
...~°Happy 200 chapter°~...
...°°~°°...
Yuna mulai membuka matanya saat matahari pagi menyinari cela-cela yang ada dikamarnya. Tak lupa tangannya mulai meraba-raba bagian sampinya dimana biasanya ia akan menyentuh perut six pack milik sang suami ketika ia bangun tidur. Hal itu sudah menjadi kebiasaan baginya jika bangun pagi-pagi.
Namun entah mengapa kali ini terasa berbeda baginya, saat tangannya tak berdasarkan benda kota-kota itu. Tentu ia dibuat panik dan langsung menolehkan kepalanya kesamping, dan betapa terkejutnya ia tak mendapati sang suami dikasurnya itu.
“Dimana mas Zeen? Bukankah biasanya ia tak akan bangun pagi-pagi kalau belum jam setengah tujuh?” gumam Yuna mulai bertanya-tanya.
Kemudian Yuna segera bangkit dari duduknya dan langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
°°°
Setelah selesai membersihkan diri, Yuna mulai mencari keberadaan suaminya yang sejak tadi tak kunjung kembali kekamar. Biasanya jika ia sedang mandi suaminya itu pasti akan nongol dengan sendirinya. Seperti kemarin malam yang dimana Zeen membuatnya lelah akibat pertanyaan-pertanyaan aneh dari sang suami.
Saat Yuna ingin melangkahkan kakinya menuju kebawah, matanya tak sengaja melihat pintu kamar anaknya yang sedikit terbuka. Entah insting apa Yuna langsung masuk kedalam kamar itu dengan pikiran ingin melihat keadaan dua babynya sebentar sebelum ia melanjutkan kembali peecariannya.
Langkah Yuna kembali terhenti, saat sosok yang ia cari tadi ternyata sudah ada didepan matanya, dimana suaminya itu tengah berbaring diranjang milik putra-putranya. Ranjang itu sedikit kecil sehingga membuat Zeen mau tak mau menekuk kedua kakinya yang panjang itu.
Yuna pun mengulas senyumnya, “Pasti gak nyaman tidur diposisi begitu?” gumamnya.
Yuna berjalan mendekat kearah tempat tidur, dimana ada tiga pria yang sangat ia cintai.
“Dicariin dari tadi ternyata tidur disini rupanya?” Yuna dapat melihat wajah suaminya yang terlihat lelah, terbukti saat ia melihat kantung mata itu yang menghitam.
“Kenapa kamu gak bangunin aku pas baby menangis?” ucap Yuna membungkukkan sedikit tubuhnya, guna agar ia bisa leluasa mengelus rambut tebal milik Zeen dan menatapi wajah suaminya dengan puas dihati.
“Sudah selesai memandangi wajah suamimu?”
Sebuah pertanyaan membuat Yuna terlonjak kaget, Yuna pun refleks menegakan tubuhnya dengan pipi yang merona malu karena ketahuan dari sang suami saat tengah mengamati wajah tampan itu.
Zeen yang baru saja bangun ketika mendengar suara Yuna itu, mulai bangkit dari baringnya. Kemudian mengucek-ucek kedua matanya yang terasa berat ketika mata itu terbuka, mungkin karena ia baru tidur dua jam yang lalu karena dirinya yang tadi malam mengurus dua bayinya yang tengah merengek.
“Mas kenapa gak bangunin Yuna kalo baby menangis?” tanya Yuna.
Zeen menghentikan kucekannya itu, matanya pun beralih menatap istrinya dengan senyum manis yang membuat siapa saja pasti akan mabuk kepayang. Apalagi Zeen yang baru bangun tidur itu, dengan penampilan yang sedikit acak-acakan membuatnya terlihat sedikit seksi. Tentu Yuna sebagai istri mengakui hal itu.
Zeen berdiri, kemudian ia dengan tanpa sepengetahuan Yuna, ia kembali memeluk pinggang wanita itu kembali dengan kepala yang ia letakkan dibahu milik istrinya.
“Aku gak mau melihat istriku tambah kecapean! Karena kamu baru sembuh dari sakit, itu sebabnya aku memilih untuk mengurus baby boy sendiri saja!” jawab Zeen apa adanya.
__ADS_1
Hal itu membuat Yuna terharu mendengarnya. “Yaampun mas, tapi sebagai istri sekaligus ibu dari anak-anakku aku juga ikut berperan mengurus baby-baby kita... jadi lain kali jangan berpikiran seperti itu lagi ya mas? Aku jadi merasa tak enak kepadamu jika kamu sendirian yang mengurus baby twin!”
“Iya sayang iya....” Zeen lebih memilih mengalah dari pada menanggapi ucapan istrinya yang berunjung dirinya akan kalah jika berdebat dengan sang istri.
“Yaudah kalau begitu, mas mandi dulu habis itu mas langsung kebawah untuk sarapan. Mas kan pasti kembali kerja lagi kan?”
Zeen mengangguk, “Iya sayang, tapi rasanya mas pengen cuti lagi soalnya mas masih ngantuk banget pengen tidur....” jawab Zeen sambil menguap lebar.
“Ya mas tinggal minta izin pada papa!”
