
Zeen terbangun dari tidurnya ketika sinar matahari yang masuk melalui cela-cela jenda mengenai indra penglihatannya. Ia pun bangkit dari tidurnya dan mulai mengucek-cuek matanya agar penglihatannya tak terlalu kabur.
“Sudah pagi ternyata ....” gumam Zeen yang melihat ruang pada kamar itu, tak lagi gelap.
Zeen mendesah kasar secara tiba-tiba, “Ternyata aku jadi tidur sendiri tadi malam ....” ujarnya merasa lesu ketika mengingat kejadian, malam kemarin.
“Baru bangun?”
Sebuah suara membuat Zeen tersentak, ia pun mengalihkan pandangannya kedepan dan terlihatlah sosok lelaki, yang sedang berdiri didepan pintu sambil menyandarkan tubuhnya.
“Dasar tamu tak diundang tak tahu malu. Sudah jam sembilan malah baru bangun, bahkan yang tuan rumah saja sudah bangun sedari subuh ....” ucapan itu bernada sindiran yang dijelaskan dan ditunjukkan kepada Zeen.
Zeen mengaruk kepalanya, merasa malu seketika.
“Ciri-ciri manusia tak punya sopan santun, dan tak taat pada agamanya.” Sindirnya lagi, setelah itu berlalu pergi dari sana meninggalkan Zeen yang melongo ditempatnya.
Zeen mengeleng kepala, “Apa benar itu anaknya om Bram? Tapi sifatnya kok bertolak belakang sama kedua orangtuanya?” ucapnya bertanya-tanya pada diri sendiri, “Apa jangan-jangan anak pungut?” Zeen tergelak atas ucapannya sendiri dan tertawa pelan ketika menyadari perkataannya.
“Sudahlah, lebih baik aku mandi saja. Setelah itu baru merayu Yuna lagi, semangat Zeen kau pasti bisa.” teriaknya dengan penuh energi. Dan dengan lebaynya menyemangati diri sendiri.
🍂🍂
Setelah membersihkan dirinya, Zeen pun berjalan keluar berniat untuk menemui Yuna. Namun siapa sangka, bukannya Yuna yang ia temui malah kedua paman dan tantenya Yuna yang saat ini tengah bersantai diruang keluarga.
Zeen berjalan pelan menghampiri mereka.
“Halo tante, om!” sapanya, sontak kedua pasutri itu langsung menegok kearahnya.
“Oh, Zeen, sudah bangun ternyata ....” kata Winda berucap santai. Seolah mereka sudah tau jika Zeen menginap dirumah mereka.
“Iya tante ....” Zeen mengaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Kami sudah tau jika kamu ada dirumah kami Zeen, Yuna sudah menjelaskan tentang kamu yang pingsan akitab hujan-hujanan tadi malam.” Jelas Bram, seolah tau dengan mimik wajah Zeen yang tengah bingung.
“Oh ... begitu ya om ....” Zeen memanut-manut mengerti, kikuk merasa malu.
“Ya, saya tak menyangka jika kamu beneran nekat nungguin diluar rumah, apalagi pas hujan-hujannya.” Bram tertawa sambil mengeleng melihat Zeen.
“Demi Yuna saya rela melakukan apapun om,”
__ADS_1
“Alah ... gak usah sok bilang demi-demi deh! Orang kau yang buat Yuna jadi begitu, dan memilih pergi. Untung Yuna balik kerumah kami, kalau Yuna nekat pergi jauh. Aku yang akan maju didepan dan menghabisimu.” Tekan Yudas, yang hanya sekedar lewat disana dan kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang makan.
Bram mengeleng melihat putranya, sedangkan Zeen menundukkan kepala merasa malu.
“Sudah Zeen ... tak usah digubris ya ucapannya ... om juga gak ngerti, tuh anak sifatnya kok jadi berubah kasar kayak gitu. Pasti gara-gara kelamaan diluar negeri, akhirnya pergaulanya jelek kayak sifatnya.” Ucap Bram, dan melihat Zeen dengan pandangan bersalah.
“Gak papa om, yang diucapkan kakak ipar semua itu benar. Jadi tak heran kalau kakak ipar membenci saya,”
Bram dan istrinya saling berpandangan, lalu memandang Zeen dengan pandangan iba.
Bram pun berdiri dari duduknya dan diikuti istrinya yang juga berdiri dari duduknya.
Kedua pasutri itu tiba-tiba menepuk bahu Zeen, yang membuat sang empun sedikit tersentak.
“Kamu baik banget sih Zeen ... Yudas aja dari kemarin berkata tak sopan padamu, ini kamu malah nggangap dia sebagai kakak ipar. Om jadi malu sama kelakuan anak om ....”
“Yah ... anak om kan kakak dari istri saya, tentu saja saya juga harus memanggil anak om dengan sebutan kakak ....” jawab Zeen.
