
Zeen yang mendengar teriakan Yuna itu dibuat kalangan kabut, ia terus mondar mandir tak tahu harus melangkahkan kakinya kemana. Zeen yang ingin keluar kamar namun tak jadi, ia yang ingin melangkah kekamar mandi namun tak jadi juga.
Nafasnya memburu, keringat pun bercucuran, mata berkunang-kunang dibuat pusing tujuh keliling. Segitu bingungnya kah dirinya? Hanya karena melihat Yuna yang memakai handuk sampai sebatas lutut saja ia dibuat bingung. Padahal dirinya bukan yang pertama kali melihat tubuh wanita, karena ia juga pernah melihat tubuh wanita tanpa helai kain dari kekasihnya sendiri.
"Dokter Zeen! Anda bisa kekamar mandi sekarang, saya akan berganti baju saat anda sudah masuk kedalam kamar mandi."
Ucapan Yuna itu membuat Zeen tersentak, ia menggigit bibir bawahnya, tak tau harus menjawab apa. Setelah terdiam sejenak, barulah ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dan pandangannya terus tertuju kearah depan tanpa menengok Yuna yang masih meringkuk dibawah selimut itu.
Zeen begitu berjalan cepat, sampai ia memasuki kamar mandi. Ia langsung saja mengunci pintu itu dari dalam.
Mendengar suara pintu dikunci, barulah Yuna membuka selimut tebal itu. Setelah itu ia menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan perasaan lega.
Yuna bangkit dari duduknya dan sejenak terdiam memeganggi jantungnya yang terasa berdegup kencang tak karuan. Lalu tangan Yuna terangkat memeganggi pipi mulusnya yang tiba-tiba terasa panas, kemudian ia berlari kecil menuju lemari pakaian yang disana juga terdapat cermin besar yang memang sudah tersedia disana.
Yuna menatap dirinya melalui pantulan itu, dirinya langsung menepuk pipinya dengan sedikit keras. "Ada apa denganmu Yuna... Sadarlah..." gumam Yuna, yang merasa jantungnya terus berdegup kencang.
Disatu sisi, tak jauh berbeda dengan Yuna. Zeen yang sudah lima menit berada dikamar mandi itu masih saja terdiam, pikirannya terus melayang-layang, terbayang terus wajah Yuna didalam pikirannya. Apalagi ketika ia melihat Yuna yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang sungguh menggoda iman.
Zeen tersentak, ia kemudian mengelengkan kepalanya dengan cepat. "Jangan terus terpikir itu..... Otak kotor! Kenapa otakku sangat kotor sekali! Sadarlah Zeen." gerutu Zeen mengebu-gebu.
"Lebih baik aku mandi saja, agar pikiranku kembali jernih..." Zeen mengangguk-angukan kepala, setelah itu melepas pakaiannya dan menguyur dirinya dengan air dingin.
"Pergilah jauh-jauh, dasar otak kotor sialan!" umpatnya, lalu menggosok kepalanya dengan berbagai macam sabun. Bahkan dirinya tak segan-segan menghabiskan satu botol sampo yang terletak tak jauh darinya, bahkan ia tak melihat bahwa sampo yang ia pakai itu merupakan sampo milik Yuna. Dan dia dengan pikiran kulutnya menghabiskan sampo itu tanpa sisa, padahal isi sampo itu masih setengah banyak.
Zeen terus menggosok-gosok rambutnya, sehingga membuat rambut itu menjadi penuh dengan busa, bahkan busa itu sampai tinggi bak menara eifel, berwarna putih pula. Bisa kita bayangkan, bagaimana banyaknya busa itu.
"Ah, mataku perih..." Zeen cepat-cepat menghidupkan shower itu, dan lagi-lagi menguyurnya dengan air dingin membuat dirinya langsung merinding seketika.
__ADS_1
Setelah dirasa sudah bersih, Zeen segera melilit pingangnya dengan handuk kecil berwarna putih yang tersampir tak jauh darinya itu.
"Ah, segarnya...." Zeen merasa segar dan kembali fit seperti semula, ia bahkan berhasil menyingkirkan pikiran kotor itu, yang tadinya terus mengganggu otaknya itu.
"Hahh.... Saatnya keluar-"
Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, kepalanya ia celingak-celingukan kesana kemari mencari sesuatu dikamar mandi itu.
"Oh! Tidak! Aku lupa membawa pakaianku." gerutunya merasa kesal.
