Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 74


__ADS_3

“Hais, dimana sih itu kemeja ....”


Zeen tengah mengobrak-abrik seluruh isi lemarinya, entah baju mana yang tengah ia cari sehingga membuat isi lemari itu menjadi berantakan. Bahkan Yuna yang baru saja keluar dari kamar mandi itu dibuat tertegun. Pasalnya baru kemarin dia melipat baju-baju dalam lemari itu dengan sangat rapi. Namun dengan santainya pria yang berada didepan lemari itu malah membrantakinya?


Handuk kecil yang berada ditangannya, ia hempaskan begitu saja. Zeen tak tau saja sifat asli didalam diri pada Yuna seperti apa, yang pasti lelaki berjangkun itu tanpa sadar telah membangkitkan sifat tersembunyinya.


“Mas, Zeen ....!!!”


Teriakan yang begitu mengelegar diruangan itu seketika membuat Zeen melompat sangking terkejutnya. Sejenak ia mengelus dadanya yang terus berdegup kencang, lalu ia tolehkan kepalanya kebelakang.


“Kenapa kau berteri– huh?” Zeen nampak bingung dengan raut wajah Yuna, yang baru pertama kali ia lihat.


Raut wajah itu ditekuk, wajah memerah padam dengan kedua alis yang menyatu, beserta kening yang berkerut.


“Kenapa si gadis desa itu?” gumamnya bertanya.


Makin bingung lah, Zeen ketika melihat Yuna berjalan kearahnya dengan menghentak-hentakan kedua kakinya.


“Kenapa sih kamu mas?!!” teriak Yuna jengkel.


“Kenapa apanya hah? Kenapa kau berteriak seperti itu?” tanya Zeen heran.


“Masih gak ngerti juga? Yaampun dasar laki-laki ini!”


“Apa?” beo Zeen terkejut.


“Mas, kamu tak tau apa? Saya itu sudah susah-susah membereskan baju-baju kamu. Tapi kenapa kamu dengan seenaknya melempar-lempar baju sampai berserakan seperti ini? Yaampun mas ....”


Dan mulailah ocehan Yuna sampai tak menjeda ucapannya sedikutpun, bahkan Zeen yang ingin menghentikan ucapan itu tak bisa.


“Tu-tunggu seben–”

__ADS_1


Lagi-lagi ucapan Zeen terhenti kala suaranya kalah dengan suara Yuna yang begitu cempreng.


“Astaga! Apa memang begini sifat aslinya?” gumam Zeen frustrasi sambil menepuk keningnya, merasa pusing melanda.


“Baru saja kemarin saya merapikan baju-baju ini, bahkan tangan saya sampai pegal. Tapi maa dengan santainya membuang baju kelantai ....”


Kata-kata yang terlontar pada mulut kecil Yuna terus ia ulang-ulang, bahkan dirinya pun tak menyadarinya.


“Iya, iya. Berhenti lah mengoceh. Aku akan bertanggung jawab, jadi kau tak perlu berteriak-teriak seperti itu lagi.”


Akhirnya Zeen mengalah juga, sepertinya ia sudah tak tahan lagi mendengar suara Yuna yang begitu cempreng ditelingga. Bisa-bisa, gendang telinga Zeen jebol jika dirinya tak segera menghentikan ocehan itu.


Yuna yang mendengar itu sejenak terdiam, lalu menatap Zeen yang ada didepannya. “Seharusnya anda bilang seperti itu sejak tadi. Kan saja tak perlu susah-susah memberitahu anda.”


Zeen melonggo. “Kau sendiri yang tak– ah sudahlah, terserah apa yang kau katakan, suka-suka kamu.” gerutu Zeen. Lalu memunguti bajunya dalam satu gerakan sehingga membuat baju-baju itu menumpuk diatas tangannya.


“Puas?” tanyanya pada Yuna dengan raut malas.


Yuna mengangguk, lalu memberikan jempol pada Zeen. Zeen yang melihat itu mendengus lalu membawa setumpuk baju-baju itu dikasurnya. Ia mulai melipat baju itu satu persatu, tak lupa matanya yang ia lirikan pada Yuna yang masih berdiri pada tempatnya. Sepertinya gadis itu masih ingin mengawasi Zeen.


Zeen yang melihat kepergian Yuna menghentikan acara lipat melipatnya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskanya dengan perasaan lega yang menjalar didalam dirinya.


“Apa-apaan itu tadi? Kenapa dia bertingkah seperti itu? Biasanya dia juga selalu bertingkah malu-malu,” gerutu Zeen dengan perasaan kesal.


“Sepertinya aku harus berhati-hati jika ingin mengobrak-abrik isi lemari, jika tidak, maka tanduk gadis itu akan muncul. Siap untuk menyeruduk.” Gerutu Zeen lagi. Tak lupa tangannya yang terus berkerja melipat semua pakainya dengan asal dan tak teratur.


“Mengapa aku harus takut dengannya? Bukankah ini lemariku? Ah sudahlah, tak ada manfaatnya juga jika terus memikirkan itu.”


Selama lima menit berlalu ia melipat pakaian itu, dan lima menit itulah akhirnya ia sudah menyelesaikannya.


“Ah ... Akhirnya beres juga,” ucapnya yang baru saja meletakkan semua pakaiannya didalam lemari.

__ADS_1


Ceklek, terdengar suara pintu terbuka. Yuna yang baru saja menyelesaikan tugasnya didapur itu menyusul Zeen kembali, yang ada dikamarnya.


“Bagaimana mas ...? Apa semua sudah beres?” tanyanya.


Zeen berkecak pingangg, lalu mengangkat dagunya agak tinggi. “Lihatlah sendiri. Semuanya sudah beres.” Ucapnya dengan nada sombong, seperti boneka pinokio.


“Wah cepat sekali?” ujar Yuna lalu berjalan mendekat pada lemari.


“Tentu saja ... siapa dulu dong, si orang serba bisa ... gituloh,” lagi-lagi Zeen berucap sombong.


“Hemm,” Yuna mulai membuka lemari itu dengan perlahan, membuat Zeen yang melihat itu tersenyum-senyum sendiri. Sepertinya ia tengah membangkan kemampuannya yang melipat baju dengan sangat cepat.


Brukk!


Bruk! Bruk! Bruk! Bruk!


Satu per satu baju didalam lemari itu kembali berserakan, padahal Yuna baru saja membuka lemari itu. Tapi ia  malah langsung disuguhi baju-baju Zeen yang menimpa kepalanya.


Zeen mengangga, matanya hampir keluar jika ia lebih melebarkan bola matanya itu.


“Fuhhh~” suara helaan terdengar dari Yuna.


Glek! Zeen meneguk ludahnya dengan susah payah, saat Yuna tiba-tiba saja menengok kearahnya dengan tatapan datar.


“Hahh ... sudahlah mas, biarkan saja nanti aku yang membereskan” ucap Yuna sambil menghela nafas.


Tiba-tiba Yuna berbalik kearah Zeen dan memberikan sebuah kemeja pada pria itu. “Lain kali, jika butuh sesuatu, bertanya ... jika anda tak tahu letak bajunya maka saya yang akan memberitahu.”


Setelah memberikan kemeja itu, Yuna langsung berlalu pergi tanpa pamit pada Zeen.


Masih membeku pada tempatnya,  Zeen langsung melirikan matanya pada kemeja yang ada ditangannya. Setelah itu ia menghela nafas frustrasi, “Ini kan kemejaku yang aku cari?” cicitnya dengan wajah memelas.

__ADS_1


TBC.


Yaampun Yuna~ sampe segitunya😂


__ADS_2