Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 75


__ADS_3

°°°°°°


Sudah beberapa hari ini sifat Zeen terhadap Yuna masih menetap, yakni bersikap lembut tak seperti biasanya yang selalu ketus terhadap Yuna.


Yuna yang menyadari itu benar-benar belum merasa terbiasa. Ingin bertanya, tapi ia tak tahu harus berkata apa dan dengan alasan apa? Tapi disatu sisi, hati Yuna merasa senang dan ia berharap jika sifat Zeen dengannya itu akan menetap selamanya.


Bolehkan Yuna sedikit berharap? Ia yang sebagai seorang istri tentu saja menginginkan hal itu. Memang benar,   jika dari awal pernikahannya. Zeen selalu bersikap ketus dan marah-marah padanya, ia juga sangat tau jika Zeen selalu berhubungan dengan kekasihnya. Namun ia selalu bersabar dalam menghadapi cobaan itu.


Ia sudah terikat janji dengan Almarhum neneknya. Ia sudah berjanji jika ia harus hidup bahagia bersama dengan Zeen. Itu sebabnya ia masih tetap memperjuangkan pernikahannya, yang bisa dikatakan sudah ada retakan sedari awal.


Yuna seorang gadis desa bukanlah seseorang yang lemah. Jika dilihat dari luar orang pasti beranggapan jika Yuna adalah gadis polos dan bodoh. Namun mereka tak tahu saja, gadis yang disebut-sebut sebagai seorang gadis bodoh dan mudah terpengaruh itu memiliki jiwa yang besar, lembut tapi juga kuat. Orang lain jika menghadapi badai dalam rumah tangganya pasti akan langsung menyerah begitu saja.


Itu sebabnya, orang-orang yang berada disisi Yuna pasti akan merasakan pesona dari gadis desa itu.


🍂🍂


Hari libur dari pekerjaan, seperti biasanya Yuna saat ini tengah menyibukkan diri ditaman. Menyiram bunga, menanam bunga dan membersihkannya.


“Yaampun non Yuna ... biarkan saya saja yang melakukan pekerjaan itu, saya tak ingin dianggap makan gaji buta.”


Ucap seorang lelekai paru baya, yang merupakan tukang kebun dikediaman Albaret.


Yuna tersenyum mendengar itu, “Gak papa kok pak ... jika memang ada yang bilang begitu maka saya yang akan jadi pawang bapak. Jika memang bapak tidak akan digaji ... Maka saya yang akan mengaji bapak! Kebetulan saya sudah memiliki banyak uang, karena saya sudah jadi karyawan dirumah sakit papa Albaret.” jelas Yuna dengan wajah berseri-seri.


Tukang kebun itu tertawa mendengar penjelasan Yuna, “Yaampun non Yuna ... kenapa anda sangat baik sekali ... saya jadi keinget anak gadis saya dikampung, selalu bersikap manis dan imut seperti non Yuna.”


“Oh! Benarkah? Wah ... saya jadi malu kalo disebut imut ....” Ujar Yuna terkekeh.

__ADS_1


“Hahaha, Yasudah kalau begitu non! Bapak tinggal dulu ya? Soalnya masih harus membersihkan kolam berenang disana.”


“Oh! Engih-engih pak! Silahkan lanjutkan pekerjaannya.” Jawab Yuna dengan sopan.


“Baik non. Jika ada yang non butuhkan, nanti tinggal panggil bapak saja ya, non.”


Yuna mengangguk, “Iya pak.” jawab Yuna tersenyum.


Setelah berpamitan, tukan kebun itu berlalu meninggalkan Yuna disana.


Yuna pun melanjutkan acara menyiramnya kembali. Namun tiba-tiba, sebuah suara yang sangat ia kenal, menghentikan pergerakannya kembali.


“Hem, hem, rajin sekali.”


Yuna menoleh kearah sumber suara itu. Ternyata dugaanya benar, jika suara itu merupakan suara dari lelaki yang menghantui isi pikirkannya, Zeen Albaret. Dialah pemilik suara itu.


“Baru selesai olahraga, mas?” tanya Yuna.


Yuna mengeleng, 'Tinggal jawab iya! Saja apa susahnya ....' Batin Yuna terkekeh pelan.


Zeen menghentikan langkahnya tepat disamping Yuna, matanya tak sengaja melihat seekor kucing berwarna putih sedang duduk bersantai, tepat dibawah kaki Yuna. Ia pun berjongkok untuk melihat kucing itu.


“Hai manis ....” Ia berucap sambil mengelus bulu kucing itu.


“Miauu ....”


Kucing itu mengeram saat merasakan elusan dari Zeen.

__ADS_1


Zeen tersenyum melihatnya, “Manis sekali.” Ia menjeda ucapannya lalu mendongak melihat wajah Yuna yang berada diatasnya. “Kayak pemiliknya ....” gumamnya, sambil tersenyum hangat saat menatap wajah Yuna. Bahkan sipemilik wajah itu tak menyadarinya sama sekali.


Merasa ditata begitu dalam dari arah bawahnya, Yuna pun menoleh kebawah dan mendapati Zeen yang tengah menatapnya.


“Ada apa dokter?” tanyanya. “Apakah diwajah saya ada sesuatu yang menempel?” tanyanya lagi.


“Hemm ... dokter lagi,” dengus Zeen.


Yuna tersadar, “Eh? Iya lupa! Maksudnya, mas ....” Cicit Yuna.


Zeen berdiri dari duduknya, lalu mencubit hidung Yuna tiba-tiba.


“Sudahi acara menyiramu, lebih baik kita masuk kedalam. Sudah waktunya makan siang, jangan lupa beri makan kucingmu biar cepat besar.” Jelas Zeen tersenyum miring. Lalu meninggalkan Yuna begitu saja.


Yuna mengusap hidupnya yang tadi dicubit pelan oleh Zeen. Entah mengapa jantungnya berdebar hanya diperlakukan seperti itu.


Yuna menghentikan acara menyiramnya, lalu meletakkan selang air pada tempat semula. Setelah itu kembali menghampiri kucing kecilnya.


“Yuk pus, kita masuk kedalam. Pasti kamu sudah kelaparan.” Ucapnya, lalu dengan langkah girang ia masuk kedalam rumah besar itu.


Dibalik balkon yang agak tinggi jaraknya, Lena, wanita berpakaian glamor itu terus mengamati interaksi Zeen dan Yuna. Tatapan matanya begitu jengkel saat mengarah pada Yuna. Entah apa alasannya. Yang pasti ia begitu tak suka dengan keberadaan Yuna yang ada dukediaman itu.


“Sepertinya aku terlalu melongarkan gadi desa itu dirumah ini. Sebaiknya aku harus cepat bertindak agar gadis itu bisa cepat dikeluarkan dari rumah ini. Gadis kampungan seperti itu tak cocok sama sekali berada dirumah ini.” Gumamnya tersenyum sinis.


Lena mengambil benda pipihnya yang terletak tak jauh darinya. Tujuannya saat ini hanya menelfon Laura, untuk melanjutkan rencana yang sudah dirancang yang sempat tertunda sebelumnya.


“Halo Laura ... bisakah kamu datang kesini lagi? Bukankah kita harus segera menyingkirkan gadis benalu itu, dirumah ini?” Lena berkata dengan nada sinis dan sombongnya.

__ADS_1


TBC.


Mak lampir bertindak lagi gaes😵


__ADS_2