Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 85


__ADS_3

...—☘️Selamat Membaca☘️—...


...***...


Yuna langsung pamit ketika ia lebih dulu menyelesaikan sarapannya. Ia sejak tadi dibuat gugup akibat ulah Zeen yang tak mau melepaskan tangannya ketika ia mencoba menarik tangannya dari tangan Zeen. Ia pun berusaha untuk menghindari dari tatapan maut yang diberikan oleh pria itu, tak tahu saja. Yuna itu paling lemah jika ditatap begitu dalam oleh lawan jenisnya, apalagi ditatap oleh orang yang tengah singgah didalam hatinya.


Sekuat batin, ia harus menghindari Zeen untuk saat ini. Dan masih merenungi ucapan Zeen yang meminta dirinya untuk memberikan satu kesempatan lagi, dirinya tengah mati-matikan berperang batin setelah keluar dari kamar Zeen. Bahkan ia sampai tak bisa tidur nyenyak dan hanya tidur empat jam saja.


Yuna saat ini berada didapur, ia saat ini tengah membantu, pembantu rumah tangga itu mencuci piring-piring yang tadi ia gunakan untuk memasak dan sarapan.


Sebenarnya tantenya Winda melarang dirinya untuk tak cuci piring dan menyuruhnya untuk bergabung menonton tv diruang tengah, tapi Yuna menolak dan bersikukuh ingin sekedar membantu sedikit mencuci piring.


Namun sebenarnya itu hanya alasannya saja, ia melakukan itu hanya ingin menghindari Zeen sejenak saja. Dan tak ingin untuk bertemu pandang sehari saja.


“Nona ... biar bibi aja yang cuci, bibi yang kerja dirumah ini. Tapi kenapa Nona malah ikut kerja bersama bibi?”  tanya pembantu itu merasa heran.


Yuna tersenyum tipis, “Tak apa-apa bi, Yuna kalo gak kerja dan gak gerakini tubuh, rasanya tuh malah pegel sendiri. Gak enak rasanya kalau langsung berleha dan tak kerja dulu.”


“Oalah ... tipe-tipe anak gadis rajin ternyata,” ujar pembantu itu sambil terkekeh.


Yuna tertawa, “Ya ... bisa dibilang begitu,” celetuknya.


“Yasudah kalau begitu, bibi permisi dulu ya non. Mau ambil piring sisa yang ada dimeja,” ucapnya.


“Oh! Iya bi ... silahkan, nanti Yuna bersihkan juga piring-piringnya,” jawab Yuna namun masih fokus pada cuci piringnya.


“Baik non,”


Setelah itu hening ketika pembantu itu berlalu meninggalkan Yuna didapur.


Namun beberapa menit lamanya, tiba-tiba ada suara gesekan piring yang sedang diletakkan tak jauh dari wastafel yang digunakan untuk mencuci piring.


“Taruh saja disitu bi ... nanti Yuna cucikan,” ujar Yuna, namun tak ada jawaban yang terlantar.


Yuna yang abai dan tak mengalihkan pandangannya, masih saja fokus pada cuciannya. Namun saat ia sedang ingin mengambil piring-piring yang tadi diletakkan tak jauh darinya itu, ia merasakan hal aneh pada tangannya yang seperti salah memegang sesuatu.


“Kenapa piringnya kayak kulit ya?” gumamnya lalu melirikan matanya kesamping, dimana piring itu berada.


“Astaga!!”


Yuna syok bukan main, ketika ia melihat tangan besar dan ternyata ia pegang sejak tadi. Ia pun refleks menarik tangannya dan melihat siapa pemilik tangan itu.

__ADS_1


“Mas Zeen?”


Ya, dialah Zeen. Sipenguntit Yuna.


Zeen tersenyum manis kearah Yuna, sampai lesung pada pipinya hampir terlihat jika ia sedikit melebarkan senyumnya.


“Ya ... aku Zeen suamimu, apa ada yang bisa saya bantu nona?” Zeen berucap, namun dengan nada sedikit menggoda.


“Tidak mas ... terimakasih sudah membawakan piringnya, mas bisa kembali keruang tengah,” ujarnya, lalu kembali mencuci piring itu.


Zeen yang tadi tengah menyandarkan tubuhnya, kini membalikkan tubuhnya dan menghadap kearah Yuna. “Aku akan membantu juga, aku tak enak jika hanya menumpang makan disini.”


Tanpa meminta jawaban dari Yuna, Zeen langsung ikut-ikutan mencuci piring itu dalam satu wastafel bersama Yuna.


