
Kini Yuna tengah berjalan menuruni tangga, dengan Zeen yang sudah berjalan didepannya. Samar-samar telinga Yuna mendengar suara orang yang tengah berbincang dibawah sana, Yuna dapat menebak jika nenek dari Zeen sudah datang dan sedang bercengkrama dengan kedua mertuanya.
Dan benar saja, ketika langkah Yuna yang tengah mengikuti langkah Zeen itu. Ia melihat sosok wanita yang sangat tua, namu pakaian yang ia kenakan sangat modis dan glamor, Yuna dapat menebak jika nenek Zeen itu menyukai baju tren jaman sekarang.
Yuna seketika dilanda kegugupan, ia mencengkram ujung bajunya saat pandangannya tak sengaja berpandangan dengan neneknya Zeen itu.
Yuna sudah takut-takut sendiri, jika nenek Zeen tak akan menerimanya karena statusnya yang sebagai seorang gadis desa, dengan penampilan yang jauh dari kata modis dan bergaya. Cara berpakaiannya sejak dulu bisa dikatakan biasa-biasa saja, bahkan wajah mulusnya itu tak terpoles sedikit pun oleh warna yang orang menamainya 'Make up'.
"Ini dia pengantinnya.... Emang kalian sedang apa dikamar? Kalian membuatku menunggu terlalu lama." cetus wanita tua itu.
Yuna menundukkan kepala dibalik punggung Zeen, sedangkan Zeen hanya bisa mengaruk rambutnya.
"Emm, maaf nek." ucap Zeen tersenyum kikuk.
Vina, selaku mama kandung Zeen itu mengeleng melihat tingkah putranya itu.
"Mah.. Cucu kesayangan mama itu yang bandel, menantuku jangan disalahkan juga... Cucu mama itu yang kalo dibangunin susah bener." Vina melirik putranya dengan tatapan tajam.
"Mah? Kok malah nyalahin Zeen sih? Mama ini, anaknya sendiri kok malah gak dibelain." gerutu Zeen kesal.
"Mau belain kamu gimana? Kamu itu bandel! Jadi, mama gak mau belain kamu." ucap Vina tak mau kalah.
Albaret yang melihat perdebatan itu menghela nafasnya panjang, ia mengeleng saja melihat kedua orang tersayangnya itu sangat keras kepala dan tak mau mengalah.
"Sudah, sudah. Aku kesini bukan ingin melihat perdebatan kalian, aku kesini bertujuan untuk melihat istri dari cucuku." ucap Rima, wanita paru baya itu.
Zeen dan juga mamanya, menghentikan perdebatannya.
"Maaf bu..." tutur Vina, merasa malu.
Rima hanya bisa mengelengkan kepala dan menghembuskan nafasnya pelan. "Kalian berdua! Mendekatlah kemari." ucapnya, menyuruh Zeen dan Yuna untuk menghadap kepadanya.
Mereka berdua pun berjalan bersama menghampiri wanita tua itu.
__ADS_1
Saat melihat kedua sepasang insan itu, Rima terdiam sebentar dan mengamati kedua insan itu, pandangannya terhenti saat matanya melihat kearah Yuna.
"Kamu Yuna kan?" tanya wanita itu.
"Yaampun mah... Ya iya dong itu Yuna, terus siapa lagi?" ucap Albaret dibuat mengelengkan kepalanya.
Tongkat yang agak panjang itu, ia arahkan pada lelaki yang menyela ucapannya. Dan mengarahkan tongkat itu untuk memukul lengan Albaret.
"Aww.. Sakit mah, kok dipukul sih." gerutu Albaret sambil mengelus lengannya.
"Diam kamu! Aku tak bicara denganmu, aku ini sedang bertanya pada istrinya cucuku." ucap Rima mendengus kesal. Sambil menatap sini Albaret yang merupakan putra pertamanya itu.
Albaret yang mendapat tatapan sinis dari mamanya itu hanya bisa mengerutu dalam hati.
Rima kembali mengalihkan pandangannya menatap Yuna."Kamu Yuna kan?" tanyanya lagi.
"Iya nek.." jawab Yuna, sedikit gugup.
"Kemarilah... Duduk disampingku." wanita tua itu menyuruh Yuna untuk duduk disofa, tepat disampingnya. Dan disamping wanita itu juga ada seorang lelaki muda yang hanya diam mengamati.
"Yaampun.. Kenapa kau hanya diam saja kayak dipatung disitu, ck ck ck.." Rima mengeleng melihat keterdiaman Yuna.
