinta Eva dengan lembut.


Zeen terdiam sejenak, kemudian ia mengalah dan membawa kedua putranya yang sedang menangis, dan menenangkan dua bayi itu bersama para kakek-kakek.


Sedangkan para ibu-ibu sedang memeluk bersamaan kepada Yuna yang dirindukan mereka, mereka bertiga tentunya menangis haru.


“Wah, ternyata Yuna sudah membuat banyak orang menangis hari ini,” ucap Yuna.


“Ya benar sayang, kamu sudah membuat kami semua menangis terharu,” timpal Winda.


“Benar, dan akhirnya kamu telah bangun dari peristirahatan yang panjang. Tapi itu memang cocok untuk kamu karena kamu sebelumnya telah melewati berbagai hal yang menegangkan,” Vina ikut menimpali.


“Dan semua itu sudah usai sekarang,” Eva mengecup kening putrinya dengan sayang, “Sekarang semua masalah itu sudah tak akan menghampiri. Karena dua orang yang membuatmu celaka sudah mendapatkan hal setimpal!” lanjutnya yang seketika membuat mengernyit bingung.


Ketiga ibu-ibu saling mengangguk.


“Ya Yuna, dua orang yang berniat jahat sama kamu sudah mendapatkan balasan yang setimpal. Dengan tantemu Lena yang dimasukkan dirumah sakit jiwa karena ternyata kejiwaan tantemu itu terganggu akibat stres yang dia alami selama berada didalam penjara.” Jelas Vina.


Kemudian wanita yang merupakan ibu kandung Zeen itu menghela nafas sejenak, “Sedangkan Laura ....”


“Laura?” Yuna semakin dibuat penasaran.


“Laura sudah meninggal beberapa hari yang lalu, karena wanita itu mengalami depresi yang tinggi sehingga membuat wanita itu bunuh diri saat dipenjara!”


Yuna langsung membungkam mulutnya saat mendengar itu, ia benar-benar tak menyaka jika orang yang berniat mencelakainya mengalami hal yang sangat menyedihkan seperti itu.


“Kenapa mas Zeen tak menceritakanya?” gumam Yuna menatap kearah suaminya berada.


Eva yang mendengar gumaman itu tersenyum, lantas wanita paru baya itu mengelus lembut rambut putrinya. “Mungkin karena suamimu tak ingin membuatmu terkejut, dan mungkin menurut baginya jika itu tak penting sama sekali sehingga harus menceritakannya kepadamu.”

__ADS_1


Yuna kemudian menundukkan kepalanya, “Ternyata perbuatan jahat bisa dibalas seperti itu ....” gumam Yuna.


“Sudah-sudah, kita tak usah melanjutkan pembicaraan itu lagi. Lebih baik kita pikirkan cucu-cucu kita yang belum mendapatkan nama sejak lahir dua minggu kemarin,” seloroh Vina mengalihkan pembicaraan.


“Sekarang Yuna, apakah kamu sudah memiliki nama untuk mereka?” tanya Vina kepada menantunya.


“Loh? Bukankah mas Zeen sudah memberikan nama?” Yuna kembali dibuat bingung.


“Suamimu itu jangan diandelin Yuna, dia aja sampai lupa hal penting seperti itu karena terlalu galau melihatmu tak kunjung membuka mata,” jawab Vina melirik putranya dengan lirikan malas.


Yuna nampak tersenyum kikuk, “Maaf ... karena Yuna semua jadi merawakan kekhawatiran begini,”


“Tak perlu minta maaf sayang, karena itu bukan kesalahan kamu kok.” Tutur Eva dengan suara lembutnya.


Yuna menanggapi ucapan itu dengan senyuman, kemudian tatapannya beralih kepada dua putranya yang saat itu digendong oleh daddynya.


“Mas Zeen!” panggil Yuna kepadanya suaminya.


“Ya sayang?” jawab Zeen menoleh kearah Yuna.


“Tolong bawa kesini baby, babynya ....”


Zeen mengangguk menuruti ucapan istrinya, kemudian Zeen membaringkan kedua bayinya tepat disamping Yuna.


Yuna yang melihat kedua putranya saling berceloteh ria tersenyum lembut, ada rasa haru didalam hatinya saat melihat kedua putranya yang sehat. Ia tak menyangka jika ia akan melahirkan kedua putranya dibulan ketuju dan tak merasakan apa arti melahirkan yang sesungguhnya, karena ia sudah tau jika ia melahirkan kedua putranya dengan cara sesar.


Tapi ia tak mempermasalahkan itu, sebab, melihat kedua putranya sehat saja sudah cukup baginya.


“Apakah mas sudah ada bayangan untuk memberikan kedua putra kita nama?” tanya Yuna menatap suaminya.


“Aku akan menyerahkan pemberian nama itu kepadamu sayang, aku tau jika kamu pasti sudah menyiapkanya.” Ucap Zeen sambil membeli pipi Yuna.


Yuna kembali tersenyum, “Baiklah jika itu mau mas ....” lalu tatapannya beralih kearah putra sulungnya.


“Aku akan menamai abang ganteng ini ... Garandra Albaret! Dan si bungsu yang sama gantengnya ini, Gionza Albaret!” ucap Yuna yang mendapatkan sorakan dan tepuk tangan dari para keluarganya.


Zeen kembali mendekatkan diri kepada sang istri, ia lalu mengecup mesra kening istrinya. “Nama yang bagus sayang, aku suka itu!” bisiknya.


TBC.

__ADS_1


–——


Maafkan Author jika masih ada typo bertebaran🙏


__ADS_2