"Apa sicewek desa itu masih disana?" gumamnya lagi, kemudian ia berjalan mendekati pintu kamar mandi itu dan membukanya pelan-pelan, seperti maling yang ingin menyelinap masuk.
Mata Zeen tak henti-hentinya menatap keseluruhan ruangan yang merupakan kamar miliknya, ia terus mencari keberadaan sigadis desa itu.
Namun sosok itu tak ada dipandangnya, Zeen menghembuskan nafasnya merasa lega melanda pada dirinya. "Akhirnya sicewek itu pergi juga..." gumam Zeen merasa senang.
"Eh, tunggu dulu?" ia tampak berfikir, "Kenapa aku kayak begini? Ini kan kamarku? Kenapa aku harus takut padanya?" beonya bertanya pada diri sendiri.
Saat tengah sibuk merapikan penampilannya, tiba-tiba perutnya berbunyi pertanda ingin dikasi asupan oleh sang pemiliknya.
"Hahh... Cacing cacingku ternyata sudah lapar ya... Baiklah, papa akan segera memberi kalian makan." setelah bergumam sendiri, ia lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Dan mengajak langkahnya menuju dapur.
Saat langkahnya hampir sampai pada tujuan, hidungnya tanpa sengaja mengendus sesuatu yang terasa sedap. "Apa ini? Baunya enak sekali..." tak ingin terlalu lama, ia pun langsung masuk kedalam daput itu, dan mencari bau yang terasa sedap diindra penciumannya itu.
Matanya seketika berbinar, ketika melihat hidangan makanan dimeja dapur itu. Ludahnya ia teguk dengan kasar, dan bisa merasakan jika makanan yang ada dihadapanya itu begitu menggiurkan dilidah.
"Siapa yang masak ini?" Zeen mengalihkan pandangannya kedepan, mencari sosok yang memasak makanan lezat itu.
__ADS_1
Namun matanya menangkap sosok gadis desa yang tadi sempat memenuhi pikirannya itu, berada tepat dihadapanya.
Yuna pun tak kalah dibuat terkejut ketika melihat keberadaan Zeen yang sudah berada tepat didepan meja makan itu. Ia memang tak menyadari jika Zeen sudah berada didalam dapur, mungkin karena ia yang terlalu fokus pada masakannya sehingga ia tak menyadari kedatangan suaminya itu.
Yuna merasa kikuk dan cangung, "Emm, ayo dokter Zeen! Mari makan, anda pasti juga sudah lapar setelah pulang dari rumah sakit." ajak Yuna bersuara pelan namun masih didengar oleh Zeen.
Yuna berjalan mendekat dimeja itu, ia kemudian mendudukan dirinya disalah satu kursi disana dan mulai mengambil piring, siap untuk memakan masakan yang ia buat sendiri.
Namun saat Yuna ingin mengambil nasi, pergerakannya ia hentikan, kemudian pandangannya ia alihkan kembali menatap Zeen masih terdiam didepannya.
"Kenapa dokter? Apa anda merasa tak nyaman dengan keberadaan saya? Jika memang begitu saya akan membawa piring saya dan memakannya ditempat lain, agar anda bisa merasa nyaman menikmati hidangan." Yuna segera bangkit dari duduknya, tak lupa ditangannya yang sudah ada sepiring nasi dan lauk disana.
Namun saat ia baru saja melangkah, tiba-tiba suara Zeen menghentikannya.
"Tunggu! Aku tak pernah bilang seperti itu, makanlah saja disini. Aku tak apa."
Yuna membalikan tubuhnya menghadap Zeen yang sudah mendudukan diri dikursi itu.
"Apa benar saya tak menganggu?" tanya Yuna memastikan.
Zeen menghela nafas sejenak, "Aku akan merasa terganggu jika kau benar-benar beranjak dari tempat ini." ucapnya dengan nada yang dibuat ketus.
Zeen melirikan matanya kedepan, menatap Yuna yang hanya diam saja tak menanggapi ucapannya. "Duduklah! Atau aku saja yang pergi dari sini?"
Yuna tersentak, "Eh? Uh, oh! Ah, baiklah saya akan duduk." Yuna dengan kecepatannya langsung mendudukan dirinya dikursi itu, tepat dihadapan Zeen.
Zeen yang melihat itu tersenyum puas. Kemudian ia menatap makanan yang ada didepannya, karena memang perutnya yang terus berbunyi ingin sekali diberi asupan.
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa komen yang banyak... Dan sematkan tinggalkan like and vote😉