Yuna pun merasa kaget ketika tak sengaja kulit tangan mereka saling bersentuhan, alhasil Yuna pun menghentikan pergerakannya.


'Seumur-umur aku belum pernah mencuci piring seperti ini, tapi hanya demi gadis ini, aku bahkan rela melakukan apapun.' Gumam Zeen, tak lupa tersenyum-senyum sendiri.


“Biarkan saja mas ... Mas kembali saja keruang tengah, biar saya yang menyelesaikannya sendiri. Lagian ini hanya tersisa sedikit,”


“Tak apa, tak apa, aku juga ingin membantu agar aku merasa berguna dirumah ini.” Jawab Zeen dengan penuh percaya diri.


“Tapi ....”


“Benar Yuna ....”


Tiba-tiba sebuah suara dari arah pintu, membuat mereka berdua sama-sama saling mengalihkan pandangan.


Ternyata Yudas lah yang datang menghampiri mereka.


“Biarkan saja suamimu yang serba guna itu yang menyelesaikannya, kamu tak usah repot-repot lagi mencuci piring. Suamimu kan bilang sendiri, jika soal cuci-mencuci adalah andalannya.” Jelas Yudas tak lupa memasang senyum meremeh pada Zeen.


Zeen yang melihat merasa bingung, 'Apa orang ini jelmaan jin ya? Setiap aku bersama Yuna selalu tiba-tiba nongol?' batin Zeen, sedikit merasa kesal.


Yudas dengan santainya langsung memegang pergelangan tangannya, hal itu membuat Zeen melotot. Ia merasa tak terima jika miliknya disentuh oleh pria lain, walau itu sodaranya pun ita tak akan terima.


“Lepaskan tanganmu itu.” Ucap Zeen sedikit mengeram.


Yudas kembali tertawa meremeh, “Kenapa? Gak terima? Aku bukan pria simpanannya, aku ini kakaknya!” jelasnya menekan. Seolah tengah menyindir Zeen.


Zeen terdiam, mengerti dengan maksud ucapan itu.

__ADS_1


“Ayo Yun! Kita keruang tengah, Mama manggil kamu tadi,” ucap Yudas beralasan.


“Tante?” tanya Yuna.


“Iya Mama ... yuk kita kesana,” Yudas yang tadi tengah memegang tangan Yuna, menarik sedikit tangan itu agar segera beranjak dari sana.


“Maaf mas ... aku keruang tengah dulu ya,” Yuna merasa tak enak sebenarnya.


Zeen menatap Yuna dengan senyum tak ikhlas, “Iya ....”


Saat sudah jauh dari dapur, Yudas tiba-tiba menengok kebelakang dan langsung melihat Zeen. “Semangat ... suami serba guna ....” ujarnya bernada mengejek.


Zeen mengangga, sedangkan Yudas tersenyum kemenangan. Bahkan dengan sengaja pria itu sengaja memanas-manasi Zeen dengan terus menggenggam tangan Yuna disetiap langkah mereka.


Zeen mengeram kesal, lalu melempar spons yang ia pegang dengan sangat kencang. “Shit! Masa aku harus bersaing dengan kakak iparku sendiri?” gumamnya kesal.


🍂🍂


Zeen sudah menyelesaikan acara cuci-mencucinya, kini ia tengah berjalan menuju ruang tengah dan bertujuan untuk mendekati Yuna lagi.


Namun saat ia sudah berada diruang tengah, dirinya tak melihat keberadaan Yuna dan hanya melihat sepasang pasutri yang tengah menonton tv.


“Tante.”


Winda menengok, “Ya Zeen?” sahutnya.


“Emm, Yuna kemana ya tan?” tanyanya.


“Oh! Yuna? Yuna kayaknya tadi pati ketauan deh, katanya mau lihat bunga-bunga tante.” Jawabnya.


“Oh begitu, yaudah kalau begitu saya kesana susul Yuna ya tan, om.”


“Iya Zeen, semangat berjunag!” celetuk Bram sambil tertawa.


Zeen pun ikut tertawa, lalu menepuk dadanya dengan gagah. “Semangat!”


“Hahahaha, dasar anak muda ....”


Bram dan Winda tertawa dan mengeleng melihat tingkah Zeen.


“Semoga Yudas si jin kasat mata itu, tak muncul tiba-tiba lagi,” gumam Zeen penuh harap.

__ADS_1


TBC.


Yaampun abang Zeen ... sampe segitunya ngatain iparnya, jin kasat mata🤣


__ADS_2