“Aduh ... tante juga kok jadi merasa bersalah ... begini saja, nanti tante omelin dia biar gak ganggu kamu saat sedang bersama Yuna. Kami berdua tak bisa ikut campur antara masalah kalian berdua. Kita membiarkan kamu dan Yuna menyelesaikan masalah kalian dengan secara kedewasaan,” tutur Winda bersuara lembut dan menenangkan.
“Terimakasih tante, om. Sudah mau mengerti akan masalah saya, saya jadi merasa tak enak kepada anda berdua.”
Zeen mengukir senyum dibibirnya, ia merasa terharu dan merasa bahagia ketika keluarga Yuna tak menolak kedatangannya dirumah mereka, seperti yang dilakukan oleh putra mereka yang menolak dirinya secara mentah-mentahan.
“Oh ya Zeen, bagaimana dengan keadaan nenek kamu?” tanya Winda.
“Belum ada kabar dari mama, tante. Kemarin waktu dibawa kerumah sakit, nenek masih belum sadarkan diri.” Jelas Zeen.
“Hemm, kita belum sempat menjenguk, jika boleh kami akan menjenguk nenek kamu besok ya Zeen.” Ucap Bram pada Zeen.
“Oh, silahkan om, nenek pasti senang bisa melihat besan dari istri cucunya.” Jawab dengan senang hati.
“Hemm, besok kami akan datang, kalau begitu. Ayo kita sarapan dulu. Pasti Yuna sudah selesai masaknya.” Ajak Bram.
“Oh! Benar, Yuna kan sekarang lagi masak, masakan Yuna itu benar-benar tak boleh dilewatkan. Yuk! Otw sekarang.” Timpal Winda dengan antusiasnya dan sedikit berlari menuju ruang makan.
“Ayok Zeen, istri kamu loh yang masak,”
Zeen mengangguk, “Ya om!”
__ADS_1
Mereka berdua pun berjalan mengikuti langkah Winda yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka.
'Aku mah gak nolak, jika itu makasan istriku sendiri,' gumam Zeen dengan perasaan senang. Sambil mesem-mesem sendiri.
Sesampainya Zeen diruang makan, tepat disana ia melihat Yuna yang sedang memakai celmek sambil menata makanan dimeja itu. Hal itu tentu membuat Zeen terbuai, ia baru tau jika pesona Yuna yang seperti benar-benar membuatnya tergoda. Bagaimana tidak? Menurut pandangan Zeen, Yuna begitu seksi dan memiliki aura istri idaman.
'Hemm, dialah istriku. Istri dari Zeen Albaret,' batin Zeen, lagi-lagi tersenyum-senyum sendiri.
“Loh, Zeen? Kenapa berdiri disitu aja? Ayok sini, kita makan bareng-bareng.” Ujar Winda yang membuat Zeen tersentak dan tersadar dari dunia hayalannya.
Zeen berdehem, “Ya tante,” jawabnya lalu berjalan menuju salah satu kursi kosong disana.
Saat Zeen sudah anteng pada duduknya, entah mengapa, dari samping seperti ada hal yang menyengat dan membuat dirinya merasa tak nyaman.
Ia yang penasar itu, langsung menegokkan kepalanya kesamping. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Yudas yang tengah melihatnya dengan tatapan tajam.
'Kirain apa, ternyata dia toh,' gumamnya yang langsung mengalihkan pandangannya kembali.
“Ayok Yun ... kamu juga ikut makan,” celetuk Winda.
“Yuna makan nanti aja tante, Yuna masih mau cuci piring dulu.” Tolak Yuna dengan halus.
“Jangan gitu dong ....” Winda tak tinggal diam, ia pun berdiri dari duduknya dan menarik tangan Yuna menuju kursi kosong yang berada tepat disamping Zeen.
“Nah, duduk disini dengan anteng,” setelah berucap, Winda pun kembali kekursinya.
“Selamat makan ....” celetuk Winda lagi.
Yuna tersenyum kikuk melihat itu, sejenak ia melirikan matanya kearah Zeen yang tanpa diduga pria itu juga tengah menatapnya.
Reflek, Yuna pun segera mengalihkan pandangannya, berdehem pelan dan mulai memakan makanannya ketika ia sudah mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk.
Saat meja makan itu hanya diisi oleh suara sendok dan piring saling beradu. Dan Yuna yang sangat fokus pada makananya, tiba-tiba ia tersentak kala merasakan gengaman hangat yang ada ditangannya.
Yuna pun melirik kebawah, dan benar saja jika tangannya saat ini tengah digengam oleh tangan besar milik Zeen.
Yuna mendongakan kepalanya, dan langsung tersuguhi oleh Zeen yang tersenyum menggoda kearahnya. Tak lupa kerlingan mata yang membuat Yuna membelalakan matanya, seketika.
'Astaga pria ini,' gumam Yuna, mengalihkan pandangannya kembali karena merasa malu. Dan berhasil membuat pipinya langsung merona.
__ADS_1
TBC.