“Ah pasti papa gak akan ngizini, soalnya aku udah janji hanya minta cuti saat kamu belum sembuh dari sakit kemarin.” Jelas Zeen.
“Itu berarti mas sudah gak bisa berleha-leha, ayo cepat mas mandi biar seger dan ngantuknya hilang!”
Zeen menurut saja, ia pun berjalan gontai nan malasnya keluar dari ruangan itu dan menuju kamarnya.
“Rasanya aku pengen jadj bos saja, biar bisa pensiun sesuka hati!” gumam Zeen merasa frustasi.
°°°
Hari ini dikediaman Sanjaya, terlihat Diana yang sejak tadi sibuk berkutat pada masakannya. Ia hari ini membuT sebuah puding terbuat dari melon. Ia membuat puding itu agak banyak karena tujuannya ingin membawa puding itu dikediaman Albaret tempat kakaknya tinggal.
Diana sejenak menatap sang mama, kemudian ia mengalihkan kembali pada puding buatanya.
“Aku pengen bikin sendiri saja mah, soalnya aku ingin memberikan puding ini pada kakak Yuna mah... Diana pengen berkunjung kesana sambil bawain masakan dari Diana!”
“Wah? Baik banget anak gadis mama ini....”
Diana yang mendapat pujian itu hanya tersenyum menanggapi.
“Yaudah lanjutkan acara bikinnya, mama tak ketaman dulu ya? Bunga-bunga mama minta disiramin soalnya.”
“Oke mah!” jawab Diana langsung.
“Sebenarnya puding ini hanya alasan saja! Yang sebenarnya itu aku pengen ketemu calon imam dirumah kak Yuna!” gumam Diana kegirangan.
°
°
°
__ADS_1
°
“Assalamualaikum kak Yunaaaaa!” teriak Diana yang seperti menganggap rumahnya sendiri.
Gadis itu nampaknya sudah lupa jika dirumah tersebut ada bayi, dan jika bayi mendengar suara orang tiba-tiba pasti akan membuat baby langsung terkejut.
“Hei!”
Diana langsung menolehkan kepalanya saat mendengar suara tersebut. Karena ia begitu familiar dengan suara itu. Dan benar saja saat ia menoleh kesamping, disana sudah ada Firo yang tengah menatap Diana dengan tatapan tajam.
“Jika kau tau sopan santun, cobalah untuk tak berteriak dirumah orang! Kau tak tau apa ada dua bayi yang lagi tidur?” ucap Firo dengan nada ketusnya.
Diana yang mendengar itu tentu hanya mengabaikannya, karena dirinya yang sudah terkena firus ketampanan Firo yang membuat ia melupakan tujuannya datang kekediaman itu.
“Dasar gadis aneh! Bukanya menjawab malah diam kayak patung disitu!” gumam Firo mencebik, entah mengapa jika berhadapan dengan Diana. Didalam hati Firo bawaannya kesal terus apalagi melihat wajah Diana yang menurutnya sangat bodoh.
Tak mendapati tanggapan dari Diana, Firo pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya berada. Hal itu membuat Diana yang tak melihat sosok Firo kembali langsung tersadar dari lamunnya.
Seketika Diana menepuk keningnya, “Ah! Bodoh banget kamu Diana? Kok kamu malah bertingkah bodoh didepan calon imammu sendiri?” gumam Diana menyesali perbuatannya.
“Ah sudahlah! Mending aku pergi kekamar kakak saja dan minta kakak buat jadi mak comblang diriku dengan my ayang bebep!” pekik Diana kembali kegirangan.
°°°
Disisi lain, didalam sebuah Cafe kini Zeen sedang beristirahat disana. Karena jam dua belas siang adalah jam istirahat baginya yang seorang dokter. Begitupun dengan dokter lainnya, namun dokter lainnya lebih memilih istirahat dikantin rumah sakit karena lebih praktis dan tak akan takut telat jika jadwal istirahat telah usai.
Zeen memilih istirahat dicafe karena ia memiliki sebuah alsana, karena pada hari ini ia akan berjumpa dengan Rafli sang mata-mata bayaranya.
Hanya menunggu beberapa detik saja, orang yang ia tunggu akhirnya datang juga, Zeen melambaikan tangannya guna untuk mempermudah Rafli mecari keberadaannya.
“Selamat siang tuan Zeen! Apakah saya sudah membuat anda menunggu lama?” ucap Rafli bertanya sambil mendudukan dirinya dikursi yang sudah disediakan itu.
“Tidak! Kau bahkan datang setelah aku duduk dikursi ini?”
“Ya tuan! Beruntung anda menghubungi saya ketika saya berada tak jauh dari lokasi yang ada pinta. Jadi saya bisa lebih cepat datang kesini.”
“Hemm,” Zeen nampak memanut-manut mengerti. “Yasudah! Sekarang jelaskanlah tentang keadaan wanita itu sekarang!” titah Zeen kepada Rafli sang mata-mata.
TBC.
Mohon jangan dibaca ya Gaes yg bab 201 yang pertama itu, karena gk nyambung jadi Author doubel yang chp 201 nya. Oke! Tolong diskip aja dan baca episode berikutnya.
__ADS_1