Yuna tersadar, iya lalu menunjukan senyum kikuknya. "Eh! Iya nek, maaf..." ucapnya, lalu menuruti perintah itu.
Rima mendegus melihat tingkah Yuna itu, ia lalu melirik Zeen yang masih terdiam berdiri didepannya.
"Kau kenapa juga masih disitu? Haruskah aku menyuruhmu untuk duduk juga?" ucap Rima berada ketus, membuat Zeen terhenyak dari diamnya.
Zeen mengaruk kepalanya yang tak gatal, "Eh! Iya nek..." Zeen lalu berjalan disalah satu kursi yang masih kosong disana, ia pun duduk dikursi itu dan melirik Yuna sekilas.
Rima kembali memandang Yuna yang berada tepat disampingnya, "Kau sudah tau siapa aku kan?" tanyanya pada Yuna.
Yuna menengok dan menatap wanita tua itu, "Iya nek," jawab Yuna mengangguk.
__ADS_1
"Bagus, untuk lebih jelasnya aku akan memperkenalkan diriku agar kau lebih paham lagi. Aku merupakan ibu kandung dari Albaret papa mertuamu, dia adalah anakku yang tertua, aku memiliki dua anak yang satunya perempuan. Dia tak bisa ikut bersamaku kesini, karena ada suatu urusan diluar kota." jelasnya.
"Kedua anakku memiliki sifat yang bertolak belakang, papa mertuamu itu sifatnya memang tegas jika dilihat dari luar. Tapi aslinya dia itu memiliki sifat kekanakan persis seperti suami kamu itu."
"Mah... Kenapa sifat juga dibawa-bawa sih..." gerutu Albaret kesal pada mamanya.
Rima mengacuhkan rengekan dari putranya itu, ia pun kembali menjelaskan tentang keluarganya pada Yuna.
"Sedangkan adik perempuan dari ayah mertuamu itu, memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Dia memiliki sifat pemarah dan mudah emosi, jadi... Ketika nanti kau bertemu dengannya, maka kusarankan jaga sikapmu itu agar tak menimbulkan suatu masalah diantar kau dan putriku nanti." ucapnya dengan suara tegas.
Yuna pun mengangguk paham, ia tak tahu harus menjawab pernyataan seperti apa.
"Satu lagi, putriku itu sebenarnya rewel sekali. Jika ia melihat sesuatu yang tak ia suka, maka ia tak akan segan-segan menyingkirkannya. Kamu paham kan?" tanyanya memberi tekanan pada Yuna.
Yuna kembali mengangguk, "Saya paham nek."
Rima tersenyum puas mendengarnya, "Bagus, oh! Aku hampir lupa. Kenalkan, pria muda yang ada disampingku ini juga merupakan cucuku. Dia anak dari putriku namanya Firo Wiliam."
Yuna tersenyum kaku saat pandangannya menatap mata Firo, yang menatapnya dengan tatapan dingin. Yuna pun mengulurkan tangannya, untuk mengenakan dirinya.
"Yuna.." ucapnya, tak lupa bibirnya yang selalu tersenyum agar terkesan sopan saat berhadapan dengan tamu penting dari keluarga mertuanya itu.
Firo menatap Yuna sekilas, dan menerima ukuran itu hanya sekilas sentuhan saja. Bahkan mengenggam tangan Yuna pun belum sampai.
"Firo." jawab lelaki itu dengan suara dingin dan datarnya.
Tangan Yuna yang masih menggantung itu, ia genggam dan membawanya kembali. Meletakkanya dipaha.
Rima menepuk bahu cucu keduanya itu, "Firo ini merupakan pengusaha sukses dijakarta, kedua cucu lelaki ku! Sangat membanggakan. Aku sangat menyayangi mereka berdua, dan tentunya aku ingin melihat mereka berbahagia bersama dengan pasangan mereka. Pasangan yang tepat untuk mereka berdua, namun... Cucu pertamaku sudah menikah dan aku tak perlu lagi mengkhawatirkannya. Yang aku hawatirkan sekarang adalah cucu keduaku, karena dia belum mendapatkan jodoh saat ini." jelasnya.
"Yang pastinya aku akan mendapatkan jodoh yang sesuai setandarku! Dan tak akan sama seperti standar, istrinya kak Zeen." ucap Firo dengan angkuhnya.
Zeen yang mendengar itu sedikit kesal, dirinya seperti diremehkan oleh sepupunya itu.
__ADS_1
Sedangkan Yuna? Yuna hanya tersenyum menanggapi itu, dirinya masih bisa menjaga ekspresinya dan seperti tak memperdulikan ucapan itu.
TBC.